Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 40


__ADS_3

Zoya menata makanan yang dia pesan di piring, lalu menyajikannya di meja makan. William menatap makanan itu tidak berselera. Dia kesal karena ternyata beberapa hari ini makanan yang dia makan dipesan dari restoran. Pantas saja rasanya berbeda dengan masakan yang Zoya buat saat pertama kali mereka sarapan bersama.


Melihat William yang tidak mau menyentuh makanannya membuat Zoya merasa berhasil mengerjai William. Zoya memang sengaja memesan makanan beberapa hari terakhir karena dia pikir kalau masakan yang ia beli dicaci oleh William, dia tidak akan merasa sakit hati. Dan dia akan membuat William mengetahui hal itu supaya nantinya William mau menghargai masakan Zoya.


“Kenapa makanannya tidak kamu makan, Mas?” tanya Zoya dengan polos. Dia bertopang dagu seraya menatap William penuh tanda tanya. “Makanan di restoran pasti rasanya jauh lebih enak daripada makanan yang aku masak. Kamu sendiri yang bilang kalau masakanku tidak enak. Jadi, daripada membuat kamu tidak nyaman atau keracunan masakanku, lebih baik aku membelinya saja,” sambung Zoya dengan santai.


Mendengar pernyataan Zoya, William naik pitam. Dia kesal karena rencananya untuk menindas Zoya justru menjadi bumerang bagi William. Zoya malah tampak santai melakukan pekerjaan rumah tanpa terlihat mengeluh sekali pun.


“Kamu ini bagaimana, sih? Jadi istri tidak becus sama sekali!” bentak William. Pria itu marah mengetahui kalau selama ini yang dia makan bukan masakan Zoya. “Kamu seharusnya melakukan pekerjaan kamu dengan benar! Kalau tidak bisa memasak, ya, belajar!”


Zoya menghela napasnya. “Justru karena aku sadar diri kalau aku tidak bisa memasak makannya aku memilih buat pesan makanan. Bagaimana kalau aku bereksperimen dengan masakanku lalu kamu sakit perut? Atau yang lebih parah lagi ... keracunan!” balas Zoya tidak mau kalah. Gadis itu tidak mau terlihat lemah di hadapan William meskipun dia berbicara dengan suara lembut.


“Zoya, aku tidak mau tahu, mulai sekarang kamu tidak boleh memesan makanan. Kamu harus memasak makanan sendiri,” ucap William tegas.


“Tapi bagaimana kalau rasanya tidak enak?” tanya Zoya.


William menyipitkan matanya. Dia lalu teringat kalau dia pernah membeli buku resep masakan karena Renata tidak bisa memasak. Jadi, terkadang mereka belajar memasak bersama dengan instruksi dari buku panduan. Dia mendorong kursi rodanya menuju ke sebuah kabinet di dapur, lalu mengambil satu tumpukan resep masakan dan melemparkannya di meja makan.


“Kau bisa belajar dari buku-buku ini,” ucap William.

__ADS_1


Zoya tersenyum dengan mata berbinar-binar. Dia senang bisa belajar resep-resep masakan baru karena sejujurnya kemampuan memasaknya baru sekadar masakan Asia saja. Itu pun tidak semua jenis masakan dia pernah memasaknya.


“Terima kasih, Mas,” ucapnya. Dia berpikir kalau ternyata di balik sikap dingin William, sebetulnya William tidak sejahat yang ia pikirkan saat pertama kali mereka bertemu. Mungkin benar kata Desi, William dan Zoya hanya terkejut karena tiba-tiba dijodohkan jadi mereka terlihat tidak suka dengan satu sama lain.


“Sekarang masaklah makan siang. Aku sudah lapar,” ucap William dengan wajah datar.


“Tapi, aku belum belajar,” ucap Zoya.


“Masak apa saja yang penting masakan buatanmu. Aku tidak sudi makan makanan dari restoran sementara kau enak-enakan duduk bersantai di rumahku,” ucapnya, menyembunyikan kebenaran kalau dia sebenarnya lebih suka masakan Zoya daripada masakan restoran.


“Tapi kalau aku belajar memasak, aku mau kamu menghargai usahaku. Jangan mencaci apalagi mengolok-olok masakanku. Aku akan menjadi istri yang baik kalau kau mau menghargai aku,” ucap Zoya. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menuntut keadilan dari William. 


Mendengar jawaban William, gadis itu merasa menang. Zoya lantas pergi ke dapur dan menyiapkan makan siang untuk William. Dia akan memasak satu porsi saja. Nanti dia bisa makan makanan yang dia pesan di restoran daripada mubazir.


William memerhatikan Zoya yang tampak cekatan di dapur. Kalau dia tidak ingat dengan kebenciannya dengan Zoya, mungkin William saat ini sudah memuji ketangkasan Zoya dalam memasak. Tapi harga diri William terlalu tinggi untuk melakukan hal semacam itu.


Setelah masakan matang, Zoya menyajikannya di meja makan. Dia duduk di seberang William sambil memakan makanan tadi. William mencicipi masakan Zoya. Dia tidak protes lagi karena sebetulnya masakan Zoya sangat pas di lidahnya.


“Bagaimana? Enak?” tanya Zoya. Dia penasaran bagaimana reaksi William ketika merasakan masakannya kembali setelah berhari-hari tidak memakan masakan Zoya. Apakah William berubah pikiran?

__ADS_1


William berdecap keras. “Diamlah! Apakah kau mau aku tersedak masakanmu?” tanya William.


Zoya mengedikkan bahunya lalu menutup mulutnya rapat-rapat. Mereka menikmati makan siang dengan tenang tanpa pembicaraan sedikit pun.


Beberapa hari pun berlalu. Beberapa hari ini William selalu mengandalkan Zoya. Dengan cara lembut dia menjadikan Zoya sebagai budaknya. Sayangnya Zoya tidak merasa begitu. Zoya justru merasa kalau mungkin ini adalah kewajibannya dan sudah menjadi risiko karena menikahi pria lumpuh yang akan selalu membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan beberapa hal.


Sejujurnya hal itu membuat Zoya merasa sangat lelah di malam hari karena pekerjaan yang diberikan William tiada hentinya. Tapi, ada sisi positif yang bisa Zoya ambil yaitu setidaknya dia tidak mati bosan di rumah mewah itu. Jika dia tidak melakukan apa-apa dia bisa gila karena bosan.


Sore itu William keluar dari ruang kerjanya dan mendorong kursi rodanya menuju ke ruang tamu di mana Zoya sedang membersihkan sofa dari debu.


“Zoya, bantu aku mandi,” ucap William.


Zoya meletakkan alat vakum di meja, lalu dengan sigap menghampiri William. Dia mendorong kursi roda William menuju ke lift. Di lantai tiga, terdapat banyak ruangan. Namun Zoya tidak pernah menginjakkan kaki di ruangan-ruangan itu selain kamar William. Tugasnya hanya sekadar membantu William mandi dan berganti pakaian.


Zoya mendorong kursi roda William menuju ke kamar mandi, lalu memapah tubuh William supaya duduk di kursi tinggi yang tersedia di bawah shower. Setelah itu, dia membantu William melucuti bajunya. Kalau untuk pakaian atasan, William bisa melepaskannya sendiri. Tapi, kalau melepaskan celana, William membutuhkan bantuan Zoya karena dia tidak bisa menggerakkan kakinya.


Zoya meneguk salivanya saat melihat tubuh bugil William. Dia membantu William mandi seperti biasa sambil menutupi rasa gugupnya setiap kali dia melihat tubuh William yang tidak ditutupi sehelai benang pun. Tubuh William adalah tubuh pria pertama yang Zoya lihat, jadi wajar saja kalau dia merasa gugup.


Sementara William juga berusaha untuk bersikap tenang meskipun senjatanya selalu merespons setiap kali dia mendapatkan sentuhan dari Zoya padahal sentuhan Zoya hanyalah karena Zoya membantunya menyabuni tubuhnya. William kesal karena tubuhnya tidak bisa diajak kerja sama.

__ADS_1


'Sial,' ucapnya dalam hati.


__ADS_2