
Hari ini, Zoya dan William bersiap-siap karena mereka akan pergi ke rumah lama Zoya. Hubungan dua sejoli itu kian membaik setelah perbincangan mereka hari itu. William pun akhirnya mengizinkan Zoya untuk menginap di rumah lamanya asalnya dia juga ikut. Selain karena rasa cemburunya kepada Damar, William juga ingin tahu bagaimana kehidupan Zoya selama ini.
“Barang-barang kamu tidak ada yang tertinggal, ‘kan, Mas?” tanya Zoya.
William menggeleng. “Tidak ada. Kita hanya menginap tiga hari dan jarak rumah lama kamu dengan rumah ini juga tidak terlalu jauh. Kalau ada yang tertinggal nanti aku bisa minta anak buahku untuk mengambilnya,” jawab pria tersebut.
Zoya mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian mengunci kopernya. Usai bersiap-siap, Zoya dan William turun ke lantai dasar. Dengan bantuan sopir Zoya memasukkan koper ke dalam bagasi dan membantu William masuk ke dalam mobil.
Jantung Zoya lagi-lagi berdebar kencang karena harus berkendara dengan mobil. Gadis itu paling anti dengan menaiki kendaraan sebab trauma di masa lalunya. Namun, untuk pergi ke rumah Desi mau tak mau Zoya harus mengendarai mobil sebab jaraknya yang sangat jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki. Perjalanan menggunakan mobil saja bisa hampir dua jam lamanya, itu pun kalau jalanan tidak sedang macet.
Seolah tahu kalau Zoya sedang gelisah, William memegang tangan Zoya dan mengelus-elus punggung tangan Zoya.
“Ada apa, Zoya? Kenapa kamu terlihat gelisah?” tanya William bingung. Tidak hanya sekali dia mendapati Zoya terlihat seperti ini saat mengendarai mobil. Ah, bahkan selama ini gadis itu juga selalu memilih untuk berjalan kaki ke mana-mana karena rasa takutnya dengan menaiki kendaraan.
“Aku tidak apa-apa, Mas,” jawab Zoya sambil tersenyum tipis.
“Kamu bohong, Zoya. Tidak mungkin kamu tidak apa-apa tapi wajahmu sangat ketakutan seperti ini,” protes William.
Zoya menghela napasnya. “Sebenarnya aku memiliki trauma mengendarai mobil, Mas. Tidak hanya mobil, tapi kendaraan lain juga karena orang tuaku meninggal karena sebuah kecelakaan,” jawab Zoya sambil tersenyum miris saat mengingat kejadian menyeramkan tersebut.
William terkejut mendengarnya karena dia tidak tahu tentang hal tersebut. Dulu ia pikir Zoya adalah anak yang dibuang dan ditemukan oleh orang tuanya. Tapi, rupanya gadis itu menyimpan kepahitan yang mendalam.
William pun mengambil ponselnya dan earphone lalu memasangkannya di telinga Zoya. “Pejamkan matamu dan dengarkan musik supaya kamu bisa lebih tenang,” perintahnya.
__ADS_1
Zoya mengangguk kemudian memejamkan matanya. Musik lembut yang diputar oleh William berhasil membuat pikiran Zoya jauh lebih tenang daripada tadi. Seperti halnya Zoya yang senang karena sikap William yang manis padanya, William juga senang karena bisa membantu Zoya menangani traumanya.
Dua jam berlalu, mereka akhirnya tiba di rumah Desi. Mereka berdua berjalan menuju ke pintu lalu mengetuk pintu rumah Desi. Senyum Desi mengembang saat dia melihat siapa yang berdiri di hadapannya ketika dia membukakan pintu.
“Zoya, akhirnya kamu mampir ke rumah ini lagi,” ucap Desi kemudian menarik Zoya ke dalam pelukannya. Berbulan-bulan tidak bertemu membuat Desi sangat merindukan Zoya. “Rumah ini rasanya sepi tanpa kehadiran kamu,” sambungnya.
Zoya terkekeh kemudian melepaskan pelukan mereka. “Bibi, aku ingin mengenalkan Bibi pada Mas Liam, suamiku. Kalian pasti belum sempat berkenalan karena pernikahan kami yang terkesan buru-buru,” ucap Zoya.
William dan Desi berjabat tangan sambil tersenyum. Desi terkejut melihat William yang terkenal dingin itu tersenyum kepadanya.
“Kenapa kalian tidak mengabari Bibi kalau kalian akan datang? Untungnya hari ini aku masak agak banyak. Ayo, kita makan malam bersama,” ajak Desi.
Zoya dan William mengangguk kemudian berjalan mengekori Desi menuju ke ruang makan. Zoya bahkan meninggalkan kopernya di ruang tamu karena sudah tidak sabar ingin menyantap masakan Desi. Sudah lama dia tidak makan makanan buatan Desi, dia merasa rindu.
“Itu karena Bibi yang mengajariku memasak, Mas. Bibi adalah orang yang ditugaskan orang tuamu untuk merawatku selama ini. Aku bersyukur karena Bibi sudah seperti orang tuaku sendiri,” jelas Zoya.
William menganggukkan kepalanya. “Tidak heran kalau makanan buatanmu enak. Rupanya kau telah belajar dari ahlinya,” gurau William sambil tertawa renyah.
Usai makan malam dan berbincang sebentar, Zoya dan William pamit kepada Desi untuk beristirahat. Desi memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghubungi Wulan dan Ryan karena dia ingin memberitahukan hal penting kepada mereka.
“Halo, Desi. Ada apa?” tanya Wulan dari seberang sana sambil menatap langit-langit kamar kebingungan.
“Aku hanya ingin melapor kalau Zoya dan Pak William datang ke rumahku, Bu,” jelas Desi.
__ADS_1
“Benarkah?” tanya Wulan membelalak lebar sebab dia tidak pernah mau berinteraksi dengan orang yang tidak berhubungan terlalu dekat dengannya.
“Iya, Bu. Aku sangat senang karena mereka sekarang terlihat sangat romantis dan akur. Berbeda sekali dengan saat merek baru saja menikah,” gurau Desi, mengundang gelak tawa Wulan.
Layaknya Desi yang senang melihat kebersamaan Zoya dan William, Wulan dan Ryan juga senang. Mereka bahagia sebab putra mereka akhirnya mau menerima perjodohan itu meski awalnya William benar-benar bersikukuh tidak mau melupakan Renata. Tapi, lihatlah William yang sekarang! Pria itu bahkan sudah tidak pernah memikirkan Renata lagi dan selalu cemburu setiap kali Zoya izin ingin pergi ke suatu tempat tanpa dirinya.
Sementara itu, di sisi lain Zoya membuka pintu kamarnya. Gadis itu mendorong kopernya masuk ke dalam kamar lalu memberikan jalan untuk William. Malam ini dia akan menyuruh William istirahat di kamarnya sementara dia akan tidur dengan Desi.
“Ini kamarku, Mas. Mungkin tidak seluas kamarmu di rumah. Tapi, di kamar ini aku menghabiskan waktu hampir separuh hidupku,” ucap Zoya. “Malam ini kamu istirahat di sini, ya, Mas?”
William menatap ke setiap sudut kamar. Meskipun kamar Zoya bukanlah kamar yang luas, tapi kamar tersebut sangat nyaman dan sejuk. William rasanya seperti betah di sana.
“Zoya, malam ini kita istirahat bersama di kamar ini saja. Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kamu,” ucap William.
“Baiklah,” jawab Zoya seraya mengangguk pelan.
Secara perlahan William berjalan menghampiri ranjang kemudian berbaring di atas sisi kanan ranjang. Setelah mengambil posisi yang nyaman, William menepuk-nepuk sisi kiri ranjang seolah meminta Zoya untuk segera berbaring di sampingnya.
“Ayo, Zoya. Kemarilah,” ujar William sambil tersenyum tipis.
Zoya menuruti arahan dari William untuk tidur di sisi kiri ranjang dengan posisi kepala menyandar pada tangan William yang direntangkan untuk menjadi bantalan kepala Zoya.
Suasana canggung menyelimuti dua sejoli itu ketika mereka saling tatap menyadari kalau posisi mereka saat ini sangat dekat dan untuk pertama kalinya jarak tidak ada artinya lagi.
__ADS_1