
Setelah sebelumnya melihat William keluar dengan wajah memerah marah, Zoya segera berpamitan pada semua anak buahnya. Dia mengatakan mungkin dia tidak akan bisa datang ke galleri itu lagi saat dia akan pulang ke rumahnya nanti.
"Semuanya, terima kasih sudah bekerja keras selama ini. Aku harap kalian akan tetap bertahan menjaga dan merawat galeri ini untukku. Dan mungkin ini adalah kesempatan terakhir aku di sini sebelum aku pulang. Karena kemungkinan besar aku akan sulit untuk datang kemari. Jadi sekali lagi terima dan tetap tolong jaga kekompakan serta rawat galeri ini untukku!"
Zoya melambaikan tangannya ke arah mereka sebagai salam perpisahan. Kemudian dia mengambil tas miliknya yang ditaruh di atas meja. Kemudian wanita itu melangkah pergi meninggalkan galeri dan semua orang di sana.
Di dalam hati Zoya, dia berdoa semoga William tidak marah besar terhadap dirinya. Zoya sendiri benar-benar takut jika pria itu benar-benar marah padanya. Karena itu dia bergegas untuk pulang ke rumah. Tetapi yang tidak dia tahu, sepeninggal dirinya, semua pegawai di geleri itu mulai membicarakan Zoya.
Mereka menilai jika Zoya lebih cocok dengan Damar. Karena mereka kasihan melihat Zoya menikah dengan pria lumpuh, walaupun akhirnya pria itu kini sudah bisa berjalan dengan normal kembali, tetapi sikap dan arogansi William membuat kebanyakan dari para pegawai itu tidak menyukainya.
"Memangnya kenapa kalau Tuan Liam lebih tampan dan kaya? Dia tetap saja arogan dan sikapnya yang sombong itu tidak bisa ditoleransi lagi," ujar Susi kesal dengan segala keluhannya tentang pria bernama Liam tersebut.
Bagi Susi dan sebagian besar pegawai di sana, Damar adalah pilihan yang tepat untuk Zoya.
"Benar, aku setuju denganmu Susi. Menurutku juga lebih baik Zoya bersama dengan Damar. Mereka lebih cocok dan tampak serasi satu sama lain. Apalagi mereka sudah lama mengenal," sahut pegawai lainnya setuju.
Mendengar ini, Susi semakin menggebu-gebu membela Damar dibandingkan dengan William. Dia lupa jika Zoya sekarang sudah menjadi istri dari pria tersebut.
"Awal pertama dia menikah dengan pria itu, aku sudah merasa kasihan dengan Zoya karena gadis secantik dan sebaik dia harus mengorbankan hidupnya demi seorang pria duda yang lumpuh." Raut wajah Susi penuh dengan rasa iba pada wanita itu.
"Tetapi sekarang, lihat? Aku bahkan lebih mengasihani Zoya setelah pria itu sembuh dan kembali normal lagi. Bukannya berterima kasih kepada Zoya yang sudah merawatnya selama ini tanpa pamrih, tapi pria itu justru sombong dan penuh amarah saat menghadapi Zoya. Dasar manusia tidak tahu diri! Tidak tahu balas budi!" umpat Susi memaki Liam penuh dendam.
Sementara semua pegawai salon sedang membandingkan antara Damar dan William, Zoya telah sampai di rumah mertuanya. Wanita itu melangkah masuk ke dalam rumah dengan kedua tangan menggenggam erat tas miliknya. Ada sedikit ketakutan dan keraguan di hati Zoya saat ini. Tetapi dia tetap melangkah dengan memberanikan dirinya sendiri.
Zoya masuk dan mencari keberadaan William di dalam rumah itu, tetapi sebelumnya meminta pelayan menyimpan kue ulang tahun yang dibawanya. Zoya mencari William, tetapi dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan William di sana. Karena itu Zoya berniat menuju ke kamar tidurnya di lantai atas untuk melihat, siapa tahu William ada di sana sedang menunggu dirinya. Dengan pemikiran itu, Zoya perlahan melangkah menaiki anak tangga itu, tetapi sebelum dia menginjakkan kakinya di anak tangga ke dua, sudut mata Zoya melihat dua sosok yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Pa, Ma," sapa Zoya dengan penuh rasa hormat.
__ADS_1
Namun kedua orang itu hanya mengangguk kecil untuk menjawab sapaan Zoya. Membuat wanita itu sedikit menaikan alis matanya, karena bingung dengan sikap kedua orang itu yang tidak seperti biasanya.
Sementara itu, Wulan dan Rian duduk gelisah di atas sofa itu, saat pandangan mata Zoya menatap lurus ke arah mereka berdua. Tak pelak hal ini membuat Wulan dan Rian merasa canggung, ditatap sedemikian rupa oleh menantu mereka.
"Pa, Ma … ada apa? Kenapa kalian terlihat gelisah seperti ini?" tanya Zoya yang merasa heran dengan sikap canggung kedua mertuanya itu.
"Ehh, tidak … tidak. Tidak ada apa-apa, Zoya," bantah Wulan segera dengan gugup.
Namun itu justru semakin menumbuhkan kecurigaan pada Zoya. Zoya mengerutkan keningnya saat menatap bolak-balik antara keduanya. "Jadi?" desak Zoya.
Wulan dan Rian saling bertukar pandang, sebelum akhirnya mendesah pasrah. Dengan wajah menunduk lesu, Wulan menghindar dari tatapan Zoya. Sedangkan Rian, sebagai laki-laki akhirnya dia yang menonjol walaupun raut wajahnya tak ada beda dengan sang istri.
Dengan wajah tersipu, Rian mengatakan kepada Zoya yang sebenarnya.
"Sebenarnya, William sudah pulang lebih dulu satu jam lalu,” ujar Rian memberitahu Zoya.
Rian bisa melihat jika menantunya itu sempat terkejut untuk sesaat, tetapi segera Zoya tersenyum dengan tenang di depan mereka.
"Ooh … begitu. Jadi dia sudah pergi?" Meskipun Zoya berpura-pura tidak merasakan apapun, tetapi sebenarnya hati wanita itu sakit, saat mendengar kepergian sang suami tanpa berpamitan lebih dulu dengan dirinya apalagi dia sudah merencanakan pesta ulah tahun kejutan untuk William.
Raut wajah bersalah tergambar jelas pada diri Rian. Pria baya itu merasa tidak memiliki muka untuk menghadapi menantu yang sangat baik dan berjasa terhadap kesembuhan putra mereka, William. Namun William justru bersikap seperti ini pada istrinya sendiri.
Mengangguk malu, Rian meminta maaf kepada Zoya.
"Zoya, maafkan kami. Kami sudah berusaha untuk menghentikan Rian, tetapi anak itu tidak mau mendengarkan nasihat kami. Jadi William tetap memilih pergi sendirian tadi sore," terang Rian merasa malu saat mengatakannya.
__ADS_1
Namun wanita itu justru tidak mempedulikannya. Dia hanya peduli pada kenyataan sekarang ini.
"Tidak apa-apa, Pa. Ini bukan salah kalian. Lagi pula dia pergi juga pasti ada alasannya sendiri, bukan? Untuk ulang tahun, masih ada tahun depan." Zoya berpura-pura tersenyum menerima itu. Meskipun di dalam hatinya, perasaan Zoya hancur berantakan. "Kalau begitu, aku ke kamar dulu. Selamat istirahat, Pa. Selamat istirahat, Ma," ucap Zoya berpamitan untuk istirahat di dalam kamarnya sendiri.
Tentu saja Wulan dan Rian membiarkan dia pergi. Karena mereka bisa melihat jika wajah menantu mereka sekarang terlihat sangat kacau walaupun Zoya mencoba untuk menyembunyikan. Mereka tahu jika menantu mereka itu pasti sangat kecewa dengan sikap William. Tetapi mereka berdua tidak bisa berbuat apapun untuk saat ini. Semuanya terlalu tiba-tiba saat terjadi. Mereka hanya bisa merasa kasihan dengan Zoya, melihat punggung wanita itu sangat tipis dan terlihat sangat rapuh.
Rian mendesah pasrah, saat itu ia juga bangkit berdiri meninggalkan sofa empuknya. Ketika dia menoleh ke arah sang istri, betapa terkejutnya Rian melihat wajah pucat sang istri.
"Sayang …"
***
Setibanya di kamar, Zoya mencoba untuk menghubungi sang suami. Tetapi sayangnya panggilan telepon darinya tidak pernah diangkat. Dia juga mencoba mengirimi pesan teks William. Namun belum juga ada balasan dari pihak lain. Zoya menyerah dan melemparkan ponselnya ke sisi lain tempat tidur, sementara dia membaringkan tubuhnya yang lelah di sana.
Ingatan wanita itu berputar kembali ke kejadian tadi siang waktu di gelerinya. Willaim yang tak sengaja melihat dia sedang tertawa lepas saat mendengar Damar mengatakan sesuatu yang lucu kepadanya tadi. Saat itu Zoya bisa melihat bagaimana wajah William berubah dalam sekejap saat menatap ke arahnya. Lalu ketika pria itu berbalik pergi, Zoya sempat melihat bagaimana sorot mata William begitu tajam dan penuh kemarahan ke arah dirinya, lalu pergi begitu saja tanpa menyapa Zoya.
"Mungkin dia masih marah padaku karena hal itu," lirih Zoya bergumam pada diri sendiri.
Wajah Zoya terlihat kusut sekarang, memikirkan pria yang dia nikahi malah pergi begitu saja saat terjadi kesalahpahaman di antara mereka berdua.
"Harusnya kau tunggu aku pulang untuk menjelaskan semuanya padamu," keluh Zoya memeluk bantal guling di ranjangnya.
Setelah lama berguling-guling di atas ranjang, akhirnya Zoya memutuskan untuk tidur setelah dia meyakinkan dirinya bahwa mungkin saja besok William sudah akan pulang dan mereka memiliki kesempatan untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini bersama-sama. Dengan pemikiran naif itu, dia jatuh tertidur dengan lelap.
__ADS_1
Keesokan harinya, Zoya yang berniat mengatakan bahwa dia akan pulang kepada kedua mertuanya saat sarapan pagi, menemukan bahwa meja makan itu kosong. Tidak ada orang di ruangan itu. Atau tepatnya di seluruh rumah kosong seperti tak berpenghuni. Dia baru tahu jika kondisi Wulan drop tanpa sebab sejak semalam. Hal ini membuat Zoya mengurungkan niatnya untuk pulang. Di dalam hatinya, Zoya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Wulan tersebut.
"Ada apa dengan Mama?"