Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 49


__ADS_3

Terkejut dengan apa yang dilakukan oleh William, Zoya buru-buru mengambil ponselnya. Dia mencoba menyalakan ponselnya dan dapat bernapas lega sebab ponselnya tidak mengalami kerusakan. Zoya lantas menoleh ke arah William, menatap pria itu dengan tatapan tak suka. Meski terbiasa bersikap sabar, Zoya juga bisa marah dan kesal. Apalagi jika barang pribadinya dibanting seenaknya oleh William.


“Kamu kenapa, sih, Mas? Tiba-tiba marah tidak jelas lalu pergi. Beberapa menit kemudian datang lagi dan marah-marah terus banting ponselku,” protes Zoya sambil mencebikkan bibirnya.


“Eh ... Itu ....” William menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung harus menjawab pertanyaannya Zoya dengan jawaban apa. Dia sendiri bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba merasa kesal setelah mengetahui kalau Zoya memiliki perasaan kepada pria lain. Padahal William juga tidak mencintai Zoya.


“Itu apa? Apakah kamu marah karena kamu tahu aku tidak seperti yang kamu pikirkan? Kamu pasti awalnya berpikir aku adalah gadis centil yang memiliki banyak mantan, bukan?” tanya Zoya dengan tatapan menyelidik.


William akui, dulu dia memang sempat berpikir demikian. Dia bahkan berpikir kalau Zoya hanya pura-pura lugu di hadapan orang tuanya. Tapi, setelah mengenal Zoya, dia akhirnya tahu kalau apa yang dia pikirkan tentang Zoya selama ini adalah salah.


“Tidak, aku tidak pernah berpikir seperti itu,” kilah William, sambil tertawa kikuk.


“Kalau begitu coba kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu, Mas?” tanya Zoya lagi, mendesak William supaya berkata jujur kepadanya.


“Aku hanya takut diledek saja,” celetuk William asal. Pria itu hendak mendorong kursi rodanya pergi untuk menghindari pertanyaan Zoya. Tapi, dia tidak bisa pergi ke mana-mana sebab Zoya buru-buru menghadangnya.


“Siapa yang akan meledek kamu, Mas? Memangnya ada yang berani?” tanya Zoya sambil tertawa geli. William adalah pria yang terkenal sangat dingin dan kejam. Rasanya tidak masuk akal kalau ada seseorang yang berani meledek William.


“Tentu saja ada!” seru William. “Apakah kamu pikir aku seperti macan betina sampai tidak ada yang berani meledekku?”

__ADS_1


Zoya meringis kuda. “Tidak juga, sih,” jawabnya. Bukannya Zoya tidak mau berkata jujur, Zoya hanya tidak mau saja kalau William kembali mengamuk dan marah-marah padanya.


“Jangan membuatku malu, Zoya. Kalau orang-orang tahu kamu dekat dengan pria lain pasti orang-orang akan mengejekku dan berkata jika wajar saja kamu berselingkuh karena aku adalah pria cacat,” ujar William pada akhirnya.


Mendengar penuturan William membuat Zoya tertawa terbahak-bahak. Dia benar-benar tidak menyangka kalau seorang William bisa merasa malu. Setelah puas tertawa, dia kemudian terdiam terutama karena dia melihat wajah William yang tampak merengut ke arahnya.


“Itu semua hanya pikiran kamu, Mas. Tidak akan ada yang meledek kamu karena hal ini. Seperti kamu yang mencintai Renata dan pernah memiliki dia di masa lalu, aku juga memiliki masa laluku sendiri. Kamu tidak perlu khawatir, karena bagiku apa yang terjadi di masa lalu tidak akan aku bawa ke masa sekarang,” ucap Zoya sambil tersenyum tipis.


“Lalu kenapa kamu barusan berkomunikasi dengan dia?” tanya William.


Zoya menyipitkan matanya. “Kami hanya menanyakan kabar satu sama lain, itu saja. Dia meneleponku juga karena dia tidak sengaja bertemu dengan Bibi Desi jadi dia ingin bercerita,” jawab Zoya.


Memang William tadi sempat mendengar percakapan mereka tentang hal tersebut. Akan tetapi entah mengapa hatinya masih merasa tidak tenang. Ia merasa seolah Damar adalah ancaman baginya. Padahal, William saja belum pernah bertemu dengan Damar. Tapi entah mengapa William sangat tidak suka kepada Damar.


Pria itu kini masih dalam tahap penyangkalan. Iya, dia terus saja menyangkal perasaan yang perlahan tumbuh di hatinya karena dia selalu saja berpikir kalau Renata adalah satu-satunya wanita yang bisa mengisi ruang di hatinya. Dia tidak peduli jika ucapannya akan terdengar konyol tapi baginya Renata tetaplah satu-satunya wanita yang berhasil menembus benteng hatinya.


Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya.


“Zoya, aku harap kamu mengerti dengan apa yang aku ucapkan tadi dan tidak menghubungi pria itu lagi,” ucap William.

__ADS_1


“Mas, aku tidak pernah melarang kamu untuk mencintai Renata. Tapi, kenapa kamu bersikap seolah kamu melarangku untuk memiliki perasaan kepada Mas Damar?” tanya Zoya tidak mengerti.


Ucapan Zoya membuat William tertegun. Pria itu terdiam sambil memikirkan pertanyaan Zoya baik-baik. Jangankan orang lain, William saja masih tidak mengerti dengan apa mau hatinya.


William mengibaskan tangannya di udara. “Tidak usah percaya diri seperti itu. Aku melakukan hanya karena aku tidak mau diledek. Apalagi dengan kondisiku yang masih lumpuh ini. Memangnya kamu mau kalau orang lain tahu pernikahan kita tidak sehat?” ucapnya lagi, mengingatkan Zoya kalau apa yang dia katakan adalah untuk kepentingan mereka berdua.


Zoya menyipitkan matanya pada William. “Ah, masa iya?” tanyanya, menggoda William.


“Apa lagi yang membuat kamu tidak percaya padaku?” tanya William.


Zoya menggelengkan kepala sambil tersenyum geli. “Sebaiknya kamu juga menjaga sikap dan apa yang kamu katakan, Mas. Kalau kamu terus-menerus bersikap seperti ini nanti aku bisa-bisa berpikir kalau kamu mulai menyukaiku,” sambung Zoya, masih menggoda William meskipun dia tahu William bukan tipe pria yang bisa diajak bercanda.


William mengibaskan tangannya di depan wajahnya. “Kamu tidak usah terlalu percaya diri seperti itu. Tidak mungkin kalau aku mencintai dirimu. Di dalam hatiku hanya ada nama Renata dan selamanya akan seperti itu,” balas William.


Zoya termenung mendengar ucapan William. Dia tersenyum sendu menyadari kalau William tidak akan pernah bisa membuka hati untuk Zoya.


Oh, tidak! Tentu bukan maksud Zoya ingin mencuri hati William. Tapi ucapan William membuat Zoya semakin sadar dengan posisinya. Ke depannya Zoya akan berpikir ratusan kali sebelum dia berpikir kalau akan ada ruang untuk Zoya di hati William. Kini, dia semakin sadar kalau tugasnya hanya untuk merawat William sampai pria itu sembuh, bukan yang lain.


“Baguslah kalau begitu. Hal itu akan membuat segalanya lebih mudah untuk kita,” balas Zoya.

__ADS_1


Dia menundukkan kepalanya. Entah mengapa hatinya merasa terluka saat mengatakan kalimat tersebut. Zoya bangkit berdiri lalu buru-buru pergi meninggalkan William dengan dada yang terasa sedikit sesak setiap kali dia mengingat ucapan William.


‘Apa maksud ucapan Zoya barusan?’ tanya William dalam hati. Dia terus bertanya-tanya mengenai apa maksud kalimat yang dikatakan oleh Zoya.


__ADS_2