ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 10


__ADS_3

Tubuh Bu Merry gemetar. Keringat dingin mengucur deras di kening dan tengkuknya. Sorot tajam Bramanto pada nya membuat nya gugup dan salah tingkah karena takut. Duduknya gelisah, jemarinya saling bertaut.


Terlebih para pengawal Bramanto yang berdiri tegak di sekeliling ruangan tamunya.


“Aku minta kembalikan uang ku !” ucap Bramanto tegas dengan suara khas nya yang berat.


Bu Merry ketakutan. Dia menggeleng-geleng panik. Uang yang dia terima dari Bramanto karena hasil “menjual” Lusi sudah habis dia pakai.


“Maaf, Pak. Uang nya sudah saya pakai untuk menebus sertifikat rumah ini dari bank dan membayar hutang-hutang yang ditinggalkan Almarhum suami saya,” jawab Bu Merry terbata-bata. Dia tertunduk tak berani mengangkat wajahnya.


“Anak tirimu itu kabur, aku sama sekali belum menyentuhnya. Jadi transaksi kita BATAL!”  ucap Bramanto lagi dengan suara nya yang menggelegar.


“Tapi kan saya sudah berbuat sesuai rencana kita, Pak. Saya sudah mengantarkan dia ke rumah anda. Kenapa dia bisa kabur? Berarti pengawal di rumah anda yang teledor,” sanggah Bu Merry tak mau disalahkan.


Bramanto melemparkan pandangannya pada semua pengawalnya yang berdiri mengitari tempatnya. Sorot matanya penuh amarah pada mereka. Satu persatu tertunduk di tatap sedemikian tajam oleh boss mereka itu.


“Begini saja, Pak. Saya akan bantu cari Lusi. Dan saya sendiri yang akan menyeret nya ke rumah anda.” Usul Bu Merry tiba-tiba memecah ketegangan diantara mereka.


Bramanto diam dengan rahang yang tampak menegang. Lalu bangkit dari duduk nya. Menatap wajah Bu Merry lekat-lekat. Hatinya masih tak percaya dengan omongan perempuan ini.


“Oke, aku kasih waktu 1 minggu kau bawa dia ke hadapanku. Atau anak gadis kau yang satu lagi sebagai gantinya.” Ancam Bramanto kemudian.


Hah, Priska? Aduuuhh, itu permata hati kesayangan aku, masa aku mau kasihkan sama bandot tua tukang rusak perempuan ini, Enak aja! Gak akan, Boss! Gumam Bu Merry dalam hati bergidik takut.


Tanpa menunggu jawaban Bu Merry, Bramanto melangkah keluar meninggalkan rumah itu disusul oleh para pengawalnya mengekorinya.


Bu Merry seketika terduduk lemas di sofa.

__ADS_1


“Lusi, dasar anak sialan! Bikin susah aja!” Makinya sendirian. Otaknya terus berpikir keras menerka-nerka keberadaan Lusi.


Kios Bunga! Pasti anak itu ngumpet di sana, tebak nya dalam hati.


Tanpa buang-buang waktu lagi Bu Merry meraih dompet dan kunci mobil dari atas meja. Lalu keluar memasuki sedannya. Dan mengendarainya dengan kencang menembus jalan raya yang tidak terlalu padat.


Bu Dahlia tampak sedang sibuk menyemprot semua bunga-bunga di basket-basket putih di sekelilingnya. Sesekali suaranya bersenandung pelan. Kebiasaannya selalu bersenandung ketika bekerja, untuk membangkitkan gairah di hati, katanya.


Bunyi mobil ban berdecit mengangetkannya. Bu Dahlia menghentikan senandungnya dan menoleh ke asal suara. Mobil sedan merah berhenti tepat di pekarangan kiosnya. Tampak olehnya Bu Merry turun dengan tergesa-gesa


dan melangkah menghampirinya.


“Ngapain wanita jahat itu kesini? Apa mau beli bunga? Biar nanti ku kasih bunga kuburan aja untuk dia,” gerutu Bu Dahlia dengan pandangan heran pada kedatangan ibu tiri Lusi itu.


Bu Merry membuka kacamata hitamnya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kios bunga Bu Dahlia. Langkahnya perlahan memasuki ruang dalam kios bunga itu.


“Mana anak sialan itu?” Tiba-tiba Bu Merry membalikkan badan menghadap Bu Dahlia yang hampir menabrak punggung nya karena mengekorinya dengan jarak yang sangat dekat.


Bu Dahlia gelagapan. Matanya memicing, dia tak mengerti siapa yang Bu Merry maksud dengan 'anak sialan'.


“Datang-datang langsung nanyain anak sialan. Siapa? Yang kerja disini anak baik-baik semua, Bu.” Protes Bu Dahlia sebal dan melebarkan kelopak matanya, melotot pada Bu Merry.


“Aaah, jangan banyak bacod! Lusi. Dimana kamu sembunyikan anak itu?” Bu Merry mengibaskan telapak tangannya di hadapan wajah Bu Dahlia.


“Lusi? Kok tanya sama aku? Ya di rumah mu lah, ehhh salah....Di rumah dia yang kamu tempati sekarang lah. Kok cari disini?” Nyinyir Bu Dahlia santai. Membuat Bu Merry makin kesal mendapat jawaban yang sangat menohok hatinya itu.


“Dia kabur, pasti kamu sembunyikan. Jangan pura-pura gak tau kamu, ya.” Bu Merry makin marah sambil berkacak pinggang menantang Bu Dahlia.

__ADS_1


“Hah? Lusi Kabur? Pasti kau hajar dia lagi ya makanya tu anak kabur.” Bu Dahlia malah balik menghardik Bu Merry. Dia menunjuk-nunjuk hidung Bu Merry dengan tatapan geram.


“Itu anak nyolong duit saya, dia kabur karena takut.” Alasan Bu Merry yang dia karang secepat kilat.


“Aaahhh! Mana mungkin Lusi nyolong. Dia itu anak paling jujur. Jangan jadi maling teriak maling lah. Sadar diri Bu, anda itu Cuma penumpang di rumah milik Lusi. Jangan dzolim sama anak itu. Bisa kualat nanti.” Bu Dahlia menceramahi Bu Merry yang kikuk karena ketahuan mengarang alasan.


“Aku gak punya waktu dengar ceramah kamu, jadi sekarang bilang sama aku, kamu sembunyikan dimana anak itu?” cecar Bu Merry lagi dengan rasa hati tak puas.


“Heh, pasang telinga baik-baik ya. Lusi tidak ada di sini. Terakhir dia kesini tiga hari yang lalu, dan saya suruh dia pulang lebih cepat karena dia kurang sehat. Setelah itu ya saya gak tau lagi Lusi ada dimana," tutur Bu Dahlia tegas.


Bu Merry tak puas dengan jawaban Bu Dahlia, dia masih tak percaya dengan omongan wanita pemilik kios bunga itu. Walaupun memang kenyataannya tak dia dapati Lusi di tempat itu.


Bu Merry melengos, lalu bergegas ngeloyor pergi dari kios itu tanpa permisi.


Bu Dahlia terpekur di kursi kerjanya. Benak nya langsung berpikir tentang Lusi.


“Kemana perginya anak itu? Apa yang terjadi padanya ya? Setau aku Lusi gak pernah kabur-kaburan walaupun dia sering diperlakukan kasar sama Ibu dan adik tirinya,” tanya Bu Dahlia dalam hati.


“Pasti ada sesuatu yang sudah sangat keterlaluan nih sampe-sampe Lusi pergi dari rumah. Awas aja kalo terjadi sesuatu pada anak baik itu, aku akan jebloskan si ibu tiri jahatnya itu ke penjara.”


Di dalam mobil, Bu Merry tampak makin gusar, panik dan takut. Di benak nya terngiang- ngiang kembali ancaman Bramanto yang mengerikan itu.


“Ini semua gara-gara kau, Lusi. Kalo kau gak kabur begini aku dan Priska sudah hidup tenang sekarang.” gerutu Bu Merry sendirian. Tangannya memegang tegang dan erat setir mobilnya.


“Dengan uang Bramanto aku bisa menebus sertifikat rumah itu dan sisanya akan aku pakai untuk bisnis investasi yang keuntungannya sangat besar. Tapi kau malah mengacaukan rencanaku, Lusi. Liat aja kau kalo ketemu akan aku hajar kau sampe memohon-mohon untuk nyusul orang tua mu ke akhirat!” ancam Bu Merry. Dia menggas mobilnya lebih kencang lagi menyusuri jalan raya.


LIKE, VOTE DAN KOMEN DARI PARA READER SANGAT MENDUKUNG SEMANGAT AUTHOR MENULIS, THANK YOU YA

__ADS_1


__ADS_2