Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
76


__ADS_3

William merasa sangat kesal saat ada orang yang masuk ke ruangannya tanpa permisi, apakah sikapnya selama ini memang sudah begitu longgar terhadap para karyawannya, sehingga mereka tidak lagi mematuhi semua perintahnya ataupun menghormatinya? William bersiap akan memberikan teguran pada orang yang sudah berani lancang tersebut, tetapi semua kata-katanya tertahan di tenggorokannya. William merasa tidak percaya melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini.


William melihat seorang wanita cantik yang sudah lama sangat di rindukannya. William tidak pernah menyangka kalau suatu saat nanti, dia bisa bertemu kembali dengan Renata, kekasihnya yang menghilang. Sekarang Renata berdiri di depannya dalam keadaan baik-baik saja, tentu tidak ada sesuatu yang lebih baik dari ini. Melihat Renata yang terlihat begitu cantik dan anggun di hadapannya.


Renata sendiri tersenyum cerah ketika bisa bertemu lagi dengan William. Setelah hampir dua tahun lamanya mereka berpisah. Renata mulai tampak berkaca-kaca, karena merasa begitu bahagia serta tak lain dari sandiwaranya. Tidak ada kesenangan yang lebih besar selain bisa kembali bersama William. Orang yang seharusnya menjadi suami dan atm berjalannya, jika saja orang tua William tak mengusirnya. Namun semuanya hanyalah masa lalu, sekarang mereka sudah bertemu dan bisa memulai semuanya dari awal. Renata akan berusaha untuk kembali mendapatkan William.


"Selamat ulang tahun, William." Dengan sangat lembut Renata mengatakannya.


“Renata, apa ini benar-benar kamu?” tanya William yang saat ini sudah menghampiri Renata. William masih merasa takut jika semua ini hanyalah mimpi. Ketika William terbangun, maka Renata akan kembali menghilang seperti dulu.


“Iya, William. Ini aku. Aku sudah kembali sekarang. Maafkan aku karena baru bisa kembali saat ini. Aku sangat merindukanmu, sayang,” ucap Renata yang segera memeluk William dengan erat. Renata takut jika dirinya melepaskan William, maka William akan pergi darinya.


“Akhirnya kamu kembali, sayang. Apa kamu tahu seberapa keras aku mencoba mencarimu selama ini? Tetapi aku tidak pernah menemukanmu. Aku tidak tahu kalau kau begitu pandai bersembunyi, sehingga aku tidak pernah bisa menemukan. Aku hampir mati saat itu, Renata.” William segera meluapkan semua isi hatinya kepada Renata. William bahkan melupakan statusnya sebagai seorang pria yang sudah memiliki istri.


“Maafkan aku, sayang. Banyak hal yang terjadi di dalam hidupku, aku tidak bisa mengatakan semuanya kepadamu sekarang. Tetapi kamu harus percaya padaku, tidak ada niatku untuk meninggalkanmu, tetapi, ada sesuatu yang membuat aku tidak bisa bersama denganmu selama ini. Namun sekarang aku sudah kembali. Kamu tidak perlu takut aku akan menghilang lagi, Karena sekarang aku akan selalu menemanimu seperti dulu,” jawab Renata penuh kesungguhan. Renata sudah membulatkan tekadnya di dalam hati untuk kembali memiliki William seutuhnya. Renata tidak akan membiarkan siapapun menghalanginya.

__ADS_1


“Iya, kamu harus menceritakan semuanya padaku! Karena aku ingin tahu apa yang terjadi padamu selama ini. Kamu tidak boleh menyembunyikan apa pun dariku, Renata. Yang terpenting sekarang adalah kamu telah kembali. Kita masih memiliki banyak waktu untuk saling berbagi cerita. Karena aku akan selalu mendengarkan ceritamu dengan sabar.” William hanya ingin memeluk Renata sekarang. William tak mau memikirkan terlalu banyak hal sekarang.


William segera mengajak Renata untuk duduk di sofa yang tersedia di dalam ruang kerjanya. William juga segera memanggil salah satu karyawan kantor agar menyediakan minuman untuk mereka berdua. Dengan begitu, mereka bisa mengobrol dengan lebih santai. Semua perasaan tertekan dan cemburu yang William rasakan kepada Zoya sebelumnya, kini sudah tidak William ingat lagi. Karena sekarang semua perhatian William, hanya terfokus pada Renata. Sehingga membuat William melupakan masalah antara dirinya dan Zoya.


“Apakah bertemu denganku membuatmu merasa sangat sedih, sehingga kamu terus saja menangis tanpa henti seperti ini, sayang?” tanya William seraya menghapus air mata yang membasahi wajah Renata dengan begitu lembut.


“Aku hanya merasa begitu terharu karena bisa bertemu denganmu lagi, William. Air mata ini merupakan air mata kebahagiaan. Aku begitu bahagia hingga menangis. Oleh karena itu kamu tidak boleh mengejekku sebagai perempuan cengeng.” Renata hanya tersenyum ketika mendengar keluhan William padanya.


“Tapi kamu juga tahu sejak dulu, kalau aku lebih menyukai senyumanmu daripada melihat air matamu. Jadi kamu tidak boleh membuat alasan seperti ini. Aku ingin kau berhenti menangis sekarang! Cukup tunjukkan wajah bahagiamu di hadapanku. Dengan begitu aku akan merasa jauh lebih bahagia.” William tidak mengerti kenapa semua perempuan suka sekali menangis walaupun mereka merasa bahagia.


Seperti yang William harapkan selama ini, Renata memang perempuan yang selalu patuh. Itu sebabnya, William jarang bertengkar dengan Renata. Selama ini, William dan Renata selalu melengkapi satu sama lain. Setiap kali akan terjadi pertengkaran, maka William akan selalu mengalah pada Renata, William juga jarang berada di situasi yang sulit, sebab Renata selalu menuruti semua keinginan William, tanpa pernah membantah ucapan William. Tanpa William sadari itu semua juga karena William juga selalu menuruti kemauannya.


Sangat berbeda dengan karakter yang Zoya miliki. Bahkan di awal pertemuan mereka, William sudah sangat tidak menyukai Zoya. Baginya Zoya hanyalah seorang wanita yang William anggap tidak memiliki kecantikan dan kelembutan seperti Renata. Oleh sebab itu, pertengkaran sering terjadi di antara mereka berdua. Meskipun pada akhirnya Zoya yang mengalah pada William, bersikap seadanya hanya karena Zoya merasa lelah terus bertengkar dengan William.


Renata memilih untuk menceritakan masa lalu mereka. Berharap dengan begitu William bisa mengingat semua kenangan indah yang sudah mereka lalui bersama. Siapa sangka, ketika Renaya menoleh ke arah William, Renata justru melihat William yang sedang tidak fokus mendengarkan ceritanya. Pikiran William tidak berada bersamanya saat ini. Renata bahkan mencoba untuk memanggil William beberapa kali, tetapi William tidak merespons panggilannya, hingga akhirnya Renata memilih untuk menggenggam tangan William.

__ADS_1


“William, apa yang sedang kamu pikirkan? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Kamu bisa menceritakannya padaku. Aku pasti akan mendengarkan semua ceritamu dengan baik.” Renata yang melihat William terus melamun, sedikit tidak menyukai kebiasaan baru William ini. Renata tidak biasa diabaikan oleh William seperti ini.


“Aku tidak memikirkan apa-apa. Maafkan aku karena membuatmu merasa tidak nyaman. Apa yang baru saja kau katakan? Bisakah kamu mengatakan semuanya sekali lagi padaku?” tanya William yang merasa tidak enak kepada Renata, karena tadi dia sempat memikirkan Zoya sehingga tidak mendengar cerita Renata sama sekali.


“Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan saat ini? Apa aku datang di waktu yang tidak tepat? Sehingga mengganggu pekerjaanmu? Jika memang kamu sedang memiliki banyak pekerjaan saat ini, kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Aku tidak mau kehadiranku justru mengganggu pekerjaanmu.” Renata hanya mencoba untuk berbesar hati, berharap jika William melamun karena memikirkan pekerjaannya yang terlihat begitu menumpuk.


“Iya, perusahaanku memang sedang mengalami beberapa masalah, oleh karena itu hari ini aku harus memeriksa beberapa dokumen penting. Agar aku mengetahui apa permasalahan yang terjadi sebenarnya. Maafkan aku, karena mengabaikanmu untuk pekerjaan. Aku tidak akan melakukannya lagi di lain waktu. Tapi, aku masih ingin mengobrol denganmu. Apa kamu keberatan dengan itu, Renata?” tanya William yang semakin merasa bersalah pada Renata. Tetapi William juga bisa bernafas lega, karena Renata berpikir bahwa konsentrasi William terbagi pada pekerjaan.


“Jika memang kau begitu sibuk, maka aku tidak akan mengganggumu sekarang. Kita bisa melanjutkan obrolan kita di lain waktu. Aku datang ke sini hanya untuk melepaskan rasa rinduku padamu. Aku sama sekali tidak menyangka kalau tidak banyak yang berubah di ruang kerjamu ini. Aku merasa senang melihatnya. Itu artinya selama ini kamu juga terus memikirkanku, hingga tidak tega untuk mengubah dekorasi yang sudah aku buat untukmu.” Renata bisa bernapas dengan lega, ketika melihat tidak ada perubahan di ruang kerja William.


“Konsep yang kamu buat begitu bagus, aku sangat menyukainya. Itu sebabnya aku tidak berniat mengubah dekorasi yang sudah kau buat sebelumnya. Selama ini juga aku tidak bisa melupakanmu begitu saja. Aku terus menanti kapan kamu akan kembali. Akhirnya sekarang penantianku sudah mencapai batasnya, sebab kamu sudah berada di sisiku saat ini. Jangan pernah meninggalkan aku lagi, sayang.” William tahu tindakannya ini salah, tetapi William juga tidak bisa mengabaikan perasaannya pada Renata. William masih begitu mencintai Renata dan kisah cinta mereka belum usai.


“Aku juga tidak pernah bisa melupakan, sayang. Hanya saja sesuatu terjadi di antara kita berdua. Aku tidak akan menyalahkan masa lalu. Karena kewajiban kita memperbaiki masa depan. Itu sebabnya aku kembali padamu sekarang, sebab aku tahu bahwa kamu juga menungguku. Seperti aku yang selalu menantikanmu selama ini. Maafkan aku karena menghilang begitu saja, aku berjanji kalau aku tidak akan pernah pergi lagi, William.” Selagi William menginginkan keberadaan Renata di sisinya, maka Renata tidak akan pergi. Renata akan merebut William kembali, karena sejak awal William adalah miliknya.


William dan Renata terus melepaskan kerinduan di antara mereka. Bahkan saat ini, William dan Renata sudah menyatukan bibir mereka berdua. Sebagai bentuk pelampiasan rasa rindu yang terus tertumpuk di hati keduanya selama ini. William bahkan melupakan Zoya, istri yang sudah menemaninya hampir dua tahun belakangan ini. Apalagi ketika William mengingat bahwa Zoya kembali bertemu dengan pria yang sempat menjalin hubungan dekat dengannya, membuat amarah William kembali memuncak, yang berakhir dengan William yang melampiaskan semuanya pada Renata.

__ADS_1


__ADS_2