Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 71


__ADS_3

William beranjak dari ranjang tidurnya, ia berjalan mondar-mandir sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa frustasi karena Zoya mengabaikan dirinya. Ia berhenti sejenak, menatap ke arah luar jendela. Pikirannya kacau karena Zoya tidak menjawab panggilan teleponnya sejak beberapa jam yang lalu. Sesekali ia melihat ponselnya untuk memastikan apakah ada pesan jawaban dari Zoya. Suara detak jam dinding mencuri perhatian Liam, dan ia melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 16.00 sore. 


“Sudah sore, namun kau masih belum menjawab pesan maupun telpon dariku,” gumam Liam. 


 


Liam terdiam termenung di sudut ranjang. Seketika muncul dalam benak Liam bagaimana jika ia menyusul Zoya ke galerinya. Namun, sayangnya Liam lupa tempatnya. Ia tak mungkin menanyakan pada Zoya, karena Zoya saja tidak menggubris pesannya. Akhirnya Liam teringat, ibunya pasti tahu di mana galeri Zoya berada karena ibunya sangat sering ke sana.


 


Liam berganti pakaian dan menyambar mantelnya lalu bergegas turun ke lantai bawah menemui ibunya. Ketika ia berjalan di pertengahan anak tangga, mendadak ia merasa ragu. Ia berdiam sejenak di anak tangga, tiba-tiba William merasa gengsi bertanya pada ibunya. Dari arah anak tangga, Liam melihat ibunya sedang duduk di ruang tengah sambil membaca buku. Ibunya yang menyadari keberadaan Liam tang berdiri mematung di anak tangga seketika memanggilnya.


 


“Liam, apa yang kau lakukan disitu?” tanya ibunya.


 


“Ah, tidak ada, Ma. Aku hanya sedang mengingat-ingat apakah ada barangku yang tertinggal di atas,” sahut Liam sambil berjalan menuruni anak tangga.


 


“Kamu mau pergi kemana?” tanya ibunya.


 


“Ah aku ingin pergi keluar sebentar mencari udara segar,” sahut Liam berpamitan pada ibunya lalu pergi.


 


Liam berjalan menuju garasi mobilnya dan berpapasan dengan Leila, pelayan di rumahnya. Liam berpikir pasti Leila tahu di mana galeri Zoya, karena Leila juga sering ikut bersama ibunya. Untuk itu Liam diam-diam berbisik pada Leila untuk bertanya alamat Zoya supaya tak terdengar oleh ibunya.


 


“Leila,” panggil Liam sambil melambaikan tangan, menyuruh Leila mendekat.


 


“Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Leila sambil berjalan ke arah Liam.


 


“Apa kamu tahu di mana alamat galeri Ivy?” tanya Liam yang benar-benar lupa.


 


“Ah, ya tentu saja Tuan. Saya sering menemani nyonya ke sana,” sahut Leila.


 


“Nah, kalau begitu berikan padaku alamatnya."


 


Leila pun memberikan alamat Zoya dan Liam segera bergegas ke sana. Mobil Liam membelah hiruk pikuk jalanan kota sore ini untuk menuju tempat Zoya berada. 


 


Sementara itu di galeri Zoya, kabar mengenai kepulangan Zoya didengar oleh pria yang sudah lama mencintai dan masih mencintai Zoya.


“Bagaimana? Apakah keadaan disini baik-baik saja?” tanya Damar pada salah satu pegawai di tempat Zoya.


 


“Seperti biasa, semuanya berjalan baik-baik saja,” sahut pegawai Zoya.


 


Damar sempat mengobrol beberapa saat dengan pegawai tersebut. Sesekali ia mengalihkan pembicaraan untuk bertanya mengenai Zoya. Dari percakapan dengan pegawai tersebut, Damar mendapat kabar bahwa Zoya akan pulang kemari. Mendengar kabar itu dari pegawai Zoya, jantungnya mendadak berdetak kencang, sebuah perasaan yang sudah lama tak ia rasakan kini muncul kembali. 


 


Sore ini selepas dari gym, Damar duduk ditaman rumahnya sambil menyeduh secangkir kopi panas. Ia masih teringat dengan ucapan pegawai Zoya beberapa waktu lalu mengenai kepulangan Zoya, Seketika muncul rasa rindu dalam diri Damar pada Zoya. Ketika ia sedang melamunkan pujaan hatinya, suara teman Damar menyadarkannya.


 


“Hei kenapa diam saja? Kopimu sudah mulai dingin,” ucap temannya.


 


“Ah biarkan saja, aku bisa membuat yang baru jika kopi ini dingin,” sahut Damar sambil memandang ke arah luar jendela.


 


“Apa yang sedang kau pikirkan? Apa ada masalah?” tanya temannya.


 


“Ya ada. Oh ya, kapan kamu datang?" sahut Damar sambil tersenyum.


 


“Baru saja. Masalah apa?” sontak temannya Damar terkejut.


 


“Kasus antara aku dengan wanita si pemilik toko,” sahut Damar sambil tersenyum.


 


Temannya tahu siapa wanita yang dimaksud oleh Damar. Ia sering melihat Damar yang hampir setiap hari menyempatkan mampir ke toko milik Zoya.


 


“Dia lagi?” tanya temannya.


 


“Memangnya kenapa?” tanya Damar.


 


“Bukankah dia sudah menikah? Kamu sendiri yang bilang padaku beberapa waktu lalu bukan?” jawab temannya.  


 


“Ya, memang ia sudah menikah dengan seorang pria kaya yang lumpuh,” sahut Damar sambil meminum kopinya yang mulai dingin.


 


“Kamu gila! Sudahlah lepaskan saja wanita itu. Di kota ini masih banyak wanita cantik, bahkan jika kamu ingin yang lebih cantik dari dia pun ada,” ucap temannya.


 


Damar menatap wajah temannya yang mendadak berbicara dengan nada serius. 


 


“Mengapa kamu begitu bersikeras melarangku?” tanya Damar.


 


“Kamu masih bertanya kenapa? Jelas aku melarangmu, ia sudah menjadi istri orang. Kamu paham itu bukan? Jika kamu terus mendekatinya, tentu kamu dalam masalah besar Damar,” ucap temannya memperingatkan. 


 


Damar terdiam sejenak mendengar ucapan temannya. Apa yang diucapkan oleh temannya memang benar. Kembali mendekati Zoya sama saja dengan bunuh diri. Ia paham situasi Zoya sekarang yang sudah menikah. Tentu, jika ia tetap bersikukuh mendekati Zoya orang-orang akan menganggap ia sebagai perebut istri orang. Namun apalah daya, Damar tidak bisa menahan rasa rindunya segera kembali kesana untuk bertemu Zoya.


 


“Hari ini, dia pulang,” ucap Damar.


 


“Lalu?” tanya temannya.


 


“Aku akan mengunjunginya,” jawab Damar.


 


“Apa? Oh.. Ayolah Damar, kamu benar-benar mengabaikan peringatan dariku?” tanya temannya.


 


Damar diam tak menjawab, ia hanya menoleh ke arah temannya sambil tersenyum simpul. Damar mengabaikan peringatan dari temannya yang mengatakan Zoya sudah menjadi istri orang. Damar hanya ingin bertemu Zoya dan memastikan Zoya bahagia dan baik-baik saja.


 


“Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja,” sahut Damar sambil menepuk pundak temannya lalu bergegas meninggalkan temannya menuju tempat Zoya.

__ADS_1


    


Semburat sinar mentari senja perlahan mulai menghiasi langit. Cahaya nya menembus kaca jendela sebuah ruangan sebuah toko. Zoya yang sedang beristirahat di ruangannya, menatap ke arah jendela, ia merasakan hangatnya sinar mentari senja yang menerpa wajahnya. 


 


Seketika Zoya tersenyum mengingat pembicaraannya dengan salah satu pegawainya beberapa saat lalu tentang Damar yang sering datang kemari untuk memastikan kondisi tokonya baik-baik saja. Ketika Zoya sedang melamun, tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk. 


 


“Ya, masuk,” ucap Zoya.


 


“Permisi nona, ada yang ingin bertemu di luar,” ucap pegawai Zoya.


 


“Siapa?” tanya Zoya.


 


“Itu pemilik gym yang sering datang kemari,” sahut pegawai Zoya.


 


Seketika jantung Zoya berdegup kencang, itu pasti Damar. Ia tak menyangka pria itu benar-benar datang ke tempatnya sekarang.


 


“Baiklah, biarkan dia masuk,” perintah Zoya.


 


Pegawai itu mengangguk dan mempersilahkan Damar masuk ke ruangan Zoya.


 


“Hai, apa kabar?” ucap Damar menyapa sambil mengulurkan tangan.


 


“Hai, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” tanya Zoya sambil mempersilahkan Brian duduk. Keduanya terlihat canggung.


 


“Ya, seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja,” sahut Damar sambil tersenyum.


 


“Emm, oh ada perlu apa kamu datang kemari?” tanya Zoya.


 


“Ah tidak, kebetulan aku baru saja melintas di sekitar tempat ini dan seperti biasa aku menyempatkan diri untuk mampir ke tempatmu, memastikan jika semuanya baik-baik saja. Dan kebetulan kata pegawaimu, kamu sedang ada disini," sahut Damar.


 


“Begitu rupanya.. Ya, aku datang kemari untuk melihat kondisi galeri dan aku memang sedang rindu dengan kota ini,” sahut Zoya menjawab.


 


Mereka berbicara banyak hal, hingga tak terasa satu jam berlalu. Zoya tidak menyangka jika pria yang dia kecewakan itu masih saja begitu baik padanya. Zoya sebelumnya juga mendengar dari pegawainya jika Damar masih sering datang hanya untuk mengecek dan menjaga tempat usahanya.


 


Ada sebuah perasaan bahagia yang muncul dari dalam hati Zoya ketika Damar berada di dekatnya. Pria yang mungkin saja akan menjadi pendampingnya jika dia tidak menikah dengan Liam. Seketika ia seolah lupa bahwa saat ini Zoya masih menjadi milik pria lain, yaitu Liam. Ia sampai lupa bahwa pesan dan telepon dari Liam masih ia abaikan sedari tadi. 


Sementara itu, Liam masih dalam perjalanan menuju tempat Zoya, dia memacu mobilnya dengan kecepatan kencang. Suasana langit yang mulai gelap ditambah cuaca yang mulai dingin membuat Liam terburu-buru agar segera sampai di tempat tujuan. 


 


Setelah hampir satu jam perjalanan dan Liam masih berputar-putar. Liam tidak menikmati perjalanan ini karena hatinya tengah gusar memikirkan Zoya. Liam yang sudah sangat jarang berada di sana sedikit lupa dengan jalanan di kota ini.  Berulang kali ia membuka Google Maps untuk mencari di mana letak tempat Zoya. 


 


“Sial, aku benar-benar tidak tahu daerah di tempat ini,” gumam Liam mengumpat kesal.


 


Liam menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran. Seketika muncul dalam benak Liam untuk bertanya pada pelayan yang ada di sana.


 


 


“Ah.. Ya saya tahu Tuan. Galeri Zoya ini tidak jauh dari sini. Hanya sekitar dua blok dari belakang restoran ini,” sahut pelayan itu.


 


“Begitu ya, baiklah terima kasih,” ucap Liam kemudian bergegas meninggalkan restoran. 


 


Begitu beruntungnya Liam, ternyata ia berada tidak jauh dari tempat Zoya. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Liam sampai di tempat tujuannya yaitu galeri Zoya. Ia turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya ke seluruh area tempat ini. Liam berusaha mengatur nafasnya dan menenangkan dirinya sebelum bertemu dengan Zoya. 


 


Setelah merasa sedikit tenang, Liam melangkahkan kakinya untuk masuk, Ketika ia membuka pintu, seketika seluruh pegawai dan pengunjung galeri Zoya terpaku ke arahnya. Bagaimana tidak, paras tampan yang dimiliki Liam mampu menyihir kaum hawa yang melihatnya.  


 


"Ehm, halo,” ucap Liam pada salah satu pegawai Zoya.


    


Tidak ada satupun orang di dalam ruangan tersebut yang menjawab salam Liam. Karena semua orang masih terkagum melihat Liam. Liam semakin bingung dan canggung menghadapi situasi ini. Ia tak mengerti apa yang salah dengan dirinya sehingga semua orang kini melihat dirinya dengan tatapan yang membuat ia merasa tidak nyaman.


    


“Apakah Zoya sedang berada disini?” tanya Liam memecah keheningan.


    


“Ada perlu apa Tuan mencari Nona Zoya?” tanya salah satu pegawai baru di sana.


    


“Anda sudah membuat janji sebelumnya Tuan?  Karena Nona Zoya sedang menerima tamu di ruangannya,” sahut wanita itu. 


    


Sebelumnya beberala pegawai di salon Zoya memang belum pernah bertemu dengan Liam. Mereka hanya pernah mendengar namamya, namun tak pernah melihat wajahnya. 


   


“Aku ingin bertemu dengannya,” sahut Liam. 


    


“Maaf jika boleh tau, Tuan ini siapa?” tanya pegawai salon.


    


“Kamu tidak mengenalku? Saya William, suami Zoya,” sahut Liam geram.


    


Seketika, semua pegawai salon terkejut mendengar ucapan Liam, beberapa pegawau yang ada di belakang dan baru melihat William pun panik dan khawatir karena Damar sedang berada di ruangan bersama Zoya. Melihat wajah para pegawai yang panik menimbulkan kecurigaan pada diri Liam


Ia merasa seperti ada yang tidak beres. 


    


“Saya ingin bertemu Zoya, sekarang. Di mana ruangan Zoya?” ucap Liam dengan tegas.


   


“Ada di sebelah sini, Tuan mari saya antar,” sahut salah satu pegawai sambil mengantarkan Liam menuju ruangan Zoya.


    


Dari kejauhan terdengar suara gelak tawa dari arah ruangan Zoya. William mengenali suara itu, tentu saja itu suara istrinya. Namun, ada satu lagi suara pria yang ia tidak tahu itu siapa. Pikiran buruk mulai muncul dari kepala Liam. Pegawai salon mengetuk ruangan Zoya.


    


“Ya, masuk,” sahut Zoya.


    


“Permisi Nona, ada tamu,” ucap pegawainya.

__ADS_1


    


“Siapa?” tanya Zoya.


    


Sontak William masuk ke dalam ruangan Zoya dan mengejutkan Zoya serta Damar.


    


“Aku,” sahut William menyela.


    


Liam menatap tajam ke arah Zoya dan pria yang tengah duduk di sampingnya. Ia merasa kesal saat melihat Zoya tengah asik tertawa berbincang bersama pria muda berparas tampan itu.


    


"Mas,” ucap Zoya sambil beranjak dari tempat duduknya.


 


Zoya nampak terkejut melihat kehadiran William yang tak ia duga bisa sampai tempatnya. Terlihat jelas raut wajah Liam cemburu dengan keberadaan Damar yang berdua bersama Zoya di dalam ruangan kerja istrinya. 


 


“Oh, jadi ini alasan kamu mengabaikan pesan dan tidak mengangkat telepon dariku?” tanya Liam. 


 


“Tidak, ini tak seperti yang kamu bayangkan,” sahut Zoya berusaha untuk menenangkan Liam.


 


“Lalu apa hah?” bentak William.


 


Zoya terkejut mendengar ucapan William. Ia tak pernah melihat William marah sampai membentak dirinya seperti itu. Damar yang masih berada di ruangan itu, berusaha untuk menengahi mereka namun sorot tatapan mata tajam Liam membuat Damar ragu.


“Dia teman lamaku,” sahut Zoya.


 


“Akhh! Aku tak percaya itu!” bentak Liam, terlebih Liam mengingat jelas bagaimana sebelumnya Damar begitu perhatian pada Zoya.


 


Liam mulai meluapkan kekesalannya, dan menuduh itulah alasan Zoya tidak menjawab teleponnya, karena asik berbicara dengan pria itu. Suasana menjadi semakin gaduh dan mencuri perhatian dari para pegawai Zoya.


 


Damar akhirnya tak tinggal diam, ia berusaha menenangkan Liam, tapi emosi Liam tak bisa terkendali.


 


“Hei, tenangkan dirimu, ini tak seperti yang kamu bayangkan,” ucap Damar.


 


“Diam kamu keparat,” sahut William sambil menunjuk wajah Damar.


 


Damar hanya terdiam melihat perlakuan Liam.  Akhirnya, Zoya meminta Damar untuk pulang agar dia bisa menenangkan Liam.


 


“Mas Damar, kurasa lebih baik kamu pulang sekarang. Situasi ini sedang tidak baik, aku membutuhkan waktu untuk menenangkan dia,” ucap Zoya dengan wajah sedikit panik.


 


“Baiklah, aku rasa lebih baik aku pulang,” sahut Damar.


 


Damar berlalu pergi tanpa sedikitpun menoleh ke arah Liam. Zoya beralih pada Liam, ia berusaha menenangkan suaminya dengan menyuruhnya duduk terlebih dahulu.


 


“Duduklah dulu, aku akan menjelaskan semuanya. Ini tak seperti yang kau pikirkan,” ucap Zoya sambil mengelus pundak Liam.


 


“Aku sudah tidak butuh penjelasanmu,” sahut William sambil menatap tajam ke arah Zoya.


 


Rupanya, menyuruh Damar pergi dari sini tidak membuat emosi Liam surut. Ia tetap saja marah kemudian memilih pergi dari sana dan kembali ke rumahnya. Zoya berusaha menahan Liam agar tidak pergi, namun percaya amarah sudah menguasai diri Liam.


 


“Kamu mau kemana?” tanya Zoya.


 


“Pulang, aku muak dengan tempat ini,” sahut Liam sambil berlalu pergi menuju mobilnya.


 


“Tidak, tunggu dulu,” ucap Zoya berusaha menahan Liam.


 


“Lepaskan aku,” ucap William kasar, lalu masuk ke dalam mobilnya.


 


Mobil Liam melaju kencang meninggalkan tempat Zoya. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah keramaian jalanan kota. Entah mengapa Liam merasakan hatinya begitu sakit. Pikirannya kacau bercampur dengan amarah yang membuncah di dalam dirinya. 


 


Beberapa saat kemudian, Liam menghentikan laju mobilnya dan berhenti di dekat sebuah jembatan layang. Ia keluar dari mobilnya, berusaha mencari udara segar untuk menenangkan diri. Ia berdiri di ujung jembatan sambil menatap lurus ke depan. Liam merasa ingin meluapkan semua amarah dan kekesalannya hari ini. 


 


“Akkkhhh!” teriak Liam. 


 


Setelah William merasa lega, ia kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah orang tuanya. 


 


Sementara itu, Zoya merasa khawatir dengan keberadaan Liam, Zoya sempat berpikir untuk meminta tolong pada Damar, namun rasanya itu tidak mungkin. Ia berusaha menghubungi ponsel Liam namun tak ada jawaban. Beberapa saat kemudian Zoya menyerah karena tak dapat menghubungi William.  


 


“Di mana kau, ayolah angkat teleponku,” gumam Zoya sambil terus berkutik dengan ponselnya.


 


Tiba-tiba dering ponsel Zoya menyadarkan ia dari lamunannya. Ia melihat ke layar ponselnya. Tertulis nama Damar.


 


"Halo,” ucap Zoya.


 


“Apakah semua baik-baik saja?” tanya Damar.


 


“Ya, semua baik-baik saja kamu tak perlu khawatir,” ucap Zoya berbohong untuk menutupi keadaan.


 


“Syukurlah kalau begitu, jika kau butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungi ku,” ucap Damar.


 


"Baiklah,” sahut Zoya lalu menutup panggilan itu.


 


Zoya duduk termenung, ia menyadari kesalahannya. Tak seharusnya ia berbuat demikian, mengabaikan Liam yang bagaimanapun ia masih suaminya. 


"Kenapa jadi begini?" gumamnya.


 

__ADS_1


__ADS_2