Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 8


__ADS_3

Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka malam itu. Mereka memasuki sebuah restoran sederhana, tetapi sangat nyaman dengan suasana yang indah. Zoya sangat menyukainya.


Damar menarik sebuah kursi untuk Zoya. Hal sederhana yang mampu membuat Zoya cukup tersanjung karenanya.


“Silakan duduk, Zoya.” Damar hanya tersenyum setelah menarik kursi untuk Zoya.


“Terima kasih, Mas. Kamu sangat baik,” ucap Zoya segera menduduki kursi tersebut, seraya membalas senyuman Damar padanya.


“Apa pun untukmu.”


Damar mulai memanggil pelayan agar dia bisa memesan makanan untuk mereka. Salah seorang pelayan wanita mendekati kursi mereka.


“Ingin memesan apa, Tuan?” tanya pelayan tersebut sambil menunjukkan pose yang cukup menggoda di hadapan Damar.


“Apa yang ingin kamu pesan, Zoya?” Damar sengaja mengabaikan pelayan tersebut dengan menunjukkan perhatiannya pada Zoya. Menunjukan jika Zoya adalah tenan dekatnya.


“Aku ingin memesan bebek bakar bagian paha, petai bakar juga.” Zoya segera menyerahkan buku menu itu pada Damar agar pria itu bisa memesan.


Damar tersenyum kagum menatap Zoya. Inilah salah satu yang Damar suka dari Zoya, Zoya bukan wanita yang suka jaim seperti wanita lainnya. Zoya akan menjadi dirinya sendiri dan itu membuat Zoya semakin terlihat menarik dari wanita lainnya.


“Berikan dua seperti yang Zoya pesan, satu porsi perkedel, sosis bakar dan lebih banyak lalapan," ucap Damar pada pelayan, lalu kembalu menatap Zoya. "Bagaimana dengan minumannya?”

__ADS_1


“Aku ingin es teh saja,” jawabnya pada Damar.


“Baiklah, dua es teh. Untuk saat ini hanya itu saja.” Damar segera mengembalikan buku menu tersebut pada pelayan yang masih berdiri di hadapannya.


“Baiklah tuan, pesanan Anda akan segera sampai.” Setelah mengatakan itu, pelayan tersebut segera pergi dengan wajah lesu, karena dia gagal menggoda pria tampan yang menjadi pelanggan di restoran tempatnya bekerja malam ini.


Setelah pelayan itu pergi, Zoya segera bertanya, kenapa Damar memesan begitu banyak makanan, sedangkan mereka hanya berdua.


“Kenapa kamu memesan begitu banyak makanan, Mas?” tanya Zoya pada Damar.


“Karena aku tahu kamu menyukai makanan yang aku pesan, sayangnya tidak ada bakso, gulai daun singkong dan lainnya, jika ada aku juga akan memesannya untukmu. Aku juga cukup tahu seberapa banyak kamu bisa menghabiskan makanan. Kami tidak perlu sungkan ketika menghabiskan waktu bersamaku, Zo.”


“Aku tidak tahu kalau kamu akan memperhatikan aku sampai seperti ini, Mas.” Zoya cukup terkejut karena Damar mengetahui makanan kesukaannya.


“Tentu kamu tidak mengetahuinya, karena kamu selama ini terlalu sibuk bekerja hingga mengabaikan setiap perhatian yang tertuju padamu," ucap Damar cukup menyindir Zoya yang mendengarnya.


Damar bisa memahami seberapa keras Zoya bekerja dan apa alasannya. Karena dia tahu kehidupan yang Zoya jalani cukup keras sejak dia masih berusia sangat muda.


“Maaf, jika aku banyak mengabaikan perhatianmu selama ini.” Zoya sungguh merasa sangat bersalah sekarang.


“Tidak apa-apa, aku mengerti, pasti tidak mudah bagimu melewati semuanya. Karena kamu harus kehilangan orang tua di usia yang sangat muda. Itu tentu tidak mudah. Tapi kamu sama sekali tidak menyerah. Itulah yang aku kagumi darimu, Zoya. Sosok wanita cantik yang baik dan mandiri,” puji Damar.

__ADS_1


Damar mulai menunjukkan rasa ketertarikannya pada Zoya. Karena dia ingin Zoya tahu bagaimana perasaannya pada Zoya. Dia sudah cukup lama dekat dan mencoba untuk selalu memberikan perhatian pada Zoya, dengan harapan, Zoya akan tahu perasaannya dan bisa membalasnya.


“Terima kasih karena kamu selalu berusaha untuk mengerti aku, Mas. Aku sangat menghargai semua itu. Aku senang karena ada orang yang begitu tulus memperhatikan aku seperti dirimu.” Zoya tidak menyangka kalau Damar sangat peduli padanya lebih dari yang Zoya bayangkan.


Zoya selama ini hanya berpikir bahwa Damar adalah pria yang baik juga perhatian pada setiap orang yang dia kenal. Sehingga Zoya takut untuk berpikir kalau Damar serius menyukainya. Itu sebabnya Zoya mencoba bersikap biasa saja, agar tidak berharap dan tidak membuat orang berharap. Tetapi dia sama sekali tidak menyangka, kalau Damar memberikan perhatian khusus hanya kepadanya, sesuatu yang tidak pernah Damar berikan pada orang lain selama ini.


“Aku juga senang melakukan semua itu untukmu, kamu spesial bagiku. Aku harap kamu bisa merasakan itu."


Damar sadar, jika dia ingin mendapatkan Zoya maka dia harus mulai berani menunjukkan semuanya melalu ucapan. Agar Zoya tahu, bahwa perhatian Damar padanya berbeda dengan yang Damar lakukan pada orang lain.


Zoya tidak tahu harus menjawab apa sebagai balasan atas ucapan Damar padanya. Hingga akhirnya, makanan yang mereka pesan sampai di atas meja yang mereka duduki. Menyelamatkan Zoya dari rasa canggung yang dia rasakan terhadap Damar.


“Kamu tidak perlu terlalu memikirkan apa yang baru saja aku katakan, Zo. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu itu berbeda dan spesial bagiku. Kamu jangan merasa tidak enak padaku. Sungguh aku tidak bermaksud apa-apa mengatakan semua ini padamu!” ucap Damar takut Zoya akan merasa tidak nyaman dan malah menjauhinya.


“Terima kasih, Mas Damar.” Hanya itu yang mampu Zoya katakan. Karena Damar benar-benar sangat pengertian padanya.


“Tidak masalah. Ayo sekarang kita makan. Sebelum makanan ini menjadi dingin.”


Mereka berdua memulai makan malam mereka. Tidak ada percakapan yang mereka lakukan. Mereka benar-benar menikmati makan malam mereka kali ini. Tanpa ada rasa canggung lagi.


Damar juga merasa bahagia, setidaknya dia sudah selangkah lebih maju dalam mendekati Zoya. Sebab dia sudah mengungkapkan semuanya. Meskipun dia belum berani mengatakan cinta. Tetapi, untuk saat ini, Damar merasa cukup puas, karena dia bisa mengatakan pada Zoya kalau wanita itu berharga baginya.

__ADS_1


__ADS_2