Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 43


__ADS_3

Satu bulan berlalu. Selama satu bulan pula William mempermainkan Zoya dan membuat Zoya melakukan banyak pekerjaan. William tiada henti-hentinya menyuruh Zoya melakukan banyak hal. William bahkan juga menyuruh Zoya membersihkan kolam renang padahal biasanya dia mengundang seseorang yang bekerja dalam bidang itu.


Awalnya Zoya menolak setiap disuruh membersihkan kolam renang dengan alasan kolam tidak masalah kotor sebab di antara Zoya dan William tidak ada yang menggunakan kolam renang. Jadi Zoya bisa membersihkannya kapan-kapan. Tapi William tetap keras kepala, dia memaksa Zoya membersihkan kolam renang.


Tidak berhenti di sana saja, William bahkan meminta Zoya menaiki plafon rumah untuk mengecek kabel listrik padahal Zoya tidak paham dengan hal-hal semacam itu. Untungnya tidak ada kerusakan dan Zoya bisa turun dari plafon dengan selamat.


Berbagai rencana telah William siapkan untuk mengerjai Zoya. Tanpa sadar, kesibukan William bekerja dari rumah dan rencana-rencana yang dia jalankan untuk membuka kedok Zoya membuat William perlahan melupakan Renata. William bahkan tidak lagi mencari-cari Renata. William yang sebelumnya mengalami depresi dan selalu mencari-cari Renata kini tidak lagi menggebu-gebu untuk mencari Renata. Dia bahkan sampai di titik di mana jarang sekali nama Renata muncul di kepalanya.


William mendorong kursi rodanya keluar dari ruang kerja. Dia tahu kalau saat ini Zoya sedang pergi ke pasar karena tadi Zoya sempat berpamitan padanya untuk membeli beberapa bahan makanan yang stoknya sudah habis di kulkas.


Pria itu memanfaatkan kesempatan dengan mengacak-acak isi rumah. Dia sengaja melakukannya agar Zoya nanti kelelahan dan marah karena William tak henti-hentinya memberikan Zoya pekerjaan rumah.


Sementara itu di tempat lain, Zoya sedang dalam perjalanan pulang sambil mengobrol dengan Uci melalui telepon. Untungnya jarak rumah William dan pasar tidak terlalu jauh jadi Zoya bisa berjalan kaki menuju ke pasar.


“Liam tetaplah Liam. Sepertinya dia tidak ada bosannya untuk membuatku mengerjakan pekerjaan ini itu. Lihat saja, nanti setelah aku sampai di rumah, pasti dia akan berulah lagi,” omel Zoya.


Di seberang sambungan telepon, Uci tertawa terbahak-bahak. Selama satu bulan belakangan, Zoya tidak henti-hentinya mengomel di telepon. Hal tersebut bisa dibilang hiburan tersendiri bagi Uci di kala waktu senggangnya.


“Mau bagaimana pun juga dia adalah suami kamu. Kalau kamu mau dia berubah, kamu katakan saja. Berterus terang lah pada suamimu,” ucap Uci.


Zoya memutar bola matanya. “Saranmu sangat-sangat tidak membantu, Uci. Bukannya menurut, yang ada aku bisa dibunuh dengan tatapan tajamnya,” gerutu Zoya.


“Aku jadi penasaran setajam apa tatapan mata Liam,” gurau Uci, membuat Zoya semakin kebakaran jenggot.


“Yang jelas dia sangat menyebalkan dan membuatku naik darah setiap kali aku ada di depannya,” ucap Zoya.


“Kenapa kamu tidak protes saja kalau dia memang semenyebalkan itu?” tanya Uci.


“Protes? Kenapa Liam?” Zoya mendengus keras. “Ugh, yang ada dia melakukan hal yang lebih gila dari ini. Aku jadi curiga kalau dia sebenarnya memang sengaja merencanakan ini semua. Mungkin dia memang sengaja ingin membuatku marah. Dia pasti sedang mengetes kesabaranku.”

__ADS_1


“Well, tidak ada yang tidak mungkin, bukan?” balas Uci.


Zoya berpikir kalau tebakannya mungkin benar. William pasti sengaja melakukan hal-hal tersebut. Zoya akan mencoba bersabar supaya William lelah sendiri.


“Benar. Kalau begitu, aku akan membuat dia menyesal karena sudah menantangku,” ucap Zoya.


Uci tertawa. “Baiklah, baiklah. Lakukan apa yang menurutmu terbaik. Aku tutup dulu teleponnya, galeri sedang ramai hari ini,” ucap Uci.


“Baiklah,” ucap Zoya lalu mematikan panggilan tersebut.


Zoya berjalan santai masuk ke dalam gerbang rumah sambil menenteng tas keresek belanjaan. Ketika dia membuka pintu utama, matanya membulat melihat rumah dalam keadaan berantakan. Zoya terdiam sejenak, mencoba menahan amarahnya supaya tidak  meledak detik itu juga.


“Apa yang terjadi di rumah ini, Mas? Apakah tadi ada perampok masuk?” tanya Zoya, pura-pura tidak tahu kalau William yang sengaja melakukannya.


“Tidak. Aku tadi mencari barang tapi tidak ketemu,” ucap William, mencari-cari alasan. Lagi pula mana ada orang yang mencari barang sampai membuat rumah tampak seperti kapal pecah?


“Kamu pergi terlalu lama. Aku tadi buru-buru mencari barang itu karena untuk keperluan pekerjaanku,” jawab William.


Zoya menghela napasnya. “Ya sudah sebentar lagi akan aku bereskan,” ucap Zoya, mengalah pada William.


“Tidak usah! Sekarang aku lapar. Lebih baik kamu memasak sekarang!” bentak William. Cacing-cacing di perutnya sudah meronta-ronta sejak tadi. Dia sudah sangat lapar. Mengacak-acak rumah rupanya membuat William kehilangan banyak energi sampai dia kelaparan.


“Baik, Mas,” jawab Zoya.


Gadis itu membawa barang belanjaannya ke dapur. William rupanya mengikuti Zoya dari belakang karena dia ingin mengerjai Zoya.


“Aku ingin kau membuat nasi liwet,” ucap William.


Zoya terkesiap, dia menoleh. Gadis itu merasa ada yang salah dengan indra pendengarannya. “Apakah aku tidak salah dengar, Mas? Nasi liwet?” tanya Zoya.

__ADS_1


“Iya. Nasi liwet, sate lilit, telur balado, dan oseng kangkung,” perintah William.


“Mas, itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memasak. Bukankah kamu berkata kalau kamu lapar?” tanya Zoya, mengerutkan dahinya.


Gadis itu merasa kebingungan sebab William berkata kalau dia lapar tapi menyuruh Zoya memasak makanan yang membutuhkan waktu lama untuk memasak. Orang-orang biasanya pasti akan membuat nasi goreng atau ayam goreng kalau mereka sedang lapar. Tapi ini?


“Lakukan saja,” ucap William.


“Apakah kamu yakin, Mas? Kamu tidak akan kelaparan?” tanya Zoya lagi untuk memastikan.


“Tidak usah banyak protes,” gerutu William.


Zoya menghela napasnya, lalu memasak sesuai dengan keinginan William. Butuh waktu hampir dua jam bagi Zoya untuk menyelesaikan masakannya.


Setelah menghidangkan makanan untuk William, Zoya membereskan barang-barang yang berserakan.  Zoya melakukannya dengan tenang hingga membuat William kebingungan karena Zoya tidak juga tampak marah.


Setelah William selesai makan siang, Zoya menghampiri William dan membicarakan sesuatu yang ingin dia katakan sejak beberapa hari yang lalu.


“Mas, sekarang sudah waktunya untuk kamu melakukan terapi. Apakah kamu tidak mau mempertimbangkannya?” tanya Zoya hati-hati. Dia takut William akan marah setelah mendengar usulannya. Zoya tentu ingin segera terbebas dari pernikahan mereka jadi dia ingin William lekas sembuh dan kembali hidup normal.


“Aku belum memikirkannya,” jawab William singkat.


“Kalau kamu tidak mau melakukan terapi di rumah sakit, aku akan menyiapkan perlengkapan terapi di rumah,” bujuk Zoya lagi.


William dengan cepat menangguk. “Baiklah aku setuju,” ucapnya tanpa ragu. Dia tidak menolak sama sekali meskipun awalnya dia ragu untuk cepat sembuh.


William berpikir kalau dia bisa semakin merepotkan Zoya dan membuat beban Zoya semakin banyak dengan menolongnya untuk melakukan terapi. William akan melakukan banyak rencana selama terapi kakinya nanti.


__ADS_1


__ADS_2