
Pagi yang hening. Tak ada suara apapun terdengar. Tak seperti pagi-pagi sebelumnya dimana ada saja hal-hal kecil yang membuat salah satu penghuni kamar itu gaduh.
Kadang ribut mencari buku, mencari kuncir rambut, mencari handphone yang terselip ataupun teriak-teriak dari dalam kamar mandi minta tolong di ambilkan handuk atau piyama mandi yang lupa ia bawa.
Ferdian merasakan keheningan itu, dia mengerjap-ngerjapkan matanya pelan. Diusapnya kedua kelopak matanya beberapa kali untuk mengusir kantuk yang masih tersisa.
Ia menoleh ke samping kiri tubuhnya. Tak ada Lusi disana. Hanya ada sebuah bantal dan guling yang tergeletak tak beraturan.
Ia bangkit dari tidurnya. Sejenak duduk terpaku di pinggir ranjang untuk mengusir pengar yang menyerang kepala. Ditengoknya jam digital di meja nakas. Sudah jam tujuh lewat lima belas menit.
Pandangannya diedarkan ke seluruh ruangan kamar yang luas mencari sosok Lusi. Tapi tak tampak juga.
Perlahan ia melangkah menuju balkon kamar yang pintunya masih tertutup rapat. Dibukanya perlahan. Tak ada juga gadis itu disana.
Kembali ia menyusuri tiap ruangan di kamar itu demi mencari Lusi, menuju walk in closet, juga tak ada.
Ke kamar mandi, diketuknya beberapa kali. Tak ada sahutan dari dalam. Pintu pun tak terkunci, ditengoknya ke dalam kamar mandi, tak ada juga Lusi di sana.
“Kemana itu anak? Apa jangan-jangan beneran pergi?” gumamnya panik.
Segera Ferdian menuju lemari pakaian Lusi, dibukanya lebar-lebar. Tampak baju-bajunya masih ada dan tas besarnya pun tetap pada tempatnya.
Dia menghela nafas lega. Berarti Lusi tak pergi meninggalkannya.
Ferdian menuju kamar mandi menggosok gigi dan mencuci mukanya sejenak. Lalu keluar kamarnya menuju ruang makan. Dia berharap akan menemukan Lusi sedang sarapan di sana.
Langkahnya gontai menuruni anak tangga satu per satu. Pandangannya tertuju pada meja makan, tapi tak tampak juga Lusi di sana.
“Lusi mana, Mbak?” tanya Ferdian pada Mbak Ira yang berseliweran dari dapur ke meja makan mengantarkan sarapan pagi.
“Tadi sudah turun, Boss. Ke dapur sebentar cuma minum susu coklat aja, abis itu saya gak tau lagi Non Lusi kemana,” jawab Mbak Ira.
Dia memperhatikan wajah majikannya yang tampak kebingungan.
Ferdian berlalu menuju teras rumah. Di temuinya Pak Dirman yang sedang me-lap mobilnya sambil bersiul-siul ceria.
“Pak Dirman....” Panggil Ferdian.
“Saya, Boss...” Pak Dirman menghampiri Ferdian yang berdiri berkacak pinggang di teras.
“Pak Dirman liat istri saya?” tanya Ferdian gusar.
“Non Lusi, Boss?“ Pak Dirman malah balik tanya. Membuat Ferdian melotot gemas padanya.
“Emang istri saya ada berapaaaa?” Ferdian kesal. Pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan.
“Oohh...Iya, hehehe... Anu Boss, Non Lusi udah berangkat tadi pagi-pagi sekali,” jawab Pak Dirman sambil cengengesan.
__ADS_1
“Hah? Udah berangkat? Dia bilang mau kemana?”
“Katanya ke kampus, Boss. Saya liat dia terburu-buru naik taksi warna biru tadi.”
“Kenapa gak nunggu saya? Harusnya Pak Dirman telepon ke kamar saya, gimana sih?” omel Ferdian sewot.
“Yaaa Boss, tadi saya juga mau hubungin Boss ke telepon kamar tapi kata Non Lusi jangan ganggu Boss lagi tidur, kecapean tadi malam abis tempur. Gitu katanya, Boss.” jawab Pak Dirman polos sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ferdian lalu tersenyum lebar menggoda Ferdian.
“Dasar mesum...” Ferdian mendelik sebal pada Pak Dirman yang mesem-mesem tak jelas.
Lalu membalikkan badan dan masuk kembali ke dalam rumah.
Di kursi makan, Ferdian duduk melamun memikirkan Lusi. Walaupun ia lega mengetahui Lusi cuma pergi ke kampus, tapi ada rasa khawatir karena gadis itu pergi diam-diam tanpa pamit dulu padanya.
Diseruputnya sejenak secangkir kopi hitam untuk menghilangkan pusing dikepalanya karena kurang tidur.
Ia meraih ponselnya di atas meja lalu menekan nama kontak ‘Istriku yang cantik’ di layarnya.
Terdengar nada sambung dengan ringtone lagu cinta dari satu band ternama. Liriknya membuat Ferdian terhanyut hingga mendengarkannya sampai selesai.
Dia merasa Lusi sengaja memasang ringtone tersebut memang ditujukan untuk dirinya.
Di kantin kampus
Lusi melirik ponselnya yang bergetar-getar sedari tadi karena ada panggilan masuk. ‘Suamiku tersayang’ nama kontak itu yang terpampang di layarnya.
Hari ini ia malas menerima telepon dari siapapun, termasuk dari Ferdian.
“Hai, Lusi. Tumben pagi sekali kamu datang,” sapa Ashanti menepuk bahunya dari belakang.
“Ohh, Shan. Iya, lagi pengen aja. Nikita mana?” tanya Lusi.
Matanya mencari-cari ke sekelilingnya karena tak biasanya Ashanti jalan sendiri tanpa Nikita.
“Lagi di toilet. Biasa deh, setoran deposito,” jawab Ashanti nyeleneh membuat Lusi tertawa kecil.
“Nah, tuh dia,” tunjuk Ashanti ke arah Nikita yang menghampiri meja mereka.
“Aduuuhh Lega....” seru Nikita seraya duduk di hadapan Lusi dan Ashanti.
Tanpa ijin gadis itu menyeruput teh manis milik Lusi.
“Lusi Sayang, Babang Dio kemana sih? Udah lama deh aku gak liat dia. Kangeeenn,” tanya Nikita memanyunkan bibirnya manja.
“Aku juga udah lama gak ketemu Dio, Niki. Aku dengar dia lagi ada kesibukan juga, mengurus bisnis keluarganya,” jawab Lusi dengan santai.
“Waahhh hebat ya! Kuliah sambil bisnis. Aku suka, aku suka.” Nikita berseru senang membuat beberapa pengunjung kantin yang berada di meja kiri kanannya menoleh padanya.
__ADS_1
Lusi pun tertawa melihat kelakuan temannya yang centil itu.
“Eh Lusi, terus gimana kabar abang kamu yang ganteng itu? Dia udah punya pacar belum, sih?” serobot Ashanti memasang raut wajah serius.
Lusi menghela nafasnya malas. Ia tau yang dimaksud Ashanti adalah Ferdian.
“Kamu naksir? Kamu harus tahan banting dulu kalo mau jadi pasangan dia,” ujar Lusi sekenanya. Ia tampak enggan membahas apapun soal Ferdian.
“Hah? Kok main banting-bantingan? Dia itu atlit smackdown atau apa? Aku jadi ngeri, iihh!” ucap Ashanti dengan wajah polos, bergedik mendengar apa yang dikatakan Lusi.
“Makanya kamu gak usah deh naksir sama dia, lebih baik cari cowok lain aja.” sambung Lusi lagi.
Raut wajah Ashanti mendadak berubah, yang tadinya penuh harap untuk bisa mendekati Ferdian kini tampak tanpa harapan lagi setelah apa yang didengarnya dari mulut Lusi.
“Kalo gitu aku deketin Dio aja deh. Si ganteng kinyis-kinyis,” putus Ashanti dengan entengnya.
Nikita yang tengah membayangkan wajah tampan Dio spontan terbelalak marah menatap Ashanti.
“Ehhh, enak aja! Mau jadi pelakor jangan ama temen sendiri dong, tega amat. Gak bisa, gak bisa. Kamu cari cowok lain aja!” protes Nikita dengan nada suara meninggi.
Ashanti hanya cengar-cengir meliriknya.
“Yaaa, selow dong, Nik. Pacar orang ya pacar aku juga, karena aku kan orang, hehehe....” seloroh Ashanti sambil tertawa lebar.
Lusi ikutan tertawa renyah melihat tingkah laku kedua temannya yang terserang sindrom bucin (budak cinta) itu.
“Mending kamu sama Reno aja, Shan, kayaknya cocok deh,” usul Lusi menengahi perselisihan mereka.
“Naahh, betul tuh. Setuju,” timpal Nikita cepat sambil bertepuk tangan meledek Ashanti.
“Idihhh ogah, bisa-bisa tiap hari dikasih rayuan maut ala Denny Cagur mulu. Ah malas,” jawab Ashanti tak berselera.
“Shan, bapak kamu tukang listrik ya? kok tau? Ya tau dong, soalnya kamu selalu menerangi hati ku," goda Nikita menirukan gaya rayuan Reno yang selalu membuat keki orang yang di rayunya.
“Shan, bapak kamu tukang tambal ban ya? Kok tau? Ya tau dong, soalnya cuma kamu yang sanggup menambal kekosongan dihatiku,” sambung Lusi ikut menggoda Ashanti yang menunjukan ekspresi geli karena membayangkan wajah Reno.
Ketiganya spontan tertawa geli. Tak peduli lagi pada para pengunjung kantin yang menoleh pada mereka.
“Eh, udah jam setengah sembilan nih. Masuk yuk,“ ajak Lusi kemudian setelah menengok jam tangannya.
Nikita dan Ashanti pun mengikuti. Beranjak dari tempat duduk mereka lalu menuju Lift yang akan membawa mereka ke lantai tujuh dimana kelas perkuliahan mereka berada.
KRITIK DAN SARAN ARE VERY WELCOME, DIKOLOM KOMENTAR YA.
YANG SUKA SILAHKAN LIKE, VOTE, RATE.
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN PARA READER, BIKIN AUTHOR JADI MAKIN SEMANGAT UP UP UP....
__ADS_1