
Zoya yang baru saja selesai makan siang bersama Damar, dikejutkan dengan suara ponselnya yang berbunyi. Zoya segera mengambil ponselnya di dalam tas, untuk melihat siapa orang yang menghubunginya. Saat dia melihat nama Wulan, Zoya hanya memandangi layar telepon genggam miliknya. Tanpa ada niat untuk mengangkatnya.
“Siapa yang meneleponmu, Zoya? Kenapa kamu tidak mengangkatnya?” tanya Damar penasaran. Apa alasan Zoya tidak segera mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
“Bukan siapa-siapa. Tidak ada hal yang penting.”
“Apa kamu yakin? Sepertinya penting,” tanya Damar sekali lagi, mengingat ponsel Zoya masih terus berdering.
“Iya, aku sangat yakin. Oh ya, sepertinya aku harus kembali ke toko.” Zoya sengaja berkata seperti itu untuk menghindar dari Damar yang terlihat penasaran.
“Baiklah. Aku akan mengantarmu, aku harap kita bisa menikmati makan siang bersama lagi besok," ucap Damar yang hanya ditanggapi Zoya dengan sedikit tersenyum.
“Kurasa, besok kita tidak bisa makan siang bersama. Maaf."
“Kenapa?” tanya Damar.
"Aku punya banyak pekerjaan, besok," jawab Zoya.
“Baiklah. Mungkin lain kali," ucap Damar tersenyum, meski sedikit kecewa.
__ADS_1
Wulan terus mencoba untuk menghubungi Zoya, berharap Zoya akan mengangkat teleponnya kali ini. Tetapi Wulan harus menelan kekecewaan, karena ponsel Zoya tiba-tiba saja tidak bisa di hubungi. Wulan menyerah untuk menghubungi Zoya kali ini. Mungkin nanti malam dia bisa mencoba untuk menghubungi Zoya lagi.
Sedangkan Zoya saat ini merasa sangat lega, sebab berhasil mematikan ponselnya tanpa terlihat oleh Damar. Dia masih belum siap untuk menceritakan semuanya kepada Damar.
“Kamu sudah siap?” tanya Damar memastikan apakah Zoya sudah berada diposisi yang benar atau tidak saat mereka sudah berada di atas sepeda motornya.
“Iya, aku siap!” jawab Zoya dengan semangat.
“Baiklah! Berpegangan padaku, Zoya! Aku tidak mau kamu jatuh," ucap Damar selalu mengambil kesempatan untuk itu.
Zoya tidak mengatakan apa-apa, tetapi dia segera melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Damar. Hal itu membuat Damar tersenyum. Damar menjalankan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Karena dia tidak mau kebersamaannya bersama Zoya cepat berakhir.
“Terima kasih karena sudah mengantarku, Mas,” ucapnya sembari menyodorkan helm yang dia pakai pada Damar.
Zoya hanya tersenyum dan segera masuk ke dalam toko setelah dia memastikan Damar tidak terlihat lagi. Zoya senang karena Danar selalu memperlakukannya dengan baik, hal yang bisa membuatnya merasa sangat nyaman berada di dekat pria itu.
Tetapi walaupun demikian, nyatanya Zoya masih belum bisa melupakan Liam dan tatapan menyedihkan sampai sekarang. Hal itu terus mengganggu pikirannya selama seminggu ini. Entah kenapa Zoya tidak bisa melupakan itu semua. Akhirnya Zoya kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan yang menunggunya saat ini. Agar dia bisa melupakan Liam untuk sejenak saja.
***
__ADS_1
Wulan kembali mencoba menghubungi Zoya malam ini, tetapi sayangnya nomor ponsel Zoya tetap tidak bisa dihubungi. Hal ini seakan menegaskan kepada Wulan bahwa Zoya telah menolak tawarannya. Semua pemikirannya ini, membuat Wulan merasa sangat sedih. Karena dia tidak menyangka kalau Zoya akan menolaknya.
Wajah murung Wulan, tentu menjadi perhatian bagi Leila. Karena sudah sejak seminggu terakhir ini, Wulan terlihat sangat murung. Membuat Leila turut sedih karenanya. Leila segera mendekat.
“Apa ada masalah, Nyonya?” tanya Leila pada majikannya itu.
“Aku memikirkan Liam dan masa depannya Leila. Aku kasihan padanya. Aku tidak tahan melihat kesedihan putraku.”
“Nyonya, jangan menyerah. Saya yakin Tuan Liam pasti bisa bangkit kembali. Yang bisa kita lakukan hanyalah terus mendukungnya.” Leila mencoba untuk membangkitkan semangat Wulan kembali.
“Dokter mengatakan kepadaku kalau kondisi Liam semakin buruk. Hal itu bisa berakibat sangat fatal bila kita tidak berhati-hati mengawasinya. Itu sebabnya aku menginginkan seorang gadis yang baik untuknya. Tetapi sekarang aku bahkan tidak bisa mendengar suara gadis itu lagi. Apa yang harus aku lakukan, Leila?” tanya Wulan.
“Nyonya, sebaiknya Anda memikirkan kembali keputusan yang Anda ambil. Mungkin wanita pilihan Nyonya adalah orang yang baik. Tetapi, bisa jadi saat ini dia masih belum siap untuk menghabiskan hidupnya bersama Tuan Liam. Apalagi usia Zoya masih muda. Nyonya juga harus bisa memberikan waktu kepadanya. Bukankah lebih baik sekarang kita melakukan setiap saran yang diberikan oleh dokter?” ucapnya, mencoba untuk melapangkan hati Wulan bahwa semuanya mungkin tidak bisa berjalan sesuai keinginannya.
“Apa aku terlalu gegabah dalam mengambil keputusan, Leila? Sekarang Zoya menjauhiku.” Wulan mulai ragu dengan keputusannya sendiri.
“Saya tidak berpikir demikian, Nyonya. Tetapi, apa yang Nyonya putuskan belum sesuai dengan waktu yang seharusnya. Anda juga harus percaya, bahwa segala sesuatu itu akan indah pada waktu yang tepat. Tuan Liam baru saja mengalami kecelakaan, dia bahkan belum bisa melupakan nona Renata. Bagaimana mungkin dia bisa menerima wanita baru dalam hidupnya? Anda juga tahu, bahwa Tuan Liam sangat mencintai wanita itu. Itu juga sebabnya, Anda tidak bisa langsung mengenalkan seorang wanita kepada Tuan Liam. Dia masih belum bisa menerima semua yang telah terjadi. Jadi saran saya, Anda harus memberikan waktu untuk Zoya dan Tuan Liam, karena ini merupakan keputusan yang besar dan berhubungan dengan hidup mereka, Nyonya.” Leila menjelaskan apa maksud ucapannya. Karena dia juga sudah menganggap Liam dan Zoya sebagai anaknya sendiri.
“Apa yang kamu katakan benar, Leila. Mungkin aku terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Sekarang aku harus fokus pada kesehatan mental putraku terlebih dahulu. Semoga saja seorang psikolog bisa membantu memulihkan kepercayaan dirinya. Aku benar-benar takut kehilangan anakku,” Wulan sungguh takut kehilangan Liam, jika saja ada Ryan–suaminya, Wulan pasti sudah menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya, sayangnya setelah kecelakaan itu, Ryan terpaksa kembali bekerja dan menggantikan Liam memimpin perusahaan mereka.
__ADS_1
“Saya mengerti perasaan Anda, Nyonya. Kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan, dan berusaha untuk melakukan yang terbaik. Saya yakin, Tuan Liam pasti bisa kembali seperti semula. Sekarang sebaiknya Nyonya beristirahat. Karena Nyonya juga harus mementingkan kesehatan diri, Nyonya. Sebab hanya Nyonya, yang bisa Tuan Liam harapkan sekarang."
“Kamu benar, Leila. Aku membutuhkan istirahat sekarang. Sepertinya aku sudah terlalu keras dalam berpikir. Semua ini benar-benar membuat aku merasa sangat lelah," ucap Wulan sebelum akhirnya Leila mengantarnya untuk kembali ke kamar dan beristirahat.