
Saat ini, Liam dan kedua orang tuanya tengah berada di ruang tamu selepas Zoya berangkat ke galerinya. Rian sibuk dengan majalah bisnis di tangannya karena meskipun perusahaan sudah resmi diambil alih oleh sang putra, bukan berarti pria paruh baya tersebut akan berhenti mengikuti perkembangan di luar sana.
Hal berbeda dirasakan oleh Wulan yang terus mengamati Liam. Ada banyak hal yang bergumul di pikirannya mengenai putra semata wayangnya. Terlebih setelah beberapa hari ini Wulan entah mengapa selalu bermimpi sesuatu yang tidak baik tentang William.
“Apakah ada masalah, Ma? Sepertinya ada sesuatu mengganggu pikiran Mama.” Liam tidak dapat menahan diri untuk bertanya. Sadar betul jika sedari tadi sang ibu menaruh perhatian lebih padanya.
Rian turut berpaling dan mendapati raut istrinya yang keruh. Padahal, seharusnya merasa senang karena kedatangan Liam dan Zoya.
“Liam, Mama ingin tahu bagaimana perasaanmu pada Zoya? Maksud Mama, apakah kamu sudah bisa mencintainya setelah semua yang terjadi?” tanya Wulan hati-hati. Takut pertanyaannya akan menyinggung hati sang putra.
“Kenapa Mama tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Liam. Menyesap teh buatan pelayan lantaran tenggorokannya mendadak terasa kering.
“Liam, Mama hanya ingin yang terbaik untuk hubunganmu dan Zoya ke depannya. Mama menyayangi kalian dan tidak ingin pernikahan kalian hancur. Terlebih dengan kehadiran Renata kembali, bagaimana kalau hal itu bisa membuatmu mengkhianati Zoya? Maka dari itu sebelum semuanya terjadi, Mama perlu memastikan terlebih dahulu.”
Liam terdiam dan menghela napas. Meresapi setiap perkataan dari Wulan. Jika ditanya mengenai perasaannya, tidak bisa dipungkiri lelaki itu memang sudah bisa menerima kehadiran Zoya bahkan mencintainya.
Hanya saja hati Liam masih terbagi. Ada sedikit ruang yang hanya terisi oleh Renata sekuat apa pun Liam berusaha melupakan gadis itu.
“Kamu tidak memiliki keinginan untuk kembali pada Renata kan, Liam?”
Tatapan Rian terlihat memperingatkan sang istri dan sepenuhnya melupakan majalah bisnis yang sedang dibaca. Pria tersebut juga memiliki kekhawatiran yang sama, hanya saja dia merasa menekan William bukanlah hal yang tepat. Liam sudah dewasa, dia pasti tahu apa yang dilakukan.
“Aku belum selesai berbicara.” Wulan memberi kode pada Rian agar tidak ikut membuka suara. Sebagai seseorang yang sudah puluhan tahun hidup bersama, Wulan tentu tahu apa yang akan Rian katakan. Suaminya itu acapkali membela sang putra padahal apa yang dilakukan Wulan juga tidak lain untuk kebaikan Liam.
Sementara William hanya diam menyimak. Meskipun dia sangat ingin menyanggah sang ibu, Wulan jelas belum akan berhenti sebelum semua uneg-unegnya berhasil dikeluarkan. Liam juga tidak ingin memicu timbulnya pertengkaran.
__ADS_1
“William, Mama tidak mau mendengar jika suatu saat kanu akan menyakiti Zoya hanya demi Renata. Kau tahu sendiri jika Zoya memiliki andil yang besar bagi hidupmu? Kesembuhanmu dari lumpuh? Sementara Renata? Dia menghilang ketika kamu sedang butuh seseorang sebagai penyemangat, yang terpenting dia pergi mengambil uang yang mama berikan. Mama tidak mau melihat dirimu hancur dua kali oleh orang yang sama. Cukup dulu saja, Liam.”
Wulan menggelengkan kepala. Mulai membandingkan antara istri dan mantan kekasih anaknya. Dia ikut merasa sakit melihat Liam seakan kehilangan gairah hidup semenjak divonis lumpuh dan Renata justru pergi.
Seorang ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Maka dari itu, sangat wajar jika Wulan merasa sedikit tidak terima ketika Renata kembali.
“Berapa kali Mama harus mengingatkan padamu, William? Jangan sampai kamu melupakan jasa Zoya dan menjadi suami yang tidak tahu berterima kasih. Zoya sudah sangat sabar menemani dan merawatmu yang saat itu tidak bisa apa-apa. Menyiapkan segala keperluan termasuk asupan makanan dan pakaian mulai dari kamu bangun sampai tidur lagi. Dia juga yang setia menunggumu melewati berbagai macam terapi dan tidak pernah lelah mengingatkan untuk minum obat. Apa semua itu kurang, Liam? Kau tidak melihat kebaikannya selama ini?”
Wulan kembali terdiam dan mengangkat cangkir teh. Menghirup aromanya sebelum mendekatkan ujung cangkir pada mulut lalu menyesap pelan. Membiarkan Liam mencerna semua yang dikatakannya terlebih dahulu karena apa yang disampaikan masih belum selesai.
“Renata itu tidak sebaik yang kamu pikirkan, Liam. Karena kalau memang dia gadis baik dan mencintaimu, tentu dia akan selalu ada terlepas dari apa pun yang terjadi padamu. Bukannya kembali saat kamu sudah dinyatakan sembuh saja. Sedangkan saat kamu sakit dia justru tidak jelas keberadaannya. Dan mama yakin dia hanya akan mengingatmu jika dia membutuhkanmu."
Apa yang sudah dibuang, tidak akan bisa didapatkan kembali bagaimanapun caranya. Itulah yang sedang berusaha ditekankan pada sang putra.
“Kamu dengar semua nasihat Mama, Liam?” tanya Wulan mengetahui putranya hanya diam saja sedari tadi.
“Ingat, Liam. Mama dan Papa tidak pernah mengajarkanmu menjadi lelaki yang tidak tahu diri dan berterima kasih. Jangan pernah menjadi pengecut.”
Cukup sudah. Liam tidak tahan lagi. Semua perkataan ibunya seolah menyerangnya secara bersamaan dan membuat egonya terusik. Tidak ada lelaki yang suka disebut sebagai pengecut tidak tahu diri.
“Cukup, Ma. Aku sudah besar. Tahu apa yang akan dilakukan. Sebaiknya Mama jangan terlalu ikut campur. Karena meskipun Mama adalah ibuku, hidup ini tetaplah milikku. Aku sendiri yang berhak menentukan segalanya,” ucap Liam dengan wajah merah padam.
“Mama hanya tidak ingin kamy salah mengambil langkah yang berakibat pada kehancuran rumah tanggamu, Liam,” kilah Wulan.
“Aku bisa mengatasi semuanya sendiri tanpa campur tangan Mama atau siapa pun. Terima kasih atas nasihatnya. Aku permisi ke kamar dulu.”
__ADS_1
Liam bangkit dan berjalan cepat menuju kamar. Tidak sempat melihat ibunya yang memasang wajah sendu.
“William,” panggil Wulan dengan nada lirih. Tentu tidak membuat William mendengar dan berbalik.
Wanita tersebut tahu putranya sudah dewasa dan berharap semoga Liam tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
“Aku sudah bilang padamu untuk tidak terlalu menekan Liam. Lihat sekarang dia jadi merasa kesal. Seharusnya, kita sebagai orang tua bisa membuat Liam merasa nyaman dan betah selama di sini alih-alih memicu perdebatan,” ucap Rian. Dirinya yang berkepala dingin harus selalu bisa menjadi penengah di antara istri dan anaknya.
“Aku sudah sangat berhati-hati membicarakannya. Siapa juga yang ingin membuat masalah. Memang kamu mau terjadi sesuatu yang buruk pada pernikahan putra kita jika dia tidak sering diperingati?” tanya Wulan dengan nada gusar. Suaminya itu tidak pernah membela dirinya sekalipun yang dikatakan acapkali mengandung kebenaran.
“Tidak ada yang mau putranya hidup menderita. Setidaknya bersabarlah, biarkan Liam berpikir sendiri langkah apa yang harus dia tempuh. Aku yakin dia tidak akan melakukan hal-hal yang kau takutkan.” Rian menepuk pundak Wulan, meminta sang istri agar lebih berbesar hati dan membuka mata jika putra mereka bukanlah anak kecil yang segalanya masih harus diberi arahan.
“Apa yang aku lakukan itu sudah benar. Demi kebaikan Liam juga,” ucap Wulan. Merasa apa yang dilakukan selama ini semata-mata untuk masa depan Liam sendiri.
“Iya, aku tahu. Hanya saja jangan terlalu memaksanya seperti itu. Apa yang kau lakukan justru membuat Liam kesal. Kaum lelaki memiliki egonya sendiri. Jadi, sebenar apa pun perkataanmu, kau harus bisa mengendalikannya.” Rian berkata dengan lebih lembut dan sabar. Tidak ingin masalah semakin melebar dan tidak menjumpai titik temu.
“Terserah kau sajalah. Firasatku mengatakan jika ada sesuatu yang akan terjadi, maka dari itu aku harus selalu mengingatkan putra kita dan membuktikan sendiri jika tidak akan ada hal buruk di sekitar kita. Kamu tahu sendiri kan jika firasat seorang ibu itu banyak yang benar.”
“Jangan berbicara seperti itu. Firasatmu belum tentu terbukti.”
Wulan menghela napas. Meyakinkan Rian sama susahnya dengan meyakinkan sang putra.
“Justru karena firasatku belum terbukti jangan sampai semuanya menjadi nyata. Jika kau tidak bisa turut menasihati William, setidaknya biarkan aku sendiri yang melakukannya.”
“Sudah tidak perlu dibahas. Ayo ke kamar. Mungkin kita bisa membuat Liam junior agar tidak terus berdebat.”
__ADS_1
Wulan mencubit pinggang suaminya, tetapi tidak urung mengikuti suaminya.