
William keluar dari rumah Zoya dengan kekecewaan yang besar di hatinya. Karena William tidak berhasil membujuk Zoya untuk kembali padanya. Sekarang rumah tangganya dengan Zoya tidak bisa diselamatkan lagi, hal ini membuat William tampak linglung, sebab tidak bisa berpikir dengan jernih. Surat perceraian yang Zoya berikan padanya, menjadi pukulan besar bagi William saat ini.
Entah apa yang harus William katakan kepada kedua orang tuanya, mungkin saja saat ini kedua orang tuanya sudah tahu, masalah apa yang William timbulkan untuk dirinya sendiri.
Saat William sampai di rumahnya, William melihat kedua orang tuanya sudah ada di sana. William segera menundukkan kepalanya karena merasa sangat bersalah kepada kedua orang tuanya. Sebab Zoya merupakan istri yang diberikan oleh orang tuanya untuk William, sehingga, jika mereka bercerai, jelas kedua orang tuanya yang merasa paling sedih.
“Apa sekarang kau sudah mengingat jalan untuk pulang ke rumah? Kenapa kau tidak melakukannya beberapa minggu ini, William?” tanya Rian yang sangat marah. Sebab orang kepercayaannya baru mengetahui perselingkuhan William beberapa hari terakhir.
“Kenapa kau hanya diam, William? Bukankah biasanya kau akan selalu menjawab ucapan kami dengan lantang? Kau bahkan tidak pernah bersedia mendengarkan nasihat yang kami berikan. Aku sebagai mamamu, tidak tahu lagi harus mengatakan apa sekarang, karena kau sudah sangat mengecewakan kami. Kami bahkan tidak punya alasan lagi untuk memohon kepada Zoya agar tetap bertahan bersamamu. Kenapa kau menyakiti putri kami seperti itu, William?” tanya Wulan yang saat ini tidak bisa lagi menahan air matanya.
Bagi Wulan dan Rian, Zoya bukan hanya sekadar menantu, tetapi Zoya sudah seperti putri mereka sendiri. Wulan sangat senang ketika bisa mengangkat Zoya sebagai putrinya, meskipun semua itu tidak dilakukan dengan hukum yang jelas, tetapi di hatinya, Zoya sudah menjadi putrinya.
Namun sekarang, putrinya yang begitu cantik dan baik, sudah disakiti oleh putranya sendiri. Anak ini dibesarkan dengan tangannya sendiri.
“Semua ini adalah kesalahan kami, karena kami terlalu menyayangimu, hingga kami tega untuk menikahkan putri kami dengan pria lumpuh sepertimu saat itu. Kami hanya ingin Zoya menjadi putri kami seutuhnya, sebab namanya tidak tertera di dokumen negara. Kami makan menutup mata atas segala penolakan yang Zoya berikan. Aku, dengan tidak tahu malu meminta Zoya menikah denganmu, setelah mengungkapkan segala kebaikan yang sudah kami berikan kepadanya. Zoya bahkan harus menerima kebencianmu, yang terus menuduhnya menikahimu karena harta yang kita miliki. Sekarang entah aku yang harus menyalahkan dirimu, karena kau sudah mengecewakanku, atau aku harus menyalahkan diriku sendiri, karena sudah terlalu memanjakanmu selama ini. Maafkan kami, karena sudah memberikan pernikahannya tidak bahagia. Kami tidak akan pernah mencampuri kehidupanmu lagi.”
__ADS_1
“Ma, aku mohon jangan bicara seperti itu, semuanya adalah kesalahanku, aku tidak bisa berhenti memikirkan wanita di masa laluku, hingga akhirnya berakibat buruk pada pernikahanku. Kalian adalah orang tua terbaik bagiku, tolong maafkan kesalahanku ini, karena aku juga sudah sangat menyesalinya sekarang. Kalian sudah memperingatkan aku berkali-kali, tetapi aku tidak mau mendengarkan nasihat yang kalian berikan. Aku sungguh seorang anak yang buruk. Maafkan aku,” ucap William sembari duduk di bawah pangkuan Wulan.
“Kami tentu selalu memaafkanmu, karena kau adalah putra kami. Orang tua mana yang tidak akan memaafkan anaknya? Semua ini juga tidak lepas dari kesalahan kami. Seharusnya kami tidak pernah memisahkan kau dengan Renata, tetapi karena kau sudah menikah dengan Zoya, tentu saja kami harus menjauhkan dia darimu, hingga aku dan ayahmu memutuskan untuk membuat kekacauan di perusahaan Pendi. Sayangnya, kami hanya fokus untuk membuat keluarga mereka sibuk membereskan setiap masalah yang timbul di perusahaannya. Hingga kami tidak melihat pergerakan Renata yang memanfaatkan momen itu untuk menarik simpatimu. Hingga akhirnya kamu mengabaikan putri kami, demi menyenangkan hati wanita itu.
Sekarang aku tidak akan melarangmu jika kau ingin menikah dengan. Tetapi satu hal yang harus kau tahu, William, sampai aku mati, aku tidak akan pernah mengakui Renata sebagai menantuku. Karena Renata adalah orang yang sudah menyakiti perasaan putriku dan dia juga wanita jahat. Maka tidak pantas baginya untuk memanggilku sebagai Ibu. Ayo kita pergi dari sini, Sayang. Karena aku sudah tidak sanggup untuk berada lebih lama lagi di tempat ini.” Wulan mengajak Rian untuk pergi, setelah mengatakan semuanya.
“Semua yang ingin kami katakan padamu, sudah kami sampaikan. Apa yang dikatakan oleh ibumu, juga sama dengan apa yang ingin aku ucapkan padamu. Sekarang kau bebas untuk menentukan jalan hidupmu sendiri. Kau juga bisa menikah tanpa persetujuan dari kami. Karena kau sudah dianggap dewasa untuk mengambil keputusan. Tetapi, jangan pernah kau ajak wanita itu untuk menginjakkan kakinya di rumah kami, karena kami tidak akan pernah menerimanya, sebab wanita itu sudah seperti aib bagi kami. Jadi kau tidak perlu repot-repot, untuk mendekatkannya dengan kami. Semoga kau bahagia bersama wanita itu, William.”
"Satu lagi. Jangan lagi mengejar Zoya putri kami, karena aku dan istriku tidak akan membiarkan Zoya kembali bersama pria sepertimu," sambung Rian sebelum benar-benar pergi.
***
Renata yang merasa gelisah karena William tidak memberikan kabar kepadanya seharian ini, segera menghubungi ponsel William.
William yang mendengar ponselnya berdering, sangat berharap jika yang menghubunginya adalah Zoya, sayangnya William harus menerima kenyataan pahit, sebab orang yang meneleponnya saat ini adalah Renata. Tetapi William tetap mengangkat panggilan telepon tersebut. Karena William juga harus menyesuaikan hubungan antara dirinya dan Renata.
__ADS_1
“Halo, William, kau tahu aku sangat mencemaskanmu sekarang. Kenapa kau tidak membalas pesan yang aku kirimkan padamu? Apa kau sedang banyak pekerjaan saat ini? Tolong katakan kepadaku, agar aku tidak perlu khawatir seperti ini,” ucap Renata.
“Keadaanku sangat buruk. Terima kasih karena kau sudah mencemaskan aku, Renata, tetapi sekarang aku ingin ....”
“Apa yang terjadi? Datanglah ke apartemenku, agar kita bisa membicarakan semua itu dengan lebih leluasa.”
Renata memotong ucapan William sebelum William selesai mengatakan kalimat terakhir yang ingin disampaikannya. Renata merasakan firasat buruk, jika membiarkan William melanjutkan kalimatnya. Itu sebabnya Renata memotong ucapan William.
“Renata, aku tidak akan datang ke sana. Sudah cukup bagiku melakukan kebodohan yang aku sesali sekarang. Maafkan aku kan harus menyakitimu kali ini, tetapi aku juga tidak bisa untuk tetap bersama denganmu. Renata, ayo kita akhiri hubungan kita!” ucap William dengan tegas.
“William, kau pasti sedang bercanda, tetapi aku tidak suka leluconmu kali ini. Jadi aku mohon jangan mengatakan ini lagi. Karena aku tidak pernah sanggup jika memikirkan kita yang harus berpisah untuk kedua kalinya, William. Aku yakin kau tidak serius dengan ucapanmu ini. Tolong jawab aku, William.”
“Maafkan aku, Renata. Aku sungguh tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku harap kau bisa mendapatkan kebahagiaan yang lain. Doaku akan selalu menyertaimu.”
William segera menutup sambungan telepon mereka, tanpa menunggu jawaban dari Renata.
__ADS_1