
Zoya duduk termenung di depan kaca, menatap pantulan dirinya yang sedang dirias oleh seorang make-up artist. Wajah sederhananya kini dirias menjadi bak putri raja. Aura kecantikan Zoya semakin terpancar keluar berkat polesan make up di wajahnya. Zoya hanya bisa menurut saat pagi-pagi sekali seorang make up artist datang dan meriasnya.
Setelah riasan wajah selesai, Zoya dibantu Desi mengenakan gaun pengantin. Hari ini adalah hari pernikahan yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Sadjaja. Jika biasanya hari pernikahan akan dipenuhi oleh tawa dan kebahagiaan sang pengantin, pernikahan ini berbeda. Tidak ada kebahagiaan dari pengantin. Yang ada hanyalah rasa sedih karena mereka harus bersatu dengan seseorang yang tidak mereka cintai.
Andai saja Zoya bisa, mungkin sekarang dia sudah kabur bersama pria yang dicintainya. Memadu kasih di tempat yang jauh dari sana dan mencari arti bahagia. Tapi, Zoya bukanlah perempuan yang tidak tahu berterima kasih kepada orang yang sudah membiayai kehidupannya selama ini. Zoya harus menerima perjodohan yang dilakukan oleh orang tua angkatnya.
Jantung Zoya berdebar tak karuan. Jika orang-orang berpikir bahwa Zoya gugup karena akan menikah maka mereka semua salah sebab yang membuat Zoya gugup adalah fakta bahwa setelah hari ini, ia harus tinggal bersama dengan seseorang yang tidak pernah mencintainya. Hal tersebut jauh lebih menakutkan dari apa pun yang ada di dunia.
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara ketukan pintu membuat Zoya dan Desi menoleh. Desi membukakan pintu kamar Zoya, mendapati Wulan berdiri di depan kamar pengantin. Wulan beserta keluarga yang lain mengenakan setelan berwarna senada, yaitu putih. Meskipun pernikahan mereka akan diadakan secara sederhana, bukan berarti mereka akan berpenampilan seenaknya.
“Zoya, apakah kamu sudah siap?” tanya Wulan sambil tersenyum. Ia berjalan masuk ke dalam kamar Zoya. Ia merasa terharu karena William akan mendapatkan istri secantik Zoya. “Kamu terlihat sangat cantik hari ini, Zoya,” puji Wulan.
Zoya tersenyum malu-malu. “Terima kasih, Tante,” ucapnya.
Meskipun pernikahan ini bukanlah pernikahan yang Zoya impikan, ia tetap merasa bahagia karena hari ini dia didandani bak ratu sejagad semalam. Tak ada yang bisa mengurangi perasaan bahagianya karena hal tersebut.
__ADS_1
“Liam pasti akan terpesona saat melihat kamu,” ucap Wulan, membuat Zoya tersadar kalau dia tidak seharusnya terlarut dalam kebahagiaan fana. Karena kenyataan sebentar lagi akan menghempaskannya.
‘Apa iya Liam akan terpesona melihatku?’ tanya Zoya dalam hati, ragu akan ucapan Wulan yang hanya akan memberinya harapan palsu.
“Ayo, kita keluar. Penghulu sudah menunggu di luar,” ucap Wulan sembari tersenyum.
Zoya menganggukkan kepalanya. Dengan didampingi Wulan dan Desi, Zoya keluar dari kamar lalu berjalan menuju ke ruang tamu di mana acara ijab kabul akan dilaksanakan.
William yang tengah duduk di depan meja penghulu menolehkan kepalanya saat melihat kedatangan Zoya. Untuk sepersekian detik William terpukau dengan kecantikan Zoya namun dia tersadar kalau Zoya hanyalah gadis manipulatif yang ingin memanfaatkan keluarganya.
Zoya duduk di samping William. Sementara Wulan dan Desi duduk di kursi belakang mereka. Wulan tersenyum penuh haru, ia bahkan sempat menitikkan air mata lantaran tak percaya akhirnya anaknya menikah juga. Ryan yang duduk di sebelah Wulan tak kalah bahagia. Dia juga tak henti-hentinya tersenyum menatap William dan Zoya.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara William bin Ryan dengan anak kami yang bernama Zoya berupa emas dua puluh gram dan uang seratus juta rupiah dibayar tunai,” ucap si penghulu sambil menjabat tangan penghulu.
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Zoya binti Adipati dengan maskawin senilai tersebut dibayar tunai,” ucap William dalam satu tarikan napas.
“Bagaimana saksi, apakah sah?” tanya penghulu.
__ADS_1
“Sah!” seru para tamu undangan.
Kini Zoya dan William sudah terikat dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Setelah selesai acara ijab kabul, mereka melakukan acara bertukar cincin. Ryan yang melihat William tampak kaku jadi gemas sendiri dan menyuruh William dan Zoya bersalaman.
William mengulurkan tangannya, Zoya menerima uluran tangan William lalu mengecup punggung tangan William.
Hari itu, para tamu menjadi saksi bahwa dua sejoli itu sudah resmi bersatu di hadapan Tuhan dan tak akan ada yang bisa memisahkan mereka kecuali kehendak Tuhan.
Setelah acara pernikahan dan tasyakuran sederhana selesai, Zoya ingin mengajukan permintaannya untuk tinggal semalam di rumah ini dulu. Dia ingin tidur di kamarnya untuk yang terakhir kalinya.
“Tante,” Zoya memanggil Wulan.
“Zoya, sekarang kamu adalah istri Liam. Panggil kami Mama dan Papa saja,” ucap Wulan.
Zoya tersenyum lalu mengangguk. “Ma, nanti malam aku—”
“Kami akan tinggal terpisah dari Mama dan Papa mulai nanti malam,” ucap William cepat, memotong ucapan Zoya.
__ADS_1
Zoya, Wulan, Ryan, Desi, dan Leila dibuat terkecil karena ucapan spontan William.