ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 32


__ADS_3

Triiinggg...


Nada pesan masuk di aplikasi hijau terdengar di ponsel Lusi yang tergeletak di sampingnya. Lalu dia seret logo berlambang hijau itu untuk membaca isi pesannya


'Kamu gak kuliah?' pesan masuk dari Dio.


Namun Lusi enggan membalas. Dia hanya membaca lalu menutupnya.


Hari ini Lusi memang sengaja tidak berniat ke kampus karena sekujur tubuhnya terasa sakit dan tak nyaman. Tapi tentu saja tak sesakit dan seperih hatinya.


Semangatnya memudar seketika. Tak seperti biasanya, setiap pagi dia selalu bersemangat dan antusias mempersiapkan diri untuk pergi kuliah. Tapi kini yang dia inginkan hanyalah berbaring di atas ranjangnya.


Matanya sembab sisa tangis semalam. Ditambah lagi sepanjang malam sampai di pagi ini dia sulit sekali untuk memejamkan mata.


Triiinggg....


Kembali telepon genggamnya berbunyi. Pesan Whatsapp muncul dari Dio lagi.


'Kamu sakit atau kenapa, Lusi? balas ya.'


Kembali Lusi hanya membaca dan menutupnya.


Triiinggg....


Nada pesan masuk dari Whatsapp  berbunyi kembali untuk ke sekian kali.


'Apa suami kamu tau aku antar kamu semalam? Dia marah ya? Aku minta maaf ya, Lusi.' pesan dari Dio yang ketiga kali.


Lusi menghela nafasnya berat dan sesak.


'Bukan salah kamu, Dio. Ini semua salah aku. Seharusnya aku tau diri. Aku nggak pandai bersikap sebagai istri.' bathin Lusi pilu.


Di meja makan, Ferdian yang sudah rapi dengan setelan kemeja putih dan celana warna coklat muda menyantap sarapan


seorang diri.


Dia melirik kursi kosong di sampingnya yang biasa di tempati Lusi. Sepi terasa suasana hatinya pagi ini.


Di seruputnya kopi Latte-nya perlahan. Bayangan kejadian tadi malam terus menggelayuti benaknya. Ada rasa penyesalan yang begitu mendalam mengingat perbuatannya terhadap Lusi semalam.


“Mbak Ira,” panggil Ferdian melihat Mbak Ira yang muncul dari balik pintu dapur.


“Iya Boss.” Mbak Ira menghentikan langkahnya.


“Tadi malam Lusi sempat makan malam gak?“ tanya Ferdian kemudian.


Mbak Ira berpikir sejenak untuk mengingat.


“Kayaknya gak, Boss. Soalnya sampe tadi subuh makanan masih utuh di meja.”


Ferdian menghela nafasnya berat. Dia benar-benar merasa khawatir pada gadis itu.


“Nanti antarkan sarapan untuk Lusi ke kamarnya, ya,” perintah Ferdian.


“Baik Boss.”

__ADS_1


Ferdian bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju lantai atas. Tiba di depan pintu kamar Lusi dia hanya berdiri menyentuhnya.


Rasa bersalahnya kembali mendera bathinnya. Namun dia malu untuk mengakui.


Akhirnya dia hanya mengecupkan jemarinya saja, lalu ditempelkan ke daun pintu kamar itu. Kemudian kembali turun untuk segera berangkat ke tempat aktivitasnya.


Di kantor Ferdian


Pria tampan itu termenung menyandarkan kepalanya ke belakang. Pikirannya tak lepas dari gadisnya yang kini berada di rumah, Lusi.


Dia sangat menyesal dan merasa bersalah atas sikap dan perlakuannya terhadap Lusi tadi malam. Dia merasa tak sepantasnya menyakiti Lusi seperti itu.


Terngiang-ngiang ucapan Lusi sewaktu berada di bawah tubuhnya. Semakin membuat Ferdian merasa dirinya seorang yang bodoh dan tak layak untuk dimaafkan.


'Maafkan aku Lusi, aku emosi. Benar, aku cemburu melihat kamu pulang dengan laki-laki lain. Aku merasa dikhianati.' sesalnya dalam hati dan mengusap wajahnya gemas.


Tok....Tok.... Tok.....


Pintu diketuk dari Luar. Ferdian spontan menoleh. Tampak wajah Reynard dengan senyum semringah ciri khasnya muncul dari balik pintu.


“Selamat pagi, suami orang. Hehehe....” sapa Reynard menggoda Ferdian disertai tawa renyahnya. Seperti biasa.


Tanpa disuruh Reynard duduk di hadapan Ferdian. Diamatinya raut wajah sahabatnya itu. Ada yang janggal dipandangannya. Tampak kusut dan tanpa ada senyum sama sekali yang biasa ditampilkan di wajah itu.


“Heh, Bro. Kenapa kau ini? Macam ayam telan karet gelang saja,” tanya Reynard akhirnya.


Ferdian tak menyahut. Dia hanya menarik sudut bibirnya sekilas dan malas menjawab.


“Nah! Pasti soal perempuan nih? Lusi ya?” tebak Reynard seraya mendelikan matanya.


“Kenapa dengan Lusi? Kamu gak dikasih lagi ya?” terka Reynard, lalu tergelak keras.


Ferdian makin kesal melihat sahabatnya itu tertawa tanpa peduli pada perasaannya.


“Aku kesal sama dia. Semalam dia pulang diantar laki-laki. Katanya sih temannya.”


Ferdian buka suara juga. Dan Reynard makin terbahak-bahak mendengarnya.


“Terus, kau cemburu?"


“Ya cemburu lah! Suami mana yang gak cemburu liat istrinya pulang malam di antar cowok dalam satu mobil,” ucap Ferdian sewot.


Kembali Reynard terkekeh. “Itu namanya cemburu buta. Tandanya kau sudah jatuh cinta sama dia, Mas Bro.“


“Ah, enggak juga. Aku kan cuma jalanin peran aku sebagaimana mestinya. Dan aku bertanggung jawab atas keselamatan dia, Rey,” bantah Ferdian mencoba mengelak.


Reynard masih dengan tawa renyahnya menanggapi jawaban ngeles sahabatnya itu.


“Jangan membohongi diri sendiri. Akui saja kalo emang kau jatuh cinta sama Lusi."


Ferdian menggeleng menatap Reynard.


“Aku takut salah kalo punya perasaan begitu, Rey. Karena yang dia tahu aku dan dia menikah cuma karena ada suatu perjanjian. Tanpa pake perasaan."


“Loh? Salahnya dimana? Kau laki-laki, dia perempuan. Wajarlah kalo jatuh cinta. Kecuali kau laki-laki dia juga laki-laki, nah itu yang salah besar. Menyalahi kodrat,“ jawab Reynard seenaknya. Tapi ucapannya sangat betul.

__ADS_1


Ferdian mengangkat bahunya sedetik. Lalu kembali terdiam menatap sahabatnya yang selalu berperangai ceria itu.


“Ah, sudahlah. Perjanjian itu memang harus kita laksanakan sampai tuntas sesuai komitmen antara kau dan Lusi. Tapi bagaimanapun juga kalian itu suami istri yang sah. Biarkan saja perasaan kalian mengalir apa adanya. Jangan ditahan-tahan. Nikmati saja hubungan kalian sebagai suami istri sebagaimana mestinya."


Reynard menarik nafas sejenak dan menghelanya pelan sebelum melanjutkan kata-kata nya.


“Bersyukurlah kau, Bro. Sudah menikah dengan gadis muda, masih segar, cantik pula. Jangan disia-siakan anugerah itu. Baikan lagi, deh. Kau pulang lebih cepat, bawain dia hadiah kesukaannya, terus bawa dia ke kamar. Lalu___Ehmmm, kikuk-kikuk deh. Hahaha!” ujar Reynard disertai derai tawanya yang menggema.


Dan itu berhasil membuat Ferdian pun ikut mengeluarkan tawanya.


“Naaah, gitu dong. Nyengir lagi biar tambah handsome. Nih aku kasih hadiah buat kau.”


Reynard menyerahkan amplop besar berwarna coklat pada Ferdian. Lalu di bukanya amplop itu. Ternyata berisi sebuah flashdisk dan beberapa lembar berkas.


“Apa ini, Rey?” tanya Ferdian menunjukan Flashdisk hitam ditangannya.


“Itu berisi file data audit keuangan dan bukti-bukti adanya kolusi dan nepotisme yang dilakukan Bramanto dengan beberapa pejabat negara terkait. Dan ini ternyata sudah berlangsung sangat lama. Nanti kau baca saja detilnya,” tutur Reynard lugas.


Senyum Ferdian kembali mengembang. “Kau hebat, Rey. Ini akan jadi senjata pamungkasku nanti untuk menghancurkan Bramanto.”


Reynard mengangguk mantap dan mengangkat jempolnya.


“Dan ada lagi, Bro. Ternyata Bramanto sialan itu punya bisnis lain yang lebih berbahaya.”


Ferdian mengerutkan keningnya tanda tak mengerti maksud Reynard.


“Jual beli daging muda,” lanjut Reynard setengah berbisik.


“Apa bahayanya jual beli daging muda?” Ferdian makin tak mengerti dengan jawaban Reynard


“Aaah, kau ini sudah berumur tapi polos sekali. Maksudnya itu jual beli perempuan-perempuan muda, Bro. Dan yang nyaris jadi korbannya adalah istrimu sendiri,” jawab Reynard seraya menunjuk dada Ferdian.


“Astaga! Gila juga manusia satu itu,” umpat Ferdian gemas setelah paham maksud ungkapan Reynard.


“Aku ke rumahnya beberapa hari yang lalu. Dan aku liat dengan mata kepalaku sendiri ada wanita muda yang sedang nafsu tinggi di balkon kamarnya, cuma pake baju tidur seksi, Bro. Kira-kira usianya sama dengan istri kau, dua puluh tahunan gitu deh.”


“Disana aku juga ketemu dengan istri Bramanto, dia cerita semuanya tentang kelakuan sakit suaminya itu. Dan dia minta aku bantu dia untuk mengungkap kejahatan Bramanto yang satu itu,” tutur Reynard bersemangat.


“Hati-hati kau, Rey, untuk kasus yang satu itu. Karena kau belum punya akses terkait untuk urusan semacam itu.” Ferdian memperingati dengan penuh rasa khawatir pada sahabatnya itu.


“Siap, Bro. Kau bantu doanya aja. Oke.”


Ferdian hanya mengangguk menanggapi.


“Baiklah, aku pergi dulu, Bro. Sekertarisku yang seksi sudah calling terus dari tadi.”


"Okelah."


Reynard bangkit dari duduknya. Ferdian pun Ikut beranjak dan mengantarnya sampai pintu. Lalu menutup pintunya kembali.


Dari ruangannya, Ferdian masih mendengar sayup-sayup suara canda dan tawa renyah Reynard yang tengah asyik menggoda Vika sekertarisnya dan beberapa karyawati lainnya. Dia pun hanya geleng-geleng kepala, lalu tersenyum kecil.


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, 5BINTANG, KRITIK DAN SARAN NYA DI KOMEN YAH...


HAPPY READING...

__ADS_1


__ADS_2