Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 44


__ADS_3

Beberapa hari belakangan, Zoya dan orang tua William disibukkan dengan persiapan terapi kaki untuk William. Zoya dan William harus bolak-balik pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi mengenai metode terapi sementara Wulan dan Ryan berkonsultasi dengan dokter mengenai peralatan yang diperlukan untuk William.


“Jadi, apakah kami bisa melakukan terapi itu sendiri atau harus pendampingan dari dokter?” tanya William.


Dia malas kalau harus melakukan terapi di rumah sakit. Beberapa hari ini, dokter sudah menjelaskan tentang metode terapi dan mereka sudah berkali-kali mempraktikkannya jadi Zoya bisa mempelajari terapi lebih mudah. William pikir, kalau tanpa pengawasan dokter, dia bisa memanfaatkan Zoya dan membuat Zoya kerepotan membantunya melakukan terapi.


“Kami menyarankan ada pihak medis yang mendampingi. Tapi, kalau memang kalian ingin melakukannya sendiri saya juga tidak bisa memaksa. Dengan catatan kami mendapat laporan progres terapi Anda, Pak,” jawab sang dokter.


William tersenyum bahagia. Sekarang dia bisa menjalankan rencananya dengan mudah karena tidak akan ada yang mengawasi saat Zoya membantu William melakukan terapi. William bersumpah kalau dia akan membuat Zoya kewalahan dan membuka kedok asli Zoya yang tersembunyi rapat-rapat di balik wajah polosnya.


“Baik, Dok. Istri saya pasti akan dengan senang hati membantu saya. Kami baru saja menikah, jadi saya pikir rasanya dengan cara ini kami bisa semakin memupuk rasa harmonis dalam rumah tangga kami,” ucap William sambil menatap Zoya dengan tatapan penuh arti.


“Tentu saja, Pak,” jawab dokter sambil terkekeh kecil.


“Kalau begitu kami permisi dulu, Dok,” pamit Zoya dan William secara serentak.


Zoya berdiri, menjabat tangan dokter, lalu mendorong kursi roda William keluar dari ruangan dokter.


“Kamu yakin tidak mau meminta dokter atau suster untuk membantu terapi kamu, Mas?” tanya Zoya. Zoya merasa dirinya tidak terlalu paham mengenai dunia medis, dia takut kalau mereka salah melakukan metode terapi dan William malah berakhir terluka.


“Tidak usah. Membantu kesembuhan suami adalah tanggung jawab seorang istri. Daripada harus pusing-pusing meminta dokter atau suster datang ke rumah kita, lebih baik kamu saja yang membantuku. Lagi pula aku tidak suka ada orang asing di rumahku,” balas William, membuat Zoya sontak mengunci bibirnya rapat-rapat.


Bukannya Zoya tidak berani membantah ucapan William. Dia hanya tidak mau membesarkan masalah sepele. Terlebih lagi saat ini mereka sedang berada di tempat umum.

__ADS_1


Keesokan harinya, Wulan dan Ryan pergi ke rumah William. Ini adalah kali pertama mereka berkunjung ke sana sekalian mengantarkan peralatan terapi untuk William. Setelah turun dari mobil, Wulan dan Ryan menyuruh sopir dan Leila untuk membawa paralel bar ke dalam rumah William.


“Aku merasa senang, Pa. Sekarang William sudah mau melakukan terapi,” ucap Wulan sambil bergelayut manja di lengan sang suami.


Ryan menepuk tangan Wulan yang ada di lengannya. “Aku juga senang, Ma. Itu artinya Zoya memberikan pengaruh baik untuk William. Nyatanya William sekarang sudah bersemangat untuk melanjutkan hidup lagi,” balas Ryan.


Pasangan tersebut melangkahkan kaki mereka menuju ke pintu rumah William sambil tersenyum lebar. Akan tetapi saat membuka pintu dan melihat foto siapa yang menyambut kedatangan mereka berdua, senyuman mereka langsung hilang tanpa sisa.


“Kenapa foto ini dipajang di sini?” tanya Wulan. Matanya membelalak lebar, telapak tangannya menutup bibirnya yang terperangah. Dia bingung kenapa foto William dan Renata dipajang dalam ukuran besar di depan pintu utama.


“Ma, sebaiknya kita periksa tempat lain, apakah ada foto perempuan itu atau tidak,” ucap Ryan yang langsung dihadiahi anggukan oleh Wulan.


Mereka berdua memeriksa seluruh isi rumah. Mereka terkejut melihat foto Renata dipajang di mana-mana menghiasi seluruh isi rumah. Bahkan foto pernikahan Zoya dan William pun tidak dipajang sama sekali. Tapi, foto Renata justru dipajang di mana-mana.


Wulan merasa malu dan bersalah pada Zoya. Leila pun juga merasakan hal yang sama. Mereka pikir karena satu bulan setelah menikah tidak ada keluhan dari Zoya maka kehidupan rumah tangga Zoya dan William baik-baik saja. Leila merasa bersalah karena semua ini adalah idenya supaya William membuat kehidupan Zoya menjadi sulit.


Suara denting lift membuat Wulan, Ryan, dan Leila menoleh. Dari dalam lift keluar William yang didorong oleh Zoya dari belakang.


Wulan dengan langkah cepat menghampiri William. Dia kesal dan marah karena kelakuan putranya yang menurutnya sangat keterlaluan tersebut.


“Liam, kenapa ada banyak sekali foto Renata di rumah ini?” tanya Wulan seraya menatap William tajam.


“Memangnya kenapa, Ma?” tanya William santai.

__ADS_1


“Kamu masih bertanya kenapa?” pekik Wulan. Wanita paruh baya itu mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Astaga, Liam! Apakah kamu tidak memikirkan perasaan istrimu sama sekali?”


William mendengus keras. “Zoya saja tidak keberatan dan tidak protes. Kenapa Mama malah marah-marah?” tanya pria itu lantas mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“William, kamu sudah menikah! Sudah semestinya kamu menghargai perasaan istri kamu. Kamu tidak pantas memasang foto wanita lain di rumah kalian. Apalagi ada foto mesra antara kamu dan wanita itu,” protes Wulan.


Dia tidak habis pikir dengan pola pikir William. Kenapa pria itu tidak memikirkan perasaan Zoya sama sekali. Apakah dia memang sengaja ingin menyakiti hati Zoya? Atau mungkin dia memang ingin membuat Zoya perlahan mundur dari pernikahan mereka?


Wulan sudah begitu naif sebab dia pikir kehidupan pernikahan William dan Zoya baik-baik saja. Dia pikir William sudah mau menerima Zoya sebagai istrinya meski awalnya dia terpaksa. Tapi nyatanya? William bahkan dengan tega menyakiti Zoya dengan memajang foto-foto Renata.


“Ma, sudahlah. Aku tidak masalah kalau Liam masih ingin memajang foto mantan kekasihnya,” ucap Zoya.


William mendengus. Dia semakin membenci Zoya sebab dia berpikir kalau Zoya adalah penyebab dia dan ibunya bertengkar. Padahal pertengkaran tersebut tentunya tidak akan terjadi kalau William mau menghargai Zoya sebagai istrinya.


“Liam, kamu keterlaluan! Dengan kamu menyakiti seorang perempuan itu sama saja kamu menyakiti Mama. Mama juga perempuan, Mama tahu apa yang dirasakan Zoya,” ucap Wulan lagi.


“Ma, tenang, Ma. Kita bisa membicarakan hal ini baik-baik,” ucap Zoya. Dia menghampiri Wulan lalu mengusap tangan Wulan, berusaha menenangkan hati Wulan.


“Zoya, Mama minta maaf. Kalau kami tahu akan seperti ini, kami tidak akan mengizinkan Liam membawamu tinggal terpisah dari kami,” ucap Wulan kepada Zoya.


“Ma, aku tidak masalah. Semuanya perlu waktu,” ucapnya lagi sambil tersenyum hangat.


Wulan menoleh ke arah suaminya. “Pa, singkirkan semua foto perempuan itu! Aku tidak mau Zoya tersakiti karena melihat wajah Renata setiap hari!” titah Wulan pada sang suami.

__ADS_1


__ADS_2