Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 36


__ADS_3

Jika pasangan pengantin pada umumnya akan menghabiskan malam pertama dengan melakukan sesuatu yang menjadi kebutuhan biologis mereka, sepertinya hal tersebut tak akan bisa terjadi di dalam rumah tangga Zoya dan William. Jangankan menghabiskan waktu semalam bersama, bahkan mereka saja tidur terpisah. Zoya tidak tahu di mana kamar William dan begitu pula sebaliknya. Dua sejoli itu tampak seperti orang asing yang dipaksa untuk tinggal bersama.


Ya, sebenarnya pernyataan itu tidak salah juga. Nyatanya Zoya dan William adalah dua orang asing yang disatukan dalam ikatan pernikahan setelah proses perjodohan. Di antara mereka berdua tidak ada yang mengenal satu sama lain dengan baik. Ah, bertegur sapa saja hampir tidak pernah terjadi.


Akan tetapi, Zoya memilih untuk tidak memusingkan hal tersebut. Justru Zoya berpikir kalau ini adalah hal yang bagus karena tubuhnya sangat lelah dan membutuhkan waktu untuk beristirahat. Dari pada begadang semalaman dengan William, Zoya pastinya akan lebih memilih tidur di kasurnya yang empuk dan pergi ke pulau mimpi.


Hatinya memang sempat sedih karena dia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa sang suami tidak menginginkannya sama sekali. Namun, ia mengambil sisi positif dari itu semua dan menyimpulkan kalau William mungkin tidak ingin menyentuh perempuan yang tidak dia cintai.


Setelah hampir satu jam mencoba untuk memejamkan matanya, akhirnya Zoya terlelap. Ia memang bukan tipe orang yang bisa tidur di tempat asing. Namun, mau tidak mau ia harus memaksakan diri karena mulai hari ini ia akan tinggal di rumah mewah William.


Keesokan paginya, begitu sinar fajar menyelinap masuk ke sela-sela ventilasi kamarnya, Zoya membuka matanya. Ia terbangun dari tidur sembari menguap lebar. Gadis itu merentangkan tangannya, meregangkan otot-ototnya yang terasa tegang karena kelelahan. Pagi ini, ia terbangun dalam kondisi yang jauh lebih segar dari semalam.


“Jam berapa sekarang?” gumamnya. Karena di kamarnya tidak ada jam dinding, Zoya mengambil ponselnya di nakas dan memeriksa jam. “Ah, masih jam lima pagi ternyata,” sambungnya.


Zoya hendak menarik selimut kembali dan kembali terlelap dalam alam mimpi ketika ia mengingat kalau di rumah ini tidak ada pelayan atau pun koki. Gadis itu bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi, lalu berlari menuju ke dapur.


“Kenapa aku bisa lupa kalau di rumah ini tidak ada pelayan?” gerutunya pada dirinya sendiri.


Zoya membuka kulkas. Matanya membelalak lebar ketika melihat betapa lengkapnya bahan-bahan makanan di sini. Zoya tersenyum tipis, sepertinya William memang sengaja meminta seseorang untuk berbelanja supaya Zoya mau memasak makanan untuknya.

__ADS_1


“Baiklah, Liam. Aku menerima tantangan dari kamu. Aku akan memasak untuk kamu dan membuat kamu terkesan dengan masakanku yang lezat,” ucap Zoya lirih.


Dia berdiri di depan kulkas sambil memikirkan apa yang akan dia masak pagi ini untuk mereka berdua sarapan. Setelah memutuskan apa yang akan dia masak, Zoya mengambil bahan-bahan dari kulkas dan menatanya di atas meja dapur. Ia pun mulai memasak makanan yang akan dia buat.


Sementara itu, William baru saja terbangun dari tidurnya. Dia lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beruntungnya di kamar mandi sudah disiapkan perlengkapan yang bisa memudahkannya untuk mandi sendiri tanpa bantuan dari Zoya. Jadi, dia bisa langsung membersihkan diri tanpa perlu pusing-pusing meminta tolong Zoya.


“Pasti perempuan itu belum bangun. Dia adalah gadis manja. Pasti dia baru bangun nanti jam sepuluh,” gumam William dalam hati seiring pancuran air mengucur dari shower.


Dia sengaja tidak memberitahu Zoya kalau dia terbiasa bangun pagi dan sarapan pagi supaya dia bisa mencari kesalahan Zoya. Zoya pasti tidak akan menyangka kalau William terbiasa bangun pagi.


‘Sebentar lagi aku akan memiliki bukti kalau kamu bukanlah istri yang baik untukku,' gumam William dalam hati. ‘Papa dan Mama pasti langsung menyuruhku menceriakan Zoya kalau mereka tahu gadis yang mereka banggakan tak bisa mengurus anaknya.’


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, William mendorong kursi rodanya menuju ke lift. Ia lantas menekan tombol lantai dasar. Sesampainya di lantai dasar, William kembali mendorong kursi rodanya. Kali ini dia menuju ke dapur karena dia yakin kalau Zoya pasti belum bangun.


Laki-laki normal di luar sana pasti akan berkata kalau Zoya terlihat berkali-kali lipat jauh lebih cantik ketika dia sedang memasak. William si hati beku bahkan untuk beberapa detik sempat terpesona dengan kecantikan Zoya.


William menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak seharusnya dia merasa terpesona dengan perempuan yang merenggut kebebasannya untuk memilih seorang pasangan. Zoya bahkan membuat orang tuanya menjodohkan mereka padahal mereka tahu persis kalau William tidak mencintai Zoya.


“Pagi, Mas. Kamu sudah bangun ternyata,” sapa Zoya singkat lalu kembali fokus pada masakannya.

__ADS_1


Perempuan terlihat berkali-kali lebih manis ketika mereka sedang melakukan sesuatu yang mereka sukai dengan teliti. Seperti apa yang dilakukan oleh Zoya sekarang ini.


Berparas cantik dan memiliki kemampuan untuk memasak adalah dua poin plus untuk seorang wanita. Terlebih lagi karena banyak stereotip yang mengatakan bahwa gadis cantik biasanya tidak bisa memasak. Tentu Zoya adalah salah satu perempuan yang bisa dipuji oleh orang-orang karena hal tersebut.


William mengepalkan tangannya. Dia merasa kesal karena gagal membuka kedok Zoya. Sekarang dia malah harus menunggu Zoya yang sedang memasak seperti pasangan di film romantis yang bertolak belakang dengan apa yang diucapkan oleh William tadi.


“Kamu mau makan sekarang atau nanti, Mas?” tanya Zoya lagi sambil mempersiapkan masakan mereka berdua.


“Hmmm,” jawabnya singkat.


Zoya tersenyum tipis, kemudian menghidangkan makanan buatannya di meja makan. Tak lupa Zoya juga mendorong kursi roda William ke arah meja makan.


“Cobalah masakanku,” ucap Zoya. Dia memerhatikan William yang masih belum menjawab. “Mas, kamu harus mencoba masakanku. Tenang saja aku tidak memberikan racun di makananmu,” sambung Zoya.


William terpaksa menyuapi dirinya dengan satu sendok makanan. Pria itu membelalakkan matanya karena tidak menyangka kalau ternyata Zoya sangat pandai memasak. Masakan Zoya memang sangat lezat. William sampai terkejut saat merasakannya.


Tapi tidak, William akan terus mencari kesalahan Zoya. Setelah makan sekitar hampir setengah dari makanan tersebut, dia menegur Zoya dan berkata kalau masakan Zoya tidak enak.


“Kau ini ingin membunuhku, ya? Masakan tidak enak seperti ini kenapa dihidangkan?” ucap William sambil memuntahkan sedikit makanannya di piringnya.

__ADS_1


“Kau ini bisa memasak atau tidak? Kalau memasak saja kamus tidak becus, bagaimana dengan pekerjaan lain?” tanya William mencaci makanan Zoya.


Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Zoya, William kembali mendorong kursi rodanya menuju ke ruang kerja.


__ADS_2