
Dua sejoli itu masih terlelap dalam pelukan satu sama lain ketika sinar matahari sudah menyelinap masuk ke kamar mereka. Tidur dengan posisi memeluk satu sama lain rupanya membuat kualitas tidur mereka lebih baik daripada biasanya. Malam ini, Zoya dan William dapat tertidur dengan nyenyak karena kenyamanan yang disalurkan oleh satu sama lain. Kalau tahu tidur sembari memeluk Zoya akan senyaman ini, William pasti sudah melakukannya dari jauh-jauh hari.
Keduanya terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, saking nyenyaknya tidur mereka sampai melupakan jam makan pagi. Zoya menguap lebar seraya turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Dia butuh mandi dengan air dingin untuk membuat kantuknya pergi.
Di saat yang sama, William juga terbangun dari tidur panjangnya. Pria itu meraba-raba sisi ranjang dan tidak mendapati Zoya di sampingnya. Pria itu membelalak lebar, mencari-cari keberadaan Zoya di ruangan itu tapi tidak menemukannya. William pikir Zoya kabur darinya sebab menyesali apa yang mereka lakukan tadi malam. Barulah saat dia mendengar suara gemercik air dia baru bisa bernapas lega.
William melirik ke arah jam dinding. Sekarang sudah pukul sepuluh pagi. Pria itu tidak menyangka kalau dia sudah tertidur sangat lama padahal rasanya ia baru memejamkan matanya sebentar saja. Mungkin tidur dalam pelukan Zoya memiliki daya magis tersendiri dan membuat William lupa waktu.
Lima belas menit kemudian, Zoya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. William menyambut Zoya dengan senyuman lebar. Zoya yang belum terbiasa dengan itu semua tersipu malu.
“Apakah kamu mau mandi sekarang, Mas?” tanya Zoya.
William menganggukkan kepalanya. “Iya. Tolong bantu aku, ya?” pintanya dengan nada suara yang sangat halus. Zoya bahkan belum pernah mendengar William berbicara sehalus ini sebelumnya. Apakah William selalu bersikap seperti ini kepada Renata dulunya?
Berbeda dengan rumah William yang menyediakan bathtub, di rumah Zoya hanya terdapat shower jadi William harus mandi dibantu Zoya supaya cepat selesai dan William tidak kelelahan sebab menopang tubuhnya menggunakan tongkat terlalu lama.
Setelah keduanya selesai, mereka tidak langsung keluar dari kamar. Mereka justru sibuk mengobrol dan bersantai seolah mereka tidak merasa lapar padahal cacing-cacing di perut mereka sudah meronta.
“Kapan foto itu diambil?” tanya William ketika melihat sebuah foto yang terpajang di dinding. Di foto itu Zoya tampak tersenyum di depan kamera sambil berpose memeluk Desi di tepi pantai.
“Ah, foto itu diambil ketika aku baru saja pindah ke rumah ini. Awalnya aku tidak betah tinggal di sini dan masih memikirkan orang tuaku. Lalu, Bibi mengajakku ke pantai untuk menghiburku. Mulai saat itu aku jadi menyukai tempat ini,” jelas Zoya.
Zoya masih ingat sekali saat dia baru pindah ke rumah ini. Dia tidak bisa tidur semalaman karena merasa asing dengan lingkungan tempat tinggalnya. Selain itu, dia juga belum terlalu akrab dengan Desi. Untungnya hari itu Desi mengajaknya berjalan-jalan dan mereka bercerita mengenai banyak hal, dari situlah akhirnya Zoya dan Desi menjadi akrab.
__ADS_1
“Kamu terlihat sangat imut di foto itu,” puji William.
Zoya tergelak. “Foto itu diambil saat aku masih kecil, wajar saja kalau aku masih imut,” balasnya.
“Tapi, sampai sekarang pun kamu juga masih imut. Hanya terlihat lebih dewasa saja,” ujar William, membuat semburat merah muncul di pipi Zoya.
“Kamu bisa saja, Mas,” balas Zoya malu-malu.
“Aku serius, Zoya. Kamu memang cantik,” ungkap William, semakin membuat Zoya salah tingkah.
Dipuji terus-menerus oleh William membuat gadis itu merasa seolah melayang ke langit ke tujuh. Dia merasa sangat bahagia dan sangat berdebar. Oh, Tuhan! Rasanya Zoya ingin menenggelamkan diri ke Samudera Hindia saja!
Di sisi lain, Desi baru saja selesai memasak makan siang. Sebab Zoya dan William tidak bangun dan melewatkan makan pagi, Desi memutuskan untuk memasak agak banyak siang ini supaya mereka berdua bisa tetap kenyang.
Tok ... Tok ... Tok ....
Desi mengetuk pintu kamar Zoya. Tak berselang lama, Zoya membuka pintu sambil tersenyum lebar. “Ada apa, Bibi?” tanyanya.
“Makan siang sudah siap. Ayo kita makan bersama. Tadi pagi kalian juga melewatkan sarapan. Kalian pasti sangat lapar,” jawab Desi.
Zoya mengangguk. “Baik, Bibi. Aku akan menyusul ke ruang makan. Aku akan memberitahu Mas Liam dulu,” balas Zoya.
Desi pun mengangguk dan pergi ke ruang makan terlebih dahulu.
__ADS_1
Siang ini, William dan Zoya keluar dari kamar dengan keadaan yang sangat berbeda dengan tadi malam. Keduanya tampak lebih mesra meskipun William berjalan masih tertatih-tatih dibantu tongkat, padahal saat masuk ke kamar tadi malam mereka tampak canggung. Desi tentu menyadari hal tersebut tapi wanita paruh baya itu memilih untuk tidak membahasnya. Ia justru merasa senang sebab Zoya dan William tampak seperti sepasang suami istri yang harmonis.
‘Apa yang terjadi semalam? Kenapa mereka jadi romantis seperti ini?’ tanya Desi dalam hati, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Rasanya ia rindu dengan masa muda kalau melihat kemesraan Zoya dan William.
“Wah, baunya tercium sangat lezat dari kamar,” ungkap Zoya sambil tersenyum ke arah Desi. Melihat Desi yang menatapnya sambil tersenyum penuh arti, Zoya pun mengalihkan pandangannya.
Zoya membantu William duduk, kemudian mengambil tempat untuk duduk di samping William. Dengan telaten Zoya tampak melayani William, dia mengambilkan makanan yang William mau dengan sabar dan tanpa mengeluh sama sekali.
“Mas, Bibi Desi adalah pengasuhku setelah orang tuaku meninggal,” ucap Zoya, mengenalkan William kepada Desi.
Desi terkekeh. “Zoya, aku sudah mengenal suamimu,” ucapnya.
Zoya membelalakkan matanya. “Benarkah?” tanyanya tidak percaya.
“Bibi Desi sempat bekerja di rumahku saat aku masih kecil, Zoya. Dulu Bibi Desi dan Leila yang merawatku kalau Mama dan Papa pergi ke luar negeri untuk bekerja,” terang William dengan tegas.
“Ah, begitu rupanya.” Zoya menolehkan kepalanya ke arah Desi. “Kenapa Bibi tidak pernah bercerita sebelumnya?”
“Karena kamu tidak bertanya. Kalau kamu bertanya Bibi pasti sudah menceritakannya,” kilah Desi.
Zoya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia kemudian bertanya, “Apakah ini alasan Bibi tidak mau menolongku untuk kabur dari rencana perjodohan ini? Karena Bibi mengenal Mas Liam?”
Desi terkekeh pelan. “Alasan utamanya bukan itu. Tapi, ya, karena aku mengenal suamimu dari dulu tentu aku tahu kalau keputusan orang tuanya adalah baik,” jawab Desi.
__ADS_1
Zoya terkekeh, tidak menyangka kalau Desi mengenal William dari dulu. Mereka pun melanjutkan makan siang mereka dengan tenang sembari sesekali mengobrol ringan.