
Kesembuhan William menjadi awal dari pelengkap kebahagiaan rumah tangga Zoya dan William. Untuk merayakan kesembuhan William, orang tua pria itu mengadakan sebuah perjamuan makan malam di sebuah hotel bintang lima yang dihadiri oleh para rekan kerja dan pejabat-pejabat penting yang selama ini bertanya-tanya ke manakah William dan kenapa pria itu tidak pernah menghadiri rapat penting secara langsung.
Di acara tersebut juga akhirnya semua orang tahu kalau William rupanya telah menikah. Sebagian karyawan yang tahu kalau dulu William menjalin hubungan serius dengan Renata malah merasa heran sebab bos mereka malah menikah dengan wanita lain.
“Jangan bilang kalau selama ini Anda menghilang karena menyembunyikan pernikahan Anda,” seloroh salah satu rekan kerja William yang bernama David.
William dan Zoya tertawa mendengarnya.
“Tidak. Kami sama sekali tidak berniat untuk menyembunyikan pernikahan kami. Hanya saja saat itu waktunya belum tepat untuk mengumumkan pernikahan kami,” balas William.
“Berapa lama kalian sudah menikah?” tanya istri David.
“Kami menikah hampir satu tahun,” jawab Zoya.
“Hampir satu tahun dan tidak ada satu pun media masa yang mengetahuinya?” David membelalakkan matanya. “Kalian sepertinya sangat pandai bersembunyi. Padahal kalian tahu sendiri kalau media masa di negara ini sangat jahil dan suka mengganggu privasi orang.”
“Mungkin kami hanya sedang beruntung saja,” balas William disusul dengan tawa renyahnya.
Setelah berbincang-bincang dengan para tamu, William mengambil segelas sampanye lalu mengetuknya dengan sendok kecil, membuat para tamu undangan menoleh ke arahnya dan terdiam.
“Selamat malam semuanya. Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kalian sudah hadir di acara ini,” ucap William, memulai pidatonya.
“Hampir satu tahun yang lalu aku mengalami kecelakaan yang menyebabkan aku mengalami kelumpuhan. Orang tuaku saat itu mempertemukan aku dengan seorang wanita cantik yang saat ini menjadi istriku, Zoya.” William menarik Zoya mendekat ke arahnya. “Kami memutuskan untuk menikah. Saat itu aku sangat putus asa dan berpikir kalau aku tidak akan pernah bisa sembuh. Tapi, karena kesabaran istriku dan kegigihannya untuk membantuku sembuh, akhirnya aku bisa berdiri lagi seperti sekarang ini.
__ADS_1
Aku sangat mencintai istriku dan sangat berterima kasih atas ketulusan hatinya. Dia adalah pahlawanku,” ucap Wiliam. Pria itu menoleh pada Zoya. “Terima kasih atas semuanya, Sayang,” ucapnya yang dibalas Zoya dengan anggukan kepala.
“Hari ini tidak hanya merayakan kesembuhanku, tapi juga hari ini aku mengumumkan pernikahanku yang selama ini dirahasiakan kepada kalian semua. Aku sangat bersyukur karena menikah dengan wanita hebat seperti Zoya,” ungkap William, mengakhiri pidatonya.
Semua tamu undangan bertepuk tangan dan menyelamati William dan Zoya. Mereka tidak menyangka kalau William dan Zoya telah mengalami banyak hal sulit di awal pernikahan mereka.
Tanpa Zoya dan William sadari, ada seseorang yang melihat itu semua dan mengepalkan tangannya kuat-kuat karena amarah. Orang itu adalah Renata yang ternyata sedang menginap di hotel tempat mereka melakukan perjamuan makan malam.
Beberapa jam kemudian, acara perjamuan makan malam telah selesai. Kini, Zoya dan William sedang dalam perjalanan menuju ke rumah. Kaki Zoya rasanya sudah pegal sekali karena harus berjam-jam berdiri dan berjalan ke sana ke mari menyapa tamu dengan mengenakan sepatu hak tinggi.
“Zoya, bagaimana kalau kita pergi bulan madu?” tanya William.
“Apakah tidak terlalu lambat untuk melakukan hal itu, Mas?” balas Zoya sembari tertawa kecil. “Seharusnya kita melak,ukannya di awal pernikahan kita, bukan sekarang.”
“Tidak ada salahnya kalau kita pergi bulan madu sekarang, Zoya. Lagi pula, di awal pernikahan kita aku masih lumpuh. Jadi, pasti mustahil kalau kita pergi bulan madu dengan kondisiku yang seperti itu,” ucap William.
“Apakah kamu punya tempat bulan madu impian kamu?” William balik bertanya.
“Hm ... Sebentar, aku akan memikirkannya.” Zoya mengusap-usap dagunya. “Sebenarnya dari dulu aku ingin pergi ke Santorini, Mas,” ucap Zoya.
“Ya sudah, besok kita akan pergi ke sana,” ucap William sambil tersenyum lebar.
“Aku belum pernah naik pesawat sebelumnya, Mas,” ucap Zoya.
__ADS_1
“Jangan khawatir. Ada aku yang akan melindungimu,” balas William sambil tertawa renyah.
Satu minggu pun berlalu. Kini Zoya dan William sedang dalam perjalanan menuju ke Yunani. Sebab harus melakukan perjalanan panjang di atas udara, Zoya dari tadi memejamkan matanya dengan wajah tegang, apalagi saat dia melihat ke arah jendela dan mendapati dirinya sedang berada di atas awan.
“Jangan takut, Zoya. Ada aku di sini,” ucap William, berusaha menenangkan Zoya. “Kamu tidur saja. Nanti kalau sudah sampai aku akan membangunkan kamu,” sambungnya.
Zoya menganggukkan kepalanya, berusaha untuk memejamkan mata. Dan benar saja, rupanya tidur dapat membuat rasa takut yang dia rasakan perlahan menghilang.
Sesampainya di penginapan, Zoya terpukau dengan pemandangan lautan yang membentang di hadapannya. Penginapannya yang didominasi warna putih juga menambah keindahan tempat itu. Zoya dan William memutuskan untuk tidur sejenak sembari menunggu waktu matahari terbenam.
Ketika matahari hendak terbenam, Zoya dan William melakukan makan malam romantis. Di depan kamar penginapan Zoya dan William telah ditata lilin-lilin dan kelopak bunga mawar yang mengelilingi tempat itu. William memang telah meminta pegawai penginapan untuk mempersiapkan itu semua.
“Apakah kamu menyukai makan malam kita, Zoya?” tanya William.
Zoya mengangguk cepat. Senyuman tak pernah lenyap dari bibirnya. Tak pernah Zoya bayangkan sebelumnya jika dia akan mengalami hal ini, melakukan makan malam romantis dengan pemandangan laut biru yang membentang luas di hadapannya.
“Aku sangat menyukainya, Mas, terima kasih,” ucap Zoya.
Usai makan malam, William mengajak Zoya untuk berdansa. Dua sejoli itu menggerakkan tubuh mereka seirama dengan musik lembut yang mengalun. Zoya mengalungkan tangannya di leher William sementara William menarik pinggang Zoya supaya mendekat ke arahnya.
Keduanya berdansa sembari saling memandangi satu sama lain hingga tanpa sadar Zoya menjinjitkan kakinya dan mencium pipi William. Mendapatkan ciuman di pipinya, William menganggap hal itu sebagai lampu hijau untuknya.
William menarik tengkuk Zoya kemudian mencium bibir gadis itu dengan sangat lembut. Zoya pun membalas ciuman William hingga tanpa sadar William mengangkat tubuhnya dan membawa Zoya masuk ke dalam penginapan.
__ADS_1
Di dalam penginapan, William membaringkan Zoya ke atas ranjang sembari mencumbu bibir Zoya. Mereka terus berciuman hingga tanpa sadar pakaian mereka satu per satu telah terlepas.
Malam itu, dengan saksi cahaya mentari yang tenggelam di peraduan, Zoya menyerahkan seluruh dirinya kepada pria yang dia cintai. Tak ada yang pernah menyangka jika Santorini akan menjadi tempat yang paling membahagiakan untuk Zoya dan William. Setelah hampir satu tahun menunggu, akhirnya mereka melakukan malam pertama.