
Pak Hermansyah, SH.MH. bersama seorang asisten wanitanya, duduk santai di ruang tunggu kantor polisi sektor setempat menunggu kedatangan Ferdian, klien pentingnya.
Sesekali dia membetulkan letak dasi dan jas nya sambil melayangkan pandangannya ke area parkiran yang tak seberapa jauh dari tempatnya. Namun belum tampak juga mobil mewah Ferdian di sana.
Pengacara kondang yang mempunyai banyak klien perusahaan-perusahaan besar itu sudah hampir setengah jam menunggu.
Ada rasa kesal juga dibenaknya karena selama masa karirnya sebagai advokat hampir tak pernah dia yang menunggu klien, justru biasanya dia yang selalu ditunggu.
Namun karena yang ditunggu nya ini adalah seorang pimpinan sebuah perusahaan global yang sudah lebih dari 7 tahun menjadi klien pentingnya, dia terpaksa harus menenangkan diri untuk menunggu.
“Nah, itu dia.” Pak Hermansyah berseru pelan sambil melongok ke arah luar dan melihat Ferdian tengah berjalan menghampiri tempatnya.
“Itu klien penting kita, Sil. Kamu belum kenal, kan," beritahunya pada Silvie, asisten barunya yang ikutan melongok melihat Ferdian.
“Wuiih, Good looking, ya Pak. Inner beauty ku rasa meronta-ronta,” ucap Silvie menyeringai kagum.
“Hush! Jangan macam-macam. Kalo kamu mau kerja di kantor saya dilarang keras menggoda apalagi punya affair dengan klien-klien saya, yah. Terutama dengan yang satu ini.“
“Baik, Pak. Maaf Cuma sekedar kagum," ucap Silvie membetulkan kembali duduknya.
Ferdian masuk dan menghampiri Pak Hermansyah yang langsung berdiri menyambutnya.
“Maaf saya telat, Pak. Tadi mampir ke kantor dulu sebentar," ucap Ferdian menyalami Pak Hermansyah.
“Oo, tak apa, Pak Ferdian. Oiya kenalkan ini asisten saya yang baru, namanya Silvie.” Pak Hermansyah memperkenalkan Silvie yang mesem-mesem genit seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Ferdian.
“Iya,”
Ferdian tak membalas uluran tangan Silvie, hanya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya. Spontan Silvie menarik lagi tangannya.
Ganteng-ganteng kok sombong, Aduuuh, malu gua, maluuu.... Ucap Silvie miris dalam hati.
“Bagaimana, Pak? Apa bisa saya diketemukan dengan tersangka? Bu Merry,” tanya Ferdian kemudian. Wajahnya tampak sangat serius.
“Sebentar saya ijin dulu ke dalam ya, Pak.“
Pak Hermansyah berlalu dan masuk ke dalam sebuah ruangan.
Ferdian masih berdiri membelakangi Silvie yang menatap tubuh tegap Ferdian dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Wanita itu geleng-geleng kepala. Terpesona .
Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Silvie. Pagi-pagi belum sarapan liat yang beginian jadi auto kenyang. Ucapnya dalam hati.
Tak menunggu lama Pak Hermansyah keluar dari ruangan itu bersama seorang anggota kepolisian.
“Bisa, Pak. Ayo,“ ajak Pak Hermansyah pada Ferdian.
Mereka berjalan beriringan menuju ke ruang jenguk tahanan yang terletak satu lantai di bawah ruang tunggu tadi.
Ferdian di dampingi Pak Hermansyah dan asistennya berdiri di tengah ruangan menunggu Bu Merry yang sedang di jemput oleh penjaga.
Menunggu hanya lima menit, Bu Merry yang sudah mengenakan baju tahanan berwarna biru donker dan di dampingi dua orang petugas polisi wanita masuk ke ruang jenguk.
__ADS_1
Sejenak Bu Merry menghentikan langkahnya dan menatap Ferdian dengan ketakutan. Seketika raut wajah nya berubah.
Lalu setengah berlari dia menuju Ferdian dan bersimpuh bersujud tepat di kaki pria itu.
“Maaf kan saya, Mas. Ampun, Saya minta maaf," ucap nya sambil menangis tersedu-sedu.
Ferdian menarik kaki nya mundur. Hatinya mendidih melihat nya.
“Bangun.” Perintahnya dingin.
“Ampun Mas, saya khilaf. Saya gak akan ulangi lagi. Huuaaa...Huuaaa...” Bu Merry masih terus memohon.
“Bangun!” bentak Ferdian dengan suara keras.
Pak Hermansyah dan asistennya yang berdiri di belakang Ferdian pun ikut gemetar mendengarnya.
Bu Merry perlahan bangkit dengan gontai dan menunduk tak berani menatap wajah Ferdian yang menegang di depannya.
“Silahkan duduk dulu, Bapak-bapak, Ibu-ibu," ucap petugas polisi yang tadi mengantar mereka.
Bu Merry yang pucat pasi menempati duduknya persis dihadapan Ferdian, hanya dibatasi meja kaca sepanjang 1 meter.
“Sekali lagi saya mohon maaf, Mas. Saya gak ada maksud menyakiti putri saya, Lusiana. Saya benar-benar khilaf," ucap Bu Merry lirih. Nada suaranya mulai tenang dan teratur.
“Putri kamu?“ sindir Ferdian sinis sambil menaikan alisnya.
“Ohh, Maaf, maksud saya putri sambung saya, Mas.“
Bu Merry makin menunduk. Air matanya mulai berderai bulir perbulir. Kedua tangannya terkatup rapat di pangkuannya. Lalu mengangguk lemah.
“Sumpah, Mas. Saya terpaksa. Almarhum ayahnya Lusi meninggalkan hutang yang sangat banyak, Mas. Saya bingung bagaimana cara untuk membayarnya. Sementara bisnis kami tidak banyak menghasilkan, malah sekarang menuju bangkrut, Mas.“
“Lalu caranya dengan menjual Lusi, begitu?”
“Hiikss...Hiksss....Saya benar-benar terpaksa, Mas. “
“Bukan terpaksa, tapi karena memang niat, betul, kan?” sergah Ferdian.
“Darimana ibu punya ide sejahat itu, Bu?” Lanjutnya lagi.
“Waktu itu saya benar-benar sedang bingung Mas, tiba-tiba ada klien saya bilang ada seorang pengusaha kaya raya yang sedang mencari istri muda, karena istri tua nya mandul. Dan pengusaha itu sanggup membayar mahal untuk perempuan yang masih perawan. Tiba-tiba saya kepikiran dengan Lusi.”
“Memang harus yang perawan, begitu?”
“Hmm, iya mas. Dia mintanya begitu. Karena Kalo yang tidak perawan harganya murah. Sementara saya butuh uang yang banyak saat itu untuk melunasi hutang-hutang di bank.”
“Astaga, Bu. Keperawanan kok di banderol? Ibu tau gak, ini termasuk kejahatan berat bu. Pelanggaran HAM. Hukumannya bisa belasan tahun penjara. Saya gak bisa terima ini, Bu.” Ucap Ferdian geram, tangannya terkepal kencang seperti hendak meninju seseorang.
Pak Hermansyah dan asistennya melihat itu, mereka cemas jika tiba-tiba saja Ferdian memukul Ibu Merry. Bisa-bisa pingsan tujuh hari tujuh malam wanita itu dan akan jadi masalah baru untuk klien nya itu.
“Saya mohon maaf, Mas. Tolong sampaikan maaf saya pada Lusi.”
“Dengar ya, Saya selaku suaminya Lusi akan melaporkan ibu juga soal ini. Saya gak terima ibu jual istri saya seperti barang dagangan,” ancam Ferdian menunjuk-nunjuk hidung Bu Merry dengan geram.
__ADS_1
“Huuaaaa....Huuaaa.... Ampun Mas. Jangan laporkan saya.“ Kembali Bu Merry bersujud di kaki Ferdian.
“Gak bisa, pasti akan saya laporkan. Pak Hermansyah, habis ini kita bikin Lp baru untuk kasus ini.” Perintah Ferdian pada pengacaranya yang duduk tegang di sampingnya.
“Baik, Pak.” sahut Pak Hermansyah tegas.
“Jangan, Mas. Saya mohon. Saya gak sanggup lagi hidup di penjara. Saya takut.”
Sejenak Ferdian berpikir, ini saatnya kasus Lusi bisa dia manfaatkan untuk menyeret Bramanto ke jeruji besi.
Lalu berkata, “Kalo begitu, Ibu jangan mau tanggung sendirian hukumannya, Bu. Pelakunya kan bukan ibu sendirian. Dan saya yakin bukan istri saya aja yang jadi korban nya, betul? Kalo ibu bekerjasama dengan kepolisian untuk mengungkap sindikat ini kemungkinan hukuman ibu diperingan atau mungkin bisa juga bebas.” tutur Ferdian menurunkan tensi suaranya.
Bu Merry terdiam mendengar penuturan Ferdian. Dia menghapus air matanya. Perlahan dia memberanikan diri menatap wajah Ferdian. Pikiran waras nya mulai bergelayutan di benaknya.
'Benar juga apa yang dibilang mas ini. Aku gak mau nanggung hukuman sendirian. Enak aja itu si tua bangka Bramanto. Dan aku bisa ancam Bramanto, kalo dia tidak mau masuk penjara dia harus menghapus hutang-hutangku sama dia, atau aku akan buka mulut tentang bisnis prostitusi ilegalnya. Biar ****** si tua bangka itu membusuk di penjara.' Pikir Bu Merry dalam benaknya.
“Baik Mas, saya janji akan bekerjasama dengan kepolisian untuk mengungkap siapa dalang di balik sindikat ini, anggap saja saya melakukannya untuk menebus dosa-dosa saya pada Lusi.“
Itulah keputusan Bu Merry yang ditunggu-tunggu Ferdian.
“Oke, kalo begitu. Saya akan pantau terus. Tapi kalo ternyata ibu berbohong, saya pasti akan naikkan kasus ini. Dan ibu akan menghabiskan sisa umur ibu di dalam penjara. Ingat omongan saya,“ ancam Ferdian dengan sorotan mata yang sangat tajam.
“Baik, Mas. Saya pasti akan tepati janji saya.“
Ferdian berdiri diikuti Pak Hermansyah dan asistennya. Lalu tanpa permisi dia membalikkan badannya untuk meninggalkan Bu Merry yang masih terduduk di kursinya.
“Mas....“ Panggil Bu Merry.
Ferdian menoleh.
“Sampaikan permohonan maaf saya pada Lusi. Saya benar-benar menyesal sudah memperlakukannya dengan buruk. Mohon ampun saya padanya. Tolong ya,” pinta Bu Merry dengan suara lirih dan penuh penyesalan yang mendalam.
Ferdian hanya mengangguk sekilas. Lalu melangkah keluar dari ruangan itu di iringi tatapan pilu Bu Merry.
Di parkiran, Pak Hermansyah bersama asisten nya mengantar Ferdian menuju mobilnya. Dia masih menunggu perintah selanjutnya dari kliennya itu.
“Pak Hermansyah, bagaimana soal pengambil-alihan hak milik aset-aset untuk istri saya, sudah sampai mana perkara perdatanya?”
“Oooo, itu sudah di daftarkan di Pengadilan, Pak. Tinggal Menunggu jadwal sidang saja. Jika dalam 3 kali panggilan Bu merry atau anak kandungnya tidak menghadiri persidangan, maka akan jatuh putusan Verstek, Pak. Putusan otomatis dimenangkan istri bapak. Dan itu yang jadi dasar hukum kita untuk mengusir Bu Merry dan anaknya dari rumah yang ditempati sekarang,” jawab Pak Hermansyah lugas.
“Bagus kalo begitu. Dengan dia masuk penjara begini, gak mungkin dia bisa hadiri sidang.”
“Betul sekali Pak Ferdian.”
“Okelah, kalo begitu cukup sekian untuk hari ini. Saya mau balik ke kantor lagi.”
“Silahkan Pak Ferdian. Selamat siang.“
Ferdian masuk ke mobil nya lalu keluar dari parkiran kantor polisi dan melajukan mobilnya cepat demi memburu waktunya untuk segera sampai di kantor tepat waktu.
Happy Reading...
Please Like, vote, kritik dan saran Di komen yah. Salam sehat selalu... Keep being happy.
__ADS_1