
Jika Zoya bisa menjalani hari-harinya seperti biasanya. Berbeda dengan Wulan yang saat ini justru kembali repot menghadapi sikap Liam yang kembali mengamuk pada para pelayan yang mencoba membantunya. Padahal mereka hanya mengantarkan makanan yang Wulan perintahkan, memastikan agar Liam bisa makan dengan baik.
Namun William atau yang lebih sering disapa Liam itu justru melempar semua peralatan makan, hingga pecahnya berserakan di lantai kamarnya. Membuat semua pelayan yang ada di sana menjadi sangat takut karenanya. Sehingga mereka segera berlari keluar untuk mengatakan apa yang terjadi pada Wulan.
Wulan yang mendengar semua itu, hanya bisa memijat pelipis matanya saat ini. Sebab dia tidak menyangka kalau putranya akan melakukan hal ini lagi dan lagi. "Sampai kapan akan seperti ini, William?" gumamnya yang tetap saja tidak akan bisa mengabaikan putranya, meski pun terkadang Wulan sangat lelah menghadapi sikap Liam.
Wulan bergegas menuju kamar Liam. Ketika melihat ke dalam kamar putranya, Liam tampak duduk sambil menatap ke arah jendela kamar yang terbuka. Liam tampak melamun dan tatapan matanya begitu sayu. Sebagai seorang ibu, Wulan merasa sangat sedih melihat kondisi Liam.
“Liam, kenapa kamu membuang makananmu?” tanya Wulan dengan suara yang begitu lembut.
“Aku sudah mengatakan pada mereka, kalau aku tidak ingin makan, tetapi pelayan itu begitu keras kepala.” Liam menjawab tanpa menatap Wulan.
“Mereka hanya menjalankan perintah yang Mama berikan kepada mereka. Tolong jangan bersikap seperti itu? Kamu tidak makan sejak semalam, jangan menyiksa dirimu seperti ini, Liam."
“Aku hanya sedang tidak berselera,” ucap Liam dingin.
“Kamu bahkan belum mengisi perutmu dengan sedikit makanan, lalu sekarang kamu mengatakan, kalau kamu tidak berselera. Apa kamu memang ingin di rawat di rumah sakit? Setidaknya cairan infus bisa membantumu," ucap Wulan yang tidak mengerti cara menghadapi Liam.
“Tidak, aku tidak mau ke sana. Aku hanya ingin menemukan Renata. Aku ingin mencarinya," teriak Liam.
“Mama tahu Mama salah, tapi harusnya semua ini bisa membuka matamu jika Renata bukan wanita yang baik. Dia lebih mencintai uang daripada dirimu. Terima kenyataan ini dengan lapang dada. Bahwa kamu dan Renata memang tidak di takdirkan untuk bersama. Masih banyak wanita yang jauh lebih baik darinya," ucap Wulan semakin memancing emosi Liam.
__ADS_1
“Semua yang Mama katakan itu adalah omong kosong. Aku sangat mengenal Renata, dia sangat mencintaiku. Mama mengatakan itu, karena tidak menyukainya. Aku tidak ingin membicarakan apa-apa lagi. Tolong tinggalkan aku sendiri!” bantah Liam yang tidak pernah terima siapa pun berkata buruk tentang Renata–kekasihnya.
Liam segera menggerakkan kursi rodanya menjauh dari Wulan, sebab Liam benar-benar tidak ingin berbicara dengan ibunya yang telah membuat Renata menghilang.
“Liam, mama belum selesai bicara padamu! Tolong dengarkan mama dulu.” Wulan masih berusaha untuk berbicara dengan Liam, meski Liam dengan tegas menolaknya, Wulan tidak akan menyarah begitu saja.
“Jika, Mama hanya ingin bicara omong kosong padaku, sebaiknya, Mama pergi dari kamarku, karena aku tidak ingin membicarakan apa-apa. Termasuk rencana Mama untuk menikahkan aku dengan perempuan licik kemarin. Aku tahu jelas apa tujuan Mama memperkenalkan aku dengan putri angkat kalian itu dan aku tegaskan jika tidak akan pernah menerimanya. Tidak akan pernah," ungkap Liam dengan sangat lantang.
Wulan hanya bisa menghela nafasnya begitu dalam mendengar ucapan Liam.
“Baiklah, mama tidak akan membahas semua itu sekarang, tetapi makanlah sesuatu, mama akan meminta para pelayan mengantarkan buah untukmu. Jangan mencoba untuk melakukan hal yang sama lagi. Atau mama akan benar-benar membawamu untuk tinggal di rumah sakit. Agar kamu bisa berada di bawah pengawasan dokter.”
Semua ini terjadi, karena Mama. Andai saja Mama tidak ikut campur dalam hubungan kami, saat ini pastinya aku dan Renata sudah menikah dan menjalani kehidupan yang sangat bahagia.
***
Zoya yang tengah berada di ruangannya, terlihat fokus dengan pekerjaaanya, hingga akhirnya fokusnya terganggu dengan suara dering ponselnya sendiri. Zoya segera melihat siapa orang yang menghubunginya. Saat melihat orang yang meneleponnya adalah Wulan, Zoya memilih mengabaikan panggilan tersebut, dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Zoya juga mengaktifkan mode hening pada ponselnya, agar dering panggilan yang masuk tidak lagi mengganggu fokusnya dalam bekerja.
"Maafkan aku, tante. Aku belum bisa menghadapi tante," ucap Zoya.
Zoya yang tidak mengangkat panggilan darinya, tentu membuat Wulan merasa sangat cemas. Wulan coba berpikir positif, mungkin saja tadi Zoya sedang sibuk sehingga tidak bisa mengangkat telepon darinya. Oleh karena itu, dia mencobanya berkali-kali, berharap Zoya akan mengangkat panggilan darinya.
__ADS_1
Salah satu pelayan yang melihat kecemasan di wajah Wulan segera menghampirinya dan bertanya, apakah ada sesuatu hal yang terjadi.
“Nyonya, apa ada hal buruk yang terjadi?” tanya pelayan itu pada Wulan.
“Aku hanya cemas, karena Zoya tidak mengangkat teleponku sejak tadi, Leila.”
"Mungkin Zoya sedang sibuk, Nyonya. Tahu sendiri bagaimana Zoya selalu fokus pada pekerjaannya hingga toko-nya berkembang pesat seperti sekarang," jawab Leila yang juga cukup mengenal Zoya, sebab Leila adalah pelayan kesayaangan dan kepercayaan di sana.
"Bagaimana pendapatmu tentang Zoya? Aku ingin dia menjadi menantuku," ucap Wulan berterus terang.
“Apa? Anda ingin Zoya menikah dengan tuan Liam, Nyonya?” Bukannya menjawab, Leila justru kembali bertanya pada Wulan, untuk memastikan pendengarannya.
“Iya. Karena aku merasa tidak ada perempuan yang cocok dengan Liam selain dirinya. Kita mengenal jelas seperti apa Zoya, dia gadis yang sangat baik. Bagaimana menurutmu?” tanya Wulan lagi.
“Benar jika Zoya wanita yang baik, kita juga sangat mengenalnya. Namun, semua keputusan ada pada mereka, Nyonya. Terlebih lagi kita tahu jika tuan Liam sangat mencintai nona Renata. Menjodohkan mereka bukanlah perkara muda," ucap Leila membuat Wulan terdiam.
"Kamu benar, tapi aku harus bagaimana, Leila? Liam tidak mungkin selamanya sendiri, apalagi dalam keadaannya seperti ini. Liam butuh pendamping untuk merawatnya, wanita yang tulus yang dapat menjadi istri yang baik untuk Liam. Aku hanya percaya pada Zoya," ucap Wulan mengusap kasar wajahnya.
"Nyonya. Sepertinya itulah alasannya Zoya tidak menjawab telepon, Nyonya. Zoya pasti syok. Berikan gadis itu waktu untuk berpikir. Terlebih lagi saya dengar jika kemarin tuan muda bersikap sangat buruk padanya. Jika Nyonya terus mendesaknya, Saya justru takut Zoya akan menjauhi Nyonya nantinya.” Leila mengatakan segala pendapatnya kepada Wulan. Mengingat kondisi Liam yang sangat tidak stabil, tidak seharusnya Wulan mencoba menikahkan Liam dengan perempuan lain sekarang.
“Apa yang kamu katakan ada benarnya. Terima kasih untuk semua saran yang sudah kamu berikan kepadaku, Leila. Aku akan melihat Liam terlebih dahulu. Sekedar memastikan apakah dia sudah makan atau lagi-lagi membuang makananya,” ucap Wulan segera beranjak dari sana.
__ADS_1