ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 50


__ADS_3

Dengan lugas dan sangat gamblang, seorang Manajer Marketing tengah menjelaskan strategy pemasaran di hadapan pimpinannya, Ferdian Adiwijaya dan beberapa rekan manajer lainnya.


Namun Ferdian tampak tak memperhatikan sama sekali apa yang dipaparkan di hadapannya. Ia hanya menunduk memainkankan ujung pena di atas meja dengan sorot mata kosong seperti sedang tak berada di tempatnya sekarang.


“Demikian strategi pemasaran yang akan kita gunakan untuk produk kita selanjutnya.”


Manajer marketing itu menyudahi paparan misi pemasarannya dan mematikan layar proyektor di sampingnya.


Ia menoleh ke arah Ferdian dan menunggu komentar atau pun tanggapan dari pimpinannya itu. Namun tampaknya Ferdian benar-benar larut tenggelam dalam lamunannya.


“Bagaimana, Pak Ferdian? Kami butuh masukan dari Bapak,” tanya Manajer Marketing itu pada pimpinannya dengan sedikit menaikan volume suara, membuat Ferdian tersentak, membuyarkan lamunan panjangnya.


“Ohhh, Ehm.... Maaf, saya kurang konsentrasi," ucap Ferdian gelagapan.


Ia membetulkan posisi duduk sejenak, lalu menatap satu persatu para manajernya, peserta internal meeting yang dipimpinnya kali ini yang duduk berderet di sebelah kiri dan kanannya.


“Mohon maaf, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu semua. Untuk meeting internal kita hari ini saya pending dulu. Senin depan kita lanjutkan lagi, oke.“


Hanya itu yang diucapkan Ferdian. Kemudian ia bangkit dari duduknya, lalu tanpa permisi langsung pergi meninggalkan para manajer yang saling bertukar pandang heran dan penuh tanda tanya melihat sikap boss mereka yang sangat tak biasa.


Biasanya untuk urusan pekerjaan apalagi menyangkut strategy marketing perusahaan, Ferdian pasti menaruh konsentrasi penuh dan sangat detil. Karena menurutnya marketing adalah bagian yang paling berpengaruh sebagai ujung tombak bagi kemajuan perusahaannya itu.


Vika mengetuk pintu ruangan pimpinan. Tanpa menunggu jawaban dari dalam ia melangkah masuk perlahan.


Tampak Ferdian berdiri memunggunginya dengan kepala tertunduk.


“Permisi, Pak," sapa Vika pelan dan hati-hati.


Ferdian membalikkan badan dan menoleh sekilas padanya, lalu mengalihkan pandangan kembali pada ponsel di tangan.


“Ada apa?” tanya Ferdian datar.


“Apa Bapak perlu salinan berkas meeting tadi?"


Ferdian menggeleng cepat. ”Tak perlu, Senin depan kita meeting lagi di jam yang sama,” jawab Ferdian tanpa menoleh pada Vika.


Jemarinya sibuk menari-nari di layar gawai sedang mendeteksi keberadaan sang istri lewat GPS yang terpasang di gadgetnya.


“Baik, Pak.“


“Ehhm, Vika. Aku ada urusan di luar, mungkin langsung pulang. Tolong semua berkas yang belum saya tanda tangani kamu keep dulu.”


“Oh iya. Baik, Pak.”


Ferdian lekas menyambar kunci mobilnya dari atas meja, lalu bergegas keluar ruangannya.


Vika yang masih berdiri terpaku hanya geleng-geleng kepala melihat sikap boss-nya itu.


Di kampus.


Ferdian melirik jam tangannya. Lima menit menjelang pukul dua siang. Waktunya Lusi pulang kuliah.


Ia turun dari mobil mewahnya lalu melangkah menuju lobi kampus tempat biasa Lusi menunggu dirinya.


Para mahasiswa sudah ramai berada di sekitar tempat itu. Ferdian membuka kacamata hitamnya lalu mengedarkan pandangan ke semua penjuru lobi mencari sosok Lusi. Tapi tak tampak juga.


Ia berjalan lagi lebih ke dalam, menuju kantin kampus sesuai petunjuk arah yang tergantung di langit-langit lobi.


Ia edarkan pandangan kembali keseluruh penjuru kantin yang juga sudah ramai oleh para mahasiswa yang tengah menghabiskan waktu selepas mengikuti mata kuliah. Dan tak tampak juga sosok Lusi di sana.


“Ehmmm, permisi....”


Tiba-tiba dua orang gadis cantik menyapa dirinya dari arah samping.


Ferdian spontan menoleh pada mereka. Ashanti dan Nikita tersenyum lebar di hadapannya.


“Maaf, Mas ini yang sering antar jemput Lusi, kan?” tanya Ashanti dengan wajah terhias senyum sumringah.


“Iya, betul. Kalian temannya Lusi?” Ferdian balik tanya dengan antusias.

__ADS_1


Senyum Ashanti semakin melengkung lebar. Ia sangat senang akhirnya bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan Ferdian yang selama ini ia kira adalah abangnya Lusi itu.


'Ya Tuhan, ganteng banget ciptaan-Mu yang satu ini. Hidungnya mancung, bibirnya seksi, kulitnya bening, matanya teduh, badannya tinggi tegap dan aromanya itu loh, wangiiiii.... Mungkinkah ini yang namanya Blasteran Surga?' Puji Ashanti dalam hati.


“Iya Mas, kami satu lokal dengan Lusi.“ Nikita langsung menyahut karena ia melirik sahabatnya yang berdiri di sebelahnya itu sedang ternganga memandangi wajah Ferdian.


“Kalian lihat Lusi?” tanya Ferdian lagi.


“Lusi sudah pulang dari jam dua belas tadi, Mas. Dia tidak ikut kuliah siang. Katanya gak enak badan,” jawab Nikita lugas.


“Sudah pulang? Kok gak kasih kabar, ya?” gumam Ferdian dengan nada suara yang terdengar kecewa.


Raut wajahnya seketika berubah, tampak cemas bercampur kesal.


“Baiklah. Terima kasih infonya,“ ucap Ferdian sopan. Lalu segera membalikkan badan bermaksud hendak pergi.


“Ehmmm, Mas. Mas ini abangnya Lusi ya?” tahan Ashanti tiba-tiba sebelum Ferdian melangkah meninggalkan mereka.


“Aku suaminya,“ jawab Ferdian singkat lalu langsung ngeloyor pergi meninggalkan Nikita dan Ashanti yang tersentak dan terbelalak mendengarnya.


Keduanya saling menatap dengan mulut yang menganga lebar.


“Suami?“ sahut mereka berbarengan.


“Lusiiiiii!!! Teganya dirimu ngasih harapan palsu padaku!!!" Spontan Ashanti berteriak sambil menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. 


Para mahasiawa yang berada di kantin itu langsung menoleh padanya. Menatap Ashanti dengan heran dan penasaran dengan apa yang terjadi dengan gadis itu.


Di dalam mobil, Ferdian menyandarkan kepalanya lemah. Hatinya gusar dan kesal dengan sikap Lusi yang benar-benar tak mengacuhkan dirinya.


Diambilnya ponsel dari saku celana. Lalu menghubungi nomor Lusi.


'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah hubungi beberapa saat lagi.' jawaban dari operator.


Ia beralih mencoba menelepon ke rumah.


“Pak Dirman, apa Lusi sudah pulang?” tanya Ferdian cepat.


“Oooh, belum, Boss.“


“Sudah cek ke kamar saya? Mungkin dia pulang pas Pak Dirman gak di pos.”


“Dari pagi saya di pos dan gerbang, kan saya kunci terus, Boss,“ jawab Pak Dirman.


Ferdian makin gelisah mendengarnya. Pikirannya sudah membayangkan sesuatu yang membuat dirinya kian merasa tak nyaman.


“Kalo dia udah sampe rumah, Pak Dirman langsung telepon saya, ya.”


“Oke, Boss.”


Ferdian menutup sambungan teleponnya. Pikirannya kalut, ia bingung kemana lagi akan mencari Lusi.


Sejenak ia menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya pelan dengan mata terpejam.


Ia berusaha menenangkan diri dan mengendalikan emosi. Diambilnya sebotol air mineral di sampingnya lalu meneguknya beberapa.


“Kios bunga,” gumamnya.


Tiba-tiba ia teringat kios bunga Bu Dahlia. Ia menduga mungkin Lusi kesana.


Tanpa lama-lama berpikir, Ferdian langsung menghidupkan mobilnya lalu meluncur cepat meninggalkan pelataran parkir kampus.


Tak sampai setengah jam perjalanan Ferdian tiba di muka kios bunga Bu Dahlia. Ia masukkan mobilnya ke pelataran parkir di muka kios yang tampak ramai dikunjungi oleh pembeli.


“Permisi, selamat siang, Bu," salam Ferdian pada Bu Dahlia yang sedang sibuk merapikan vas bunga di etalase.


Ibu Dahlia menoleh ke asal suara. Seketika raut wajahnya semringah melihat Ferdian berdiri di depan pintu kiosnya.


“Hei, Mas Ferdian. Apa kabar? Ayo masuk, masuk. Silahkan duduk,” sambut Bu Dahlia penuh suka cita.

__ADS_1


“Maaf, Bu. Saya gak lama. Saya mencari Lusi, apa dia ke sini, Bu?” tanya Ferdian to the point tanpa berbasa- basi terlebih dahulu


Bu Dahlia mengernyitkan dahi menatap raut wajah Ferdian yang tampak gelisah.


“Lusi gak kemari, Mas. Terakhir dia ke sini itu ya bersama Mas Ferdian,” jawab Bu Dahlia pelan.


Ferdian semakin gusar dibuatnya. Ia menekuk bibir tanda sedang berpikir keras.


“Ehmm.... Apa kalian bertengkar? Dan Lusi kabur dari rumah Mas Ferdian?“ tanya Bu Dahlia dengan tatapan penuh selidik.


“Ooh, gak kok, Bu. Kami baik-baik aja,“ jawab Ferdian gugup.


“Saya kuatir, Bu. Karena situasi masih belum aman untuk Lusi keluar sendirian.” sambung Ferdian lagi mencoba menjauhkan pikiran negatif Bu Dahlia terhadap dirinya.


“Hmmm, coba Mas Ferdian cari ke taman kota yang dekat kantor walikota. Saya ingat, dulu kalo Lusi lagi ada masalah di rumah atau lagi suntuk dia sering menghabiskan waktunya disana. Yaaahh, cuma sekedar melamun atau baca buku,“ tutur Bu Dahlia.


“Oh baik, Bu. Coba saya cari ke sana. Terima kasih, Bu.”


“Mas, kalo sudah ketemu tolong kabarin ibu juga ya.“


“Baik, Bu," ucap Ferdian dengan mengukir senyum dibibir lalu bergegas meninggalkan kios bunga itu menuju taman kota yang dikatakan bu Dahlia tadi.


Taman kota yang dimaksud bu Dahlia ternyata sangat dekat dengan lokasi kiosnya. Tak sampai 10 menit berkendara Ferdian tiba di lokasi itu.


Ia memarkir mobilnya pada posisi yang aman, lalu mulai menyusuri tempat itu.


Taman itu tak seberapa luas, namun sangat teduh dan asri lantaran banyak pohon besar yang tumbuh rindang di sana.


Di tengahnya terdapat beberapa ayunan dan beberapa jenis mainan yang diperuntukan bagi pengunjung anak-anak disana.


Ferdian terus mencari sosok Lusi. Ia telusuri spot-spot yang ia anggap tenang. Ia berpikir jika Lusi ke taman ini untuk melamun atau membaca pasti mencari posisi yang teduh dan tidak terlalu ramai. Tapi tak tampak juga Lusi di sekitar itu.


Ferdian semakin gelisah dan kesal karena tak menemukan keberadaan Lusi di taman itu. Ia melangkah menyusuri bagian lain dari taman untuk kembali ke mobilnya.


Tiba-tiba ia menangkap sosok mirip Lusi di ujung taman yang berhadapan dengan kolam ikan.


Dengan langkah cepat ia menghampiri. Makin dekat makin tampak, memang Lusi disana mengenakan blouse putih dan celana jeans dengan rambut yang dikuncir kuda.


“Lusi?” panggil Ferdian.


Lusi menoleh ke samping kanan.


Deg...!


Jantungnya serasa mencelos mendapati suaminya berdiri tegak tepat di sisinya.


“Mas?” Lusi tampak gugup dan heran.


Benaknya berpikir dan menerka-nerka bagaimana suaminya bisa menemukannya ditaman ini.


Seketika ia berdiri dari duduknya menghadapi Ferdian.


Ferdian tersenyum, lalu meraih jemari Lusi dan meremasnya lembut. Ia senang sekali akhirnya bisa menemukan gadis itu.


“Ayo, pulang,” ajaknya pelan seraya menatap Lusi dengan bola mata yang berbinar-binar.


Lusi menarik kembali tangannya dari genggaman Ferdian. Lalu menggeleng lemah.


“Kenapa? Kamu masih mau disini? Biar aku temenin. Ayo duduk.” 


Ferdian menempatkan diri pada kursi kayu panjang di samping Lusi. Tapi Lusi hanya bergeming.


Ia terdiam dan menatap Ferdian dengan raut wajah gugup dan salah tingkah.


Dan Ferdian pun makin tak mengerti melihat sikap Lusi yang tampak tak nyaman dengan kehadiran dirinya.


#KRITIK DAN SARAN DI KOLOM KOMENT YAH, YANG SUKA SILAHKAN LIKE, VOTE, RATE,


**INSYA ALLAH SETIAP HARI AUTHOR SELALU UP DATE 1-2 BAB TAPI HARUS MENUNGGU REVIEW DARI TIM  NOVELTOON YANG MEMAKAN WAKTU 1-3HARI SEBELUM DITAYANGKAN. TERIMA KASIH BANYAK UNTUK YANG SUDAH KASIH BINTANG, LIKE, LOVE, TIPS DAN KRITIK /SARANNYA. . SEMOGA SEHAT SELALU. **

__ADS_1


__ADS_2