Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 25


__ADS_3

Ucapan Leila benar-benar memberikan harapan untuk Wulan yang mendengarnya, sebab Wulan sadar jika putranya Liam lebih dekat dengan Leila daripada dirinya sendiri selaku ibu kandung Liam.


"Kamu benar-benar akan membantuku?" tanya Wulan memastikan semuanya.


"Kamu tahu, Leila, aku akan sangat berharap padamu jika kamu serius dengan ucapanmu. Aku sangat menginginkam Liam dan Zoya bersama," sambung Wulan.


"Saya janji, Nyonya. Saya akan pastikan tuan William mau menikah dengan Zoya," ucap Leila terdengar sangat meyakinkan, membuat Wulan menatap berkaca-kaca padanya.


Aku tahu, mungkin akan sangat sulit untuk Zoya nantinya, tapi aku akan bertanggung jawab, aku akan memastikam mereka bahagia pada akhirnya. Batin Leila.


***


Tidak terasa, pagi kini telah tiba, kegelapan yang menutupi dunia ini, perlahan menghilang seiring dengan terbitnya matahari. Semua orang di kediaman Sandjaja terlihat sangat sibuk sekarang. Sebab semua orang harus menyiapkan sarapan penghuni rumah. Termasuk sarapan untuk Liam. Dan pagi ini Leila yang akan mengantarkan sarapan tersebut kepada Liam. Karena dia ingin merawat Liam secara langsung sebelum nanti menyerahkan semua urusan merawat Liam pada Zoya.


Mendengar hal itu semua pelayan terlihat begitu senang, karena akhirnya mereka tidak lagi harus menahan diri dari tatapan tajam tuan muda mereka. Sesuatu hal yang selalu membuat mereka merasa takut kepada Liam, walaupun pria itu sudah lumpuh dan duduk di atas kursi roda, tetapi aura mengerikan dari dirinya, sungguh sangat kuat, sehingga para pelayan enggan berdekatan terlalu lama dengannya.

__ADS_1


Setelah memastikan semua hidangan untuk Liam telah di buat, dan meja makan juga sudah penuh dengan peralatan makan dan hidangan yang lezat, Leila segera pergi menuju kamar Liam. Karena Liam belum makan sejak semalam, dan Leila juga ingin menagih janji Liam kepadanya, itu sebabnya dia mau melihat, apakah Liam akan menepati janjinya atau tidak. Dan pagi ini, Leila pasti akan mendapatkan jawabannya.


Saat sampai di kamar Liam, dan melihat Liam yang sudah bangun dari tidurnya, membuat Leila merasa sangat senang. Dia segera menghampiri Liam dengan membawa makanan di tangannya. Liam hanya bisa melihat Leila dengan tatapannya yang terlihat layu.


“Selamat pagi, Tuan Liam. Apa tidur Anda nyenyak tadi malam? Saya harap Anda bisa tidur dengan baik,” sapa Leila pagi ini. Dengan senyuman hangat khas seorang ibu pada Liam.


“Iya, tidurku cukup baik,” jawab Liam begitu singkat. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat Leila merasa tersinggung.


“Saya senang mendengar Anda bisa tidur dengan baik malam ini, Tuan. Berarti sekarang saatnya untuk menghabiskan sarapan Anda!” pintanya pada Liam.


“Saya tidak akan membawa makanan ini keluar, sebelum Tuan Liam memakan sarapan Anda. Bukankah, Tuan Liam sudah berjanji kepada saya, kalau Tuan akan melakukan segala sesuatu yang di perintahkan oleh dokter asalkan Tuan bisa kembali ke rumah. Sekarang saya sudah memenuhi janji saya! Saatnya Tuan Liam untuk memenuhi janji Anda kepada saya!” Kali ini Leila tidak akan menyerah, sebab dia tidak ingin Liam masuk rumah sakit lagi.


“Aku tidak mau makan apa-apa, Leila. Jangan memaksaku dan membuat aku marah. Aku tidak ingin berbuat kasar padamu. Jadi tolong jaga sikapmu padaku. Dan sekarang keluar dan bawa makanan itu pergi dari sini!” perintahnya pada Leila.


“Saya tidak menyangka kalau Tuan Liam adalah pria yang suka mengingkari janji. Jika saya mengetahui hal itu sebelumnya, maka saya tidak akan meminta dokter untuk membuatkan surat izin meninggalkan rumah sakit untuk Anda. Saya mempercayai Anda, tetapi Anda justru berbohong pada saya.” Leila menunjukkan raut wajahnya yang begitu sedih, tapi kata-katanya begitu memprovokasi Liam.

__ADS_1


Mendengar hal itu, membuat Liam merasa sangat tidak senang, tetapi dia tahu bahwa apa yang Leila katakan adalah benar. Bahwa sebagai seorang lelaki sejati seharusnya dia tidak bertingkah seperti itu. Hingga akhirnya Liam dengan terpaksa memakan makanan yang di bawa oleh Leila.


“Baiklah berikan makanan itu padaku. Tapi aku tidak akan menghabiskannya. Karena makanan yang dibawa terlalu banyak!” ucap Liam dengan begitu terpaksa.


Hal itu membuat Leila merasa sangat senang, karena akhirnya Liam mau memakan sesuatu untuk memenuhi nutrisi tubuhnya. Setidaknya kini Liam tidak hanya bergantung pada infus yang ada di tangannya. Karena dia juga mau memakan sesuatu untuk mengenyangkan perutnya.


“Makanlah secara perlahan-lahan, Tuan. Saya akan menunggu di sini sampai Anda selesai makan.” Leila terus berdiri di hadapan Liam dan memperhatikannya menyantap sarapannya.


“Aku sudah kenyang, sekarang tolong bawa makanan ini keluar!” pintanya pada Leila setelah dia menikmati beberapa suap makanan yang tadi Leila bawa.


"Tuan, apa saya bisa membicarakan sesuatu pada Anda?" ucap Leila seketika mendapat tatapan tajam dari William.


"Jangan katakan kau juga ingin membahas tentang wanita itu!" tuding William dengan nada bicaranya yang terdengar begitu tajam.


"Ya, ini tentang Zoya."

__ADS_1


Mendengar ucapan Leila, William bergegas mendorong kursi rodanya menuju pintu, membuka lebar pintu kamarnya lalu berbicara dengan nada meninggi. "Keluar dari kamarku!"


__ADS_2