
Veronika menggeleng-geleng kepala ketika menoleh ke dalam ruangan Reynard melalui pintunya yang terbuka lebar.
Tampak olehnya Reynard yang tengah berbincang-bincang manja dengan sekertaris barunya yang cantik dan seksi sesuai dengan seleranya.
Dipandangnya lebih lama sosok Reynard yang sedang tersenyum nakal menggoda sekertarisnya.
Lumayan ganteng sih, walaupun percaya dirinya terlalu tinggi bahkan menuju arogan. Tapi aku terpaksa harus mengakui kepiawaiannya dalam mengelola perusahaan sebesar ini. Pantas saja bertahun-tahun Om ku begitu percaya padanya. Pikir Veronika.
Terlepas apapun tujuan dia mengkhianati Omku, tapi patut aku acungi jempol. Akusisi yang dia ajukan untuk perusahaan ini justru sangat membantu perusahaan yang hampir down ini berjalan kembali. Bahkan jauh lebih sehat dari sebelumnya. Luar Biasa, membunuh tanpa menyentuh ini namanya. Puji Veronika dalam hati.
Tetiba Reynard menoleh ke arah pintu dan memergoki Veronika tengah berdiri tegak memandang ke arahnya. Tersadar Reynard memergoki dirinya, Veronika tampak salah tingkah lalu bergegas pergi.
Bener-bener sudah gak nyaman kerja disini. Berani-beraninya dia mata-matai aku, gerutu Reynard dalam hati.
Reynard beranjak dari duduknya setelah sekertaris cantiknya keluar dari ruangan. Dia raih kunci mobil dan ponsel dari atas meja lalu melangkah keluar meninggalkan ruangannya.
Hari ini sangat melelahkan baginya. Menghadiri beberapa meeting dengan klien penting dan meninjau gudang di pelabuhan, sangat menguras otak dan tenaganya.
Tujuannya sekarang hanya satu. Pulang. Dan segera berendam di bath tub dengan busa sabun yang melimpah. Dikelilingi lilin aroma terapi yang menenangkan pikirannya. Dan ditemani lantunan lagu-lagu romantis milik Broery Pesolima.
Begitulah salah satu cara dia menikmati hidup ke-jomblo-annya yang hakiki.
Dia melajukan mobil Jeep-nya dengan kecepatan sedang. Kebetulan jalan raya malam ini tidak terlalu padat. Membuatnya lebih santai dan tenang menginjak pedal gas.
Dari kaca spion dia melihat sebuah mobil sedan hitam yang terus mengikutinya sejak keluar dari gedung perkantoran tadi.
Entah apa tujuannya mengikuti Reynard. Namun Reynard curiga ada sesuatu yang tak beres akan menghampirinya.
Reynard terus waspada, menoleh ke kaca spion mencari tahu siapa di balik kemudi mobil yang membuntutinya itu. Tapi tak tampak jelas sosoknya.
Tiba di depan pintu masuk apartement, Reynard membelokkan mobilnya menuju parkir di lantai basement. Begitupun dengan mobil hitam itu ikut turun menuju lantai basement. Dan kini tepat berada di belakangnya.
Cahaya lampu di basement yang sangat terang membuat Reynard kembali memperjelas penglihatannya ke arah kaca spion di atas kepala untuk mencari tahu pengendara mobil yang membuntutinya.
Matanya seketika terbelalak ketika melihat jelas sosok di balik kemudi mobil itu. Veronika.
“Ngapain dia buntutin aku?" gumam Reynard bingung.
Dia memacu mobilnya lebih cepat untuk mencari lokasi parkir yang tepat. Lalu berhenti di dekat lift basement menuju pintu masuk.
Sambil mengawasi pergerakan mobil Veronika yang melewati mobilnya dan tampaknya masih berkeliling mencari tempat parkir yang luang untuk mobilnya.
Reynard segera keluar dari mobil dan langsung menuju lift yang tak jauh dari tempatnya, untuk langsung menuju unit apartementnya di lantai dua puluh lima.
Tiba di dalam apartement. Dia hempaskan tubuh lelahnya ke atas sofa seraya meletakkan satu kaki di atas meja. Pikirannya terus digelayuti bayangan sosok Veronika yang berada di balik kemudi mobil yang mengikutinya sejak tadi.
“Sudah mulai main kasar rupanya,” gumamnya dingin.
Dia merogoh ponsel dari dalam saku celana lalu mencari kontak Ferdian di dalam layarnya. Kemudian segera menggeser tanda memanggil.
Nada sambung terdengar lama dan tak ada jawaban. Penasaran, dia ulangi sekali lagi menggeser tanda memanggil.
Di seberang sana, Ferdian tengah bekerja keras di atas ranjang ‘menggarap’ tubuh polos Lusi yang terlentang pasrah berada di bawah kungkungannya.
Tak lama terdengar erangan halus dan panjang dari keduanya, tanda pasangan ini telah mencapai puncak kenikmatan bersamaan.
Ferdian menjatuhkan tubuhnya perlahan, menindih tubuh Lusi setelah semua cairan kehidupannya terkuras habis di dalam liang istrinya itu, lalu mencium pipi dan kening Lusi sejenak.
Diraihnya telepon genggamnya yang sedari tadi berbunyi, namun sama sekali tak mengusik kegiatannya bersama sang istri
“Hallo, Rey?” Ferdian menjawab dengan suaranya yang agak lemah.
“Lama banget sih jawabnya?“ protes Reynard dari ujung telepon.
“Bikin dedek,” jawab Ferdian sekenanya.
“Pantesan! Eh, Bro. Keadaan mulai darurat sekarang. Si Veronika itu sudah mulai main kasar rupanya. Di kantor dia mulai memata-matai kegiatan aku. Dan sekarang aku dapati dia membuntuti aku dari pulang kantor tadi sampai ke apartementku.”
“Hah?! Serius kau?”
“Seriuslah aku. Aku curiga jangan-jangan dia mau kirim orang untuk kerjain aku,” duga Reynard penuh curiga.
“Hati-hati saja kau, Rey. Pokoknya kau harus tetap waspada. Jangan sampai kejadian buruk aku dan Lusi terjadi juga sama kau. Kau harus hubungi aku kalo ada sesuatu yang mencurigakan. Oke?”
“Pasti, Bro. Okelah kalo begitu. Silakan dilanjutkan ronde-ronde berikutnya.“
Ferdian tersenyum lebar menanggapi. Lalu mengakhiri sambungan teleponnya. Kemudian melirik Lusi yang tertidur pulas dengan wajah lelahnya. Di kecupnya pipi istrinya itu sekilas lalu merapatkan selimut menutupi tubuh Lusi. Dan melangkah menuju kamar mandi untuk menunaikan mandi junubnya.
***
Pagi hari, Reynard bersandar pada dinding lift sambil mendengarkan musik-musik kesukaanya lewat earphone yang tersambung ke ponselnya.
Tak lama lift berhenti, lalu Reynard keluar dan melangkah santai menuju Sport Centre yang berada di lantai empat gedung apartementnya.
__ADS_1
Weekend kali ini dia ingin menghabiskan waktunya di gym. Mengolah otot-otot di tubuhnya yang mulai terasa kendur. Sekaligus cuci mata memandang wanita-wanita cantik dengan pakaian yang seksii dan terbuka yang juga berolahraga di sana.
Dia mulai dengan beberapa gerakan pemanasan, lalu menggunakan semua alat-alat pembentukan di gym itu. Didampingi oleh seorang personal trainer yang mengarahkan setiap gerakannya agar sempurna dan tak cedera.
Tubuhnya mulai basah berkeringat dengan ujung rambutnya yang menjuntai di kedua sisi keningnya, membuat Reynard tampak lebih seksi dan menggairahkan bagi setiap wanita yang memandangnya di tempat itu.
Dengan kedua lengannya yang berotot sedang, otot perutnya yang membentuk enam kotak sejajar rapi dan dadanya yang semakin bidang. Reynard merasa percaya dirinya naik ke level teratas.
Hampir satu jam mengolah raganya, rasanya enggan untuk kembali ke kamar. Reynard menghampiri kolam renang besar yang terpampang tak jauh dari area gym.
Lalu menempati kursi panjang sembari mengganti bajunya yang basah dengan t-shirt hitam tanpa lengan yang dia bawa di dalam tas olahraganya.
Dia berdiri berkacak pinggang memandangi sekeliling area kolam renang yang tampak sangat bersih dan teduh.
Pengunjungnya tak terlalu ramai, hanya beberapa orang dewasa dan anak-anak kecil saja yang tampak olehnya.
Terasa menyenangkan sekali baginya berada di tempat itu, melihat anak-anak kecil yang bersenda gurau di tepi kolam sambil bermain-main air.
Selama tinggal di apartement itu dia tidak pernah sekali pun mengunjungi kolam renang itu, karena di dalam unit pribadinya pun terdapat kolam renang khusus yang berukuran kecil.
Reynard membalikkan badan hendak kembali ke kursi panjangnya.
Tiba-tiba dia mendapati seorang anak kecil laki-laki berusia sekitar lima tahunan berdiri di sampingnya ikut membalikkan badan mengikuti gerakannya.
Reynard menatap anak kecil itu dengan bingung. Begitu pun dengan si anak itu, ikut menatap Reynard dengan ekspresi serupa.
Reynard berkacak pinggang menghadapnya, begitu juga si anak itu ikut berkacak pinggang menghadap Reynard.
Segala gerakan reynard ditirunya. Membuat Reynard tertawa kecil, begitupun si anak itu ikut tertawa menirukan cara tertawa Reynard, menampilkan deretan giginya yang kecil-kecil menggemaskan.
“Dasar bocah nakal,” seru Reynard padanya.
“Dasar Om nakal,” balas si anak tanpa takut.
“Sana main sama temen-temen kamu tuh,” tunjuk Reynard pada sekumpulan anak-anak kecil di tepi kolam.
“Gak mau, sukanya disini aja. Liat Om,“ jawab si anak itu dengan polosnya. Dia Masih berdiri berkacak pinggang menghadap Reynard.
“Ngapain liat aku? Emangnya aku topeng monyet?” canda Reynard seraya menduduki kursinya.
Anak itu pun ikut duduk di sampingnya dengan menirukan cara duduk yang sama dengan Reynard.
Reynard pun geleng-geleng kepala sambil tertawa.
Dia mengedarkan pandangan mencari asal suara. Begitu pun si anak kecil itu, ikutan celingak-celinguk dengan gerakan yang sama.
Degh!
Veronika?
Reynard tersentak kaget melihat Veronika berjalan tergesa-gesa menghampiri tempatnya.
Benar-benar keterlaluan wanita itu, sampai ke sini pun aku dibuntutinya. Tapi kali ini akan aku hadapi apa maunya sebenarnya, ucap bathin Reynard geram.
Reynard bangkit dari duduknya. Begitu pun si anak kecil itu ikut berdiri di sampingnya.
Veronika pun tersentak melihat Reynard berdiri beberapa meter di hadapannya. Dia menghentikan langkah dan menoleh pada si anak kecil yang berdiri di samping Reynard.
Seketika senyumnya mengembang melihat anak itu.
“Rey, ya ampun! Mommy panik cari-cari kamu dari tadi.” Tiba-tiba Veronika meraih tubuh anak kecil itu lalu merengkuhnya penuh sayang.
Reynard terperangah melihat keduanya saling berpelukan. Veronika melirik pada Reynard yang masih menganga, langsung melepaskan pelukannya dari anak itu.
“Hai, selamat pagi, Pak Reynard,” sapa Veronika ramah.
“Aaah, iya. Se ... selamat pagi juga,” balas Reynard gagap, serasa mulutnya terkunci dengan kebingungan yang masih membelenggu benaknya.
“Ka ... kamu ngapain di sini? Dan anak ini?” tanya Reynard belum bisa menghilangkan raut keheranan.
“Aku tinggal di apartement ini. Dan ini Reyhan anakku.”
“HAH???”
Belum habis keterkejutannya mendapati Veronika di tempat ini, kini ditambah lagi dengan penuturan Veronika barusan.
“Iya, aku baru dua minggu ini tinggal di sini. Di lantai lima belas.”
“Oooh, begitu.”
“Kalau pak Reynard sendiri?”
“Hmm, aku juga tinggal di sini di lantai dua puluh lima. Sudah lama juga, hampir lima tahunan kira-kira,” sambut Reynard mencoba santai, menghilangkan kegugupan yang masih melanda.
__ADS_1
“Oiya, kalian sudah kenalan ya?” tanya Veronika pada anaknya yang masih cengengesan menatap Reynard.
“Belum, Mommy.“
“Ayo, kenalan dulu sama Om,” suruh Veronika lembut pada anaknya.
Si anak kecil itu menyodorkan tangan kecilnya di hadapan Reynard. Reynard pun membalas menjabat tangannya.
“Namaku Reyhan, umurku lima tahun. Nama Om siapa?” tanya anak itu polos.
“Aku Reynard. Usiaku ... hmmm ... berapa ya? Tujuh belas tahun,” jawab Reynard enteng seraya tersenyum lebar pada si anak lucu itu.
“Kok nama kita hampir sama ya, Om? Tapi nama Om lebih keren,” puji Reyhan dengan ekspresi lucu menggemaskan. Reynard pun tertawa kecil menanggapinya.
“Mommy, Om ini jadi Daddy-ku aja ya. Om ini lucu.” Reyhan mendongak pada Veronika dan menarik-narik tangannya.
Veronika seketika gugup mendengar permintaan polos anaknya. Begitu pun dengan Reynard yang langsung meneguk salivanya.
“Maaf, Pak Rey. Maklum anak-anak. Gak mengerti apa yang diomongin.” ucap Veronika pelan pada Reynard.
“Minta daddy kayak minta beliin mobil-mobilan aja. Emang ayahnya kemana?” tanya Reynard sambil mengacak ngacak rambut Reyhan gemas.
“Aku sudah bercerai dari daddynya Reyhan sejak Reyhan masih usia 1 tahun." jawab Veronika santai tanpa beban.
“Oo, sorry....”
“Gak pa-pa, itu sudah lama. Aku juga sudah lupa. Dan Reyhan tampaknya happy-happy aja. Gak terlalu terbebani walaupun hidup tanpa Daddynya.“
“Kamu sendiri? Tinggal sama siapa di apartement ini?” tanya Veronika seraya duduk di bangku panjang di seberang Reynard.
Reynard pun ikut duduk di bangkunya. Sementara Reyhan tanpa canggung duduk di paha Reynard. Namun Reynard membiarkannya dan melingkarkan tangan pada tubuh kecil Reyhan agar tak terjatuh.
“Aku tinggal sendiri disini. Keluarga kandungku semua di Medan. Tapi aku punya sahabat yang sudah aku anggap saudara sendiri di Jakarta ini. Jadi aku gak kesepian.“
“Ferdian Adiwijaya?“ tebak Veronika.
“Iya, ternyata sedetil itu, ya kamu cari tahu soal aku.” Reynard memicingkan sebelah matanya pada Veronika.
Veronika tertawa kecil sembari membuang pandangan ke arah lain.
Ternyata Reynard mengetahui juga bahwa sebenarnya diam-diam dia mencari tahu tentang personal Reynard.
“Hmm, Pak Reynard...”
“Panggil Reynard aja atau cukup Rey.”
“Oh iya, Rey. Aku minta maaf mungkin selama keberadaanku di kantor membuat kamu merasa gak nyaman dan terganggu.“
“Terganggu sih gak yah. Tapi aku merasa diintimidasi. Itu lebih menyebalkan daripada merasa terganggu,” jawab Reynard terbuka dengan ketidaknyamanannya selama ini yang dia rasakan di kantor.
“Yaaa, aku tau. Aku minta maaf soal itu. Aku jamin untuk selanjutnya kamu silahkan bekerja dengan nyaman tanpa merasa diintimidasi lagi oleh siapapun.”
Reynard menaikkan sebelah alisnya mendengar Veronika berkata begitu. Dan sikapnya kali ini sangat jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kali ini lebih tenang dan tak ada guratan keangkuhan yang biasa dia tunjukan ketika berhadapan dengannya di kantor.
“Sebenarnya aku juga kurang cocok menjalankan perusahaan itu. Karena aku merasa bidang itu terlalu sulit untukku. Tapi karena almarhum Om Bramanto yang mendesak aku untuk mengambil alih operasional perusahaan itu untuk menyelamatkan sahamnya, jadi aku terpaksa terjun langsung sambil mempelajari cara kerja perusahaan itu.“
“Dan untuk menjegal aku sebagai perwakilan pemilik saham mayoritas disitu, kan?“ tembak Reynard langsung tanpa aling-aling lagi.
Veronika mengangguk lalu mengulum senyum manisnya. Reynard menikmati senyuman itu yang tak pernah dia temui di wajah Veronika selama ini.
“Awalnya begitu. Tapi setelah aku pelajari semua justru aku salut sama pemikiran kalian yang sudi mengakuisisi perusahaan yang nyaris colapse itu, terlepas apapun tujuan kalian. Dan seharusnya Om Bramanto berterima kasih untuk itu. Kalau tidak ada kerjasama itu mungkin perusahaan itu sudah lama bangkrut total.”
Reynard mengangguk membenarkan ucapan Veronika. Dia sama sekali tak menyangka Veronika yang semula menunjukan sikap 'perang' padanya, ternyata punya pemikiran logis seperti itu.
‘Tumben cerdas, kepentok dimana kepalanya itu?’ pikir Reynard dalam hati
“Mommy, aku mau pup....” Tiba-tiba Reyhan yang duduk di paha Reynard berdiri seraya memegang pantatnya dengan wajah yang memerah menahan hajatnya.
“Oiya, Sayang. Ayo ke kamar mandi. Sudah dulu ya, Rey. Lain waktu kita sambung lagi,” pamit Veronika terburu-buru seraya menggandeng tangan kecil Reyhan.
“Bye Om, aku mau pup dulu ya,” ucap Reyhan polos dengan wajahnya yang ceria sambil melambai–lambaikan tangan kecilnya pada Reynard.
Reynard membalas lambaian bocah lucu itu lalu menghela nafasnya dan kembali duduk berselonjor di kursi panjang sambil menikmati hembusan angin pagi yang terasa menyejukkan di kulit wajahnya.
Sesejuk hatinya kala melihat senyum manis Veronika yang kini meninggalkan bayangan di benaknya
HAAAAYY...UDAH MULAI ADA YANG CONNECT SEPERTINYA..
JANGAN LUPA LIKE, LOVE, FAVORITE, RATE 5, SARAN DAN KRITIK NYA YA
Babang Reynard .. aku padamu pokokna mah
__ADS_1