
Di ruang kerjanya, Bramanto berdiri tegak mematung di depan meja. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Wajahnya tegang dan matanya menyorotkan kilatan murka.
Ditatapnya satu persatu wajah lima orang pegawainya yang berdiri tertunduk. Mereka tak berani sedikit pun mengangkat wajah di bawah tatapan horor Bramanto.
“Berani beraninya si Merry itu mengancam aku,” ucapnya dengan suara dingin dan sinis.
Amarah di dalam hatinya semakin bergemuruh siap meledak sewaktu-waktu. Ditatapnya kembali layar ponsel ditangan dengan perasaan berkecamuk.
Ini saya, Merry. Ingin bicara langsung dengan Bapak Bramanto. Ada sesuatu yang akan saya sampaikan. Penting. Cepat datang dan bebaskan saya dari tahanan Kepolisian Sektor Jakarta Selatan. Kalo tidak, akan saya bongkar bisnis haram kalian.
Itu isi pesan singkat dari Bu Merry yang dikirimkan melalui nomor pribadi anaknya, Priska.
“Cepat panggil Berlan kemari. Sekarang juga!” Gelegar suara Bramanto pada kelima pegawainya tersebut.
Semua kompak mengeluarkan ponsel mereka dan menghubungi nomor orang yang dimaksud Bramanto.
“Hey, bodoh kalian! Salah satu saja yang menghubungi Berlan!” bentak Bramanto kembali.
Kelima pegawainya tersebut langsung menghentikan gerakan. Dan melirik salah satu yang berdiri paling kanan serta memberi kode untuk melakukan apa yang Bramanto perintahkan.
Selang lima belas menit berlalu. Masih di bawah suasana yang mencekam di naungi tatapan angker dan dengkusan kemarahan Bramanto. Yang ditunggu akhirnya datang juga. Berlan, pengacara Bramanto masuk ke ruangan itu dengan langkah tergesa-gesa.
“Selamat siang, Pak. Maaf saya telat,“ ucap Berlan dengan nada ketakutan, berdiri beberapa meter berhadapan dengan Bramanto.
“Coba kau baca ini.” Bramanto melempar ponsel yang sedari tadi digenggamnya ke arah Berlan. Dengan sigap Berlan menangkapnya.
Dengan seksama Berlan membaca isi pesan yang dikirimkan Bu Merry. Keningnya berkerut dengan alis yang saling bertaut.
“Merry? Siapa dia, Pak? Apakah salah satu ‘anak gadis’ kita?” tanya Berlan serius.
“Bukan, aku pernah berurusan dengan orang ini beberapa kali. Dia pernah menjual anak tirinya padaku. Tapi anak itu kabur dan sekarang dia berhutang padaku untuk mengembalikan uang yang sudah dia terima,” tutur Bramanto datar dengan suara khasnya yang berat.
“Dari kata-katanya ini sepertinya dia sedang mengancam anda, Pak.”
“Ya, dia mengancamku. Karena dia juga tau banyak tentang bisnis sampingan kita.”
Berlan mengangguk-angguk mengerti arah pembicaran Bramanto.
“Tugas kau, coba cek orang ini di tahanan kepolisian, cari tau penyebab dia bisa punya nyali untuk mengancam aku seperti ini. Jangan sampai dia buka mulut pada pihak berwajib tentang bisnis kita. Bisa habis aku nanti,” perintah Bramanto dengan mata membulat geram menatap Berlan.
“Baik, Pak.” Berlan mengangguk hormat.
“Segera jalankan. Hari ini juga aku tunggu jawabannya.”
“Baik, Pak. Saya berangkat dulu.” Berlan mengangguk hormat sekali lagi, lalu bergegas keluar dari ruangan itu.
Bramanto menatap tajam pada kelima pegawainya yang sedari tadi tertunduk dengan mulut terkatup rapat.
“Kalian tunggu tugas selanjutnya dariku. Sekarang keluar!” perintah Bramanto tegas.
Kelimanya mengangguk patuh, lalu keluar beriringan meninggalkan Bramanto sendirian di ruangan itu yang sedang bergelud dengan amarah dan murka di kepalanya.
__ADS_1
*****
Di Kantor polisi.
Berlan, Pengacara utusan Bramanto duduk setia menunggu Bu Merry untuk dipanggil masuk ke ruang jenguk tahanan.
Tak lama, Bu Merry dengan wajah yang tampak kuyu dan pucat datang, diapit dengan dua orang petugas polisi wanita. Lalu tanpa diminta, Bu Merry duduk persis di hadapan Berlan.
Pengacara Bramanto itu menatap Bu Merry dengan tatapan tajam dan penuh tanda tanya.
Dia belum pernah sekalipun bertemu dengan Bu Merry. Tapi dari guratan wajah Bu Merry yang tampak sinis dan bengis, dia bisa menyimpulkan orang macam apa Bu Merry ini.
Tak heran wanita ini bisa berhubungan dengan orang seperti Bramanto.
“Anda siapa?” tanya Bu Merry buka suara. Menatap lurus dan dingin pada Berlan.
“Saya Berlan, pengacara Bramanto. Anda kenal dengan Bramanto?” Berlan balik bertanya.
“Tentu saja.”
“Saya datang diutus Bramanto untuk menjawab permintaan anda lewat SMS yang Anda kirim.”
Bu Merry tersenyum lebar mendengarnya. Dia sudah menyangka Bramanto akan ciut juga nyalinya mendapat ancaman darinya lewat pesan yang dikirimkan Priska tadi pagi sewaktu Priska menjenguknya.
“Baguslah, kalo begitu anda datang untuk membebaskan saya hari ini, kan?” tanya Bu Merry senang dengan senyuman yang mengembang.
“Saya bisa saja mengajukan penangguhan penahanan untuk anda. Tapi saya mau tau dulu apa yang menyebabkan anda ditahan disini,” tutur Berlan masih dengan suara datar dan dinginnya.
“Siapa yang melaporkan? Anak tiri anda itu?”
“Bukan, tapi suaminya. Namanya Ferdian Adiwijaya.”
“Lalu apa hubungannya dengan Bramanto? Kenapa anda berani sekali mengancamnya?”
“Heh Bung, jelas ada! Tak usah saya ceritakan panjang lebar. Saya yakin Bramanto pasti sudah tau, makanya dia mengutus anda ke sini, kan.”
Pengacara Berlan mengangguk-angguk mengerti apa yang Bu Merry maksud.
“Lalu sejauh mana anda tau bisnis Bramanto yang anda sebutkan di SMS anda? Beliau hanya seorang pengusaha logistik.”
Bu Merry tertawa lepas membuat orang-orang disekelilingnya spontan menoleh ke arahnya.
“Ah, Sudahlah. Jangan sok naif. Perusahaan Logistiknya itu, kan hanya kedok. Dia jauh lebih tertarik mengurus bisnis esex-esexnya, Bung,” ucap Bu merry polos dan lantang tanpa peduli pada orang-orang di sekitarnya.
Berlan melirik ke kiri kanannya mengawasi petugas kepolisian yang berdiri beberapa meter di sampingnya. Dia takut ada salah satunya yang mendengar omongan Bu Merry barusan. Tapi tampaknya kedua petugas itu sedang sibuk mengawasi tahanan yang lain.
“Jadi bisa 'kan saya keluar hari ini juga?” desak Bu Merry tak sabar.
“Saya belum bisa memutuskan. Karena saya liat anda hanya main-main saja. Dan saya rasa pertemuan ini cuma buang-buang waktu. Karena tak ada dasarnya anda mengancam Bramanto.”
Berlan berdiri, bersiap meninggalkan Bu Merry. Namun geraknya terpaksa terhenti saat Bu Merry melontarkan ancaman kerasnya.
__ADS_1
“Saya tidak main-main, Pengacara. Saya punya banyak bukti bisnis haram Bramanto. Jika kalian tidak memenuhi permintaan saya, siap-siap saja. Saya akan beberkan itu semua ke polisi. Ingat, sekarang ini saya berada dekat sekali dengan ruang pengaduan.”
Berlan kembali duduk, dia merasa yakin Bu Merry memang serius dengan perkataannya.
“Baiklah. Apa yang jadi permintaan Anda?” tanya Berlan akhirnya.
“Oke. Pertama, bebaskan saya dari sini. Kedua, bebaskan semua hutang saya pada Bramanto,” sebut Bu Merry tegas menantang mata Berlan.
Berlan mengangguk-angguk mengerti. Lalu tersenyum sinis sekilas.
“Oke, akan saya sampaikan permintaan Anda pada Bramanto. Tapi saya tidak menjamin beliau akan memenuhinya. Anda tau sendiri, tak semudah itu meminta sesuatu pada orang seperti Bramanto.”
“Saya yakin dia akan memenuhinya,” ucap Bu Merry penuh percaya diri.
“Okelah, saya belum bisa kasih jawaban sekarang. Permisi," pamit Berlan seketika beranjak dari duduknya.
“Hey Ingat, saya tak bisa berlama-lama memegang bukti-bukti itu, loh!” Bu Merry setengah berteriak pada Berlan yang sudah beberapa langkah meninggalkannya.
Namun Berlan tak menggubrisnya. Dia tetap berjalan tenang berlalu keluar dari ruangan.
***
Masih di pelataran parkir mobil kantor Kepolisian Sektor, Berlan menghubungi Bramanto melalui gawainya. Dan menyampaikan semua yang dia dengar langsung dari Bu Merry.
“Jadi bagaimana, Pak? Sepertinya dia memang serius dengan ancamannya,” ujar Berlan pada Bramanto di ujung telepon.
“Penuhi apa yang dia minta. Selanjutnya biar aku yang urus orang itu.”
“Baik, Pak. Saya akan urus jaminan penangguhan penahanannya hari ini.“
Bramanto menutup sambungan teleponnya lebih dulu.
Dengan berbekal persetujuan dari kliennya itu, Berlan masuk kembali ke kantor polisi untuk mengurus penangguhan penahanan untuk Bu Merry.
Satu jam berlalu, Berlan masih dengan sabar menunggu di dalam ruangan pelayanan. Selang beberapa menit kemudian Bu Merry muncul dengan senyum semringah dan tanpa mengenakan baju tahanan lagi.
Bu Merry diiringi Berlan keluar dari kantor polisi itu. Kedua tangannya terbentang menghirup udara kebebasan.
“Terima kasih, Pak Pengacara," ucapnya disertai kekehan kecil.
“Jangan berterima kasih, ini tidak gratis. Mana bukti-bukti yang kau bilang tadi. Serahkan pada saya.”
“Tenang dulu, Sabar, dong. Itu semua tersimpan di file saya di rumah. Pasti akan saya serahkan pada Anda.“
“Baiklah, saya antar Anda pulang ke rumah sekalian saya ambil file bukti-bukti itu.”
“Hmmm .... Oke. Come on,” jawab Bu Merry santai. Lalu ikut memasuki mobil Berlan.
Berlan pun melajukan mobilnya cepat, mengikuti petunjuk arah yang diberikan Bu Merry yang kini duduk di sampingnya.
Siapkan cemilan yuk. Kita mulai gass poll...
__ADS_1
Trima kasih untuk yang sudah Like, Vote, Rate, Favorite. Kritik dan saran yang sangat membantu Author untuk semangat UP -UP terooosss. (Author)