
Zoya berjalan tanpa tahu arah. Setelah keluar dari rumah Liam, Zoya terus saja membawa kakinya bergerak untuk menjauh dari rumah orang tua angkatnya itu. Setelah mulai merasa lelah, Zoya duduk di atas batu cukup besar yang ada di pinggir jalan yang sepi itu.
Zoya larut dalam lamunannya. Setiap peristiwa yang terjadi, Kembali berputar dalam pikirannya. Saat dia bertemu dengan Wulan, saat dia berkunjung ke rumah Wulan, bagaimana cara Liam melihatnya, apa yang dia lihat di balik tatapan tajam Liam padanya, hingga permintaan Wulan yang terasa tidak masuk akal baginya. Semuanya terus mengusik Zoya.
Saat Zoya tengah larut memikirkan segala yang baru saja terjadi, tiba-tiba dia di kejutkan dengan suara yang berasal dari sampingnya. Zoya menoleh untuk melihat siapa ada di sampingnya.
Zoya tertegun untuk sesaat, ketiak melihat siapa orang itu yang ternyata orang itu adalah Damar. Seorang pria tampan yang selama ini cukup dekat dengannya.
“Mas Damar,” Zoya hanya bisa mengatakan itu, untuk ungkapan rasa terkejutnya.
“Zoya, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini! Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Damar penuh kekhawatiran.
“Aku juga tidak menyangka akan bertemu di sini. Mas tidak perlu cemas, aku baik-baik saja. Aku baru dari rumah saudara,” jawab Zoya.
“Lalu, apa yang kamu lakukan di sini? Jalanan ini cukup sepi. Seharusnya kamu tidak duduk sendirian di sini, Zoya!"
Damar sangat bersyukur karena dia sempat melintas di jalan sepi ini. Dia tidak bisa membayangkan kalau dia tidak lewat jalan ini, dan Zoya tertimpa masalah karena ini.
__ADS_1
“Terima kasih karena kamu sudah mengkhawatirkan aku, Mas. Oh ya, Mas Damar kenapa bisa di sini?” tanya Zoya.
"Ada sedikit urusan," jawab Damar. "Ayo pulang bersamaku!" sambung Damar.
Zoya belum menjawabnya, Damar melirik jam dipergelangan tangannya lalu kembali berkata. "Sepertinya kamu belum makan malam. Dan kebetulan aku juga sedang lapar sekarang, apa kamu mau makan malam bersamaku? Tentunya juga pulang bersamaku," tanya Damar penuh harap.
“Aku ....”
“Aku yakin kalau kamu belum makan malam, dan sekarang sudah waktunya untuk itu, aku tahu sebuah restoran yang lezat tidak jauh dari sini. Maukah kamu menikmatinya bersamaku?” tanya Damar sekali lagi, kali ini dia harus berhasil mengajak Zoya.
Zoya yang merasa tidak enak pada Damar, merasa tidak memiliki alasan untuk menolak. Karena sepertinya Damar tidak memberinya kesempatan untuk menolak ajakannya kali ini.
“Tidak sama sekali. Jadi bagaimana?” Damar tahu sikapnya kali ini mungkin terkesan sedikit memaksa. Tetapi dia tidak ingin membuang kesempatan, untuk mengajak Zoya menikmati makan malam bersamanya.
“Baiklah. Aku akan menemanimu makan malam.”
“Aku jamin, kamu pasti akan menyukai rasa setiap makanan yang ada di sana. Ayo ikut aku!" ucapnya terlihat begitu senang menggandeng tangan Zoya.
__ADS_1
Damar merasa begitu senang, sebab dia berhasil untuk mengajak Zoya menikmati makan malam bersamanya. Damar merasa ini hari keberuntungannya. Pria itu kembali menatap Zoya saat sudah tiba di dekat sepeda motornya. "Untuk sementara gunakan helm-ku dulu, nanti kita cari helm lain untukmu," ucap Damar dengan begitu lembut memasangkan helm di kepala Zoya, lalu memakaikan jaket miliknya yang membuat Zoya terharu dengan sikapnya.
"Terima kasih, Mas," ucap Zoya tersenyum.
Sebenarnya Zoya menerima tawaran Damar, karena dia merasa tidak enak kepada Damar, sebab ini bukanlah ajakan pertama yang dilakukan Damar. Selama ini Zoya selalu menolaknya dengan berbagai alasan, sebab tidak ingin Damar berharap banyak padanya, tetapi untuk kali ini, dia tidak bisa melakukan itu. Damar sudah sangat baik padanya selama ini, Zoya rasa tidak ada salahnya menerima ajakan Damar sesekali. Lagi pula, mereka tidak melakukannya setiap hari.
Selama ini Damar juga sudah begitu perhatian padanya, terkadang Zoya juga merasa senang dengan kehadiran Damar, tapi Zoya belum siap untuk menjalin suatu hubungan sebelum benar-benar memastikan perasaannya, karena itulah Zoya tidak pernah ingin memberikan harapan pada siapa pun pria yang coba mendekatinya.
Meski kalimat menikah sekali seumur hidup sering terdengar, tapi Zoya juga berharap dapat memiliki pacar sekali seumur hidup. Pria yang setia, menjalin hubungan serius dan menikah sekali seumur hidup. Zoya tidak ingin terlalu sering memulai dan melupakan, karena itu Zoya tidak ingin terburu-buru mencari pasangan.
Zoya menggelengkan kepalanya saat ucapan Wulan kembali teringat olehnya. "Zoya, ada apa?" tanya Damar yang tengah menikmati kebersamaan mereka.
"Tidak apa-apa, Mas."
Damar menarik sebelah tangan Zoya mengarahkan pada pinggangnya lalu berkata. "Pegangan, nanti jatuh!"
Damar tidak bisa menahan senyumannya, karena berhasil mengajak wanita yang sudah lama dia sukai untuk makan malam bersamanya hari ini. Karena ini bukanlah usaha pertamanya untuk mengajak Zoya agar mau menghabiskan waktu bersamanya, tetapi Zoya sering kali menolaknya. Dan akhirnya setelah perjuangan yang begitu lama, dia bisa mendapatkan kesempatan emas untuk menikmati makan malam bersama Zoya.
__ADS_1
Beruntung aku membawa motor, karena jika aku menggunakan mobil, maka Zoya tidak akan mau pergi bersamaku, sebab aku tahu Zoya anti dengan mobil. Batinnya.