Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 30


__ADS_3

Malam itu, Zoya tidak bisa tidur. Berkali-kali gadis itu mencoba untuk memejamkan matanya tapi tidak bisa. Ia menatap langit-langit kamarnya, lalu mendesah pelan. Zoya pun berguling ke tepi ranjang, lalu bangkit berdiri. Untuk menenangkan pikirannya, ia memutuskan pergi ke luar rumah dan duduk di teras sembari mengisi paru-parunya dengan udara segar.


Ia menyandarkan kepalanya di lengan kursi seraya memikirkan tentang nasibnya. Menikah adalah hal yang dimimpikan oleh setiap insan di muka bumi ini. Tapi, bagaimana kalau harus menikah dengan seseorang yang tidak dia cintai dan tidak mencintainya? Apakah pernikahan itu akan tetap menjadi mimpi indah untuk Zoya?


Zoya menghela napas panjang. Kalau ada seseorang yang harus Zoya nikahi saat ini, tentulah Zoya akan memilih menikah dengan Damar. Damar adalah pria yang mengisi hati dan pikirannya selama ini. Zoya tak akan berpikir dua kali kalau dia diminta menikahi Damar.


“Apakah aku benar-benar harus menikah dengan William?” gumam Zoya lirih.


William dan Damar adalah dua kutub yang berlawanan. Damar adalah pribadi yang hangat dan bisa membuat Zoya merasa nyaman. Sementara William ... Pria itu bagaikan mimpi buruk bagi Zoya. Pria temperamental yang hanya mengedepankan ego dan amarahnya sendiri.


Tanpa Zoya sadari, ada seseorang yang sedari tadi melihatnya melamun di teras rumah. Dia salah Damar. Damar memang sengaja ingin mengunjungi Zoya, tapi ia malah mendapati kondisi Zoya yang seperti ini. Ia bingung karena melihat Zoya tampak lemas dan lesu.


Zoya mengangkat kepalanya seiring dengan mendengar suara kaki mendekat. Zoya terkejut melihat Damar sudah berdiri di depannya.


“Mas Damar, silakan duduk, Mas,” ujar Zoya, sambil tersenyum lemah.


Bukannya duduk, Damar justru membuka suara untuk bertanya. “Kamu kenapa, Zoya? Dari tadi aku perhatikan kamu melamun,” tanya Damar sambil memiringkan kepalanya.

__ADS_1


Zoya menggeleng lemah, lalu berdiri dan berhamburan ke pelukan Damar. Ia memeluk pria itu dengan hangat, seakan bahwa pelukan itu adalah pertanda perpisahan bagi mereka berdua.


Zoya ingin sekali menceritakan semuanya kepada Damar, tapi ia masih ragu sebab ia sendiri masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Namun, mau sekeras apa pun Zoya menghindari takdir, dia harus menghadapinya jadi ia memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Damar.


Zoya melepaskan pelukan Damar, lalu menatap pria itu dengan tatapan sayu. Zoya menggigit bibir bawahnya. Ia tidak mungkin bisa mengatakan segalanya sambil menatap bening mata Damar. Zoya pun mengalihkan tatapannya sebelum mulai bercerita.


“Aku sebentar lagi akan menikah, Mas,” ucap Zoya, enggan menatap Damar.


Deg!


Mendengar itu, jantung Damar terasa seperti ditikam oleh benda tumpul. Pria itu membelalakkan matanya, terkejut dengan pernyataan Zoya yang begitu mendadak. Tidak ada hujan tidak ada angin, tapi badai seolah datang memorak-porandakan perasaan Damar.


“Kita duduk dulu, Mas. Aku akan menceritakan semuanya,” ucap Zoya. Zoya dan Damar pun duduk bersisian. Zoya menarik napasnya dalam-dalam.


“Aku dijodohkan dengan Liam, anak dari orang tua angkatku. Saat ini Liam lumpuh dan mengalami depresi. Mereka ingin aku menikahi Liam,” jelas Zoya. “Awalnya aku menolak. Aku meminta mereka bertanya pada Liam apakah dia setuju atau tidak karena aku pikir dia tidak akan setuju. Tapi ternyata tadi orang tua Liam berkata kalau Liam setuju.”


Damar mengambil tangan Zoya, lalu menggenggamnya dengan erat. Zoya pun menoleh, bertanya kenapa Damar memegang tangannya.

__ADS_1


“Zoya, jangan pernah menikah karena kamu terpaksa. Kau selalu berkata kalau pernikahan adalah sesuatu yang sakral untukmu. Kalau kau terpaksa, bukankah itu membuat arti dari sebuah pernikahan itu memudar?” tanya Damar.


“Aku tidak punya pilihan, Mas. Aku hutang budi pada orang tua Liam. Jika tidak ada mereka, mungkin aku tidak bisa hidup dengan layak seperti sekarang ini. Aku harus menikahi Liam. Hanya itu satu-satunya cara untuk membalas kebaikan hati mereka,” ucap Zoya.


Meskipun Zoya setuju dengan ucapan Damar soal tidak boleh menikah karena terpaksa, Zoya tidak punya pilihan yang lain. Menikahi William mungkin adalah sesuatu yang tidak pernah Zoya bayangkan sebelumnya. Tapi, hal itu adalah sesuatu yang harus Zoya lakukan. Dan bahkan ucapan dari pria yang dia cintai sekali pun tak bisa mengubah keputusannya untuk menikah dengan William.


Damar memejamkan matanya, merasakan perih yang perlahan mengiris hatinya. Pria itu merasa sedih tapi juga pasrah karena tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah hal ini. Ia hanya bisa mendukung Zoya meskipun hatinya menangis.


Damar berdiri. “Kalau begitu, selamat, Zoya. Aku turut senang akhirnya kau akan menikah,” ucapnya seraya tersenyum tipis. Damar menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk tidak memperlihatkan kekecewaannya pada Zoya. “Aku pulang dulu, Zoya,” pamitnya.


Zoya ikut berdiri, lalu mengantarkan Damar ke depan mobilnya. Zoya menyadari perasaan Damar untuknya. Perasaan cinta yang dimiliki Zoya dan Damar tidak pernah salah. Cinta mereka datang kepada orang yang tepat, namun tidak di waktu yang tepat. Dan karena hal itu pula, mereka harus merelakan kepergian satu sama lain.


“Mas, aku minta kamu jangan membenciku meskipun aku tahu hal itu tidak mudah,” ucap Zoya, menatap Damar penuh harap. “Dan maaf aku sudah membuat kamu terluka.”


Damar yang hendak masuk ke dalam mobil kembali mendekati Zoya dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ia memejamkan matanya, menikmati hangat pelukan Zoya. Damar menikmati setiap detik yang berlalu saat itu, berusaha menyimpan Zoya ke dalam memori terindah dalam hidupnya.


Kalau Damar bisa, pastilah ia akan menghentikan waktu supaya Zoya bisa terus berada dalam dekapannya. Tapi tidak, Damar tidak bisa melakukannya. Pelukan ini adalah pertanda perpisahan, karena sebentar lagi Zoya akan dimiliki oleh orang lain.

__ADS_1


“Aku tidak akan membenci kamu, Zoya,” bisik Damar terdengar tulus.


__ADS_2