
William tidak mengerti dan tidak ingin peduli kenapa Zoya tersenyum dan mengatakan akan ada hadiah untuknya. Karena saat ini, perhatian William hanya terfokus pada Renata. William tidak menyadari kesalahan besar yang baru saja dilakukannya. Kesalahan yang pasti akan disesalinya suatu saat nanti. William mengabaikan Zoya, dan pergi dari apartemen dengan terburu-buru. William tidak pernah melihat Zoya yang terus menatapnya.
Ketika pintu tertutup, saat itulah air mata Zoya kembali menetes. Zoya terduduk di atas sofa, karena kakinya tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya sendiri. Zoya sudah menyiapkan dua kotak hadiah untuk William. Hadiah pertama, ada sebuah cincin pasangan yang Zoya beli untuk mereka, sayangnya, Zoya harus memberikan William kotak kedua. Sebagai pertanda perpisahan di antara mereka.
Zoya meletakkan kotak hadiah itu di kamar tidur mereka berdua. Zoya memutuskan untuk pergi dari rumah William malam ini. Lagi pula, Zoya bisa menyewa salah satu kontrakan sederhana untuk sementara waktu. Karena Zoya yakin proses perceraian mereka tidak akan berlangsung lama. Zoya segera menghubungi pengacaranya, untuk segera mengirimkan dokumen gugatan cerai yang telah lama Zoya siapkan ke pengadilan. Zoya kembali melihat sekeliling rumah mereka untuk terakhir kalinya, Karena setelah ini, Zoya tidak akan pernah menginjakkan kakinya di rumah ini lagi.
***
William yang sudah sampai ke apartemen yang diberikannya untuk Renata, segera masuk ke dalam apartemen tanpa menggunakan bel. William berlari menuju kamar Renata. William tidak bisa menutupi raut wajah cemasnya.
“Renata? Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kita perlu pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kakimu? Aku tidak mau kau menderita hanya karena terlambat ditangani.” Renaga segera memeriksa kondisi tubuh Renata. Untuk mencari luka lain yang mungkin ada di sana.
“William, aku baik-baik saja. Aku tadi kurang berhati-hati, ini menyebabkan aku tergelincir dan pergelangan kakiku cedera. Dokter sudah memeriksa aku tadi, jadi aku tidak perlu datang ke rumah sakit lagi. Terima kasih karena kau sudah mengkhawatirkan aku. Dan maafkan aku harus merepotkanmu malam ini.” Renata segera menunjukkan wajah sedihnya. Sebagai tanda bahwa Renata merasa bersalah saat ini.
Ketika tahu bahwa hari ini adalah hari pernikahan William, Renata sangat frustrasi, karena terus memikirkan cara untuk membuat William menemaninya malam ini. Sebab Renata ingin menunjukkan kepada Zoya, bahwa tidak ada yang lebih penting bagi William selain dirinya. Hingga akhirnya Renata berpikir untuk membuat kecelakaan kecil pada dirinya sendiri. Renata yakin William pasti akan datang tanpa banyak berpikir.
Siapa sangka, bahwa rencana Renata benar-benar berhasil. Tentu saja Renata merasa sangat senang, karena bisa menggagalkan waktu istimewa bagi William dan Zoya. Seandainya saja Zoya tidak menantangnya saat itu, Renata pasti tidak akan melakukan hal sekejam ini pada Zoya.
“Apa yang kau katakan? Saat ini kesehatan adalah yang terpenting bagiku. Bagaimana bisa kau berpikir jika kau telah menggangguku. Aku akan menemanimu sampai kau tidur. Setelah itu baru aku akan kembali ke rumah.” William segera membantu Renata untuk beristirahat dan memakaikan selimut pada Renata.
__ADS_1
“Apakah kau tidak bisa menemani aku malam ini, William? Kau tahu, aku pasti akan merasa sangat tidak nyaman jika sendirian di kamar ini. Jadi aku mohon, temani aku malam ini. Setelah ini, aku tidak akan meminta hal yang berlebihan darimu lagi,” ucap Renata sembari menunjukkan wajahnya yang terlihat sangat sedih, karena berpikir William akan meninggalkannya.
“Maafkan aku, Renata. Aku tidak bisa menemanimu malam ini, karena aku sudah berjanji pada Zoya, aku akan segera kembali untuk mengobrol dengannya. Zoya mengatakan kepadaku bahwa ada hal penting yang ingin disampaikannya, selama ini, aku jarang sekali mengobrol secara pribadi dengannya. Untuk kali ini saja, biarkan aku pulang. Aku berjanji besok malam aku akan menemanimu di sini.” William kembali teringat pada senyuman Zoya yang terlihat sangat aneh. Membuat William merasakan perasaan tidak nyaman di hatinya, seolah akan ada sesuatu masalah yang besar, yang akan datang menghampirinya.
Meskipun merasa sangat kesal, tetapi Renata tidak bisa mengatakan semua itu kepada William. Renata tidak ingin sampai William berpikir bahwa Renata adalah wanita yang tidak baik. Sebisa mungkin, Renata akan menjaga sikap anggunnya dihadapan William. Lagi pula kita sudah berjanji bahwa akan menemani Renata besok malam. Tidak akan ada bedanya malam ini atau besok malam. Tetapi Renata berpikir untuk menahan William lebih lama di sisinya malam ini.
“Baiklah, aku tidak akan menahan kepergianmu. Tetapi maukah kau menemani aku mengobrol sampai aku mengantuk, William? Apakah permintaanku ini juga tidak bisa kau penuhi?” tanya Renata yang menunjukkan wajah memelasnya pada William.
“Baiklah, aku akan menemanimu sampai kau mengantuk. Setelah itu kau harus segera tidur untuk beristirahat. Karena aku tidak mau kondisimu semakin buruk, sebab kau tidak menjaga dirimu dengan baik.” William tidak pernah bisa menolak Renata setiap kali Renata menunjukkan wajah memelasnya.
“Terima kasih, William. Aku tahu kalau kau adalah pria terbaik. Aku akan mengikuti semua yang kau perintahkan.”
“Renata, sekarang sudah lewat tengah malam, sebaiknya kau segera beristirahat. Karena aku harus segera kembali sekarang. Kau jagalah dirimu baik-baik. Aku akan menemanimu besok. Jadi jangan marah, dan cepatlah tidur.”
Meskipun awalnya Renata ingin membiarkan William pergi, tetapi Renata tidak ingin membuat kesempatan bagi William dan Zoya bisa rujuk Kembali. Oleh karena itu, Renata segera menggoda William, hingga akhirnya, William menginap di apartemen Renata, karena mereka sudah melakukan aktivitas panas bersama. Cedera ringan di kaki Renata, tidak akan menghalangi gerakan mereka untuk mencapai puncak kenikmatan bersama.
***
William terbangun ketika mendengar suara alarm di ponselnya berbunyi. Saat William sadar di mana dirinya berada saat ini, William tentu saja merasa sangat kesal pada dirinya sendiri. Karena tidak bisa menahan nafsunya. hingga akhirnya mereka berakhir dengan percintaan panas semalam. William sudah tidak sempat untuk kembali ke rumah, oleh karena itu prinsip memutuskan untuk menggunakan pakaiannya yang ada di apartemen Renata untuk pergi ke kantor. Karena William harus mengikuti rapat pagi ini.
__ADS_1
Meskipun William merasa pusing untuk mencari alasan yang harus dikatakannya kepada Zoya nanti, tetapi William tidak ingin memikirkannya sekarang. Karena rapat ini jauh lebih penting daripada masalahnya dengan Zoya. Lagi pula Zoya selalu percaya padanya, William yakin kali ini Zoya juga akan melakukan hal yang sama. Itu sebabnya, kecemasan yang tadi sempat William rasakan, kini telah menghilang begitu saja.
William menyelesaikan rapatnya dengan baik, hari ini William memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama Zoya, sepertinya William harus mencari hadiah untuk membujuk Zoya nanti. Agar Zoya tidak terus marah kepadanya. William kembali teringat dengan kado yang dikatakan oleh Zoya, William mencoba mengingat hari apa semalam. Ketika William melihat kalender yang ada di atas mejanya, William baru menyadari jika semalam adalah ulang tahun pernikahan mereka. Saat itu juga, William menyadari bahwa hubungannya dengan Zoya tidak akan baik-baik saja.
Tanpa berpikir panjang, William segera kembali ke rumah dan meninggalkan semua pekerjaannya hari ini. Karena masalah antara dirinya dan Zoya jauh lebih penting dibandingkan dokumen yang ada di atas mejanya. William menyesali dirinya sendiri, karena sudah bersikap begitu bodoh. Zoya pasti tidak akan bisa memaafkannya kali ini. William tidak tahu apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki semuanya.
“Zoya, aku mohon maafkan aku, karena aku melupakan hari yang penting untuk kita,” ucap William setelah masuk ke dalam rumah. William mengatakan itu, karena berpikir jika Zoya ada di dapur sekarang. Tetapi William tidak menemukan Zoya di sana. Tentu saja ini membuat firasat William semakin kuat, bahwa akan ada hal besar yang terjadi dalam hubungannya dengan Zoya.
“Kenapa hanya ada kau di sini? Ke mana Zoya? Bukankah biasanya Zoya berada di dapur sekarang?” tanya William pada pelayan yang ada di sana.
“Maafkan saya, Tuan. Tetapi sejak saya datang, saya sama sekali tidak melihat keberadaan Nyonya. Bahkan Nyonya tidak keluar untuk sarapan. Saya sudah mengetuk pintu kamar beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Saya pikir Nyonya masih tidur, sehingga saya tidak berani masuk ke dalam kamar.”
“Apa? Zoya tidak keluar sejak tadi? Apa kau yakin jika kau tidak sedang berbohong saat ini?” William masih tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh pelayannya.
“Saya sama sekali tidak berbohong pada Anda, Tuan. Apa sudah terjadi sesuatu pada Nyonya, Tuan?” tanya pelayan itu yang sekarang justru merasa sangat cemas jika terjadi sesuatu kepada Zoya.
“Jangan bicara omong kosong. Aku akan melihat Zoya sekarang. Kau jangan mencoba untuk mendekati kamar.” Willu tidak ingin pelayan tahu masalah yang terjadi di antara dia dan Zoya.
“Baik, Tuan.”
__ADS_1
William memasuki kamar, tetapi William tidak bisa menemukan Zoya di sana. William hanya melihat sekotak kado yang diletakkan Zoya di atas ranjang. Ketika mengangkatnya, William merasa isi di dalamnya sangat ringan. William buru-buru membuka kotak kado tersebut, dan saat William melihat isi di dalamnya, William merasa dunianya hancur seketika.