Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 60


__ADS_3

Zoya tersentak saat mendengar pertanyaan dari William. Zoya sendiri tidak tahu jelas bagaimana perasaannya terhadap William. Gadis itu akui kalau dia memang merasa nyaman setiap kali berada di dekat William. Tapi, dia belum bisa memastikan apakah perasaan yang dia miliki adalah sebuah perasaan cinta atau hanya sekadar rasa nyaman karena mereka setiap harinya menghabiskan waktu bersama.


Zoya berusaha menghindar dari pertanyaan William. Gadis itu bangkit berdiri, hendak pergi meninggalkan William namun dengan sigap William menahan tangannya dan menarik tangan Zoya sampai gadis itu kembali mendaratkan pantatnya di sofa. William tidak akan membiarkan Zoya pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya.


“Zoya, aku sudah menjawab pertanyaan dari kamu. Sekarang giliran kamu yang harus menjawab pertanyaan dari aku,” ucap William, menahan Zoya supaya tidak pergi.


“Mas, aku tidak mau menyakiti kamu dengan jawabanku,” balas Zoya seraya menundukkan kepalanya. Gadis itu tidak mungkin berkata kalau dia mencintai sang suami sebab dia sendiri masih belum yakin dengan perasaannya. Dia mungkin akan mengatakannya nanti. Ya, nanti di saat dia sudah yakin dengan apa mau hatinya.


Sementara William tersenyum getir ketika mendengar ucapan Zoya. Dia berpikir kalau Zoya mungkin masih menyukai Damar. Jika biasanya William akan marah kepada Zoya, kali ini dia mencoba sekeras mungkin untuk menyembunyikan amarahnya. Pria itu memilih untuk berpikir melalui sisi lain supaya tidak marah kepada Zoya.


‘Apakah mungkin Zoya tidak bisa melupakan Damar karena selama ini aku bersikap kasar kepada dia?’ tanya William dalam hati. ‘Kalau memang begitu kenyataannya, maka aku akan berusaha lebih keras untuk membuktikan kepada Zoya kalau aku sudah berubah dan aku bukanlah pria kasar seperti apa yang dia pikirkan.’


“Zoya, ayolah. Katakan saja apa yang kamu rasakan kepadaku,” desak William sambil memegang pundak Zoya.


Zoya menggigit bibir bawahnya. Gadis itu menarik napas dalam-dalam kemudian mengatakan sesuatu yang dia rasakan selama pernikahan mereka.


“Dari awal aku menikah dengan kamu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan mengharapkan kamu untuk menyukaiku, Mas. Pernikahan kita sejak awal tidak pernah didasari oleh sebuah cinta dan aku sadar betul dengan hal tersebut ....”


Zoya menghentikan kalimatnya sejenak untuk melihat bagaimana tanggapan William. Melihat William yang tampak setia mendengarkan ucapannya, Zoya lantas melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti.

__ADS_1


“Aku berkomitmen untuk tidak jatuh cinta kepada kamu karena aku tidak mau kalau aku akan berakhir sakit hati karena aku sadar diri kalau kamu masih mencintai Renata. Untuk itu, maaf sekali, Mas ... Aku belum memiliki perasaan apa-apa untuk kamu,” jelas Zoya.


Ucapan Zoya menikam ulu hati William. Memang semua ini dari awal adalah salah William. Kalau saja William bisa menghargai Zoya, mungkin sekarang Zoya sudah mulai mencintainya. Tapi, apa daya? William tak punya mesin waktu yang bisa dia gunakan untuk mengubah masa lalu mereka. Sekarang William harus menerima kenyataan bahwa Zoya belum mencintainya. Iya, belum. Karena William bersumpah kalau dia akan membuat Zoya mencintainya di masa mendatang.


William tersenyum tipis. “Kalau begitu, kenapa kita tidak memulai segalanya dari awal lagi? Ayo, kita jalani pernikahan yang sesungguhnya, Zoya. Kita lakukan apa yang suami dan istri sungguhan lakukan dan akhiri semua sandiwara ini,” ajak William penuh semangat.


Zoya terkejut mendengarnya. Ia rasanya benar-benar seperti sedang bermimpi. Tak pernah sekali pun Zoya bayangkan kalau waktu di mana William memintanya untuk menjalani pernikahan sesungguhnya akan tiba.


Zoya terdiam. Tapi, beberapa detik kemudian dia tertawa kikuk. “Bukankah selama ini aku sudah melakukan peranku sebagai seorang istri yang baik, Mas?” seloroh Zoya diiringi dengan suara gelak tawanya.


William tersenyum. “Tapi, ada satu hal yang belum kita jalankan untuk menyempurnakan hubungan kita sebagai suami dan istri, Zoya,” balas William.


“Apakah aku harus menjelaskannya?” tanya William seraya menggaruk-garuk kepalanya. “Kita belum melakukan malam pertama, Zoya.”


Mendengar hal tersebut, pipi Zoya langsung merona. Gadis itu salah tingkah dan tak tahu apa yang harus dia katakan untuk membalas ucapan William. Malu dengan William, Zoya lantas berdiri dan berlari meninggalkan ruang tamu dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus.


Sementara William terkekeh di tempatnya saat melihat tingkah menggemaskan sang istri. William jadi bertanya-tanya apakah Zoya pernah melakukan hal itu sebelumnya karena sepertinya Zoya tidak pernah memiliki hubungan serius dengan seorang laki-laki.


Hari itu, hubungan Zoya dan William tampak semakin canggung sebab Zoya masih saja merasa salah tingkah setiap kali mengingat apa yang dikatakan oleh William. Gagasan tentang dirinya dan William melakukan malam pertama benar-benar membuat Zoya malu. Gadis itu belum pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya dan dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa kalau William memintanya untuk melakukan hubungan badan.

__ADS_1


Di sisi lain, William merasa kesal karena Zoya lebih banyak diam dan enggan menatap ke arahnya setiap kali William mengajak Zoya berbicara. William tahu mungkin Zoya merasa malu dan salah tingkah. Tapi, dia kesal karena Zoya seperti mengabaikannya.


Malam harinya William mencari cara supaya Zoya bisa bersikap biasa saja padanya. Lagi pula mereka sudah menjadi suami istri. Pembahasan tentang hal tersebut seharusnya bukanlah hal tabu lagi.


“Rendy, apakah kamu tahu bagaimana caranya supaya aku bisa mengajak istriku melakukan malam pertama?” tanya William pada Rendy melalui sambungan telepon. Rendy adalah orang kepercayaannya, William yakin pria itu tidak akan berani menertawakan pertanyaannya.


“Maaf, Pak. Apakah saya tidak salah dengar?” tanya Rendy.


William berdecap. “Tidak. Kamu tidak salah dengar, Ren. Apakah kamu tahu caranya?” tanya William.


“Mungkin Anda bisa merayunya perlahan saja, Pak. Jangan membuat kesan kalau Anda memaksa atau semacamnya. Biarkan Mbak Zoya yang memutuskan untuk melakukannya dengan Anda,” jawab Rendy.


“Baiklah, Ren. Terima kasih atas sarannya. Ingat, jangan katakan pada siapa pun kalau kamu tidak mau dipecat,” ancam William. Mau ditaruh di mana muka William kalau sampai ada orang yang mengetahui tentang apa yang dia tanyakan pada Rendy.


“Baik, Pak. Anda bisa mempercayakan hal ini kepadaku,” balas Rendy kemudian mematikan sambungan telepon.


William mencerna ucapan Rendy sambil memikirkan cara supaya keadaan di antara dia dan Zoya tidak lagi canggung. Sepertinya dia harus menemui Zoya dan berkata kalau dia tidak akan memaksa Zoya melakukan hal itu.


Benar saja, William pergi menghampiri Zoya di dapur ketika Zoya sedang memasak makan malam untuk mereka berdua. Pria itu lantas menjelaskan kalau dia tidak akan meminta Zoya melakukan malam pertama kalau Zoya belum siap. Hal tersebut membuat Zoya tersenyum lebar. Gadis itu merasa senang sebab William tidak memaksa Zoya untuk melakukan tugasnya sebagai seorang istri hari itu juga.

__ADS_1


__ADS_2