
William tersenyum miring tatkala matanya tak sengaja mendapati mobil orang tuanya dari kaca spion mobil. Sepertinya orang tuanya khawatir jika William membuang Zoya di suatu tempat. Kalau boleh jujur, William menyukai gagasan itu. Dia bisa terbebas dari gangguan gadis yang duduk di sampingnya mengenakan gaun pengantin kalau dia membuang Zoya di tempat antah berantah.
Tapi tidak, William tidak akan melakukan hal seperti itu. William ingin membuat Zoya pergi dari hidupnya karena inisiatif Zoya sendiri tanpa dia perlu bersusah payah menyingkirkan gadis itu. Kalau dia menyingkirkan Zoya, orang tuanya pasti akan mencari Zoya dan mencari Zoya sampai ketemu. Tapi kalau Zoya yang memilih pergi, maka William akan terbebas dari jeratan permintaan orang tuanya.
William tidak pernah sudi menikahi gadis yang duduk di sampingnya, sungguh. Tapi, ide dari Leila ada benarnya. Dia akan membuka kedok Zoya supaya orang tuanya nanti tidak akan mempercayai Zoya lagi. Tanpa sadar hal tersebut membuat William semangat untuk menjalani kehidupannya. Ya, semangat untuk membuka kedok Zoya.
‘Kenapa dia tidak mengajakku berbicara sama sekali? Apakah aku yang harus berbicara dengannya duluan?’ tanya Zoya dalam hati.
Zoya melirik William. Sedari tadi dia menundukkan kepalanya karena takut dengan tatapan tajam William yang seolah bisa membunuhnya. Dari tadi Zoya sengaja menghindari tatapan William karena ia masih mencintai dirinya. Terdengar berlebihan memang, tapi seperti itulah yang terjadi.
“Mas, apakah rumahnya masih jauh dari sini?” tanya Zoya pada akhirnya. Mereka sudah melakukan perjalanan lebih dari dua jam, namun mereka belum sampai juga.
Tubuh Zoya rasanya sudah pegal semua, pegal karena acara pernikahan mereka juga pegal karena duduk di mobil selama berjam-jam. Ia ingin segera sampai rumah dan beristirahat. Zoya tidak mengharapkan malam pertama dari William. Bukan, alasan Zoya bukan karena William lumpuh tapi karena dia merasa kalau William tak akan sudi menyentuhnya. Menatap Zoya saja dia enggan, apalagi kalau harus menjalani malam pertama dengan Zoya.
“Sebentar lagi sampai,” jawab William singkat. Pria itu masih menatap lurus ke arah spion, tidak menoleh ke arah Zoya sama sekali.
Lihat? Bagaimana mungkin Zoya mengharapkan malam pertama dari pria dingin seperti William. Mau menjawab pertanyaannya saja sudah beruntung rasanya.
Zoya meremas gaunnya, gugup duduk di samping William tanpa tahu harus melakukan apa atau mengatakan apa. Bibirnya kelu setiap kali ia ingin mengatakan sesuatu. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan kepada William, tentang alasan kenapa pria itu akhirnya menerima perjodohan mereka.
__ADS_1
‘Ya Tuhan, kenapa dia sangat dingin seperti ini? Aku tidak tahu apakah aku sanggup menjalani kehidupan rumah tangga dengan pria seperti William,' gumam Zoya dalam hati.
Kalau Zoya bisa memilih, dia pasti tidak akan pernah memilih William untuk menjadi suaminya. Pria itu berhati dingin dan tidak menganggapnya sebagai seorang istri. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka melangsungkan pernikahan. Tapi, William sudah bersikap layaknya orang asing yang tak mengenal Zoya sama sekali.
Sementara itu, Wulan dan Ryan yang mengikuti mobil yang membawa William dan Zoya tampak gelisah karena mereka tak kunjung sampai di rumah baru William. Rumah itu digadang-gadang akan menjadi tempat tinggal baru William dan Zoya karena William sudah menyiapkannya untuk wanita yang akan menjadi istrinya.
“Kenapa tempatnya jauh sekali, Pa?” tanya Wulan pada suaminya yang mengemudikan mobil.
“Aku juga tidak tahu, Ma. Ini sudah benar-benar jauh dari pusat kota,” balas Ryan. Pria itu terus berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.
Setelah hampir tiga jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah mewah di tepi kota. Rumah tersebut bergaya modern dengan nuansa menyatu dengan alam. Rumah tersebut didominasi dengan material kaca dan ada berbagai tanaman hias di rumah tersebut.
“Lihatlah, Pa. Kita memang tidak salah memilih Zoya untuk menjadi istri William. Dia tidak cuek sama sekali pada William padahal dia tahu kalau William lumpuh,” ujar Wulan, memuji Zoya.
“Iya, Ma. Syukurlah kita tidak salah memilih menantu,” balas Ryan.
Mereka berdua terus mengamati William dan Zoya. Dari kejauhan William tampak tersenyum manis pada Zoya, lalu mengajak Zoya masuk bersama. Zoya mendorong kursi roda William sementara barang-barang mereka diturunkan oleh sopir dari bagasi mobil.
“Sepertinya kekhawatiran kita selama ini salah, Pa. William bisa menerima Zoya dan tidak ingin memanfaatkan Zoya seperti apa yang kita takutkan,” ucap Wulan. Dia tersenyum senang melihat anaknya tampak menerima Zoya dengan baik. Meski di depannya William tampak cuek dengan Zoya, di belakangnya William tampak manis.
__ADS_1
Ryan tersenyum senang. Dia setuju dengan ucapan sang istri mengenai anaknya. Dia pun memutuskan untuk pulang setelah memastikan kalau keadaan Zoya dan William baik-baik saja di rumah baru mereka.
“Kamu hubungi Desi dan Leila supaya mereka tidak khawatir. Sehabis ini kita pulang saja,” ucap Ryan dengan perasaan lega. Sekarang tidak ada yang perlu mereka khawatirkan lagi.
Di sisi lain, Zoya tampak bingung karena tiba-tiba saja William bersikap manis padanya. Pria itu bahkan untuk pertama kalinya tersenyum ke arahnya. Gadis itu tidak tahu kalau William melakukan semua ini semata-mata karena orang tuanya mengawasi mereka dari kejauhan.
Zoya mendorong kursi roda William dengan senang hati karena merasa kalau ini memang sudah kewajibannya sebagai istri seorang William Sadjaja. Ia tersenyum tipis membayangkan kalau William mungkin sudah mau menerimanya sebagai seorang istri.
William yang menyadari kalau mobil orang tuanya sudah melaju pergi dari depan rumahnya mengubah raut wajahnya dari yang awalnya penuh senyum menjadi raut wajah yang tak ramah sama sekali.
“Berhenti,” ucapnya pada Zoya dengan nada suara dingin.
Zoya menunduk, mencoba menatap William namun dia terkejut karena mendapati William yang menatapnya penuh kebencian.
‘Ke mana perginya Liam yang ramah tadi?’ tanya Zoya dalam hati. Dia tidak tahu apa salahnya. Dia juga tak mengerti kenapa sikap William berubah-ubah tanpa alasan yang jelas.
William mengeluarkan kunci dari kantung celananya, lalu meminta Zoya untuk membuka pintu. Zoya menerima kunci tersebut dengan senang hati, lalu memutar kenop pintu.
Begitu pintu terbuka sempurna, Zoya mematung di tempatnya. Dadanya terasa sesak saat ia melihat sebuah foto berukuran besar yang menyambut kedatangannya.
__ADS_1
“Selamat datang, Nyonya Zoya,” ucap William penuh ledekan. Dalam hati ia tersenyum senang saat melihat ekspresi terkejut Zoya saat melihat fotonya dengan seorang wanita yang tampak mesra terpajang di dinding.