
Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat. Sekarang sudah tepat satu minggu semenjak hari pernikahan Zoya dan William. Kehidupan Zoya selama satu minggu ini berjalan dengan baik. Dia menjunjung tinggi moto kalau dia harus tidak memedulikan cacian William kalau ingin hidup dengan bahagia. Jadi, dia memilih untuk mengabaikan setiap omelan dan cacian William supaya tidak menimbulkan penyakit hati.
Satu minggu ini pula Zoya seperti wanita yang tidak punya pekerjaan selain mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang tidak terlalu berat. Zoya dan William tidak pernah menggunakan hampir sembilan puluh persen tempat di rumah ini. Jadi, yang sering Zoya bersihkan hanyalah dapur, ruang makan, dan kamar yang ditempati Zoya dan William. Hanya empat ruangan. Dia hanya sesekali saja membersihkan ruangan yang lain supaya tidak berdebu.
“Ah, aku ingin sekali pergi ke galeri. Tapi, aku tidak tahu caranya pergi ke sana,” gumam Zoya sambil mengayunkan kakinya.
Saat ini Zoya sedang berada di halaman belakang rumah William. Di sana terdapat ayunan yang dipasang di bawah pohon jadi meskipun Zoya berada di sana tengah hari sekali pun, suasananya tidak terlalu panas. William selalu menghabiskan waktu untuk bekerja seharian, jadi tidak ada salahnya kalau Zoya menikmati suasana di sini supaya tidak bosan.
“Hm, lebih baik aku menghubungi Uci saja,” ucapnya kemudian mengambil ponselnya dari kantong celana pendeknya. Karena selalu beraktivitas di rumah, Zoya hanya memakai celana pendek dan kaus oblong setiap harinya.
“Halo, Zoya,” sapa Uci. “Akhirnya kamu meneleponku juga. Kapan kira-kira kamu bisa ke galeri?” tanyanya.
“Aku belum tahu, Uci. Untuk sementara waktu mungkin aku akan bertanya kepada kamu tentang galeri,” ucap Zoya kepada sahabatnya yang dia percaya untuk menjaga galerinya.
Bukannya Zoya tidak diizinkan pergi. Jarak antara rumah William dan galeri pun hanya dua jam. Bagi Zoya perjalanan dua jam tidak masalah asalkan dia tidak menaiki mobil karena dia masih trauma akibat kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuanya beberapa tahun silam. Selain itu, Zoya juga harus ada setiap saat kalau-kalau William membutuhkan bantuannya. Kini dia tidak hidup sendiri. Ada tanggung jawab besar yang harus ia pikul semenjak menikah dengan William.
“Apakah pengunjung galeri ramai?” tanya Zoya sambil menggoyang-goyangkan ayunan supaya bergerak mendayu-dayu.
“Iya. Pengunjung galeri beberapa hari ini cukup ramai meskipun tidak menentu. Banyak dari mereka yang penasaran dengan dirimu dan memuji-muji karyamu di galeri,” jelas Uci disambung dengan tawa renyah.
__ADS_1
Zoya tertawa kecil. Menekuni sesuatu yang menjadi hobi baginya adalah sesuatu yang menyenangkan. Tapi mendapatkan pujian orang lain dari hobi yang dia jalani? Zoya merasa sangat bersyukur. Tidak banyak orang yang memiliki keberuntungan yang sama seperti dirinya. Kebanyakan orang-orang di luar sana bahkan tidak dihargai meskipun memiliki talenta yang mengagumkan.
“Aku kapan-kapan pasti akan ke galeri. Tapi tidak sekarang. Kamu tahu sendiri, ‘kan, bagaimana keadaanku saat ini?” tanya Zoya sedih.
Zoya memang telah bercerita tentang pernikahannya dengan William kepada Uci. Uci adalah sahabat dekatnya. Jadi tidak heran kalau Uci tahu segala yang dilewati oleh Zoya.
“Iya, aku mengerti. Apakah dia masih suka membentakmu, Zoya?” tanya Uci.
Zoya menghela napas lelah. “Ya, seperti itulah. Dia selalu saja mencari-cari alasan untuk memarahiku. Apakah menurutmu itu tidak terlihat aneh?” tanya Zoya pada Uci.
Uci terdiam sejenak. Ia pun juga berpikir kalau sikap William sangat aneh lantaran baru kali ini ada orang yang berkata bahwa masakan Zoya tidak enak rasanya. Selain itu sikap William yang selalu mencari-cari kesalahan Zoya juga terkesan terlalu dipaksakan.
“Mungkin dia sedang mencari cara untuk mengakhiri hubungan kalian. Ya sama saja seperti kamu, dia juga terpaksa menikah. Yang penting jangan terlalu diambil pusing saja. Lama kelamaan dia pasti akan menyerah sendiri,” ujar Uci, memberikan saran untuk sahabatnya.
“Sudah jangan terlalu dipikirkan. Nanti kalau kamu terlalu memikirkan dia, bisa-bisa kamu jatuh cinta dengan dia,” goda Uci disusul tawa yang pecah.
Zoya memberengut. “Jatuh cinta dengan pria es itu? Amit-amit!” gerutunya. “Bisa-bisa aku masuk rumah sakit jiwa kalau aku jatuh cinta dengan pria seperti Liam.”
Uci tertawa terbahak-bahak, membuat Zoya kesal dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
Sementara itu, di sisi lain William merasa perutnya sudah keroncongan. Dia pun turun ke lantai dasar dan pergi ke ruang makan. Namun, saat sampai di ruang makan dia malah mendapati meja makan yang kosong.
“Zoya!!!” teriak William. Dia merasa kesal karena sudah jam makan tapi Zoya belum menyiapkan makan siang untuknya. “Zoya! Cepat ke sini!” teriaknya lagi.
Zoya yang sedang mengobrol dengan Uci lantas mematikan sambungan teleponnya dan berlari menuju ke ruang makan ketika mendengar suara teriakan William. Gadis itu berlari terbirit-birit sampai napasnya tersengal-sengal. Zoya mengatur napasnya lalu menatap William dengan bingung.
“Kenapa kamu memanggilku?” tanya Zoya dengan wajah tanpa dosa. Padahal dalam hatinya Zoya terkikik geli karena dia tahu William pasti marah karena tidak menemukan makanan di meja makan. Zoya sengaja memesan makanan agak telat supaya William marah. Melihat kemarahan William yang konyol rupanya bisa menjadi hiburan tersendiri untuk Zoya.
Mendengar pertanyaan Zoya yang terdengar begitu polos dan konyol membuat William semakin naik pitam. Pria itu menatap Zoya dengan tatapan tajam. Setiap orang yang ditatap William seperti itu pasti merasa ketakutan. Tapi, kali ini tidak dengan Zoya. Zoya sudah sangat terbiasa dengan tatapan tajam William sampai-sampai dia tidak merasa ketakutan lagi.
“Ada apa?” tanya Zoya lagi karena William tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Sekarang sudah waktunya makan siang. Kenapa belum ada makanan di meja makan?” bentak William. Dia merasa kesal karena Zoya tidak merasa bersalah sedikit pun karena belum menyiapkan makan siang. Gadis itu bahkan tampak santai dan tak bergegas ke dapur untuk memasak.
Zoya menghela napas lelah. “Tidak usah heboh seperti itu. Makanan hanya telat sampai. Mungkin jalanan macet jadi kurir lama mengantarnya,” ucap Zoya dengan santai.
William terkejut mendengar hal itu. ‘Apa maksud Zoya? Kenapa mereka menunggu makanan diantar?’ tanya William dalam hati.
“Jadi selama ini kamu memesan makanan?” tanya William dengan kesal.
__ADS_1
Zoya mengangguk tanpa rasa bersalah. “Karena aku tahu kamu tidak suka masakanku jadi aku memesan makanan untukmu,” jawab Zoya santai.
Di detik yang sama bel rumah berbunyi. Zoya tersenyum lebar. “Ah, sepertinya itu kurir yang mengantar makanan untuk kamu,” ucapnya antusias lalu berjalan keluar rumah tanpa menunggu tanggapan dari William yang tampak semakin kesal dengannya.