
Ryan yang terkejut dengan ucapan William sampai tersedak makanannya sendiri. Wulan buru-buru mengambilkan air putih untuk Ryan supaya bisa menyingkirkan makanan yang mengganjal di tenggorokannya.
“Apakah kami tidak salah dengar, Liam? Kamu mau menikahi Zoya?” tanya Ryan setelah menegak minumannya.
William mengangguk. “Apakah kalian berubah pikiran?” tannya William ketus. Kalau orang tuanya berubah pikiran dan tidak jadi menjodohkannya dengan Zoya tentu William akan merasa sangat bahagia. Ia tidak perlu berpura-pura menerima pernikahan itu.
“Tentu saja kami tidak berubah pikiran, Liam,” jawab Wulan. Wanita itu tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi. “Kami justru senang karena akhirnya kamu mau menerima pernikahan ini,” sambung Wulan.
Hati Wulan berbunga-bunga. Akhirnya impiannya untuk menikahkan William dan Zoya dapat terwujud juga. Meskipun sejujurnya Wulan masih merasa khawatir mengingat William melakukan hal ini karena rencana Leila, tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Bagi Ryan dan Wulan, Zoya adalah gadis terbaik yang pantas menikahi William. Tak hanya berparas cantik, Zoya juga memiliki hati yang murni.
“Kenapa kamu tiba-tiba setuju untuk menikahi Zoya?” tanya Ryan, masih bingung dengan keputusan William yang mengejutkan tersebut.
William menghela napas berat. Ia menatap Ryan dan Wulan dengan tatapan mata serius. Ia harus membuat orang tuanya yakin kalau dia menginginkan pernikahan ini karena tulus, bukan karena ia ingin membongkar kedok Zoya yang asli.
“Beberapa hari belakangan aku memikirkan hal ini baik-baik. Sekarang aku sadar kalau aku memang membutuhkan seseorang yang bisa menjaga dan merawatku. Seseorang yang bisa membantu dan mendampingiku dengan tulus tanpa batasan,” jelas William.
Wulan yang awalnya berpikir kalau William menyetujui untuk menikah dengan Zoya karena bujukan rencana Leila dapat bernapas lega. Rupanya William masih memiliki hati dan tidak mempertimbangkan rencana Leila. Pria itu justru memiliki alasannya sendiri.
Wulan tersenyum lebar. “Terima kasih karena sudah memikirkan tentang pernikahan ini, Liam,” ucapnya senang.
“Aku juga ingin sembuh, Ma. Aku ingin memiliki semangat untuk bisa bangkit dari keterpurukanku,” sambung William.
Ryan dan Wulan merasa senang mendengarnya. Selama ini mereka bingung tujuh keliling karena William mengalami depresi pasca kecelakaan dan ditinggalkan Renata. Kalau William memiliki keinginan untuk sembuh, itu artinya dia sudah bisa mulai berdamai dengan keadaan.
“Kalau begitu Mama akan segera mengabari Zoya dan membicarakan tentang hal ini,” ucap Wulan sambil tersenyum lebar.
Setelah selesai makan malam, Ryan membawa William kembali ke kamarnya sementara Wulan pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya dan mengabari Zoya.
__ADS_1
Di tempat lain, Zoya baru saja selesai mencuci piring ketika ponselnya berbunyi. Zoya mengerutkan dahinya ketika melihat nama Wulan di layar ponselnya. Ia mengelap tangannya dengan kain lap, lalu mengambil ponselnya dari meja dapur dan mengangkat telepon tersebut.
“Halo, Tante. Ada apa menelepon malam-malam?” tanya Zoya.
“Zoya, besok Tante dan Om akan bertamu ke rumahmu. Aku ingin mengabarimu supaya besok kamu tidak pergi ke mana-mana saat kami datang,” ucap Wulan.
Zoya mengangkat sebelah alisnya. “Memangnya ada apa, ya, Tante?” tanyanya bingung.
“Besok kau sendiri juga akan tahu, Zoya. Tante tutup dulu teleponnya. Selamat malam, Cantik,” ucap Wulan.
“Selamat malam juga, Tante,” balas Zoya lalu mematikan sambungan telepon.
Begitu panggilan berakhir, Zoya pergi ke kamarnya. Ia meletakkan ponselnya di nakas lalu duduk termenung di tepi ranjang. Pikirannya berkelana ke sana dan ke mari. Entah mengapa perasaan Zoya jadi tidak enak. Ia takut kalau tiba-tiba William mau menerimanya menjadi istrinya.
Malam itu, Zoya berdoa kepada Tuhan, supaya takdir tidak membawanya untuk bersama dengan William. Zoya tidak mau menikahi pria yang tidak mau menerimanya. Apalagi jika tidak ada cinta di dalam hubungan mereka nantinya.
*****
“Lingkar matamu hitam sekali. Apakah tadi malam kamu tidak tidur, Zoya?” tanya Desi ketika ia melihat Zoya memasuki dapur. Seperti biasa, setiap pagi Desi dan Zoya akan memasak bersama laku sarapan bersama. Tapi kalau melihat kondisi Zoya yang seperti ini, Desi tak mungkin tega meminta Zoya membantunya memasak.
“Aku tidak bisa tidur semalam, Bibi,” ujar Zoya. “Tadi malam Tante Wulan meneleponku dan mengabari kalau hari ini dia akan ke sini. Perasaanku jadi tidak karuan,” sambungnya.
Desi mengangkat kepalanya. “Apakah kamu takut kalau mereka akan memintamu menikahi Liam lagi?” tanya Desi.
Zoya mengangguk lemas.
“Memangnya apa yang membuatmu menolak keras untuk menikah dengan Liam?” tanya Desi.
__ADS_1
“Aku hanya tidak mau menikah dengan seseorang yang tidak mencintaiku, Bibi. Aku takut kalau dia malah membenciku selama kami menikah,” jawab Zoya.
Desi menatap Zoya dengan intens. “Zoya, kamu jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah pada Bibi,” ucap Desi.
Zoya tersenyum lemah. “Iya, Bibi,” jawab Zoya.
Malam harinya, Wulan dan Ryan akhirnya datang. Jantung Zoya berdetak kencang saat melihat Wulan dan Ryan tampak tersenyum lebar. Senyuman mereka entah mengapa justru membuat Zoya merasa takut.
“Zoya, Om dan Tante ke sini untuk membicarakan tentang perjodohan kamu dan Liam. Kamu berkata kalau kamu akan menerima pernikahan ini asalkan Liam menerimanya, ‘kan?” ucap Ryan.
“Iya, Om,” jawab Zoya sambil menganggukkan kepalanya.
“Kalau seandainya Liam mau menikah denganmu apakah kamu akan bersedia menjadi istrinya?” tanya Ryan lagi.
Zoya yang percaya kalau William tidak akan setuju untuk menikah dengannya menganggukkan kepala dengan percaya diri.
“Iya, Om. Makanya aku meminta Om dan Tante untuk bertanya pendapat Liam dulu,” ucap Zoya.
“Kami ada berita gembira untuk kamu, Zoya,” timpal Wulan sambil tersenyum lebar.
Zoya menoleh, gantian menatap Wulan. “Berita apa, Tante?” tanyanya.
“William akhirnya setuju untuk menikah denganmu,” jawab Wulan bahagia.
Deg!
Jantung Zoya seperti ditusuk dengan benda tumpul. Hatinya terasa nyeri memikirkan kalau dia harus menikah dengan seseorang yang sangat tempramen seperti William.
__ADS_1
Zoya terdiam sedih. Ia tidak tahu harus menjawab ucapan Wulan dengan apa. Rasanya ia tidak percaya kalau William mau menikah dengannya. Zoya merasa kalau hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah hari ini. Sebentar lagi ia harus hidup bersama pria lumpuh, depresi, dan tempramental.