Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 22


__ADS_3

Zoya mencoba memapah Wulan untuk kembali duduk di atas sofa. "Tolong jangan seperti ini," ucap Zoya memelas.


"Tante mohon, Zoya. Menikah lah dengan Liam!" pinta Wulan masih mengatakan hal yang sama.


Zoya bisa melihat keyakinan di mata Wulan Apalagi dia sudah bertekad begitu keras untuk menikahkan mereka berdua. Hanya sia-sia saja membantah Wulan sekarang. Karena Wulan pasti akan terus meyakinkan dirinya. Dia tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan Zoya bisa memahami semua itu. Sebab dia masih diliputi rasa ketakutan kalau Liam akan berusaha bunuh diri lagi.


Satu-satunya harapan Zoya sekarang adalah Liam. Jika dia menolak, maka Zoya akan terbebas dari segala paksaan yang dilakukan oleh Wulan. Meskipun dia mengakui kalau dia mulai merasa kasihan kepada Wulan dan berniat membantu Wulan, tetapi tetap saja, Jika kemungkinan dirinya dan Liam tidak menikah, merupakan keinginan Zoya. Oleh sebab itu dia akan meminta Wulan mengambil keputusan pasti dari Liam terlebih dahulu.


“Tante, tidak perlu terburu-buru. Lagi pula Tante baru saja menjalani perjalanan yang cukup jauh. Tenangkan diri Tante sejenak, kita bisa membahas semuanya lagi ketika Tante sudah mendapatkan jawaban pasti dari Liam. Karena bila dia tidak menerimaku, maka aku juga tidak mungkin berada di sisinya. Jadi, Tante harus menanyakan semua ini terlebih dulu kepada Liam, baru kita bisa membahas kelanjutan rencana pernikahan ini.” Zoya sengaja mengatakan ini, agar Wulan tidak lagi membujuknya untuk menikah dengan Liam.


Zoya sangat mengerti bahwa apa yang mereka lakukan bisa saja berakhir sia-sia, jika Liam tidak bisa membuka diri padanya. Karena penerimaan adalah salah satu jalan bagi dirinya dan juga Liam untuk bisa memahami diri masing-masing. Jadi titik utama masalah mereka saat ini, jelas berada di tangan Liam. Dan Zoya hanya akan menantikannya saja.

__ADS_1


Wulan hanya diam dan tampak berpikir dengan keras. Dia bisa menyimpulkan bahwa Zoya menyerahkan segala keputusan di tangan Liam. Wulan tidak mungkin memaksa dan membahas hal ini lagi sekarang. Lagi pula dia harus segera kembali untuk mengetahui perkembangan kondisi Liam.


“Baiklah, Tante akan menemuimu lagi, setelah Liam menjawab semuanya. Tetapi ada satu hal penting yang ingin Tante pastikan, apakah kamu tidak akan menghindari Tante lagi setelah ini?” Wulan bertanya karena dia tidak mau sampai Zoya memutuskan hubungan komunikasi di antara mereka berdua, karena terkadang Wulan juga merindukannya.


“Mengenai hal ini, Tante tidak pernah merasa khawatir lagi. Aku pasti akan menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan, Tante. Aku tidak akan menghindari Tante lagi. Tante bisa mempercayaiku, lagi pula, bila aku begitu sulit untuk dihubungi, Tante bisa datang langsung ke tempatku. Dan aku tidak mungkin melarikan diri dari Tante,” jawabnya untuk menghilangkan segala keresahan yang Wulan rasakan akibat ulahnya.


“Tante senang mendengar semua ini darimu, dengan begini, Tante bisa merasa lebih tenang. Sebab Tante bisa menghubungimu kapan saja. Karena apa yang perlu kita bicarakan telah selesai, sekarang Tante ingin kembali pulang. Semoga harimu menyenangkan, Zoya. Maaf karena Tante sudah membuat keributan kecil di tokomu tadi.” Wulan sungguh merasa sangat bersalah karena sempat bersikap kasar pada salah satu karyawan Zoya.


“Kalau begitu Tante akan pulang sekarang, Tante akan mengabarimu, bila Liam sudah membuat keputusan. Sampai jumpa, Zoya." Wulan segera memasuki mobilnya sembari diantar oleh Zoya sampai di depan toko miliknya.


“Sampai jumpa, Tante. Berhati-hatilah di jalan. Aku akan menunggu kabar dari tante.” Zoya segera melambaikan tangannya, untuk mengantar kepergian Wulan.

__ADS_1


Zoya hanya bisa melihat mobil yang ditumpangi oleh Wulan semakin menjauh. Seperti perasaannya yang kini mulai terasa resah. Dia sangat berharap kalau Liam akan menolaknya. Dengan begitu barulah Zoya akan merasa tenang. Setelah memastikan mobil Wulan tidak terlihat lagi, Zoya segera kembali memasuki toko, memberikan pengertian pada pegawainya atas sikap Wulan, lalu menutup tokonya.


Sepanjang perjalanannya kembali ke rumah, Wulan selalu memikirkan apa yang Zoya katakan. Bahwa dia tidak mempertimbangkan William sama sekali. Hal ini tentu membuat Wulan merasa cukup pusing sekarang. Karena pastinya membujuk Liam akan lebih sulit dibandingkan membujuk Zoya. Karena Liam adalah pria yang sangat keras kepala. Dia tidak akan mau mengikuti keinginan siapa pun termasuk Wulan.


Oleh sebab itu, Liam menjadi bagian tersulit untuk memuluskan segala rencananya. Liam bahkan tidak mempertimbangkan perasaan Wulan ketika menolak semua jenis perawatan yang Wulan siapkan. Liam akan semakin memberontak, setiap hari Wulan memberikan perawatan yang dia anggap menghina dirinya. Itu sebabnya dia bersikap sangat buruk kepada semua perawat laki-laki yang menjaganya.


Apalagi ini adalah masalah pernikahan, hal yang bersangkutan dengan hidup dan masa depannya. Liam sudah pasti akan segera menolaknya. Sekarang Wulan bahkan tidak bisa memikirkan cara apa yang harus dia lakukan untuk meluluhkan hati Liam. Karena itu Wulan memijat pangkal hidungnya sekarang. Karena dia merasa sangat pusing, semua masalah ini benar-benar menguras hati dan pikirannya.


Aku harus mencari cara untuk membujuk, Liam. Jika Liam setuju, maka Zoya akan menjadi menantuku. Batin Wulan.


Wulan menyandarkan tubuhnya, dan memejamkan matanya sejenak. Karena dia rasa itu cukup berguna untuk menenangkan pikirannya saat ini. Lagi pula selama beberapa bulan terakhir, dia juga belum bisa tidur dengan cukup baik. Sepertinya beristirahat sebentar, bukanlah sesuatu hal yang besar. Setidaknya hal itu bisa membantu Wulan untuk tetap berpikiran jernih.

__ADS_1


__ADS_2