Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 13


__ADS_3

Seperti yang sudah disarankan oleh dokter, hari ini Wulan telah membawa seorang psikolog untuk menemui Liam. Wulan berharap Liam bisa menceritakan semuanya kepada psikolog yang dia bawa, agar Wulan tahu langkah apa yang harus diambil untuk menyembuhkan putranya tersebut. Karena dia sangat tidak tahan melihat kondisi Liam saat ini yang benar-benar terpuruk.


Awalnya Wulan sudah mencari tahu langkah awal yang harus dia lakukan, oleh sebab itu Wulan meminta seorang psikolog untuk datang. Wulan bisa saja mendatangkan keduanya secara bersamaan, psikolog dan psikiater, tapi Wulan yakin putranya tidak memiliki gangguan kejiwaan, untuk itu Wulan lebih memilih psikolog untuk membantu Liam.


“Selamat siang, tuan Rudi” sapa Wulan pada tamunya. Seorang psikolog yang di rekomendasikan oleh dokter yang merawat Liam.


“Selamat siang, Nyonya Wulan. Bagaimana kabar Anda hari ini?” tanya Rudi pada Wulan.


“Saya cukup baik. Tetapi putra saya kondisinya begitu buruk sekarang. Saya harap Anda bisa membantunya, karena dia terus saja ingin bunuh diri terlebih jika memikirkan kekasihnya yang menghilang.” Wulan mulai menjelaskan masalah yang sebenarnya dia hadapi pada Rudi.


“Baiklah, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu putra Anda. Selama dia mau membuka diri, maka kita pasti bisa menolongnya, Nyonya.”


“Maksud Anda? Saya tidak mengerti!” tanya Wulan pada Rudi.


“Sejatinya, seseorang akan sembuh bila dia mau untuk sembuh, begitu pula dengan putra Anda, jika dia mau membuka dirinya kepada saya, maka saya bisa menolongnya. Tetapi jika putra Anda tetap diam, saya tidak yakin bisa membantu putra Anda, Nyonya. Namun saya akan berusaha dengan keras agar putra Anda mau membuka diri kepada saya.” Rudi tidak bisa menjanjikan bahwa terapi ini akan berhasil. Tetapi setidaknya dia akan mencoba yang terbaik yang bisa dia lakukan.


“Saya menyerahkan semuanya kepada Anda, Tuan. Semoga Liam bisa membuka dirinya pada, Anda. Menceritakan dan mencari jalan keluar untuk masalahnya.”

__ADS_1


Sekarang Wulan hanya bisa berharap Liam bersedia menerima kehadiran Rudi untuk membantunya. Semoga saja usahanya kali ini akan berhasil. Hanya itu yang Wulan harapkan saat ini.


Rudi mulai memasuki kamar tempat di mana Liam berada. Dia berjalan secara perlahan agar tidak mengejutkan Liam yang tampak sedang melamun saat ini. Karena dia harus mengamati perilaku Liam terlebih dahulu, sebelum dia memulai terapinya pada Liam.


Liam yang menyadari ada orang di belakangnya, segera menggerakkan kursi rodanya agar bisa berbalik ke arah orang yang berada di kamarnya. Karena saat ini dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Dan orang yang masuk ke kamarnya, sudah mengganggu ketenangannya. Liam tidak suka ada orang asing yang mendekatinya.


“Siapa kamu?” tanya Liam sembari memberikan tatapan tajamnya pada Rudi.


“Saya Rudi Tirtadjaya. Orang yang akan membantu Anda untuk keluar dari masalah Anda,” jawab Rudy tenang. Dia sadar kalau Liam tidak menginginkan kehadirannya sekarang.


“Saya seorang psikolog, saya tahu Anda sedang tersiksa sekarang. Karena Anda terus menyalakan diri Anda sendiri untuk apa yang telah terjadi. Tolong biarkan saya membantu Anda kali ini. Kita bisa berteman dan Anda bisa menceritakan masalah Anda pada saya,” bujuknya pada Liam. Berharap Liam akan berubah pikiran dan mau membuka diri kepadanya.


“Apa kamu pikir aku sudah gila? Aku masih cukup waras untuk berpikir. Sekarang keluar dari sini dan jangan pernah datang lagi ke hadapanku! Aku tidak membutuhkan kamu untuk menolongku. Pergi dari kamarku sekarang juga!” usirnya. Liam bahkan sudah menunjukkan kemarahan yang memuncak. Karena Liam sangat terhina dengan kedatangan seorang psikolog untuknya. Apakah ibunya berpikir bahwa dia sudah gila?


“Tidak semua orang yang didatangi psikolog atau pun psikiater adalah orang gila. Anda hanya salah persepsi terhadap hal itu. Saya tahu bahwa Anda sekarang sedang sangat tertekan dengan kondisi yang Anda alami, oleh karena itu saya mencoba untuk membantu Anda, agar Anda bisa mencari solusi untuk keluar dari rasa tertekan yang tengah Anda rasakan sekarang.” Rudy mencoba meluruskan pemikiran Liam mengenai kehadirannya.


“Tidak! Keluar sekarang, atau aku akan berbuat kasar padamu!” bentak Liam pada Rudy. 

__ADS_1


“Baiklah, saya akan keluar sekarang, tetapi tolong kembalikan diri Anda. Jangan pernah mencoba untuk menyakiti diri Anda sendiri, karena itu tidak akan bisa menolong Anda sama sekali.” Rudy segera keluar dari kamar Liam setelah mengatakan apa yang perlu dia sampaikan.


Wulan menunggu dengan cemas di ruang tamu. Dia harap Liam mau membuka dirinya sekarang. Karena itu adalah harapannya yang paling besar. Saat dia melihat Rudy. Wulan segera menghampirinya untuk tahu apa yang terjadi.


“Bagaimana, Tuan Rudy? Apa putra saya mau melakukan terapi bersama Anda?” tanya Wulan penuh harap.


“Maaf, Nyonya. Putra Anda tidak mau membuka dirinya kepada saya. Dia bahkan mengusir saya. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah melakukan pendekatan batin kepadanya. Tapi saya tidak bisa melakukan hal itu. Karena dia jelas menolak kehadiran saya. Maafkan saya karena tidak bisa membantu Anda.” Rudy sangat menyesal karena tidak bisa membantu Liam.


“Tolong jangan katakan itu, Tuan. Tolong usahakan sekali lagi, saya yakin putra saya pasti bisa menerima Anda nantinya. Jadi saya mohon jangan menyerah begitu cepat terhadap putra saya.” Wulan tidak bisa kehilangan harapannya kali ini. Dia ingin putranya pulih seperti sediakala.


“Maafkan saya, Nyonya. Tapi saya benar-benar tidak bisa membantu putra Anda. Dia sepenuhnya sadar, dia hanya tertekan, tapi dia tidak ingin berbagi dengan siapa pun. Dia kecewa pada keadaannya, selain psikolog, yang dia butuhkan adalah dukungan dari orang-orang terdekatnya, itu jauh lebih baik dari psikolog. Sebaiknya Anda juga meminta perawat laki-laki agar bisa menangani putra Anda secara langsung. Karena dia pasti tidak ingin disentuh oleh wanita mana pun. Anda juga bisa meminta perawat untuk menjaganya satu kali 24 jam. Untuk menghindari hal buruk yang mungkin saja dia lakukan. Saya permisi, Nyonya.” Rudy bergegas pergi dari sana setelah mengatakan itu. Meninggalkan Wulan yang hanya bisa menghela nafas berat menatap kepergiannya.




Guys, sebelumnya aku minta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, ataupun penjelasan yang ada di dalam cerita. Mohon dukungannya, sekali lagi terima kasih sudah mengikuti setiap tulisanku.🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2