
Hari ini adalah hari pertama William kembali bekerja di kantor setelah hampir satu tahun hanya bekerja di rumah saja. Para karyawan menyambutnya dengan hangat dan mengucapkan selamat atas kesembuhan dan pernikahan William. Mereka bahagia karena akhirnya mereka dapat bekerja di bawah perintah William kembali. Bukannya mereka tidak senang bekerja dengan Ryan, hanya saja William yang berusia jauh lebih muda dari Ryan memiliki pikiran yang tidak jauh berbeda dengan karyawannya yang kebanyakan masih muda jadi mereka lebih suka kalau perusahaan dipimpin oleh William.
Sementara itu, William justru tengah bersedih hati sebab dia merindukan Zoya seharian ini. Belum sampai setengah hari bekerja namun pikiran William sudah melalang buana membayangkan tentang wajah manis Zoya. Saat di rumah, dia terbiasa dengan melihat Zoya sembari melakukan pekerjaannya. Tapi sekarang, dia tidak bisa melihat Zoya karena Zoya sedang ada di rumah sementara William berada di kantor.
“Argh! Bisa gila aku kalau begini caranya,” gerutu William sambil menjambak rambutnya. Pria itu kemudian mengambil ponselnya yang terletak di samping berkas laporan yang harus dia periksa dan menghubungi Zoya.
“Halo, Zoya,” sapa William.
“Halo, Mas. Ada apa kamu menelepon? Bukankah sekarang belum jam makan siang?” tanya Zoya. Suara gadis itu saja sudah berhasil membuat hati William terasa agak tenang. Pria itu jadi semakin ingin bertemu dengan gadis tersebut.
“Zoya, maukah kamu membuatkan makan siang untukku dan mengantarnya ke kantor? Entah mengapa tiba-tiba aku ingin memakan masakanmu,” ucap William.
Di seberang sana, Zoya terkekeh geli. “Bukankah baru tadi pagi kamu sarapan dengan masakanku, Mas?” tanyanya, tidak habis pikir dengan William. Pria itu baru bekerja kurang dari empat jam, tapi dia sudah merengek seolah dia belum memakan masakan Zoya selama beberapa hari.
“Oh, ayolah, Zoya. Apakah kamu tidak kasihan dengan suamimu ini? Bagaimana kalau aku pingsan karena kelaparan?” bujuk William.
“Baiklah, aku akan memasak untuk kamu,” balas Zoya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Terima kasih, Sayang. Aku mencintai kamu,” ucap William.
“Aku juga mencintai kamu, Mas,” balas Zoya kemudian menutup panggilan tersebut.
Zoya yang saat itu sedang mengerjakan pekerjaan rumah buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu, dia pergi ke dapur untuk memasak makan siang untuk William. Kali ini dia akan memasak sesuatu yang tidak terlalu sulit supaya bisa selesai dengan cepat. Pilihan Zoya jatuh pada pasta carbonara.
__ADS_1
Dengan cepat Zoya menyelesaikan masakannya. Sekarang sudah pukul sebelas siang, Zoya lantas bersiap-siap untuk pergi ke kantor William. Karena tak pernah pergi ke tempat resmi sebelumnya, gadis itu terlebih dahulu mandi dan berdandan dengan polesan make-up yang tidak terlalu tebal. Dia harus tampil cantik supaya tidak mempermalukan suaminya.
Zoya memerhatikan pantulan dirinya di cermin. Kini, dia memakai dress selutut berwarna biru laut dan sebuah sepatu hak tinggi. Penampilan sederhananya tidak akan mempermalukan William sebab dia menata rambutnya dengan cara blow dry. William pasti tidak akan malu jika melihatnya.
Setelah selesai bersiap-siap, Zoya membawa kotak makanannya dan pergi ke kantor William dengan diantarkan oleh seorang sopir yang rupanya sudah dikirim oleh William. Zoya yang sudah sering bepergian menggunakan mobil kini tidak terlalu takut berkendara seperti dulu. Ketakutan itu memang ada. Namun tidak sebesar dulu.
Sesampainya di kantor William, Zoya tidak langsung keluar. Wanita itu masih duduk di bangku belakang mobil sambil menatap ke arah lobi.
“Nona, kenapa Anda tidak turun?” tanya sopir pribadinya.
“Aku takut kalau kedatanganku mempermalukan Liam,” ucap Zoya seraya menggigit bibir bawahnya.
“Nona, semua orang tahu kalau Anda adalah istri dari direktur utama di perusahaan ini. Tidak akan ada yang berani menertawakan Anda,” ucap sang sopir, meyakinkan Zoya kalau semuanya akan baik-baik saja.
“Baiklah, aku akan masuk. Terima kasih sudah mengantarku ke sini,” ucap Zoya.
“Sama-sama, Nona,” balas sopirnya.
Zoya menarik napas dalam-dalam kemudian turun dari mobil. Gadis itu langsung menghampiri petugas resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan William karena dia tidak tahu di mana letaknya.
“Selamat siang, apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis tersebut.
“Aku ingin bertanya di mana ruangan William?” tanya Zoya.
__ADS_1
“Ruangan Pak William berada di lantai tiga puluh. Anda bisa mengaksesnya melalui lift paling ujung kiri, itu adalah lift khusus para pekerja di lantai tiga puluh,” jawab petugas resepsionis tersebut, sedikit gemetar karena gugup menjawab pertanyaan istri bosnya.
Zoya tersenyum lebar. “Terima kasih,” balasnya.
Resepsionis tersebut mengangguk. Dia tidak menyangka kalau istri bosnya tidak sombong sama sekali. Berbeda sekali dengan Renata yang dulu sangat angkuh padahal dia hanyalah kekasih William.
Para pegawai yang melihat Zoya menatap Zoya sambil menundukkan hormat. Zoya membalas hal tersebut dengan senyuman. Hal itu tentu membuat para pegawai langsung berpikir kalau istri bos mereka sangat ramah tamah dan tidak sombong seperti mantan kekasih bosnya, Renata.
Zoya pun pergi ke lantai tiga puluh dan masuk ke ruang kerja William. Kata sekretaris William, pria itu sedang ada rapat jadi Zoya memilih untuk melihat-lihat ruang kerja William.
Mata Zoya terpana saat melihat ruang kerja William yang sangat luas dan rapi. Dia pun berjalan menuju ke pintu yang ada di dalam ruangan tersebut, penasaran dengan apa yang ada di baliknya.
Mata Zoya membelalak saat mendapati sebuah foto saat William dan Renata berada di atas ranjang menyambut kedatangannya. Hati Zoya memanas saat membayangkan apa saja yang telah dilakukan William dan Renata di ruangan ini.
Saat Zoya akan keluar dari sana, seseorang memeluknya dari belakang. Orang itu adalah William yang baru saja selesai melakukan rapat.
“Zoya, aku minta maaf. Tidak seharusnya kamu melihat ini semua. Nanti aku akan meminta seseorang untuk menyingkirkan barang-barang ini dan mengganti semua furniturnya,” ucap William.
Zoya menghembuskan napas lega. Gadis itu membalik tubuhnya kemudian mengecup bibir William sebagai rasa terima kasih.
William yang mendapat kecupan dari Zoya merasa tidak puas. Dia pun meraup bibir Zoya dengan buas, mengecup tiap sisi bibir mungil itu tanpa merasa puas sedikit pun.
“Zoya, aku menginginkanmu,” bisik William di depan telinga Zoya. “Ayo kita pergi ke suatu tempat,” sambungnya.
__ADS_1
Zoya mengangguk. Sebab dia sudah tidak tahan untuk menikmati tubuh Zoya, William membawa Zoya ke hotel terdekat. Persetan dengan makan siang yang Zoya bawa. Siang ini, Zoya yang akan menjadi makan siang untuk William.