ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 79


__ADS_3

Hembusan angin malam seusai hujan serasa menggigit di kulit Lusi. Dingin, namun dia suka. Membuat ujung hidung mungilnya memerah dan kedua pipinya menyemburat rona.


Ia melipat kedua tangan di depan dada untuk menahan dinginnya hembusan angin.


Pandangannya lurus jauh ke arah gedung-gedung bertingkat yang berlomba-lomba mencapai langit, namun tampak sangat cantik dengan aneka warna lampu yang memancar terang di setiap bagian.


Ada satu gedung di ujung sana yang sangat menarik perhatiannya. Lampu besar berberbentuk huruf ‘F’ menyala terang di atasnya. Sepertinya sebuah logo initial dari gedung tersebut.


“Ferdian," sebut Lusi iseng menebak-nebak huruf tersebut. Senyum kecilnya mengembang di sudut bibir. Namun seketika menghilang. Berganti dengan tatapan murung dan kesedihan.


Sudah lima hari tak berada di sisi Ferdian, tak melihat wajah tampannya, tak bisa menyentuh lengan kokohnya, tak bisa mengecup punggung tangannya, membuat ia seperti kehilangan sesuatu dari dalam dirinya. Sesuatu yang menjadi sandaran hidupnya.


“Aku kangen. Dimana kamu, Mas?“ Pertanyaan yang tak terjawab.


Ingin sekali rasanya dia ke rumah Ferdian untuk mencari tahu tapi dia takut bertemu dengan adik iparnya. Dan dia yakin Ferdian tak mungkin dibawa pulang dalam kondisi kritis.


Atau ke kantornya, menanyakan pada sekertarisnya, namun dia takut justru membuat gaduh dan kepanikan di sana. Karena ia yakin seluruh pegawai Ferdian belum tahu apa yang terjadi pada pimpinannya itu.


Pada Bang Reynard?


Dia sama sekali tak tahu di mana tempat tinggal dan tempat Reynard bekerja. Nomor kontaknya pun tak ingat, cuma ada di phonebook dalam ponselnya yang hilang sewaktu kecelakaan.


Menanyakan ke setiap rumah sakit? Rasanya tak mungkin mendatangi satu persatu rumah sakit yang jumlahnya ribuan di Jakarta ini.


Terlebih pasien Very Very Important Person seperti Ferdian pasti privasinya dijaga sangat ketat.


“Aku bisa gila kalo begini, Mas,” ucapnya sendiri. Mendengkus kesal karena tak tahu lagi bagaimana cara menemukan keberadaan Ferdian.


Di luar kamar, Dio tengah sibuk dengan aktivitasnya di dapur minimalisnya. Mempersiapkan makan malam untuk Lusi dan dirinya.


Dua piring nasi putih, beef teriyaki dan salad sayuran tertata rapi di dalam pinggan besar di atas meja. Tampilannya sangat menggugah selera.


Tak salah, memasak adalah kepandaian lain yang dimiliki Dio selain mendesign bangunan.


Triiing...


Layar ponsel Dio menyala terang. Cepat ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja makan.


Sebuah pesan tertera di aplikasi percakapan dari Cantika. Segera Ia buka dan dibacanya.


‘Hai Handsome, lagi apa malam ini?’ isi pesan yang sangat menggoda.


Dio tersenyum senang. Tapi tak segera membalas. Diarahkan kamera ponsel Itu pada hidangan makan malam buatannya dan memotretnya, lalu mengirimkan foto itu pada Cantika.


‘Wow, dinner for two? Are you with someone else?’ Balasan pesan dari Cantika datang dengan sebuah emoticon thinking.


Dio menepuk jidatnya sendiri setelah membaca balasan dari Cantika. Bodohnya dia kenapa dua piring nasi putih itu ikut ia potret.


‘Ya, dengan sahabat aku. Kebetulan dia berkunjung,' balas Dio terpaksa jujur.


‘Bisa ketemu kamu besok? Aku lagi suntuk dan kangen becandaan kamu.’ balas Cantika lagi.


‘Iya bisa, dimana?’


‘Kita makan siang di kafe biasa besok?’ balas Cantika kembali.


‘Oke.'  Dio mengullum senyum sendirian. Lalu menyelipkan ponselnya ke dalam saku celana.

__ADS_1


Deegh....!


Ia tersentak saat mendongak dan mendapati Lusi berdiri di hadapannya.


Gadis itu tersenyum kecil seraya melirik ke arahnya. Dio jadi salah tingkah melihat lirikan Lusi yang mengandung curiga.


“Ooh, hai Lusi. Aku sudah siapin makan malam untuk kamu. Ayo duduk sini.” Dio tampak grogi menggeser kursi makan untuk Lusi.


“Terima kasih, Dio. ini pasti enak," puji Lusi demi mencium aroma beef teriyaki buatan Dio yang menggelitik rasa laparnya.


“Iya dong, aku bikinnya kan pake cinta,” ucap Dio seraya duduk di hadapan Lusi dan mulai menyendokkan salad ke mangkok dan ia sodorkan ke hadapan gadis itu.


Lusi tertawa kecil mendengarnya.


“Yang tadi WA itu si cinta ya?” goda Lusi melirik Dio sembari mengaduk-aduk saladnya.


Dio tersenyum grogi pada Lusi.


“Cintaku kan kamu Lusi,” balas Dio menggoda Lusi.


“Jangan gitu, ah. Ntar si cinta yang tadi WA marah, loh!” canda Lusi sambil tersenyum melihat Dio yang tampak salah tingkah di depannya.


Dio terdiam mencerna perkataan Lusi. Sejujurnya dia memang sedang galau dengan perasaannya sendiri. Cintanya pada Lusi jelas tak terbantahkan lagi. Cinta yang ia pupuk sejak dari bangku sekolah hingga kini, walaupun Lusi kini sudah menjadi milik orang lain.


Namun sekarang hadir Cantika yang selalu membuatnya nyaman ketika berada di sisinya.


Pesona Cantika seringkali bermain-main di dalam pikirannya. Terlebih sikap manja gadis itu membuat Dio gemas dan betah berlama-lama dengannya.


Namun sayang, Dio belum bisa menganggapnya lebih dari sekedar klien dan teman baik.


“Lusi, jadi apa rencana kamu sekarang untuk menemukan suami kamu?” tanya Dio membuka omongan.


“Aku belum tau, Dio. Ingin sekali ke rumahnya tapi aku takut diusir lagi sama adik iparku,” jawab Lusi sambil menunduk sedih.


“Mau aku antar?”


“Oh, jangan, Dio. Aku takut justru mereka menuduhku yang gak-gak nanti.”


Dio mengangkat bahu sekilas, lalu melanjutkan santapannya.


Sementara Lusi masih terdiam dalam lamunannya. Otaknya benar-benar buntu memikirkan keberadaan suaminya itu.


Dio memperhatikan wajah Lusi yang mulai tampak murung. Gadis itu hanya menunduk mengaduk-ngaduk pelan makanannya.


“Lusi, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Dio lembut.


Lusi mengangkat wajahnya dan mengangguk.


“Apa kamu mulai jatuh cinta sama suami kamu?” Dio menatap wajah Lusi penuh pengharapan. Harapan bahwa Lusi akan menjawab ‘Tidak’.


Namun bibir Lusi masih merapat, seraya bola matanya menatap dalam pada Dio.


Lusi mengangguk lagi. “Iya Dio, aku jatuh cinta pada suamiku,” jawab Lusi akhirnya.


Dio menghela napasnya yang seketika terasa berat. Kelopak matanya pun turun terpejam. Jawaban Lusi membuatnya cukup terkesiap, walaupun sebenarnya ia sudah mempersiapkan diri untuk mendengar jawaban pahit untuknya itu.


Sejenak Dio tersenyum kecil pada Lusi, lalu menyantap kembali makanannya yang kini mulai terasa hambar baginya.

__ADS_1


****


Reynard berdiri mematung menghadap kolam renang pribadinya. Pikirannya berkecamuk tak menentu. Memikirkan Ferdian yang terbaring koma, memikirkan keberadaan Lusi, dan pekerjaan kantornya yang sudah satu minggu ini hanya bisa ia pantau dari apartementnya.


Terlebih pada Ferdian, ia sangat berharap ada keajaiban yang bisa membangunkannya dari tidur panjangnya itu.


Tiba-tiba ponselnya bergetar dari dalam saku celana. Segera Ia raih dan melihat nama kontak yang memanggil.


Bu Tantri.


Segera ia menjawabnya.


“Iya, Bu?”


“Reynard, Bramanto menculik anak ibu Merry, aku gak bisa membantunya keluar.” Suara Bu Tantri dengan tangis terisak-isak terdengar berburu.


“Apa? Ibu yakin itu anak bu Merry?” Reynard tersentak kaget.


“Yakin, aku dengar sendiri dari percakapan pengacara Bramanto di ruang kerja, Rey. Dan sekarang anak itu sudah dibawa pergi oleh orang-orang Bramanto.“


“Astaga! Ibu punya informasi dimana biasanya gadis-gadis itu dikirim?”


“Aku gak tau Rey, yang pasti ke beberapa tempat hiburan malam. Dan anak bu Merry sempat bilang ada file yang berisi bukti-bukti bisnis ilegal Bramanto. Tersimpan di arsip laptopnya, di sembunyikan di lemari kamar utama rumahnya. Dia menyebutkan alamatnya tapi aku lupa saking paniknya. Kamu harus segera cari itu.”


“Baik, Bu, “


Sambungan telepon langsung terputus di akhiri oleh Bu Tantri. Reynard tertunduk sambil mengurut-urut keningnya. Kepalanya makin terasa berat dan terhimpit.


“Pak! Pak! Pasien ada respon.”


Tiba-tiba suara perawat mengejutkan Reynard.


“Hah? Ferdian?” Cepat Reynard melangkah ke kamarnya dan menghampiri ranjang Ferdian.


Benar saja, ia melihat jemari Ferdian bergerak lemah beberapa saat.


“Bro, wake up....” bisiknya penuh harap.


“Panggil dokter Devia, Suster," perintahnya pada perawat yang masih sibuk memeriksa perlengkapan medis di sisi ranjang.


“Sudah, Pak. Sebentar lagi dokter datang.”


Tak lama, dokter Devia muncul dari balik pintu lalu bergegas memeriksa tubuh Ferdian dan mengecek semua perlengkapan medis yang masih bising berbunyi.


Jemari Ferdian bergerak lagi, masih lemah. Tapi kali ini lebih lama.


“Ferdian, wake up, please,” panggil Reynard lagi penuh harapan.


Namun mata Ferdian tetap terpejam. Bibirnya di balik masker ventilator tampak bergerak-gerak. Kembali, beberapa jemarinya terangkat lemah.


“Aa ... aah ... a....”


Suara Ferdian sangat pelan, namun bisa terdengar oleh Dokter Devia dan Reynard yang berada tepat di sisi kiri dan kanannya.


Keduanya terlihat semringah. Dokter Devia terus memeriksa denyut nadi Ferdian yang mulai berdetak cepat.


Haiii Reader yang baik hati...

__ADS_1


Please Like, vote dan komen utk kritik dan saran yang membangun yah.


Thank you very much... Happy Reading.


__ADS_2