Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 62


__ADS_3

William menatap lurus pada manik mata gadis yang dulu sangat dia benci. Rasa benci yang William rasakan pada gadis itu perlahan berubah menjadi sebuah rasa yang belakangan ini William ketahui adalah cinta. Cinta yang William rasakan pada Zoya mungkin belum sebesar rasa cintanya kepada sang mantan kekasih, namun pria itu sadar kalau kini hatinya sudah dikuasai oleh satu nama yaitu Zoya.


William tidak menyangka jika pada akhirnya dia justru jatuh pada pesona gadis yang dulu sangat dia hindari. Dia pikir Zoya yang akan jatuh hati padanya dan William akan memanfaatkan hal tersebut dengan mematahkan hati Zoya. Namun, Tuhan seolah berkehendak lain sebab kini William yang ketakutan kalau-kalau Zoya tidak mau menerima perasaannya.


Perasaan William terhadap Zoya mungkin tidak sebesar cinta rembulan pada mentari. Namun William bisa memastikan kalau perasaan yang dimilikinya bisa menghangatkan hati Zoya layaknya sinar mentari.


Tangan kanan William mengangkup wajah Zoya, kemudian mengusap-usap pipi gadis itu. Tatapan William jatuh pada bibir mungil Zoya yang seolah-olah memanggilnya, ingin dikecup dengan manja.


William menatap manik mata Zoya dan bibir gadis itu secara bergantian, seolah meminta persetujuan Zoya. Zoya yang sudah terbawa suasana tanpa sadar mendekatkan wajahnya dan membiarkan bibir William menyapu bibirnya.


William dan Zoya memejamkan mata mereka seiring dengan bibir mereka yang menyatu. Aliran darah mereka berdesir hebat sementara jantung mereka berdegup kencang. Kecupan manis itu bagaikan saksi tumpahnya isi hati dua sejoli yang sedang memadu kasih.


Kalau kata orang ciuman pertama adalah sesuatu yang sangat spesial, Zoya percaya dengan hal itu. Karena saat ini dia tidak bisa merasakan apa-apa selain euforia yang menggebu-gebu di hatinya.


Setelah menyadari apa yang mereka lakukan, Zoya melepaskan ciuman mereka kemudian mengambil jarak untuk mereka.


“Maaf, Mas. Aku rasa kita tidak seharusnya melakukan ini,” ucapnya dengan wajah memerah. Gadis itu malu karena sudah kelepasan dan mencium William. Meskipun William adalah suaminya, tetap saja Zoya merasa belum pantas untuk melakukannya.


“Kenapa tidak?” tanya William dengan polos.


“Kamu tidak memiliki perasaan apa-apa kepadaku, Mas. Aku tidak mau kamu besok pagi menyesali apa yang sudah kita lakukan,” jawab Zoya.

__ADS_1


Gadis itu hendak bangkit berdiri namun William menahan tangannya dan menarik Zoya supaya kembali ke posisi semula. Zoya menatap William dengan satu alis terangkat seolah bertanya ‘Apa?’.


“Bagaimana kalau aku mencintai kamu, Zoya?” tanya William seraya menatap Zoya dengan intens.


Saking terkejutnya mendengar ucapan William, Zoya sampai tersedak salivanya sendiri. Gadis itu lantas tertawa parau untuk menetralkan detak jantungnya yang tidak dapat terkontrol lagi. Entah mengapa hari ini Zoya tidak bisa mengendalikan perasaannya seperti hari-hari sebelumnya.


“Kamu jangan bercanda, Mas,” ucap Zoya.


“Aku tidak bercanda, Zoya.” William memegang tengkuk Zoya seraya mengusap pipi gadis itu. “Aku mencintai kamu,” akunya.


Zoya melebarkan matanya ketika mendengar kalimat tersebut keluar dari bibir tipis William. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang sampai Zoya yakin sekali kalau jantungnya sewaktu-waktu bisa melompat keluar.


Zoya terdiam, bingung harus berkata apa. Perasaannya untuk William memang perlahan tumbuh di hatinya. Akan tetapi, dia masih takut kalau William akan menyakitinya. Dia tidak mau hatinya dihancurkan oleh pria ini. Tapi di sisi lain, Zoya pun juga tak kuasa menahan gejolak cinta di hatinya.


Rasa manis bibir William membuat Zoya lupa dengan apa yang logikanya katakan. Yang dia tahu hanya dia menginginkan cumbuan bibir William di bibirnya. Seakan tahu apa yang dirasakan oleh Zoya, William mengecup bibir gadis itu tanpa henti, seolah sudah tidak ada hari esok lagi.


Dua sejoli itu tenggelam pada ciuman yang memabukkan dan baru memisahkan diri ketika mereka hampir kehabisan napas.


Zoya menatap William dengan wajah yang memerah padam, menahan malu. Sementara William menarik Zoya ke dalam pelukannya, membuat Zoya bersandar di dadanya. Hati William berdebar-debar penuh bahagia sebab gadis yang dia cintai kini mulai mau menerimanya meskipun mereka berdua harus mengalami banyak kesalahpahaman terlebih dahulu.


“Zoya, aku ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang aku lakukan padamu. Tindakanku yang memajang foto Renata di rumah atau pun selalu berkata kasar padamu benar-benar hal yang tidak pantas. Aku menyesal karena sudah melakukannya,” ucap William, memulai percakapan.

__ADS_1


“Kenapa kamu sangat membenciku waktu itu, Mas?” Pertanyaan itu akhirnya terlontar dari mulut Zoya. Sudah lama sekali gadis itu bertanya-tanya tentang apa salahnya sehingga William berbuat kasar padanya dan tampak sangat membencinya. Tapi, baru kali ini Zoya memiliki sebuah keberanian untuk bertanya.


William memejamkan matanya, mengingat-ingat kembali alasannya membenci Zoya. Pria itu merasa sangat bodoh dan konyol setiap kali dia mengingat hal tersebut. Ingin rasanya dia melupakan hal tersebut tapi dia tidak akan pernah bisa.


“Aku pikir kamu hanyalah gadis licik yang ingin memanfaatkan kebaikan orang tuaku,” jawab William.


“Lalu, apakah kamu masih berpikir seperti itu?” tanya Zoya seraya melirik William.


William menghela napas panjang kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak, Zoya. Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu lagi. Sekarang aku sadar kalau kamu adalah gadis yang baik. Tidak heran orang tuaku memintaku untuk menikahi kamu. Ternyata pilihan mereka memang tepat,” terang William. “Maaf, karena dulu aku sudah berpikir kalau kamu adalah gadis licik.”


Zoya menganggukkan kepalanya. Marah pun tidak akan ada gunanya karena semuanya sudah berlalu. Yang terpenting Zoya sudah berhasil membuktikan pada William kalau dia bukanlah gadis licik seperti yang William pikirkan. Bahkan, kini William jatuh hati kepada Zoya.


“Aku memaafkan kamu, Mas. Tapi, aku bukanlah perempuan yang bisa memaafkan berulang kali. Aku tidak akan memaafkan orang yang menyakiti hatiku,” ucap Zoya dengan tegas. Gadis itu ingin William tahu kalau dia bukanlah gadis lemah yang bisa diinjak-injak begitu saja.


Semua ucapan Zoya seolah ancaman bagi William. Jadi, jika ke depannya William menyakiti Zoya, maka Zoya tidak akan segan untuk meninggalkan pria itu. Dan William dapat menangkap maksud Zoya dengan pikiran yang bijak.


“Aku ingin kita memulai pernikahan yang sesungguhnya, Zoya,” ujar William lagi, mengutarakan keinginannya.


“Aku setuju, Mas,” jawab Zoya pada akhirnya. Bagaimanapun juga mereka sudah menikah. Jadi, tidak ada salahnya jika mereka mencoba menjalani kehidupan pernikahan yang sesungguhnya.


“Ayo, kita berjanji akan melupakan masa lalu dan memulai pernikahan yang sesungguhnya,” ujar William sambil mengangkat jari kelingkingnya.

__ADS_1


Zoya tersenyum malu, kemudian menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking William. Malam itu, langit-langit kamar Zoya menjadi saksi janji suci Zoya dan William.


__ADS_2