
Setelah mengerjakan pekerjaan rumah dan mendapati William tak kunjung pulang, Zoya akhirnya memutuskan untuk pergi ke salah satu tempat spa yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah William. Saat berbelanja beberapa waktu yang lalu, dia tidak sengaja melihat tempat spa dan ingin mengunjungi tempat itu.
Zoya berjalan santai menuju ke tempat spa. Gadis itu berusaha mengabaikan kekhawatirannya pada William yang tidak kunjung pulang. Zoya yang memang sudah membangun tembok di hatinya tidak terlalu sakit hati dengan sikap dan ucapan William yang dingin. Tapi entah mengapa semenjak perang dingin yang mereka alami, gadis itu lebih banyak mendapati William tampak gelisah tanpa sebab.
“Halo selamat datang di Beauty Spa, kami siap melayani kebutuhan kecantikan Anda,” sapa resepsionis spa begitu Zoya menginjakkan kaki di lobi tempat spa tersebut.
“Halo selamat siang, Kak. Aku ingin melakukan treatment lengkap dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, ya, Kak,” ucap Zoya sambil tersenyum lebar. Zoya tidak peduli kalau nanti William akan marah padanya kalau Zoya tidak kunjung pulang. Lagi pula, William duluan yang pergi dari rumah. Jadi, tidak salah kalau Zoya ikutan pergi, bukan?
“Baik, Kak. Silakan ikut teman saya menuju ke ruang ganti,” ucap resepsionis itu. Temannya yang merupakan orang yang biasa melakukan treatment kepada pelanggan berdiri lalu berjalan mendahului Zoya menuju ke ruang ganti. Sebelum melakukan treatment, Zoya harus mengganti pakaiannya menggunakan kimono yang sudah disiapkan di tempat spa tersebut.
Zoya melakukan berbagai perawatan seperti masker wajah, lulur badan, mandi dengan aroma terapi, dan pijat di seluruh tubuhnya. Saat melakukan pijat, Zoya tak lupa menelepon Uci supaya tidak bosan di sana. Selain itu dia juga ingin tahu tentang perkembangan di galerinya.
“Uci, coba tebak di mana aku sekarang?” ucap Zoya.
“Hm, memangnya di mana kamu sekarang? Apakah kau di depan galeri?” Uci balik bertanya.
“Tidak.” Zoya terkekeh geli. “Saat ini aku berada di tempat spa,” ucapnya.
“Apa? Bagaimana bisa? Apakah suamimu yang galak itu mengizinkan kamu untuk pergi?” tanya Uci penasaran.
Zoya mengibaskan tangannya di udara. “Mana mungkin dia mengizinkan aku keluar rumah, Uci. Tentu saja aku pergi sendiri. Dari tadi dia pergi dan tidak pulang-pulang, jadi aku memutuskan untuk pergi juga,” jawab Zoya sambil terkikik geli.
__ADS_1
Peduli setan dengan amarah William nanti. Yang penting Zoya bisa merelakskan tubuh dan pikirannya supaya tidak terlalu pusing memikirkan William. Tinggal satu atap dengan pria dingin seperti William cukup melelahkan maka dari itu sesekali melakukan relaksasi tidak ada salahnya, bukan?
“Dasar! Nanti kalau Liam marah, aku tidak mau mendengar keluh kesahmu. Itu semua sudah risiko yang harus kau hadapi,” ucap Uci.
“Tenang saja. Aku selalu bisa menghadapi Liam. Biar saja kalau dia marah, paling juga dia akan mengurung diri di ruang kerja seperti biasanya,” ucap Zoya. “Ucapan pedasnya tidak akan bisa menyakitiku lagi.”
“Lalu siapa yang kesal karena tidak boleh berkomunikasi dengan Damar beberapa hari lalu? Bukankah itu dirimu?” goda Uci disusul dengan tawa renyah.
“Kalau itu, sih, beda ceritanya. Untuk masalah itu aku memang kesal karena dia mencoba mengatur-atur hidupku dan ikut campur urusanku,” ucap Zoya. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan galeri hari ini?” tanyanya untuk mengubah topik pembicaraan.
“Yah, seperti biasa, ramai. Kamu sekali-kali harus mampir ke sini karena para pengunjung sering bertanya siapa pemilik karya-karya di galeri,” ucap Uci. “Tidak mungkin aku menjawab kalau pemilik karya seni di galeri adalah seorang istri yang takut dengan suaminya, bukan?”
“Hei! Jangan sembarangan!” gerutu Zoya.
“Kapan-kapan aku pasti akan mengunjungi galeri. Sayang sekali letaknya jauh dari rumah Liam,” ujar Zoya.
Sebetulnya gadis itu rindu mengunjungi galeri miliknya. Tetapi, dia juga tidak terlalu berani mengendarai kendaraan karena trauma masa lalu di mana dia kehilangan orang tuanya dalam sebuah kecelakaan. Jadi, mau tidak mau dia harus bersabar dan menitipkan galeri pada Uci.
Zoya dan Uci mengobrol sesaat mengenai galeri. Setelah selesai mengobrol, Zoya mematikan sambungan teleponnya karena dia harus mandi. Gadis itu berendam di air aroma terapi. Tubuhnya rasanya sangat relaks setelah dipijat dan melakukan berbagai perawatan yang ditutup dengan mandi air hangat. Sekarang pikirannya bisa jauh lebih jernih dari biasanya.
Setelah selesai melakukan perawatan, tak lupa Zoya mampir ke kedai yang menjual gelato di dekat tempat spa. Ia sangat ingin pistachio gelato untuk menghilangkan dahaganya sebab matahari bersinar terik hari ini.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, mobil yang membawa William baru saja diparkir di depan teras rumahnya. Dengan bantuan sopir pria itu turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya.
“Kamu boleh pulang. Jangan lupa masukkan mobil ke dalam garasi,” perintah William.
Sopir pribadi William mengangguk. “Baik, Pak,” jawabnya kemudian memasukkan mobil ke dalam garasi sesuai dengan perintah William.
William pun mendorong kursi rodanya menuju ke dalam rumah. Pria itu mengerutkan dahinya sebab tidak ada suara Zoya sedang melakukan pekerjaan rumah. Padahal, biasanya jika sedang bersih-bersih Zoya selalu bergumam dan bersenandung pelan.
Oh, tentu saja Zoya tidak menyadari kalau selama ini William diam-diam memperhatikannya dan mendengarnya bersenandung kecil saat sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Awalnya William memang terganggu dengan suara itu, namun lama kelamaan dia jadi terbiasa.
Pria itu mendorong kursi rodanya ke arah dapur namun tidak menemukan siapa-siapa di sana. Dia lantas pergi ke ruangan-ruangan yang mungkin didatangi oleh Zoya, tapi hasilnya nihil.
“Zoya!” panggilnya, namun tidak ada jawaban
William lantas mendorong kursi rodanya menuju ke lift. “Mungkin saja Zoya ada di kamar,” gumamnya. Naas, saat dia memeriksa kamar dan beberapa ruangan lain di lantai tiga, dia tidak menemukan keberadaan Zoya. Bahkan dia harus pergi ke lantai dua, lantai yang paling tidak mungkin diinjak Zoya, tapi tetap saja Zoya tidak ada di sana.
“Ke mana perginya Zoya? Bukankah sebentar lagi aku akan melakukan terapi?” tanya William sambil mengernyitkan dahi.
Pria itu kembali ke lantai satu, lebih tepatnya ke ruang kerjanya untuk memeriksa rekaman CCTV dan dia menemukan Zoya meninggalkan rumah beberapa jam yang lalu tapi dia tidak tahu ke mana Zoya akan pergi.
William merogoh ponselnya, hendak menghubungi Zoya namun dia teringat kalau dia tidak memiliki nomor telepon Zoya. Terpaksa William harus menunggu Zoya dengan kesal dengan berbagai prasangka buruk yang hinggap di kepalanya.
__ADS_1
“Apakah mungkin Zoya pergi menemui pria itu?” gumam William sambil mengepalkan tangannya. Dia tidak suka membayangkan kalau Zoya bermain api di belakangnya. Entah kenapa hatinya memanas memikirkan hal tersebut.