
Saru bulan telah berlalu. Selama itu pula Zoya menjalani hari-harinya dengan normal. Meskipun pada kenyataannya, dia tidak pernah bisa tidur dengan tenang, karena bayangan Liam selalu hadir dalam mimpinya. Hal itu sering kali membuat Zoya terbangun di tengah malam. Tetapi Zoya masih mencoba untuk menepis semuanya. Dia bahkan sengaja mengganti nomor teleponnya. Agar Wulan tidak bisa menghubunginya.
Zoya jelas sadar sikapnya salah, tapi Zoya tidak tahu harus bagaimana menolak tawaran Wulan sebab Zoya benar-benar tidak ingin menikah dengan pria yang tidak Zoya cintai, terlebih lagi sikap orang itu seperti Liam, belum lagi kekurangan Liam
Hubungan antara dirinya dengan Damar juga sudah semakin dekat. Zoya selalu merasa nyaman menghabiskan waktu bersama Damar. Walaupun perasaannya saat ini belum bisa dikatakan sebagai cinta. Setidaknya hubungan mereka sudah jauh lebih dekat dari sebelumnya. Dan Zoya sangat menikmati setiap perjalanan yang dia lalui bersama Damar.
Zoya merasa hidupnya telah sempurna, dan dia seharusnya tidak terus dibayangi oleh perasaan bersalah kepada Wulan dan juga Liam. Karena apa yang dia pilih sudah tepat. Zoya hanya akan menghancurkan hidupnya bila menerima tawaran Wulan. Itu sebabnya dia terus menepis perasaan tidak enak yang selalu hadir di dalam hatinya. Zoya tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan untuk hidupnya.
***
Berbeda dengan Zoya, selama satu bulan ini Liam justru bersikap semakin buruk. Dia selalu melakukan kekerasan kepada setiap perawat laki-laki yang menjaganya. Sehingga Wulan harus terus mencari perawat laki-laki untuk Liam. Karena mereka tidak pernah tahan bekerja mengurus Liam lebih dari dua hari. Hal ini tentu menjadi beban pikiran bagi Wulan sendiri. Jika saja Liam anak kecil, maka siapa pun dapat merawatnya, tetapi Liam adalah pria dewasa yang jelas ada banyak batasan untuk membantu Liam.
Liam bahkan sudah beberapa kali mencoba untuk melakukan bunuh diri. Hanya karena ada seorang perawat bersamanya, hal itu bisa dihindari. Oleh sebab itu Wulan semakin yakin untuk menikahkan Liam dengan Zoya. Sayangnya, dia sama sekali tidak bisa menghubungi Zoya. Oleh karena itu dia akan berusaha untuk menemui Zoya secara langsung. Karena hanya Zoya harapan terakhir bagi Wulan, agar bisa menjaga anaknya.
***
Saat ini Wulan sedang berada di dalam kamar Liam, karena putranya lagi-lagi kembali mengamuk.
__ADS_1
“William, berhenti bersikap seperti ini. Mau sampai kapan kamu akan terus bersikap buruk seperti ini?” bentak Wulan pada putranya, saat dia sendiri sudah sangat lelah dengan sikap William.
“Lepaskan aku, Ma. Suruh mereka semua keluar dari kamarku sekarang. Biarkan aku sendiri. Kenapa Mama selalu menempatkan banyak orang di kamarku? Aku tidak suka ada orang lain di dalam kamarku, Ma. Suruh mereka keluar sekarang!” teriak Liam pada Wulan.
“Mama melakukan semua ini untukmu. Karena Mama tidak ingin kamu terus menyakiti dirimu sendiri. Jika mereka tidak mengawasimu, siapa yang akan menjagamu dan menghentikanmu dari tindakan bodoh yang sering kali kamu lakukan? Tolong jangan egois seperti ini."
"Aku egois? Bukan aku, tapi Mama? Mama dan Papa yang sangat egois, kalian sendiri yang merebut kebahagiaanku," ucap William yang selalu saja menyalahkan kedua orang tuanya atas apa yang telah terjadi.
"Matamu benar-benar sudah dibutakan oleh cinta. Kamu dengan tega menyakiti perasaan mama sebagai orang yang sudah melahirkanmu hanya demi wanita itu." Wulan jelas tersakiti oleh ucapan William yang selalu saja menyalahkannya.
“Hentikan juga semua yang Mama lakukan ini. Dengan Mama menempatkan mereka untuk mengawasiku, Mama sungguh membuat aku merasa seperti orang sakit. Aku sama sekali tidak sakit, Ma. Aku hanya lumpuh. Kelumpuhan ini yang membuat aku tidak berguna sekarang. Biarkan aku menyelesaikan semua penderitaanku ini, Ma. Aku sudah sangat lelah sekarang!” Liam kembali berbicara saat Wulan masih saja diam di tempat menatap nya. Tampak Liam terlihat begitu putus asa. Karena semua orang mengasihaninya hanya karena dia cacat.
“Tidak, Liam. Jangan berkata seperti itu. Kamu begitu berarti bagi Mama. Tolong jangan mengatakan hal yang buruk seperti itu. Kamu pasti bisa sembuh. Tapi biarkan orang lain membantumu. Mama mohon, Liam,” pinta Wulan pada putranya itu, sembari memeluk William.
“Semua orang menertawakanku, Ma. Mereka sekarang mengasihani aku hanya karena aku tidak bisa berjalan. Aku tidak butuh mereka yang menatapku penuh penghinaan seperti itu. Suruh mereka pergi, Ma. Aku tidak mau mereka terus berada di sini!” Liam kembali mengamuk dalam pelukan ibunya. Hingga akhirnya seorang perawat terpaksa memberikan obat penenang untuk Liam.
Liam segera dilarikan ke rumah sakit agar bisa mendapatkan perawatan. Karena dia sudah tidak ingin makan sejak tiga hari yang lalu. Membuat tubuhnya begitu lemah. Namun anehnya dia memiliki tenaga yang cukup kuat untuk menyakiti para perawat laki-laki yang menjaganya. Hal ini membuat Wulan sangat bingung dan juga sedih karenanya.
__ADS_1
Setelah mendapat penanganan medis dan dirawat di rumah sakit. Wulan saat ini sedang berada di ruang dokter untuk mengetahui keadaan putranya.
“Bagaimana kondisi putra saya, Dokter?” tanya Wulan yang terlihat begitu lelah.
“Putra Anda mengalami dehidrasi yang cukup parah. Karena dia tidak ingin makan ataupun minum selama beberapa hari. Sehingga kami harus memberikan dia beberapa botol infus untuk memulihkan kondisinya. Tetapi jika putra Anda tetap bersikap seperti ini, kami tidak yakin hidupnya akan baik-baik saja, Nyonya.” Dokter mulai menjelaskan kondisi Liam sekarang. Hal yang sudah sering Wulan dengar. Karena ini bukan pertama kalinya Liam masuk rumah sakit karena masalah yang sama.
“Saya mengerti, Dokter. Tolong lakukan yang terbaik bagi putra saya. Saya permisi, Dokter.” Wulan segera keluar setelah mengetahui kondisi putranya.
Wulan segera mendekati Leila yang sekarang ikut menemaninya ke rumah sakit.
“Leila, tolong jaga Liam untukku. Karena aku harus menemui Zoya. Untuk itu, aku tidak bisa mengawasi Liam secara langsung. Aku mempercayakan perawatan Liam padamu, Leila. Keputusanku sudah bulat. Kalau aku akan meminta Zoya untuk menikah dengan Lia.. Bila Zoya tidak bersedia, maka aku akan memaksanya, Leila. Aku tidak ingin kehilangan anakku. Karena itu aku harus memastikan kalau dia memiliki seseorang yang akan terus menjaganya. Terutama orang yang bisa membantunya membersihkan diri. Doakan aku, agar aku bisa membawa Zoya menjadi menantuku, Leila. Tolong dukung keputusanku kali ini!” pinta Wulan yang sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
Leila segera memeluk tubuh Wulan, seraya berkata, “Saya akan mendukung keputusan Anda sekarang, semoga keputusan yang kita ambil untuk Tuan Liam tidak salah, Nyonya.”
Wulan hanya mengangguk. Setelahnya dia segera menghubungi salah seorang sopir untuk mengantarkannya menemui Zoya. Karena Wulan memang harus bicara secara langsung kepada Zoya sekarang. Bagaimanapun caranya, Wulan pasti akan berusaha membuat Zoya setuju dengan tawarannya.
Maafkan tante Zoya, tante menyayangimu, tante juga menyayangi Liam. Karena itu Tante ingin kalian bersama. Hanya kamu yang bisa membantu tante dan hanya kamu yang dapat tante percaya untuk mendampingi Liam. Batin Wulan mulai memikirkan apa yang akan dia katakan pada Zoya nanti saat bertemu.
__ADS_1