
Setelah mencaci maki masakan Zoya, William masuk ke ruang kerjanya yang berada di lantai satu sambil mengomel. Dari kejauhan Zoya mengintipnya karena dia penasaran ke mana William akan pergi setelah mengomelinya. Begitu punggung William menghilang di balik pintu, Zoya mengedikkan bahunya lalu kembali menyantap sarapannya.
Gadis itu tak terlalu memikirkan tentang ucapan William selama dia merasa kalau masakannya tetap enak dan bisa dimakan. Zoya bukanlah koki restoran bintang lima, jadi dia tidak akan mengambil pusing dengan ucapan pedas William.
Sementara itu, William yang sudah berada di depan meja kerjanya mengecek e-mail-nya. Mendapati bahwa tidak ada laporan atau pekerjaan yang masuk, William lantas mengambil ponselnya dari saku celananya. Dia kemudian mencari nama ayahnya di kontak dan menelepon ayahnya.
“Halo, Liam? Ada apa menelepon pagi-pagi begini?” tanya Ryan, mengerutkan dahinya.
“Papa, aku akan mulai bekerja dari rumah. Jadi, Papa bisa mengirimkan pekerjaan-pekerjaanku lewat e-mail. Aku akan mengerjakannya dari rumah. Untuk meeting aku juga akan melakukannya dari rumah,” jelas William.
Di seberang sana senyuman Ryan mengembang sempurna. Dia merasa kalau menikahkan William dengan Zoya membuat anaknya bersemangat untuk hidup kembali. Entah apa yang dilakukan Zoya sehingga membuat William semangat untuk kembali bekerja. Yang jelas, Ryan akan sangat berterima kasih kepada Zoya untuk semua yang dia lakukan nanti.
“Baiklah, nanti aku akan mengirimkan pekerjaan-pekerjaan untuk dirimu,” ucap Ryan. Meskipun terkejut dengan keputusan William yang terkesan tiba-tiba, ia tetap menyetujuinya. “Tapi ....”
“Tapi apa, Pa?” tanya William.
“Tapi, kalau kamu masih mau menghabiskan waktu untuk bulan madu Papa juga tidak masalah. Kalian baru saja menikah jadi kalian berhak memiliki waktu berduaan tanpa ada yang mengganggu,” ucap Ryan. Meskipun dia tidak mengharapkan kehadiran seorang cucu di waktu terdekat, bulan madu dapat membuat hubungan Zoya dan William jadi semakin dekat jadi dia merekomendasikan hal tersebut pada William.
“Aku dan Zoya tinggal hanya berdua saja di sini, Pa. Kami bisa menghabiskan waktu lebih banyak berduaan tanpa gangguan orang lain. Kami bisa selalu bermesraan setiap hari,” kilah William.
Ryan terkekeh kecil. Dia sama sekali tidak curiga dengan alasan William karena kemarin dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau William bersikap manis kepada Zoya.
“Baiklah, baiklah. Aku setuju kalau kamu ingin kembali bekerja,” balas Ryan pada akhirnya.
__ADS_1
“Terima kasih, Pa. Aku akan menunggu kabar tentang pekerjaanku secepatnya,” ucap William, lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Wulan yang mendengar suaminya tadi berbicara dengan William melalui telepon dengan antusias bertanya pada Ryan apa saja yang dikatakan oleh William.
“Apa yang Liam katakan, Pa?” tanya Wulan.
“Liam berkata kalau dia akan kembali bekerja, Ma. Dia akan bekerja dari rumah,” jawab Ryan.
“Papa tidak menyuruhnya untuk bulan madu terlebih dahulu dengan Zoya?” tanya Wulan lagi. Bagi mereka, pasangan yang baru saja menikah wajib hukumnya melakukan bulan madu. Tidak hanya supaya mereka cepat memiliki keturunan, tapi bulan madu dapat mempererat tali pernikahan mereka.
“Aku sudah menyuruhnya untuk bulan madu terlebih dahulu. Tapi, dia menolak dengan alasan kalau mereka tinggal berdua saja di rumah itu jadi mereka bisa bermesraan setiap hari,” jelas Ryan, sesuai dengan ucapan William tadi.
Wulan terkekeh geli. Ia tidak menyangka kalau William yang di depan mereka selalu menunjukkan kalau dia tidak menyukai Zoya justru bersikap manis dengan Zoya. Bahkan pria itu mau bermesraan dengan Zoya. Sepertinya William hanya malu memperlihatkan hal tersebut di depan orang lain.
Ryan mengedikkan bahunya. “Entahlah. Tapi bisa jadi, Ma,” jawabnya cuek.
Di sisi lain, William merasa lapar setelah menelepon ayahnya. Perutnya masih terasa lapar karena dia baru makan sedikit. William akui masakan Zoya memang terasa enak, hal yang tak biasa baginya karena menyukai masakan orang asing. William kelaparan, tapi dia merasa gengsi kalau harus memakan masakan Zoya. Ia pun akhirnya memilih untuk memesan makanan.
Sementara itu, Zoya yang sejak awal sudah menyiapkan hatinya supaya tidak terluka dengan perlakuan William menghabiskan makanannya dengan tenang. Dia menyantap makanan sambil bersenandung kecil. Tidak peduli kalau William berkata masakannya tidak enak. Menurut Zoya, William hanya sedang mencari-cari alasan saja untuk memarahinya.
“Mau aku apakan makanan yang tersisa?” ucap Zoya lirih. Masih ada masakan utuh di atas meja makan yang belum disentuh sama sekali. “Ah aku berikan pada orang yang lewat sajalah,” ucapnya lagi.
Zoya pun memasukkan makanan tersebut ke dalam kotak, berniat untuk memberikannya kepada seseorang yang mungkin saja akan lewat di depan rumah William. Setelah selesai memasukkan makanan ke dalam kotak, Zoya keluar dari rumah dan berdiri di depan gerbang untuk menunggu seseorang yang akan lewat.
__ADS_1
Tak lama kemudian, seorang kurir justru datang dengan membawa sebuah kotak makanan. Zoya mengerutkan dahinya. Dia merasa geli dengan tingkah laku William yang gengsi memakan masakannya.
“Permisi, Nona. Apakah benar ini rumah William Sadjaja?” tanya kurir tersebut.
“Iya, benar. Apakah itu makanan pesanannya?” tanya Zoya.
Kurir itu mengangguk. “Iya, Nona,” jawabnya.
“Bolehkah aku melihat makanan apa yang dia pesan?” tanyanya. “Jangan khawatir dia adalah suamiku tapi kami sedang sedikit bertengkar jadi dia gengsi memakan masakanku,” jelasnya supaya kurir itu tidak curiga.
“Boleh silakan saja,” jawab kurir itu lalu membuka makanan yang dipesan oleh William. Zoya merasa geli saat melihat makanan pesanan William sama dengan menu yang dia masak tadi.
“Pak, makanannya untuk bapak saja. Masakannya ternyata sama dengan masakanku. Aku akan memberikan masakanku kepada suamiku. Tapi bapak jangan bilang kalau aku mengganti pesanannya,” ucap Zoya.
Kurir itu tersenyum lebar. Ia merasa senang karena mendapatkan rezeki nomplok di pagi hari. Sudah mendapatkan order dan diberikan tip banyak, dia juga dapat makanan gratis.
“Baik, saya tidak akan bilang kalau makanannya diganti. Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap kurir itu lalu bergegas pergi.
Zoya kembali masuk ke dalam rumah sambil tersenyum miring. Dia lantas pergi ke depan ruang kerja William. Dia menimbang-nimbang apakah dia harus masuk atau meletakkan makanan William di meja samping pintu saja. Tapi karena tidak tega, dia akhirnya menata makanan William di meja ruang makan.
Zoya mengetuk pintu ruang kerja William, lalu berkata, “Mas, makanan yang kamu pesan sudah aku tata di atas meja makan,” ucapnya lalu pergi.
Di dalam ruang kerja, William menggerutu karena dia tidak bisa menindas Zoya sama sekali. Zoya bahkan tampak seperti tak mempermasalahkan sikap dinginnya.
__ADS_1