ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 80


__ADS_3

Raut Dokter Devia tampak sangat serius saat dia memeriksa dengan teliti seluruh peralatan medis di samping ranjang Ferdian.


Tampak berkali-kali dia menyentuh pergelangan tangan dan samping leher Ferdian untuk memeriksa denyut nadi pasien specialnya itu.


Kelopak mata Ferdian perlahan terbuka sedikit. Namun hanya sekian detik lalu kembali terpejam.


Reynard yang berdiri di sisi tubuh Ferdian meremas jemari sahabatnya itu untuk memberi dorongan semangat untuknya.


“Pa ... pa....” Suara Ferdian terdengar lagi. Reynard dan Dokter Devia mendengarnya. Keduanya pun bertukar senyum karena kesadaran Ferdian yang perlahan beranjak kembali


Kelopak mata Ferdian kembali terbuka, kali ini lebih lebar walaupun tampak berat perjuangan Ferdian untuk mengangkatnya.


“Ma ... ma....”


Jemari Ferdian bergerak dan balik meremas jemari Reynard. Walaupun lemah tapi cukup terasa.


Reynard menitikkan air mata. Dia terharu melihat sahabatnya itu memberikan respon padanya.


“Alhamdulillah, semuanya mulai stabil,” ucap Dokter Devia menoleh pada Reynard.


“Brother, please....” Lirih suara Reynard berbisik di telinga Ferdian. Bahunya terguncang pelan menahan isak harunya.


“Papa.... Mama....” Suara Ferdian terdengar lemah namun mulai lancar menyebut dua kata itu.


Perlahan dia menoleh pada Reynard di sisinya yang tengah menatap dirinya dengan bola mata yang basah karena air mata.


“Rey?” panggil Ferdian lagi. Reynard mengangguk.


Sejenak Ferdian terpejam kembali. Merasakan kepalanya yang masih begitu berat, seperti ada bongkahan batu besar yang tengah menghimpit.


“Aaa ... aaah....” Ferdian mengerang lemah.


“Sabar, Pak Ferdian. Jangan memaksakan diri,” ucap Dokter Devia mengusap-usap bahu Ferdian.


Ferdian membuka matanya kembali, kali ini lebih lama. Dan mulai tampak jelas di pandangannya langit-langit kamar Reynard yang terang benderang.


“Lusi....?”  


Ferdian menoleh lemah pada Reynard yang masih menggenggam jemarinya.


Reynard kembali menitikkan air mata. Dia bingung dan tak mengerti harus menjawab apa. Lusi tak ada di sisi Ferdian ketika terbangun dari tidur panjangnya.


“Ada. Kau tenang dulu, oke?” jawab Reynard berbohong tapi demi kebaikan sahabatnya.


Saat ini yang dia utamakan adalah kesadaran Ferdian harus kembali pulih seperti sedia kala.


“Lusi....” panggil Ferdian lagi dengan suara lemah.


“Ya, nanti aku panggilkan,” ucap Reynard lagi seraya mengelus-ngelus bahu Ferdian.


Kembali Ferdian terpejam mencoba menghilangkan rasa sakit yang menghujam isi kepalanya.


“Dokter, bagaimana kondisinya sekarang?” tanya Reynard pada Dokter Devia yang tampak menghela nafas ringan.


“Bagus, semua sudah stabil. Pernapasannya juga sudah mulai normal kembali,” jawab Dokter Devia seraya tersenyum puas.


“Terima kasih, Dokter. Terima kasih banyak atas semua bantuannya.”

__ADS_1


Reynard meraih bahu Dokter Devia lalu memeluknya erat. Dokter Devia pun membalas hanya dengan menepuk-nepuk punggung Reynard pelan


'Hadeehhh, nyosor aja ini orang. Untung ganteng. Kalo jelek mah ogah deh!' pikir Dokter Devia dalam hati.


“Baiklah, Pak Rey. Sudah bisa dilepas pelukannya,” pinta Dokter Devia merasa risih dipeluk Reynard di depan kedua perawatnya.


“Ooh, maaf, Dokter. Saya terharu soalnya,” ucap Reynard, kemudian melepas pelukannya dari tubuh Dokter Devia.


“Baiklah, nanti ventilatornya akan di lepas oleh perawat saya. Untuk sementara biarkan terpasang dulu sampai benar-benar pulih.”


“Oke, Dokter.”


“Kalo begitu saya permisi dulu. Besok pagi saya kembali lagi.“


“Baik, Dokter. Selamat berisitirahat," ucap Reynard lagi disertai senyum cerahnya.


Reynard mengantarkan Dokter Devia keluar dari kamarnya. Lalu kembali beralih pada Ferdian yang masih memejamkan mata.


***


Pagi hari. Suasana begitu sejuk dan cerah, secerah hati Reynard melihat kondisi Ferdian yang sudah mulai membaik. Ferdian sudah sanggup duduk bersandar walaupun rona wajahnya masih tampak lemah dan pucat.


Dokter Devia baru selesai mengecek keadaan Ferdian dan melepas semua peralatan medis yang selama ini menopang jalannya pernafasan Ferdian.


“Baiklah, kalo begitu saya kembali ke rumah sakit, ya, Pak Rey. Untuk selanjutnya Pak Ferdian tinggal kontrol rutin saja seminggu sekali.”


“Baiklah, Dokter. Terima kasih atas bantuannya.”


Reynard menjabat Dokter Devia dengan penuh rasa terima kasih. Lalu mengantarkan Dokter Devia bersama dua orang perawatnya keluar dari apartementnya.


“Hai, boss. Welcome back.” Reynard berseru pelan seraya menepuk bahu Ferdian yang terduduk lemah, bersandar di sandaran ranjang.


Senyum Ferdian mengembang samar, menatap wajah Reynard dengan bola matanya yang masih layu.


“Lusi....Apa dia baik-baik saja?” tanya Ferdian dengan suara yang masih serak, membuat Reynard jadi serba salah di hadapannya.


“Iya, dia baik-baik aja. Tenang saja.”


“Mana dia?”


“Ada di rumah.” Kembali Reynard berbohong namun tak mampu menyembunyikan gugupnya.


“Antar aku pulang, aku mau ketemu Lusi,” pinta Ferdian lagi, dan itu semakin membuat Reynard kelabakan mencari alasan apa lagi.


“Tunggu kau benar-benar sehat. Oke, Bro?”


“Kalo begitu, bawa dia kesini.”


'Waduuuhh jadi pening aku, beginilah si boss satu ini kalo sudah punya mau. Harus dan Harus tercapai.' gerutu Reynard dalam hati.


“Iya nanti, ya. Kata dokter kau harus banyak istirahat. Jangan banyak bergerak dulu. Biar cepat sehat,” jawab Reynard beralasan.


“Ada apa dengan Lusi, Rey?” tanya Ferdian dengan suara lirih. Dia curiga saat menangkap gelagat Reynard yang begitu canggung dan bimbang.


“Hmm, gak ada apa-apa. Kau tenang-tenanglah dulu. Lusi sengaja tak keluar karena dia juga masih dalam masa pemulihan.”


Ferdian menghela nafas berat dan memejamkan mata sesaat.

__ADS_1


“Antar aku pulang, Rey. Aku mau ketemu Lusi. Please.”


“Oke, besok pagi aku antar kau pulang.“


Reynard tak bisa mencari alasan lagi, terpaksa dia meng’iya’kan kemauan keras sahabatnya itu


***


Mobil Reynard memasuki pekarangan rumah Ferdian. Tampak Pak Dirman berlari-lari kecil menghampirinya. Dia sempat melihat Bossnya duduk di kursi depan.


Reynard membantu Ferdian turun dari mobilnya.


“Boss, selamat kembali ke rumah. Saya senang sekali melihat Boss sehat lagi,” ucap


Pak Dirman terharu dan mengusap air matanya yang sempat terjatuh di pipi legamnya.


Ferdian hanya tersenyum kecil dan mengangguk.


“Lusi ada 'kan?” tanya Ferdian lemah pada Pak Dirman.


Seketika bola mata Pak Dirman terbelalak bingung. Mulutnya menganga seperti hendak mengucapkan sesuatu


Sesaat dia menoleh pada Reynard yang berdiri di belakang Ferdian, sibuk memberi kode dengan kedipan mata.


Pak Dirman balas mengedipkan sebelah mata pada Reynard dengan ekspresi bingung dan tak mengerti.


“Hmmm, Non Lusi....” Kalimat Pak Dirman menggantung.


Membuat Ferdian semakin curiga dengan kelakuan mereka. Tanpa menunggu kelanjutan jawaban dari Pak Dirman, Ferdian melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Reynard pun terburu-buru mengejarnya kemudian memapahnya.


“Booss....Huuhuhuuu....” Tiba-tiba Mbak Ira menyeruduk dada Ferdian. Asisten rumah tangganya itu tersedu-sedu memeluk tubuhnya.


“Alhamdulilllah, Boss udah sehat,” ucapnya disela sedu sedannya.


Ferdian hanya mengangguk dan menepuk bahu Mbak Ira.


“Lusi mana?” hanya itu yang keluar dari mulutnya pada Mbak Ira.


Mbak Ira melepaskan pelukannya, lalu bingung akan menjawab apa pada majikannya itu.


“Sudahlah, kau istirahat dulu, Bro. Kata dokter kau Jangan terlalu memaksakan diri. Kau belum pulih benar,” ujar Reynard seraya menarik lengan Ferdian kemudian memapah tubuhnya menapaki anak tangga satu persatu menuju kamarnya.


Ferdian membuka pintu kamarnya. sesaat diedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Matanya mencari sosok Lusi, berharap gadis itu menyambutnya. Namun tak ada.


Dia sudah merasakan ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Namun kepalanya terasa sangat berat untuk berpikir keras.


Sejurus kemudian, dia rebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lalu memejamkan matanya sejenak.


Bayangan wajah manis Lusi menari-nari di pelupuk matanya. Dia benar-benar rindu sekali dengan istrinya itu.


Bahkan dalam tidur panjangnya beberapa hari lalu dia sempat bertemu dengan mendiang papa dan mamanya dan bersujud seolah meminta restu untuk menikahi Lusi.


Dia melihat papa mamanya tersenyum, tampak sangat bahagia. Serta membelai kepalanya penuh kasih sayang, yang kini dia artikan sebagai tanda bahwa mereka merestui pendamping hidup pilihannya.


Please, Like, Love, fave, 5Rate, Kritik, sarannya.


**Thank you, para reader yang baik **

__ADS_1


__ADS_2