
Kesal dengan Zoya, William pun mendorong kursi rodanya menuju ke ruang kerja. Kalau dia pergi ke kamar pastilah Zoya akan menyusulnya jadi dia lebih memilih untuk pergi ke ruang kerjanya. Di sini dia bisa bebas melakukan apa pun yang dia inginkan.
William mengambil ponselnya yang terletak di meja kerja, lalu menghubungi seseorang kepercayaannya. Dia adalah Rendy, anak buahnya. Dia ingin Rendy melakukan sesuatu untuknya.
“Halo selamat malam, Pak,” sapa Rendy dari seberang sambungan telepon.
“Halo, Rendy. Ren, aku mau kamu mencari tahu tentang siapa itu Damar yang dulu pernah dekat dengan Zoya. Aku ingin kamu memberikan informasi kepadaku secepat mungkin,” ucap William.
“Baik, Pak,” jawab Rendy.
Usai telepon dimatikan, William merasa tak tenang. Dia mendorong kursi rodanya menuju ke jendela, memerhatikan Zoya dari sana. Saat ini Zoya tampak kebingungan. Mungkin karena William yang tiba-tiba marah padanya dan pergi.
Tak berselang lama kemudian, ponsel William berdering. Ada sebuah panggilan dari Rendy. William buru-buru mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, Pak. Apakah Anda sudah memeriksa e-maik yang saya kirimkan?” tanya Rendy. “Saya baru saja mengirim informasi yang Anda minta.”
William mengerutkan dahinya. “Sebentar, Ren,” jawabnya.
Pria itu kembali mendorong kursi rodanya menuju ke depan meja kerja, lalu menyalakan laptopnya. Dia memeriksa e-mail yang dikirimkan oleh Rendy dan benar saja di sana ada informasi mengenai pria bernama Damar.
“Apakah kamu yakin dia orangnya, Ren?” tanya William, tak yakin. “Atau mungkin ada Damar lain yang pernah dekat dengan Zoya?”
“Satu-satunya Damar yang pernah dekat dengan istri Anda adalah pria itu, Pak. Kebetulan dia juga masih sering membantu Desi, pengasuh istri Anda. Sepertinya mereka mengenal satu sama lain sudah cukup lama, Pak,” jelas Rendy.
“Baik, terima kasih kalau begitu, Ren,” ujar William kemudian mematikan sambungan telepon.
Dia meletakkan ponselnya di meja, kemudian fokus membaca informasi-informasi yang Rendy kirimkan mengenai Damar.
__ADS_1
Menurut informasi yang anak buahnya dapatkan, Damar merupakan salah satu pengusaha yang cukup sukses. Pria itu memiliki banyak cabang tempat olahraga, bisnis penjualan peralatan olahraga, sampai memiliki tempat pelatihan olahraga untuk atlet-atlet muda. Usaha pria itu terbilang sukses menyebar ke seluruh penjuru negeri.
William semakin kesal karena rupanya Damar adalah seorang pria yang cukup sukses dan juga berwajah tampan. Entah mengapa dia merasa tersaingi.
Meskipun William selalu berkata kalau di hatinya hanya ada Renata dan dia tidak akan pernah sudi membuka hati untuk Zoya, tanpa dia sadari justru yang terjadi adalah sebaliknya. Hatinya merasa kesal dan cemburu mengetahui di hati Zoya ada nama orang lain selain dirinya.
Dengan kesal William menutup laptopnya, lalu mendorong kursi rodanya keluar dari ruang kerja. Pikiran William benar-benar kalut membayangkan kalau Zoya akan lebih memilih Damar dibandingkan dirinya mengingat Damar adalah pria sempurna dan tidak cacat seperti dirinya.
“Argh! Kenapa aku jadi kesal seperti ini, sih?” gerutu William merutuki dirinya sendiri.
Sementara itu, di saat yang sama Zoya merasa bingung dengan sikap William yang tiba-tiba marah setelah mendengar ceritanya tentang Damar. ‘Bukankah tadi Liam yang bertanya? Kenapa sekarang malah dia yang marah? Padahal saat aku bertanya tentang Renata saja dia tidak marah,’ gerutu Zoya dalam hati.
Dia menghela napasnya sambil menggelengkan kepalanya. Merasa heran dengan William tapi dia memilih untuk tidak memusingkan hal tersebut. Mungkin reaksi William tadi hanyalah reaksi terkejut sebab dia pikir Zoya tidak pernah dekat dengan pria mana pun.
Tak berselang lama kemudian, ponsel Zoya berdering. Gadis itu tersenyum lebar saat melihat siapa yang meneleponnya. Buru-buru dia mengangkat telepon tersebut.
“Halo, Mas,” sapa Zoya. “Kamu apa kabar?”
Iya, benar sekali. Seseorang yang menelepon Zoya adalah Damar, sang pujaan hati yang harus dia lepaskan karena dia telah dijodohkan dengan si dingin William. Kalau boleh jujur, Zoya merindukan kebersamaannya dengan Damar. Meskipun tidak separah dulu, tapi rasa rindu itu tetap masih ada.
“Aku baik-baik saja, Mas. Tumben kamu menelepon, kebetulan sekali aku baru saja membicarakan tentang kamu dengan Mas Liam,” ucap Zoya, menarik perhatian Damar.
“Oh, ya? Kamu membicarakan tentang aku dengan suamimu?” tanya Damar, terdengar tercekat saat berkata ‘suamimu’.
Zoya terkekeh pelan. “Iya, kami membicarakan tentang masa lalu kami. Dan kebetulan dia bertanya apakah aku pernah dekat dengan seorang laki-laki jadi aku membicarakan tentang kamu,” jawab Zoya apa adanya.
Damar terkekeh. Tidak menyangka Zoya dan suaminya memiliki topik pembicaraan yang bisa dibilang cukup unik. Oh, ayolah! Mana ada pasangan suami istri yang membahas tentang masa lalunya kalau bukan Zoya dan William.
__ADS_1
“Lalu apa yang kamu katakan kepada dia tentang aku?” tanya Damar, penasaran dengan pembahasan Zoya dan William.
Zoya menggaruk tengkuknya. “Ya, aku berkata kalau aku pernah dekat dengan pria baik yaitu dirimu, Mas,” jawabnya polos.
Di seberang sana, Damar tersenyum kecut. Andai saja dia bisa memperjuangkan Zoya lebih keras lagi. Pasti mereka tak akan menjadi sesuatu yang pernah terjadi. Tapi akan menjadi sesuatu yang bersatu.
“Ngomong-ngomong, kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan Bibi Desi di pasar dan dia membicarakan tentang apa yang terjadi di acara pernikahan kalian,” ucap Damar, mengalihkan topik pembicaraan.
“Benarkah?” tanya Zoya.
“Iya. Katanya sekarang kamu tinggal berdua dengan suamimu karena permintaannya. Bibi Desi terlihat sangat merindukanmu,” ucap Damar.
“Aku juga merindukan Bibi Desi. Tapi, saat ini aku masih membantu kesembuhan Mas Liam jadi aku belum sempat mengunjungi Bibi,” ucap Zoya.
“Jadi, semenjak menikah kamu belum sempat menemui Bibi Desi? Pantas saja dia terlihat merindukan kamu,” balas Damar.
“Iya. Kamu juga pasti tahu sendiri kalau aku tidak begitu berani menaiki kendaraan. Jadi, aku belum sempat pergi menemui Bibi,” jawab Zoya.
Zoya dan Damar mengobrol panjang sambil sesekali bercanda dan tertawa. Tanpa sadar, rupanya William mendengar itu semua. Awalnya William bingung dengan siapa Zoya berbicara di telepon, tapi setelah mengetahui kalau Zoya bertelepon dengan Damar, William semakin kesal.
Pria itu mendorong kursi rodanya menghampiri Zoya. Dengan satu gerakan cepat dia merebut ponsel Zoya dan menempelkannya di telinganya.
“Halo, Damar,” ucapnya.
“...”
Tidak ada jawaban dari Damar karena dia bingung tiba-tiba ada seseorang yang menginterupsi percakapan Zoya dan dirinya.
__ADS_1
“Ini aku suami Zoya. Aku minta kamu menjaga jarak dari Zoya karena dia sudah menikah denganku,” ucap William kesal.
Setelah mematikan telepon, William melempar ponsel Zoya ke lantai, membuat Zoya terkejut dan bingung dengan sikap William yang tiba-tiba melempar ponselnya.