Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 16


__ADS_3

Wulan yang sudah sampai ke salon milik Zoya, segera masuk ke dalam. Salah satu pegawai bari di galeri Zoya hanya melihatnya bingung, terlebih melihat wajah Wulan yang terlihat sedang tidak bersahabat.


“Selamat malam, Nyonya. Maaf kami sudah tutup. Kalau Nyonya mau, Nyonya bisa datang lagi besok," ucap pegawai itu menghampiri Wulan.


“Aku bukan mau belanja, aku ingin bertemu dengan Zoya. Kamu baru di sini?" ucap Wulan sinis pada pegawai itu yang terlihat tidak mengenalinya.


"Iya, Nyonya. Saya baru di sini," jawab pegawai itu gugup.


"Katakan pada Zoya tentang kedatanganku, karena aku harus bicara dengannya!” perintah Wulan pada orang yang menghampirinya tadi. Sembari terus melihat-lihat keadaan sekitar.


“Maaf, Nyonya. Tetapi Kak Zoya sedang tidak ada di sini sekarang,” ujarnya menjelaskan pada Wulan kalau orang yang dia cari sedang tidak berada di tempat.


Wulan yang mendengarnya, seketika menjadi sangat marah dan tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia sudah begitu lelah karena Zoya terus menghindarinya. Dia sama sekali tidak percaya kalau Zoya tidak ada di sana. Zoya pasti sudah menyiapkan rencana dan menyuruh pegawainya berbohong tentang keberadaannya.


“Kalian pasti berbohong. Ini adalah rumahnya, mana mungkin dia tidak ada di sini! Kalian pasti sengaja menyembunyikannya dariku!” bentak Wulan pada pegawai itu. Dia sudah begitu lelah memikirkan Liam, dan sekarang semakin lelah karena memikirkan Zoya.

__ADS_1


Dari dalam ruangan Zoya, Uci keluar saat mendengar suara keributan. Uci yang dengan cepat mengerti permasalahan, langaung mendekat pada Wulan. “Nyonya Wulan, tolong kendalikan diri Anda. Kami mengatakan yang sebenarnya, kalau Zoya tidak ada di sini sekarang. Nyonya bisa membuat janji padanya dan menemuinya besok pagi, tapi tolong jangan membuat keributan di sini!” Uci mencoba menegaskan semuanya pada Wulan.


Seluruh pegawai yang ada di sana, tidak ada yang berani menghadapi Wulan, hanya Uci yang berani maju untuk bicara padanya karena Uci cukup mengenal ibu angkat Zoya. Karena dia jelas tahu kalau Wulan bukanlah orang sembarangan. Sehingga mereka tidak berani menyinggung perasaan Wulan.


Wulan yang mendengarkan perkataan Uci, menjadi semakin emosi. Dia sangat marah karena seorang pegawai kecil berani untuk menghalanginya bertemu dengan Zoya. Sedangkan teman-teman yang lain tidak ada yang begitu berani kepadanya. Hal itu membuat Uci menjadi tempat pelampiasan amarah bagi Wulan.


“Kamu! Berani sekali kamu berkata seperti itu kepadaku! Bahkan kamu berani mengusirku! Apa kamu tidak tahu siapa aku? Aku pasti akan membuat perhitungan padamu!” Ancamnya pada Uci.


“Maaf, Nyonya, bukan maksud saya untuk menyinggung perasaan Anda! Tetapi saya hanya mengatakan yang sebenarnya kalau Zoya tidak berada di sini sekarang! Kenapa, Nyonya justru marah dan mengancam saya?” tanya Uci pada Wulan.


“Aku hanya memintamu untuk memanggil Zoya sekarang. Apa itu sangat sulit? Aku hanya ingin bertemu dengannya, tetapi kalian semua jelas menghalangi aku untuk menemuinya!” protes Wulan pada semua pegawai Zoya.


“Nyonya, kalau memang Zoya berada di sini, kami tidak mungkin menghalangi, Nyonya untuk menemuinya. Tapi saat ini Zoya memang  tidak berada di sini. Harap, Nyonya mengerti.” Uci masih berusaha sabar untuk menjelaskan kepada Wulan kalau Zoya tidak berada di sana.


“Tutup mulutmu, aku sama sekali tidak percaya dengan ucapanmu. Aku akan memeriksanya sendiri. Jangan coba-coba untuk menghalangiku!” bentak Wulan pada Uci.

__ADS_1


Wulan yang sudah dikuasai oleh emosi, segera mendorong Uci dan berusaha untuk mencari Zoya di setiap sudut toko. Dia begitu yakin kalau Zoya berada di sana sekarang. Oleh karena itu dia memutuskan untuk melihatnya sendiri, sehingga tidak akan ada lagi alasan bagi Zoya untuk menghindarinya. Sebab dirinya sudah memberikan waktu yang cukup lama bagi Zoya untuk berpikir.


Uci yang mengetahui tujuan Wulan, segera menghalangi Wulan, karena Wulan tidak bisa menerobos toko Zoya begitu saja. Dia tidak mau wanita yang berada di hadapannya ini mengacaukan galeri Zoya hanya karena emosi. Sebab kemarahan terlihat begitu jelas di wajah Wulan sekarang. Siapa yang bisa menjamin kalau Wulan tidak akan melakukan apa-apa.


“Berhenti, Nyonya! Anda tidak bisa naik ke atas sembarangan. Karena itu adalah area pribadi Zoya. Siapa pun tidak boleh memasukinya tanpa izin dari Zoya Jadi tolong, Nyonya mengerti dan tidak membuat keributan di sini!” perintah Uci yang sudah menghalangi jalan Wulan.


Suasana di sana terasa semakin menegangkan, karena Wulan sudah berada di puncak emosinya sekarang. Dia bahkan tidak segan untuk mendorong Uci yang menghalanginya. Dia juga membentak semua orang yang ada di sana. Sikap Wulan benar-benar membuat semua karyawan Zoya takut kepadanya sekarang.


“Kamu, berani sekali ....”


“Tante Wulan!”


Semua ucapan yang tadi hendak dikatakan oleh Wulan, berhenti seketika, saat dia mendengar suara Zoya yang memanggil namanya. Wulan segera berbalik, dan di sana dia bisa melihat ekspresi wajah Zoya yang terlihat begitu syok ketika melihat dirinya. Wulan hanya tersenyum, karena akhirnya, orang yang sejak tadi dia cari sudah ada di depan matanya. Kali ini, Zoya tidak akan bisa melarikan diri lagi darinya.


“Zoya, akhirnya kamu muncul juga,” ucapnya dengan senyuman yang tampak tidak biasa. Karena Wulan jelas menyimpan banyak kemarahan untuk Zoya.

__ADS_1


“Tante Wulan, sebaiknya kita bicara di atas. Kalian, selesaikan pekerjaan kalian dan jangan ada yang berani naik ke atas sebelum aku selesai berbicara dengan tamuku.” Zoya mengatakan perintahnya sembari menyodorkan bungkus makanan yang sejak tadi dipegangnya pada Uci. Karena para karyawannya pasti belum makan malam sekarang.


“Baik, Nona!” ucap mereka kompak sambil mengambil bungkusan yang di berikan Zoya pada mereka.


__ADS_2