
Setelah lelah berkeliling Negara Yunani, menyusuri bangunan-bangunan kuno dan menikmati udara di pesisir pantai, hari di mana Zoya dan William harus mengakhiri bulan madu mereka akhirnya tiba juga. Tepat dua minggu mereka menjalani bulan madu, hubungan mereka berdua pun kian menghangat dan harmonis. William semakin lengket dengan sang istri, dan begitu pula sebaliknya. Kini, mereka seolah tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
Kalau orang yang tahu bagaimana perjalanan cinta mereka dari awal, mungkin mereka tidak akan pernah menyangka kalau William dan Zoya akan berakhir saling mencintai. Apalagi, dulu mereka berdua sama-sama keras kepala dengan pendirian masing-masing. William bersikukuh untuk tetap mencintai Renata, sementara Zoya bersikukuh kalau dia hanya ingin membantu William sampai pria itu sembuh dan akan segera meninggalkan William. Tapi, rupanya takdir berkata lain. Sekarang mereka berdua justru saling mencintai dan tak mau dipisahkan.
Mobil yang ditumpangi William dan Zoya memasuki halaman rumah William. Di tempat parkir, rupanya sudah ada dua mobil lainnya yang terparkir di sana. Sepertinya orang tua William dan Desi sudah datang untuk menyambut kedatangan William dan Zoya.
“Apakah ada tamu di rumah, Mas?” tanya Zoya.
“Paling juga Mama dan Papa,” jawab William. Pria itu turun dari mobil kemudian mengulurkan tangannya. “Ayo, turun. Mereka pasti sudah menunggu kita,” sambungnya.
Zoya mengangguk kemudian turun dari mobil. Tak lupa William juga meminta sopir untuk mengambil barang-barang mereka dari dalam bagasi sebelum mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
“Selamat datang, William, Zoya,” sambut Wulan, Ryan, Leila, dan Desi begitu William dan Zoya membuka pintu rumah.
“Wah, ternyata ramai sekali,” ucap Zoya, kemudian memeluk Wulan, Leila, dan Desi.
“Wajah pengantin yang baru saja bulan madu rupanya terlihat lebih segar dan sumringah. Ayo, katakan apa saja yang kalian lakukan di sana,” pinta Wulan antusias.
“Ma, mereka pasti lelah karena menempuh perjalanan jauh. Lebih baik kita biarkan mereka istirahat dulu sementara Leila dan Desi menyiapkan makan malam,” tegur Ryan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan sang istri.
Wulan terkekeh. “Baiklah kalau begitu kalian istirahat saja dulu. Nanti kalau makan malam sudah siap, aku akan memanggil kalian berdua. Kalian pasti juga belum sempat mandi pagi ini karena terbang dari kemarin,” ucap Wulan.
“Iya, Ma. Kami beristirahat dulu,” ucap William kemudian menggandeng istrinya menuju ke lift.
__ADS_1
“Mereka sekarang tampak lebih mesra,” komentar Desi. “Aku senang sekali melihatnya.”
“Kami juga senang, Desi,” balas Ryan.
“Aku jadi lega. Setidaknya aku tidak perlu merasa bersalah lagi karena sudah membujuk Tuan William untuk menikahi Nona Zoya,” sahut Leila seraya terkekeh kecil.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Leila dan Desi pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka. Hari ini, Wulan menyuruh mereka memasak beberapa menu maka dari itu mereka akan bekerja sama untuk mempersingkat waktu.
Jam makan malam pun tiba, Wulan segera memanggil Zoya dan William. Kini, mereka berkumpul di ruang makan. Zoya dan William sudah mandi dan wajah mereka tidak terlihat selelah tadi.
Sambil menikmati makan malam, mereka berbincang-bincang ringan. Zoya dan William menceritakan tentang pengalaman mereka selama di Yunani. Mereka menceritakan tentang tempat-tempat yang mereka kunjungi dan makanan di sana. Meskipun sama-sama musim panas, kadar kelembaban udara di Yunani dan di Indonesia berbeda. Jadi, mereka juga menceritakan bagaimana mereka harus beradaptasi dulu di sana.
“Kalau kalian besok ingin bulan madu lagi, kalian harus pergi ke Tuscany. Dulu Papa dan Mama menikah di sana. Tempat yang sangat indah dan cocok sekali kalau Zoya ingin belajar memasak dengan penduduk lokal di sana,” ucap Wulan.
William mengangguk. “Kita pasti akan ke sana kalau kita ada waktu luang, Ma. Mulai besok Senin aku memutuskan untuk kembali bekerja,” balas William.
William mengangguk.
“Mama harap karena besok kamu mulai sibuk bekerja, kalian tidak menunda kehamilan,” tegur Wulan.
William terkekeh. “Tidak, Ma. Aku dan Zoya tidak menunda kehamilan sama sekali,” jawab William seraya meremas tangan Zoya.
Jawaban William tentu membuat Wulan merasa senang karena wanita itu sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Setelah makan malam dan berbincang-bincang, Wulan, Ryan, Desi, dan Leila pamit pulang. William dan Zoya mengantarkan mereka sampai ke pintu sebelum masuk dan beristirahat. Tubuh mereka rasanya seperti remuk karena kelelahan. Sepertinya mereka butuh tidur seharian penuh untuk mengisi tenaga mereka kembali.
__ADS_1
Di sisi lain, seorang wanita membawa beberapa potong pakaian dengan harga selangit di tangannya. Wanita itu dengan tatapan mata angkuh berjalan menuju ke kasir dan meletakkan barang-barang belanjaannya di meja kasir. Dia lantas mengeluarkan kartu debitnya dan memberikannya kepada kasir. Wanita itu adalah Renata, mantan pacar William yang pergi meninggalkan William setelah diberi Wulan uang dengan jumlah besar.
Si kasir mulai menghitung jumlah belanjaan Renata. Setelah selesai menghitung, dia menggesekkan kartu debit Renata ke mesin pembayaran. Dia mengerutkan dahinya sebab pembayarannya gagal.
“Maaf, Nona, sepertinya kartu debit Anda tidak bisa digunakan untuk transaksi,” ucap petugas kasir.
Renata yang awalnya tersenyum lebar karena akan membeli barang-barang incarannya kini menoleh dengan raut wajah bingung. “Cobalah sekali lagi,” ucapnya.
Si petugas kasir memutar bola matanya, namun tetap mencoba untuk menggesekkan kartu debit Renata. Sebagai kasir sebuah merek desainer terkenal, dia sudah biasa mendapati pelanggan yang beralasan kartu debitnya tidak bisa digunakan padahal saldo mereka tidak cukup jadi dia tidak heran dengan perilaku Renata.
“Tetap tidak bisa, Nona,” jawabnya. “Atau mungkin ada kartu lain yang bisa kucoba?” tanyanya dengan senyuman yang dipaksakan.
“Tidak ada,” jawab Renata ketus lalu merebut kartu debitnya dan keluar dari butik itu dengan wajah kesal. Wanita itu langsung saja masuk ke dalam mobilnya dan mencoba untuk menghubungi pihak pelayanan kartu debit untuk menanyakan kenapa kartu debitnya tidak bisa dipakai untuk melakukan transaksi.
“Halo, kami dari Neo Bank. Apakah ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang petugas pelayanan.
“Aku ingin bertanya kenapa kartu debitku tidak bisa dipakai,” ucap Renata.
Petugas pelayanan tersebut menanyakan tentang detail akun Renata. Setelah mengetahui tentang hal tersebut dia pun menjelaskan, “Maaf, Nona. Saldo kartu debit Anda memang tidak mencukupi untuk melakukan transaksi dengan jumlah sebesar itu,” jelasnya.
“Apa maksudmu?” tanya Renata.
“Silakan Anda cek jumlah saldo Anda dalam aplikasi untuk informasi lebih jelasnya.”
__ADS_1
Renata mematikan sambungan telepon kemudian memeriksa aplikasi bank. Dia tidak pernah memeriksanya karena uang yang diberikan oleh Wulan sangat banyak jadi dia tidak habis pikir kalau ternyata saldonya sudah sangat menipis.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus kembali pada Liam? Tapi, bagaimana kalau ibunya marah?” gumam Renata, bingung karena uangnya menipis. “Ah, masa bodoh! Bukankah dari dulu Liam lebih percaya padaku daripada orang tuanya?”