Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 65


__ADS_3

“Di dekat bibirmu ada noda makanan,” ucap William lantas mengusap ujung bibirnya dengan ibu jarinya. Dari ujung matanya di melirik ke arah Damar. William memang sengaja melakukan hal itu untuk membuat Damar merasa cemburu dan tahu posisi.


“Apakah banyak nodanya, Mas?” tanya Zoya sebab William belum juga menyingkirkan tangannya dari wajah Zoya.


“Ah, sudah,” jawab William kemudian tersenyum lebar. “Kalau makan pelan-pelan makanya supaya tidak belepotan,” pesannya.


Zoya terkekeh mendengar itu. “Iya, Mas,” balasnya sambil tersipu malu. Sikap manis William jujur saja membuat Zoya merasa nyaman dan seperti diterbangkan ke atas awan. Gadis itu merasa bahagia karena kini William sudah bisa menerima pernikahan mereka dan tidak berbuat semena-mena kepadanya.


Damar yang melihat bagaimana posesif dan perhatian William kepada Zoya, serta bagaimana sikap Zoya yang tampak tersipu, langsung berpikir kalau Zoya dan William sudah menaruh rasa untuk satu sama lain. Jika dulu saat Zoya baru menikah dengan William ia masih merasa memiliki kesempatan, kini sepertinya kesempatan itu mulai sirna.


“Zoya, Liam, aku pamit dulu. Ngomong-ngomong, selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian bahagia selalu,” ucap Damar seraya tersenyum tipis. Meskipun hatinya terluka, pria itu mencoba sekeras tenaga untuk tidak menunjukkan rasa sakitnya.


“Terima kasih, Mas,” jawab Zoya sambil tersenyum tipis. Meskipun dulu dia sangat mencintai Damar dan berharap untuk bisa hidup bersama pria itu, kini perasaannya justru berubah. Zoya semakin yakin kalau dia telah jatuh hati kepada William.


“Terima kasih, Damar.” Kini, gantian William yang berbicara.


Damar menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk jogging. Pria itu tak lantas pergi dari sana, dia masih mengamati Zoya dan William dari kejauhan. Dia ingin melihat apakah Zoya dan William benar-benar sudah saling mencintai atau memang mereka selalu bersikap seperti itu di depan orang lain supaya tidak ada yang curiga kalau mereka terpaksa menikah. Akan tetapi, saat melihat Zoya dan William bercanda dan tertawa dengan mesra, Damar akhirnya sadar kalau Zoya memang sudah mencintai William, begitu pula sebaliknya.


Dengan berat hati pria itu memilih untuk pergi dari sana. Hatinya masih terluka, tentu saja. Bagaimana tidak? Perasaan yang dia miliki kepada Zoya sangatlah besar, mungkin lebih besar dari cinta Romeo kepada Juliet. Tapi, jika cinta itu bertepuk sebelah tangan, apa yang bisa Damar lakukan?


Bergerak mundur, tentu saja. Hanya itu yang dapat dia lakukan. “Kalau memang kamu sudah mencintai William, aku akan berusaha untuk merelakan kamu, Zoya,” gumam Damar seraya tersenyum getir.


Beberapa bulan sudah berlalu semenjak hari pernikahan Zoya dan William. Wajar saja kalau kini Zoya dan William saling jatuh hati. Setiap hari menghabiskan waktu berdua tentu membuat mereka perlahan memupuk rasa kepada satu sama lain.


Enam bulan kemudian ....

__ADS_1


Hari demi hari berlalu, tidak terasa William dan Zoya sudah hampir satu tahu bersama. Hubungan mereka kian hari kian bertambah dekat. Rasa cinta yang awalnya masih malu-malu untuk tumbuh kini sudah semakin besar. William bahkan merasa kalau rasa cintanya untuk Zoya lebih besar dari perasaannya untuk Renata dulu.


“Mas, makan malamnya sudah siap!” seru Zoya, memanggil William yang sedang bekerja di ruangannya.


Gadis itu meletakkan semua hasil masakannya kemudian melepaskan apron dan menaruhnya di kabinet dapur. Saat dia menoleh, matanya membelalak lebar saat mendapati William berjalan ke arahnya tanpa mengenakan tongkat lagi. Pria itu bahkan sudah bisa berjalan dengan normal.


Dengan hati bahagia Zoya berlari menghampiri William dan berhambur ke dalam pelukan pria itu. “Mas, kamu sudah bisa berjalan normal?!” tanyanya dengan mata berseri-seri.


“Sebenarnya aku sudah mulai bisa lepas dari tongkat satu minggu yang lalu,” balas William.


Zoya melepaskan pelukannya. “Lalu, kenapa kamu dari kemarin masih memakai tongkat, Mas?” tanya Zoya, menatap William dengan satu alis terangkat.


“Karena aku masih ingin diperhatikan oleh kamu, Zoya,” jawab William sembari terbahak-bahak. Melihat wajah kesal Zoya membuat William semakin senang karena berhasil mengerjai Zoya satu minggu belakangan ini.


“Ih, kamu menyebalkan sekali, Mas!” seru Zoya seraya mencubit perut William sampai pria itu mengasuh kesakitan. Zoya menggembungkan pipinya, merasa kesal karena sudah dipermainkan.


“Hahaha, maaf, Zoya. Aku hanya ingin memberikan kejutan untuk kamu,” ucapnya seraya mencubit puncak hidung Zoya.


Zoya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak menyangka kalau William ternyata bisa berbuat jahil juga. Gadis itu lantas mengajak William untuk memakan malam mereka.


“Ayo, kita makan, Mas. Aku sudah tidak sabar untuk mengabari Mama dan Papa kalau kamu sudah sembuh,” ucap Zoya.


“Nanti kita akan melakukan video call dengan mereka supaya mereka kaget,” balas William yang disetujui oleh Zoya.


Mereka pun menyantap makan malam dengan tenang sambil sesekali mengobrol. Usai makan malam, mereka berdua langsung menelepon Ryan. Zoya memosisikan dirinya di depan laptop sementara William akan bersiap-siap untuk memberikan kejutan kepada orang tuanya.

__ADS_1


“Halo, Mama!” seru Zoya.


“Halo, Zoya,” balas Wulan.


“Apakah ada Papa di sana juga, Ma?” tanyanya.


Secara tiba-tiba Ryan muncul di layar. “Apakah kamu mencariku, Zoya?” tanya pria itu.


Zoya mengangguk dengan antusias. “Aku punya kejutan untuk Papa dan Mama,” ucapnya. Dia tidak sabar untuk memberitahu orang tua William kalau dia sudah berhasil membantu William untuk sembuh.


“Kejutan apa, Zoya?” tanya Wulan berbinar-binar. Kalau saja William tidak sakit, mungkin Wulan akan berpikir kalau Zoya hamil. Tapi, keadaan William yang tidak memungkinkan membuat wanita itu sadar kalau harapannya agak mustahil.


“Sebentar. Mas Liam, kemarilah!” panggil Zoya.


William dengan sigap membuka pintu dan berjalan menghampiri Zoya. Wulan dan Ryan terkejut mendapati putranya sudah bisa berjalan seperti semula tanpa harus menggunakan tongkat atau pun kursi roda.


“Pa, Liam sudah bisa berjalan,” ucap Wulan tak percaya dengan apa yang dia lihat.


“Liam, kamu sudah bisa berjalan?” tanya Ryan di saat yang hampir bersamaan dengan ucapan Wulan tadi.


William mengangguk. “Iya, Pa. Aku sudah bisa berjalan dan itu semua karena bantuan dari istriku,” jawabnya kemudian mengecup pipi Zoya dengan gemas.


Wulan dan Ryan sangat senang mendengarnya. Kalau William sudah sembuh dari beberapa bulan lalu, mungkin mereka akan khawatir Zoya akan meninggalkan putra mereka sesuai dengan ucapannya. Namun, kini setelah mereka tahu Zoya dan William saling mencintai, mereka tidak khawatir lagi.


“Zoya, William, kami akan segera ke rumah kalian. Kami belum bisa percaya kalau kami tidak melihatnya secara langsung,” ucap Wulan penuh semangat.

__ADS_1


Malam itu, Wulan dan Ryan langsung mengunjungi Zoya dan William. Mereka merasa sangat bahagia karena putra mereka sudah sembuh dari penyakitnya.


__ADS_2