Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 50


__ADS_3

Pria itu mematung di tempatnya, berusaha mencerna kata di kata yang terlontar dari bibir mungil Zoya. Perkataan Zoya bagaikan jarum yang menusuk tepat di relung hati William, membuat William lupa bagaimana caranya bereaksi. Apa maksud Zoya? Kenapa dia bilang itu semua bagus untuk mereka berdua? Apakah kata-kata yang diucapkan oleh William membuat gadis itu semakin tidak mengharapkan secuil perasaan pun dari William?


Penasaran dengan maksud ucapan Zoya, pria itu mendorong kursi rodanya menyusul Zoya. Butuh usaha keras bagi William supaya bisa menyusul Zoya karena keterbatasannya.


“Zoya, berhenti!” panggilnya.


Zoya menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan William. Meskipun hatinya masih sakit karena mendengar ucapan William tentang perasaannya terhadap Renata, Zoya tidak bisa melakukan apa pun selain menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Dia mengerutkan kening melihat William tampak mendorong kursi rodanya cepat untuk menghampirinya.


“Ada apa, Mas?” tanya Zoya seraya menelengkan kepalanya. Gadis itu mencoba bersikap biasa saja, seolah dia sedang tidak menahan gemuruh di hatinya. “Apakah kamu butuh sesuatu?”


William menggeleng cepat. “Aku tidak membutuhkan sesuatu. Tapi aku ingin bertanya kepada kamu mengenai maksud ucapan kamu tadi,” jawab William.


“Ucapanku yang mana, ya, Mas?” tanya Zoya, pura-pura tidak mengerti padahal dia tahu tentang apa yang dimaksudkan oleh William. Dia berpura-pura tidak tahu supaya bisa menghindar dari pertanyaan William.


“Jangan pura-pura tidak mengerti. Aku tahu kamu tidak lupa dengan apa yang tadi kamu katakan,” balas William.


Zoya tersenyum tipis. Gadis itu mencoba membalas pertanyaan William dengan tenang. Mau tidak mau akhirnya Zoya harus menjawab pertanyaan William. Kalau Zoya terus menghindar maka William akan semakin gencar menerornya dengan berbagai pertanyaan mengenai hal tersebut.


“Mas, aku tahu dan sadar sekali dengan perasaan kamu untuk Renata. Aku tahu kamu masih sangat mencintai dia dan aku tidak akan memaksa kamu untuk melupakan Renata,” terang Zoya.

__ADS_1


Gadis itu mencoba untuk tetap tersenyum meskipun di dalam hatinya, entah mengapa perasaannya seolah diremas-remas. Dia tidak tahu dari mana datangnya perasaan itu, yang jelas hatinya terasa teriris ketika dia mengatakan hal tersebut. Seolah dia merasa sakit hati padahal dia juga tidak mengharapkan William.


“Jika kamu mencintai Renata, maka aku pikir tidak ada salahnya jika aku menyukai Damar,” sambungnya, membuat William menatapnya dengan tatapan mata menelisik.


“Zoya, kamu ingat apa yang tadi aku katakan, ‘kan? Aku tidak mau diledek kalau orang-orang tahu kamu berselingkuh dariku,” gerutu William. Pria itu melipat tangannya di depan dada, persis seperti anak kecil yang sedang kesal karena tidak dituruti kemauannya.


Zoya tersenyum tipis. “Kamu tenang saja, Mas. Aku tidak akan mempermalukan kamu.” Gadis itu memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. Dia menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan berselingkuh dari kamu. Hubunganku dengan Damar hanyalah sekadar teman meskipun kami saling menyukai, tapi kami tahu di mana batasannya,” jelas Zoya.


Mendengar bahwa Zoya dan Damar saling menyukai membuat William semakin marah. Pria itu bersumpah serapah dalam hati sebab dia merasa tersaingi oleh Damar. Apalagi setelah mengetahui kalau Damar adalah pria yang sangat sukses.


“Aku mau kamu berhenti berkomunikasi dengan dia,” celetuk William tiba-tiba, membuat Zoya terkesiap dan menoleh ke arahnya.


“Apa maksud kamu?” tanya Zoya. Gadis itu mengerutkan dahinya hingga dahinya membentuk sebuah guratan.


“Aku dengar perkataan kamu, Mas. Tapi, kenapa? Kenapa kamu meminta aku untuk berhenti berkomunikasi dengan Damar?” tanya Zoya bingung. Dia sama sekali tidak paham dengan jalan pikiran William dan kenapa pria itu tiba-tiba menyuruhnya berhenti berkomunikasi dengan pria yang dia sukai.


“Aku ingin kamu menghargai aku sebagai suami kamu,” jawab William singkat, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Menghargai?” Zoya mendengus keras. “Ke mana perginya kata-kata itu saat aku pertama kali datang ke rumah ini dan melihat foto kemesraan kamu dan Renata? Atau saat kamu membicarakan Renata di depanku dan berkata kalau kamu akan selalu mencintai dia selamanya?” tanya Zoya dengan nada suara yang agak meninggi.

__ADS_1


William menoleh ke arah Zoya. Dia menatap Zoya dengan tatapan tajam. “Kamu bicara apa, sih?” tanyanya.


“Kamu meminta aku berhenti berkomunikasi dengan Damar untuk menghargai kamu. Tapi, kamu sendiri tidak pernah menghargai perasaanku dari awal pernikahan kita. Apakah kamu pikir itu semua adil untuk aku, Mas?” tanya Zoya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari bibir William.


William mengepalkan tangannya kuat-kuat. Meskipun apa yang dikatakan oleh Zoya ada benarnya, pria itu tetap enggan mengakui kesalahannya. Baginya, perasaan Zoya waktu itu tidak penting asalkan dia bisa membuat Zoya menderita dan menyesal karena sudah menikahinya.


“Sudahlah, Zoya. Turuti saja kemauanku,” ucap William.


“Kamu benar-benar pria egois, Mas. Kamu meminta aku melakukan apa yang kamu mau tapi kamu tidak pernah sekali pun menghargai aku. Selama kita menikah, apakah kamu pernah menganggapku sebagai istrimu?” tanya Zoya.


William bungkam. Tidak tahu harus menjawab pertanyaan itu dengan jawaban seperti apa. Dia sendiri mengakui kalau sikapnya kepada Zoya selama ini sangat kejam meskipun akhir-akhir ini sudah tidak lagi karena dia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Zoya. Tapi di awal pernikahan mereka ... William benar-benar menganggap Zoya seperti objek yang tidak memiliki perasaan jadi dia menyakiti gadis itu tanpa ampun.


“Aku—”


“Lebih baik kamu tidak usah ikut campur urusanku, Mas. Aku pun juga tidak pernah ikut campur urusan kamu tentang perasaan kamu untuk Renata, bukan?” Zoya menyipitkan matanya. “Kalau kamu ingin aku menghargai kamu, maka kamu juga harus menghargai aku,” ucap Zoya tegas, memotong ucapan William.


Setelah mengatakan hal tersebut, Zoya pergi meninggalkan William ke kamar. Hari itu Zoya memilih untuk tidur di kamar yang terletak di sebelah kamar William. Gadis itu tidak mau tidur satu ranjang dengan William jika hatinya belum merasa tenang sama sekali.


Sementara William dibuat bingung sebab tidak bisa menemukan Zoya di kamarnya. Dia lantas mencari Zoya di kamar lain dan menemukan Zoya sudah terlelap di sana. Pria itu menghela napasnya, lalu kembali menutup kamar itu dan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


‘Apakah aku sudah sangat egois kepada kamu, Zoya?’ tanya William dalam hati.


Malam itu, ranjang William terasa lebih dingin dari biasanya. Meskipun dia tidak pernah tidur sambil memeluk Zoya atau semacamnya, dia lebih merasa nyaman jika Zoya juga menempati ranjangnya. Sekarang ranjangnya terasa sangat sepi tanpa kehadiran Zoya. William menghela napas panjang, merutuki kesalahannya yang membuat Zoya sangat marah padanya.


__ADS_2