
William mengetuk-ngetukkan jarinya di meja ruang tamu. Zoya tidak kunjung pulang padahal sebentar lagi dia harus menjalani terapi. Ia gelisah. William tidak mau melakukan terapi kalau tidak ada Zoya yang mendampingi dirinya.
Drrtt ... Drrtt ....
William mengambil ponselnya dari saku celana. Dia mengerutkan dahi melihat nama dokternya tertera di layar ponselnya.
“Halo, Dokter,” sapa William.
“Halo, Pak William. Saya ingin memberitahukan kalau hari ini tim terapi tidak bisa datang ke rumah Anda karena di rumah sakit sedang ada pasien yang membutuhkan penanganan intensif. Saya sudah mencoba menelepon Bu Zoya tapi teleponnya tidak diangkat,” terang sang dokter.
“Benarkah? Istriku sedang berada di pasar, mungkin dia tidak mendengarnya karena di sana bising,” ucap William, menutupi istrinya.
“Baiklah, Pak. Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Saya tutup dulu teleponnya. Selamat siang,” ucap dokter tersebut kemudian menutup panggilannya setelah disetujui oleh William.
William jadi bertanya-tanya ke mana perginya Zoya sebenarnya sampai gadis itu mengabaikan telepon dari dokter. Kecurigaan demi kecurigaan merasuki pikiran pria itu. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat membayangkan jika sang istri kemungkinan besar sedang pergi bersama pria lain. Fakta bahwa pria itu adalah Damar yang tak kalah sukses dan tampan dari William membuat William semakin naik pitam. Dia tidak mau kalah dari saingannya itu.
“Ke mana Zoya sebenarnya? Aku sangat lapar,” ucap William. Dia mendorong kursi rodanya ke arah meja makan dan mendapati meja makan yang kosong. Dia lantas pergi ke dapur dan mengambil apel dari kulkas untuk mengganjal perutnya.
Sebab Zoya tak kunjung pulang, William akhirnya harus memesan makanan secara online karena cacing-cacing di perutnya sudah meronta-ronta sejak tadi. Pria itu terpaksa makan dengan hati yang kesal. William menyumpah serapah istrinya dari tadi sebab Zoya seenak hati pergi tanpa izin dulu kepadanya.
William masih setia menunggu Zoya, menunggu gadis itu pulang sampai senja tiba. Pria itu dari tadi mengecek ke arah teras dari jendela ruang kerjanya untuk memastikan apakah Zoya sudah datang atau belum. Berulang kali dia melakukannya, tetap saja dia tidak mendapati Zoya datang. Pria itu bahkan tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya sebab Zoya tak kunjung datang. Dia khawatir ada hal buruk yang terjadi dengan Zoya di luar sana.
“Ke mana perginya Zoya sebenarnya? Kenapa dia tidak pulang-pulang?” tanya William.
__ADS_1
William ingin sekali menelepon orang tuanya untuk menanyakan apakah Zoya berada di sana tapi dia tidak mau orang tuanya semakin marah kalau tahu Zoya pergi dari rumah.
“Apakah mungkin Zoya berkunjung ke rumah lamanya? Ah, tidak mungkin, dia pasti memang pergi bersama pria itu,” gerutu William.
Rasa cemburu yang dia rasakan sudah mengalahkan logikanya. Dari seluruh kemungkinan di mana keberadaan Zoya saat ini, William lebih yakin kalau Zoya berselingkuh darinya. Ditambah lagi, pertengkaran mereka terakhir kali disebabkan karena William melarang Zoya untuk bertemu dengan Damar.
“Zoya pasti mengambil kesempatan untuk pergi menemui pria itu saat aku pergi tadi,” gumam William dengan mata berapi-api. “Awas saja kalau dia benar-benar pergi menemui pria itu.”
Setelah adzan maghrib berkumandang, Zoya akhirnya tiba. William menunggu gadis itu sambil melipat tangannya di depan dada. Zoya terkejut dan hampir saja terbentur pintu karena sosok William menyambut kedatangannya.
Gadis itu datang dengan wajah yang lebih cantik dan segar. Penampilannya juga menarik. Hal tersebut membuat William semakin yakin kalau Zoya tadi pergi berkencan dengan Damar.
“Mas, kamu bikin aku terkejut saja,” ucap Zoya, mencoba bersikap biasa. Gadis itu berjalan masuk, kemudian menutup pintu rumah William.
Zoya yang dapat merasakan aura kemarahan William meneguk salivanya. Gadis itu berusaha untuk bersikap tenang meskipun jantungnya berdegup dengan kencang. Tadi, rencananya dia hanya ingin pergi ke spa dan makan gelato lalu pulang. Tapi, Uci malah menghampirinya jadi dia mau tidak mau akhirnya pergi mengobrol dengan Uci terlebih dahulu di kafe sampai tanpa sadar hari sudah senja. Sudah lama tidak bertemu dengan Uci membuat Zoya lupa waktu karena topik pembicaraan mereka menjadi sangat banyak.
“Aku tadi pergi ke tempat spa yang ada di blok sebelah, Mas,” jawab Zoya apa adanya.
“Satu hari penuh?” tanya William dengan tatapan penuh selidik. Dia tidak percaya dengan ucapan Zoya. Wulan dulu juga sering ke spa, tapi tidak pernah sampai seharian penuh. Paling hanya beberapa jam saja.
“Aku tadi mampir ke kafe sebentar karena bertemu dengan temanku,” jawab Zoya.
William mendengus keras. “Teman atau pria itu?” tuduhnya.
__ADS_1
“Pria apa yang kamu maksud, Mas? Temanku perempuan,” balas Zoya, mengerutkan keningnya.
“Aku tahu kalau kamu pasti menemui Damar itu, bukan? Maka dari itu kamu pergi seharian penuh tanpa ingat waktu sama sekali. Kamu bahkan mengabaikan telepon dari dokterku. Apakah kamu lupa kalau hari ini aku ada jadwal terapi?” tanya William.
Meskipun dia sudah tahu kalau jadwal terapinya batal, William tetap akan memarahi Zoya dengan alasan tersebut. Ia tidak peduli kalau kemarahannya rasional, ia hanya ingin meluapkan seluruh isi hatinya.
“Mas, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk melupakan jadwal terapimu. Apakah tadi kamu sudah melakukan terapi?” tanya Zoya.
William mendengus. “Apakah kamu masih perlu bertanya?” William balik bertanya.
Zoya menghela napasnya. “Apakah kamu dari tadi menungguku, Mas?” tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.
“Aku sama sekali tidak menunggu kamu,” jawab William, gengsi kalau mengakuinya. “Tidak usah terlalu percaya diri. Untuk apa aku menunggu kedatangan wanita yang lebih memilih pergi bersama pria lain?”
Saat ini dia sedang marah besar pada Zoya, tidak mungkin dia membuat Zoya besar kepala dengan mengakui kalau dia dari tadi menunggu kedatangan Zoya. Yang ada Zoya akan semakin meremehkannya nanti.
“Terserah apa katamu, Mas. Aku ingin istirahat. Kita berdua sama-sama pergi hari ini. Jadi, aku rasa kamu juga sudah makan jadi aku tidak perlu memasak untukmu malam ini,” ujar Zoya lalu berjalan menuju lift.
“Zoya! Aku belum selesai bicara,” tegur William. Tapi Zoya tidak mendengarkan William sama sekali. Gadis itu terus pergi mendahului William menuju ke lantai tiga. Sementara William harus menunggu beberapa saat untuk bergantian memakai lift karena ditinggalkan oleh Zoya.
Setibanya di kamar, William melihat Zoya sudah terlelap di sisi kiri ranjangnya. Setelah beberapa waktu melakukan terapi, William sudah mulai bisa menggerakkan tubuhnya. Tapi, dia ingin mencari cara untuk menarik perhatian Zoya jadi dia pura-pura terjatuh saat berpindah dari kursi roda kasur.
Bruk!
__ADS_1