
Waktu terus berlalu. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Menghabiskan waktu bersama di dalam rumah tanpa sadar membuat William semakin terbiasa dengan kehadiran Zoya di sisinya. Dia bahkan tidak lagi membiarkan Zoya tidur di sofa, melainkan menyuruh Zoya tidur di kasur bersamanya meskipun ia kerap kali harus menahan diri supaya senjatanya tidak bereaksi.
Tidak hanya tidur bersama, mereka berdua juga melakukan segalanya bersama seperti makan bersama, berkebun bersama, dan juga melakukan terapi bersama. William bahkan terkadang menemani Zoya memasak sambil berceloteh dan bersenda gurau. Tanpa sadar hubungan mereka berdua kian terikat meski mereka sama-sama membangun tembok tinggi di hati masing-masing.
Seperti hari itu, saat William keluar dari ruang kerja setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia tidak sengaja melihat Zoya tengah mengelap peluh sambil mengepel lantai. Entah mendapat dorongan dari mana, tiba-tiba saja William merasa iba pada gadis itu. William pun menghampiri Zoya dan mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan Zoya.
“Zoya, duduklah dulu. Istirahat,” ucap William lembut.
Zoya berpikir kalau William ingin membicarakan sesuatu yang penting jadi dia mengangguk dan duduk si sofa yang berhadapan dengan William. “Ada apa, Mas? Apakah ada yang ingin kamu bicarakan?” tanyanya.
“Aku akan mencarikan pelayan supaya kamu tidak perlu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang berat,” ucap William.
Zoya terkesiap. Gadis itu terkejut sebab William tiba-tiba saja berubah pikiran dan ingin memperkerjakan seorang pelayan padahal dari awal William selalu berkata kalau mengerjakan pekerjaan rumah adalah tanggung jawab Zoya sebagai seorang istri.
“Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran, Mas?” tanya Zoya kebingungan.
Gadis itu terlalu terbiasa dengan sikap kasar William sampai-sampai dia terheran-heran setiap kali William mulai bersikap bersahabat kepadanya. Entahlah, rasanya aneh saja.
Tapi di sisi lain, dia juga merasa bahagia karena perlahan William mulai bersikap baik padanya. William sekarang sudah tidak pernah memperlakukan Zoya seenaknya. Dia bahkan selalu berbicara dengan Zoya dengan nada yang bisa dibilang lebih lembut daripada biasanya. Meskipun terkadang masih suka marah, tapi setidaknya sudah tidak separah dulu.
“Aku ingin kamu lebih fokus untuk merawatku,” jawab William, berdusta. Bohong kalau dia beralasan seperti itu padahal kenyataannya dia tidak tega membiarkan Zoya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah.
Zoya terkekeh mendengar alasan William. “Mas, tidak apa-apa. Aku melakukan pekerjaan rumah karena aku tahu kalau ini semua memang sudah kewajibanku sebagai seorang istri,” ucapnya.
Hati William menghangat mendengar ucapan Zoya. Itu artinya Zoya memang sangat tulus melakukan ini semua. Ke mana pikiran William selama ini? Kenapa dia tidak bisa merasakan ketulusan hati Zoya?
__ADS_1
“Baiklah, tapi kalau kamu lelah, kamu tidak boleh terlalu memaksa untuk melakukan pekerjaan rumah,” ujar William.
Zoya tersenyum sembari mengangguk. “Iya, Mas,” jawabnya. Dia melirik jam dinding, sekarang sudah pukul setengah lima sore. “Apakah kamu sudah lapar, Mas?” tanyanya.
William tersenyum kuda, memperlihatkan barisan giginya yang rapi, lalu mengangguk pelan. “Iya, perutku sudah keroncongan,” jawabnya jujur sambil menepuk-nepuk perutnya.
Zoya tertawa kecil kemudian berdiri. “Oke, aku akan memasak makan malam untukmu. Kamu mau makan apa malam ini?” tanya Zoya.
“Apa saja terserah kamu yang penting aku kenyang,” balas William. Dia tidak lagi pemilih soal makanan sebab mau masakan jenis apa pun asalkan Zoya yang memasak maka akan terasa lezat baginya.
Zoya bergegas pergi ke dapur tanpa sadar kalau William mengikutinya dari belakang. Segera Zoya mengambil beberapa bahan-bahan makanan dari kulkas dan meraciknya. Hari ini Zoya akan memasak salmon teriyaki. Sesuatu yang simpel tapi menggugah selera.
Sementara Zoya menyiapkan bahan masakannya, William diam-diam memperhatikan Zoya sambil tersenyum. Entah kenapa pria itu merasa senang setiap kali dia melihat Zoya memasak. Ada daya tarik tersendiri yang Zoya pancarkan setiap kali dia disibukkan dengan peralatan dapur dan bahan-bahan makanan.
Saat selesai mandi, Zoya tidak melihat keberadaan William di kamar. Zoya berinisiatif pergi ke lantai dasar untuk mencari William dan dia mendapati William tengah berada di teras belakang rumah. Malam ini, langit bertabur bintang membuat suasana kian syahdu.
“Mas, kamu tidak ingin beristirahat?” tanya Zoya seraya mengambil untuk duduk di salah satu kursi teras.
“Aku belum mengantuk,” jawab William.
Zoya mengangguk-anggukkan kepalanya. Melihat William yang semakin bersahabat dengannya, Zoya jadi ingin menanyakan sesuatu tapi dia masih ragu apakah William akan marah atau tidak setelah mendengar pertanyaannya nanti.
William melirik Zoya dari sudut matanya. Mendapati Zoya tengah memainkan jemarinya sambil menggigit bibir bawahnya membuat William penasaran dengan apa yang tengah dipikirkan oleh gadis itu.
“Kamu kenapa terlihat gelisah seperti itu, Zoya?” tanyanya.
__ADS_1
“Eh ....” Zoya menggaruk tengkuknya, bingung harus berkata apa. “Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu tapi kamu harus janji kalau kamu tidak akan marah,” ucapnya pada akhirnya.
“Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya William sambil mengerutkan dahinya.
“Kamu harus janji tidak akan marah dulu,” ucap Zoya keras kepala.
William terkekeh. “Baiklah aku janji tidak akan marah,” jawabnya.
“Aku ingin bertanya tentang Renata, Mas. Aku penasaran karena kamu sangat sulit melupakan dia,” ucap Zoya sambil mengalihkan pandangannya. Dia takut melihat William karena dia yakin sekali kalau William akan marah sebab dirinya mengorek-ngorek masa lalu William.
William menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya, mengingat kembali tentang wanita yang perlahan sudah mulai dia lupakan semenjak dia bisa menerima kehadiran Zoya di hidupnya.
“Aku dan Renata berpacaran cukup lama, tiga tahun lebih tepatnya. Dulu aku mengenalnya karena salah satu teman kami yang mengenalkan kami. Seperti pasangan pada umumnya, aku sangat mencintai kekasihku,” jawab William, membuat Zoya terkesiap.
“Lalu, kenapa kalian berpisah kalau kamu sangat mencintai Renata, Mas?” tanya Zoya, sambil menggigit bibir bawahnya.
“Orang tuaku tidak merestui hubungan kami, Zoya. Terutama Mama. Mama sangat tidak suka dengan Renata. Orang tuaku sangat kasar kepada Renata dan karena hal itu pula akhirnya Renata pergi,” ucapnya sambil tersenyum kecut.
William tidak tahu saja kalau Renata pergi karena ditawari uang oleh Wulan. Cinta yang dimiliki William membuat pria itu buta dan tidak dapat melihat keburukan hati Renata.
“Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu pernah berpacaran?” William balik bertanya.
Zoya menggeleng. “Aku hanya pernah dekat dengan pria bernama Damar. Menurutku dia pria yang sangat baik. Tapi kami tidak pernah berpacaran,” jawab Zoya jujur.
Mendengar kejujuran Zoya entah mengapa membuat William kesal. “Apakah hanya dia pria yang baik menurutmu?” tanyanya marah. Tanpa sadar William cemburu dan mendorong kursi rodanya menjauh pergi.
__ADS_1