Ikrar Yang Ingkar

Ikrar Yang Ingkar
IYI 33


__ADS_3

“Liam, apa maksudmu?” tanya Ryan kebingungan.


Kedua orang tua William awalnya berpikir kalau setelah menikah William dan Zoya akan tinggal bersama dengan mereka. Jadi, mereka tidak terlalu memusingkan rencana Leila tempo hari. Akan tetapi yang terjadi di luar dugaan mereka.


Raut wajah penuh bahagia yang tadi terpancar di wajah orang tua William perlahan memudar seiring dengan ucapan yang keluar dari bibir anak mereka. Kebahagiaan yang baru mereka rasakan beberapa jam lenyap seketika digantikan oleh perasaan panik dan cemas. Tak hanya mereka, Leila juga ikut panik karena pernikahan William dan Zoya bisa terjadi juga karena rencananya.


“Aku dan Zoya sudah menikah. Aku tidak mau tinggal satu rumah dengan Mama dan Papa,” ucap William singkat.


Zoya menatap Desi kebingungan. Gadis itu takut kalau hal yang selama ini ia khawatirkan benar-benar terjadi. Ia takut sekali kalau William akan menjadikan pernikahan mereka sebuah neraka untuk Zoya.


Ryan dan Wulan saling bertukar pandang. Melalui tatapan mata, mereka seolah mengisyaratkan kekhawatiran.


“Apakah menurut kamu semua ini tidak terlalu buru-buru, Liam? Kalian baru bertemu dua kali. Saran Mama lebih baik kalian tinggal bersama dengan Mama dan Papa dulu,” ucap Wulan, berusaha membuat William berubah pikiran.


Tapi bukan William namanya kalau dia tidak keras kepala. Setiap keputusan yang diambil oleh pria itu tidak akan bisa diganggu gugat. William menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membalas ucapan Wulan dengan kata-kata pedas.


“Bukankah kalian juga menikahkan aku dan Zoya secara terburu-buru? Lalu kenapa kami tidak boleh tinggal bersama secepatnya?” tanya William seraya memicingkan matanya.


Wulan terhenyak. Ia merasa ditampar oleh ucapan William. Tapi, dalam hati kecilnya Wulan masih sangat khawatir dengan Zoya. Apalagi, William menyetujui untuk menikah dengan Zoya karena bujukan Leila yang berkata kalau William bisa memanfaatkan Zoya dan membuka kedok Zoya kalau mereka sudah menikah.


Andai William dan Zoya tinggal bersama, maka Wulan dan Ryan bisa mengawasi tindakan William kepada Zoya. Tapi kalau mereka tinggal berpisah? Wulan takut kalau William melakukan yang tidak-tidak kepada Zoya.


Bukannya Wulan tidak mempercayai putranya sendiri. Tapi, sikap dingin dan temperamen William membuatnya khawatir. Ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai William membuat Zoya menderita di masa pernikahannya.


“Mas, aku ingin bermalam di rumah ini dulu malam ini. Hanya hari ini saja,” ucap Zoya, mengutarakan keinginannya yang tadi sempat terpotong ucapan William.


Rumah ini sudah memberikan banyak kenangan indah pada Zoya. Bertahun-tahun dia tinggal di sini dan tumbuh di tempat itu. Meninggalkan rumah adalah salah satu hal berat bagi seorang pengantin perempuan. Zoya ingin bermalam di rumah ini sekali lagi sebelum pindah bersama suaminya.


“Tidak bisa!” jawab William ketus. Dia tidak mau melewatkan sedetik pun untuk membuat Zoya menyesal karena telah menikah dengannya. “Kita akan pindah malam ini juga,” sambungnya.


“Liam, sebaiknya kamu izinkan Zoya untuk bermalam di rumah ini malam ini. Dia mungkin belum siap meninggalkan rumah di mana dia tumbuh selama ini,” ujar Wulan.


Melihat wajah Zoya yang tampak ketakutan membuat Wulan merasa bersalah. Wulan tahu kalau hal ini terlalu mendadak untuk Zoya. Ia dulu juga pernah merasakan apa yang Zoya rasakan saat ini. Setelah menikah, Wulan juga tak langsung pindah dengan Ryan. Tapi dia meminta untuk bermalam di rumahnya sekali lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya mempersiapkan diri untuk tinggal bersama dengan sang suami. Sebagai sesama wanita, tentu Wulan paham sekali dengan apa yang dirasakan oleh Zoya.


“Liam, Mama dan Papa pasti akan menyetujui kalau kalian ingin tinggal mandiri dalam membangun rumah tangga kalian. Tapi, tidak sekarang, Liam,” ucap Ryan, menghela napas panjang.


Menurut Ryan, keputusan yang diambil oleh William sangatlah terburu-buru dan tidak dipikirkan dengan matang. Menikah adalah sebuah langkah besar dalam kehidupan seseorang. Tapi, tinggal terpisah dan membangun rumah tangga di awal pernikahan adalah sebuah langkah yang jauh lebih besar. Apalagi, mengingat kondisi William yang seperti ini.


Zoya tampak meremas gaunnya. Gadis itu ketakutan. Yang membuatnya takut bukan semata-mata karena sikap temperamen yang dimiliki oleh William. Akan tetapi, Zoya bahkan belum mengenal William dengan baik. Dia tidak tahu bagaimana kebiasaan William atau apa saja yang William butuhkan. Perlu waktu bagi Zoya untuk belajar merawat William yang saat ini tengah lumpuh. Zoya tidak mau salah langkah dan membuat William membencinya.


“Lalu mau kapan lagi, Pa? Tidak baik satu rumah ditinggali lebih dari satu kepala keluarga,” kilah William, memandang orang tuanya sambil menaikkan sebelah alisnya.


Wulan berjalan mendekati William, lalu berlutut di depan pria itu. “Liam, kamu dan Zoya baru menikah. Zoya belum tahu tentang kebutuhan kamu dan apa saja yang harus dia lakukan untuk menjadi istri yang baik untuk kamu. Lebih baik kalian tinggal bersama Papa dan Mama untuk sementara waktu,” bujuk Wulan, berharap agar William mau berubah pikiran.

__ADS_1


Tapi William adalah William. Pria paling keras kepala yang pernah Wulan kenal. Setiap keputusan yang diambil oleh William tak akan pernah berubah sedikit pun meskipun banyak sekali orang-orang yang membujuknya. Untuk meminta William menikahi Zoya saja butuh usaha keras.


“Tidak, Ma. Aku dan Zoya akan tetap tinggal terpisah dari kalian mulai malam ini juga,” ujar William, keras kepala.


“Liam, kami paham dengan apa maksudmu. Tapi ayo pikirkan dulu baik-baik. Kau dan Zoya bahkan belum memiliki rumah. Papa tidak mungkin membiarkan kalian tinggal terpisah dari Papa dan Mama kalau kalian belum memiliki rumah sendiri,” ucap Ryan.


Membangun sebuah rumah akan membutuhkan waktu yang panjang. Maka dari itu Ryan memakai alasan itu supaya ia bisa menahan William dan Zoya supaya tetap mau tinggal bersama dirinya dan Wulan. Ia perlu mengawasi dua anak itu sebelum percaya seratus persen kalau William tidak akan menyakiti Zoya.


“Papa tidak usah khawatir. Aku sudah menyiapkan rumah untuk kami berdua,” ucap William, membuat semua orang di sana terkejut.


‘Tapi aku sebenarnya menyiapkan rumah itu bukan untuk Zoya. Tapi, untuk Renata,' sambung William dalam hati.


Beberapa bulan yang lalu William memang sudah membangun sebuah rumah mewah yang cukup jauh dari pusat kota untuk mempersiapkan kehidupannya dengan Renata. Saat itu hubungannya dan Renata masih baik-baik saja dan dia berniat mempersunting Renata setelah rumah selesai dibangun. Tapi saat rumah itu selesai dibangun, Renata justru pergi meninggalkan William. Tapi, William akan tetap tinggal di sana untuk mengenang sisa-sisa perjuangan cintanya pada Renata.


“Sejak kapan kamu memiliki rumah sendiri?” tanya Wulan, terkejut. Ia mengerutkan keningnya. Ke mana saja mereka selama ini sampai tidak tahu kalau William sudah memiliki sebuah rumah sendiri?


“Aku memang mempersiapkannya untuk perempuan yang akan aku nikahi,” ucap William. 


Ucapan William membuat orang tuanya trenyuh. Mereka tidak menyangka kalau putra mereka memang memimpikan sebuah pernikahan dan telah mempersiapkan segalanya.


Wulan, Ryan, dan Zoya tidak bisa menolak keputusan William lagi. Mau tak mau, mereka harus menghadapi kenyataan kalau Zoya akan langsung tinggal bersama dengan William di rumah baru mereka.


Yang merasa paling bersalah di sini adalah Leila. Ia benar-benar ketakutan sampai dia tidak berani mendekati majikannya. Wanita itu dari tadi meremas ujung pakaiannya. Kalau tahu akhirnya akan seperti ini, Leila tidak akan memberikan ide kepada William untuk menikahi Zoya supaya William bisa membuka kedok Zoya atau supaya William bisa memperlakukan Zoya seenaknya. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain merapal doa agar Zoya tidak berakhir dibuat sengsara oleh William.


William sudah merencanakan ini semua setelah ia mengumumkan kepada Wulan dan Ryan kalau dia setuju untuk menikahi Zoya. Menurut William, kalau dia dan Zoya tetap tinggal bersama dengan Wulan dan Ryan, William tak akan bisa membuka kedok Zoya karena pasti orang tua William akan mengawasi setiap gerak-gerik William dan membuat William kesusahan dalam menjalankan rencananya.


Zoya menganggukkan kepalanya, lalu buru-buru pergi ke kamar. Tatapan tajam William membuat gadis itu ketakutan dan mau tak mau langsung menuruti apa yang diucapkan oleh William. Ia takut William akan mengamuk kalau perkataannya tidak diindahkan oleh Zoya.


Sesampainya di kamar, Zoya mengambil koper yang ada di atas lemari. Setelah itu ia mulai mengambil pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Selain pakaian, Zoya juga mengambil beberapa benda yang menurutnya penting.


Zoya menarik napas dalam-dalam. Entah mengapa perasaannya menyatakan kalau malam ini segalanya akan berubah seratus delapan puluh derajat. Nasib kehidupannya akan berbanding terbalik dengan apa yang selama ini dia jalani.


Gadis itu memberesi barang-barangnya sambil menahan air mata yang sewaktu-waktu bisa keluar. Ia menatap keluar jendela, berharap bisa melihat Damar untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi meninggalkan rumah ini. Tapi, hanya jalanan kosong yang dapat ia lihat. Zoya paham sekali, Damar tak mungkin datang ke rumahnya untuk sekadar melihatnya dari kejauhan. Hati Damar pasti sangat terluka akibat pernikahannya dengan William. 


Zoya tersenyum tipis sambil memejamkan matanya, mengingat kembali memori-memori indah yang ia lalui bersama dengan Damar. Hal yang paling menyedihkan dari kisah indah itu adalah segalanya tak berlangsung lama. Dan selamanya hal tersebut hanya akan menjadi memori untuk Zoya.


Zoya mengamati jalanan di luar jendela kamarnya sekali lagi, lalu menarik napas dalam-dalam dan kembali memberesi barang-barangnya. Setelah selesai, ia terduduk di ranjangnya kemudian mengusap tempat tidurnya. Gadis itu memandang ke sekeliling kamarnya. Kamar ini adalah tempat ia tumbuh. Segalanya ia lalui di rumah ini namun dengan berat hati Zoya harus meninggalkan rumah yang tak hanya sebagai tempat ia meneduh, tapi juga tempat segala tawa dan bahagia tercipta.


Di saat Zoya masih sibuk menyimpan memori dan mengatakan salam perpisahan dengan kamarnya, Wulan mengajak Leila ke ruang makan untuk menegur Leila.


“Nyonya, saya tahu Anda pasti sangat marah dengan saya. Tapi, saya benar-benar tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini,” ucap Leila, menundukkan kepalanya.


Wulan mengusap wajahnya dengan gusar. “Apa yang harus kita lakukan sekarang, Leila? Bagaimana kalau Liam benar-benar melakukan apa yang kamu katakan tempo hari?”

__ADS_1


Leila mengedikkan bahunya. “Apakah tidak sebaiknya Anda kembali membujuk Tuan Liam supaya tidak usah keluar dari rumah?” tanya Leila. Ia sendiri juga bingung dengan situasi yang menjepit mereka saat ini. Rencana yang awalnya mereka pikir baik malah menjadi bumerang untuk mereka.


“Kau dengar sendiri, bukan? Tadi Liam berkata kalau dia sudah menyiapkan rumah untuk mereka berdua. Bagaimana bisa kami memaksa Liam kalau dia sudah bertekad seperti itu?” tanya Wulan. Ia khawatir dengan Zoya. Zoya adalah gadis yang sangat baik di mata Wulan. Wulan takut William memanfaatkan kebaikan Zoya dan bertindak semena-mena terhadap Zoya.


Leila menghela napas. “Saat ini sepertinya kita hanya bisa berdoa supaya Tuan Liam tidak berbuat macam-macam kepada Nona Zoya, Nyonya,” jawab Leila.


Beberapa menit kemudian, Zoya sudah selesai mengemasi barang-barangnya. Dengan berat hati Zoya keluar dari kamar sambil menarik dua koper berukuran jumbo.


“Liam, apakah kamu benar-benar yakin tidak mau menunggu sampai besok untuk pindah?” tanya Wulan untuk memastikan sekali lagi.


William menggeleng. “Tidak, Ma. Keputusanku sudah bulat,” jawab William dengan wajah serius.


Tak berselang lama, sopir William datang.


“Nona Zoya, biarkan saya membawakan koper-koper Anda ke dalam bagasi mobil,” ucap sopir tersebut lalu mengambil barang-barang Zoya.


Zoya menolehkan kepalanya kepada Desi, lalu memeluk wanita paruh baya yang sudah merawatnya selama lima belas tahun terakhir.


“Bibi Desi, terima kasih atas jasa-jasamu selama ini. Aku benar-benar bersyukur karena sudah mengenal wanita sebaik dirimu. Aku sangat menyayangimu, Bibi,” ucap Zoya.


Desi mengusap punggung Zoya. “Bibi juga sayang padamu, Zoya. Kamu jaga diri baik-baik. Jadilah istri yang baik untuk suamimu,” pesan Desi.


Zoya mengangguk, lalu melepaskan pelukannya. “Aku pasti akan sangat merindukan Bibi,” ucapnya.


“Kau boleh mengunjungi Bibi kapan pun kau mau,” ucap Desi.


Zoya dan William berpamitan kepada Wulan, Ryan, Desi, dan Leila. Setelah itu, mereka pergi dengan diantar oleh sopir pribadi William.


Begitu William dan Zoya pergi, Desi menangis sejadi-jadinya. Berpisah dengan Zoya secara mendadak membuat Desi merasa cemas. Ia sudah merawat Zoya selama lima belas tahun. Tak pernah sekali pun ia melewati hari tanpa bertemu dengan Zoya. Tapi malam ini, mereka harus berpisah.


Tak hanya Desi, Wulan dan Ryan juga merasa cemas. Mereka belum bisa percaya dengan William. Mereka takut kalau William akan membawa Zoya ke tempat yang jauh dari kota.


“Pa, sebaiknya kita mengikuti mereka untuk memastikan kalau William benar-benar membawa Zoya ke rumah baru mereka, bukan ke tempat lain,” ucap Wulan dengan gusar.


Ryan mengangguk. Dia setuju dengan usulan sang istri. “Ayo, Ma. Kita berangkat. Desi, Leila, kalian di sini saja. Aku dan istriku akan mengabari kalian nanti kalau kami sudah memastikan Zoya benar-benar aman,” ucap Ryan.


Ryan dan Wulan bergegas keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Diam-diam mereka mengikuti mobil yang membawa Zoya dan William dari belakang.




**Isi Bab terpanjang aku di NT. Mau jadiin 2 bab nggak sempat, jadi lanjut aja. Soalnya mau ke rumah sakit lagi, rwat inap emak. Minta doa nya ya kak. Terima kasih selalu untuk semua dukungannya**.🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2