Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 29


__ADS_3

Ingin sekali Zoya berkata kalau dia tidak mau menikahi William. Tapi apa daya? Zoya tidak bisa menolak pernikahan tersebut. Zoya sendiri yang waktu itu mengatakan kalau dia akan setuju menikahi William asalkan William setuju dengan pernikahan mereka. Awalnya tentu Zoya mengatakan hal itu sebab ia yakin William akan menolak. Tapi, kenyataan tak pernah seindah harapan. Kini, harapan Zoya dihempaskan oleh takdir yang ingin menyatukan mereka berdua.


Zoya menatap Ryan dan Wulan bergantian. Tidak mungkin ia mengatakan kalau dia tidak mau menikahi William pada dua orang yang sudah sangat berjasa padanya. Apalagi, wajah Ryan dan Wulan tampak bersemangat untuk menyambutnya sebagai bagian dari keluarga Sadjaja.


“Zoya, Tante pasti akan menjadi ibu mertua paling beruntung karena telah mendapatkan menantu sebaik dirimu,” ucap Wulan, menyanjung Zoya.


Zoya tersenyum tipis. “Tante jangan berlebihan. Aku hanyalah gadis biasa,” jawab Zoya malu-malu.


Kalau Zoya boleh jujur, memiliki Wulan sebagai ibu mertua adalah sesuatu yang membahagiakan. Wulan adalah wanita yang sangat baik padanya. Andai saja putra yang ingin Wulan nikahkan pada Zoya bukanlah pria tempramental, mungkin Zoya akan menerima pernikahan itu dengan lapang dada.


Sayangnya William bukanlah pria yang Zoya impikan untuk menjadi suaminya. Zoya mungkin tak akan masalah dengan kondisi William yang lumpuh. Yang membuat Zoya enggan menikah dengan William adalah sikap tempramental pria itu. Selain itu ... Zoya juga tidak mencintai William. Ia tidak bisa membayangkan pernikahan tanpa adanya cinta dari dua belah pihak seperti ini.


“Tapi, kalau aku boleh tahu apa alasan Liam menerima pernikahan ini, Tante, Om?” tanya Zoya.


Ryan dan Wulan saling tatap, Ryan meminta Wulan menjelaskan semuanya karena ia merasa kalau Wulan lebih pandai menjelaskan sesuatu daripada dirinya.


“Liam berkata dia sadar kalau dia membutuhkan seorang wanita yang akan menemaninya, mendampinginya, dan membantunya,” jelas Wulan. Karena takut Zoya salah paham dan berpikir kalau William hanya ingin memanfaatkannya, Wulan mengoreksi kalimatnya. “Liam ingin sembuh, Zoya. Dia membutuhkan wanita yang bisa dan mau mendukungnya tanpa pamrih,” sambungnya.

__ADS_1


Zoya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pikir William sudah putus semangat. Ternyata William masih ingin sembuh.


‘Baiklah, aku akan menemaninya sampai dia sembuh, setelah itu kami bisa bercerai dan aku akan melanjutkan kehidupanku,' pikir Zoya.


Zoya tidak mungkin mengingkari janjinya pada Wulan dan Ryan. Terlebih lagi jika ia mengingat jasa Ryan dan Wulan padanya selama ini. Zoya pun setuju untuk menikah dengan William meskipun hatinya belum rela karena ia sudah mencintai seorang pria yang lain.


“Zoya, pernikahan kalian akan diadakan secepatnya. Aku tidak ingin menunda terlalu lama dan membuat kalian berubah pikiran lagi. Apalagi untuk membujuk William adalah pekerjaan yang sangat sulit,” jelas Ryan.


Zoya menganggukkan kepalanya. “Tapi, Om, Tante, aku ingin meminta sesuatu,” ucap Zoya.


“Aku ingin pesta pernikahanku diadakan secara sederhana saja. Tidak perlu terlalu mewah dan mengundang banyak orang,” pinta Zoya, wajahnya penuh harap.


Ryan dan Wulan saling pandang, lalu mengangguk.


“Baiklah, Zoya. Kita akan mengadakannya secara sederhana seperti permintaanmu,” ujar Wulan sambil tersenyum.


Setelah berbincang-bincang sebentar, Ryan dan Wulan berpamitan pulang. Zoya mengantarkan mereka ke depan pintu sebelum ia masuk dan berhamburan ke dalam pelukan Desi. Dalam pelukan Desi, Zoya menangis sejadi-jadinya. Ia menumpahkan segala kegelisahan dan amarah yang menguasai hatinya.

__ADS_1


“Bibi, sebentar lagi aku akan menikah dengan pria yang tidak aku cintai,” keluhnya berderai air mata. Zoya berkali-kali mencoba menahan isak tangisnya namun dadanya justru semakin sesak.


“Bagaimana kalau nanti dia memperlakukanku dengan buruk? Bagaimana kalau aku tidak bisa bahagia?” tanya Zoya.


Bagi Zoya, pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan harus dilakukan sekali saja seumur hidup. Hal itu pulalah yang membuat Zoya menangis karena ia tidak yakin pernikahannya dengan William akan bahagia nantinya. Karena jika pernikahan mereka tidak bahagia, rumah akan menjadi neraka bagi Zoya.


“Zoya, jangan menangis. Mungkin semua ini sudah takdir dari Tuhan. Kamu sudah berusaha menghindar tapi akhirnya kamu tetap harus menikah dengan Liam, bukan? Itu artinya Tuhan memang sengaja mempertemukan kalian berdua,” ujar Desi, berusaha menenangkan Zoya.


“Tapi, Bibi ... Aku takut Liam tidak bisa mencintaiku, begitu pula sebaliknya,” keluh Zoya.


Desi tersenyum tipis. “Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Zoya. Percayalah pada Bibi kalau cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Kau dan Liam pasti akan saling mencintai di masa depan,” ujar Desi.


Zoya memeluk Desi semakin kencang, meluapkan emosi di dadanya.


“Sekarang lebih baik kau tidur dan tenangkan dirimu terlebih dahulu,” ucap Desi, memberikan saran.


Zoya mengangguk-anggukkan kepala, lalu masuk ke dalam kamar. Ia berusaha melupakan hal tersebut namun ia sadar kalau dia tidak akan bisa. Satu-satunya jalan yang harus Zoya tempuh saat ini adalah berupaya supaya pernikahannya tak berakhir menjadi petaka untuk Zoya.

__ADS_1


__ADS_2